ceremonial_gathering_beneath_the_canopy_1mb

Bawang Merah Goreng Sumlili Diluncurkan, BKD NTT Kawal Produk Desa dari Pelatihan hingga Siap Jual

Sumlili, SULUHDESA.COM – Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena meluncurkan produk One Village One Product atau OVOP Bawang Merah Goreng Sumlili di halaman Kantor Desa Sumlili, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Kamis, 3 September 2026. Peluncuran tersebut menjadi puncak dari rangkaian intervensi Badan Kepegawaian Daerah Provinsi NTT yang dimulai melalui musyawarah desa, edukasi pendidikan, hingga pelatihan pengolahan bawang merah.

Program tersebut menjadi bagian dari kebijakan intervensi Rp100 juta per desa yang digagas Pemerintah Provinsi NTT di bawah kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena dan Wakil Gubernur Johni Asadoma. Melalui pendekatan OVOP, setiap desa didorong mengembangkan produk unggulan berbasis potensi lokal yang dapat memberi nilai tambah bagi masyarakat.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menekankan bahwa hasil pertanian tidak boleh berhenti pada pola tanam, panen, kemudian dijual sebagai bahan mentah. Pemerintah mendorong masyarakat mengubah pola tersebut menjadi tanam, panen, olah, kemas, lalu jual, yang diperkenalkan sebagai pendekatan TAPA OKE JU.

Melki menggunakan bawang merah Sumlili sebagai contoh sederhana. Jika satu kilogram bawang merah mentah bernilai sekitar Rp20 ribu, maka tiga kilogram bawang merah bernilai sekitar Rp60 ribu. Setelah diolah menjadi sekitar satu kilogram bawang goreng dan dikemas dalam ukuran 100 gram dengan asumsi harga Rp30 ribu per kemasan, nilai jualnya dapat mencapai sekitar Rp300 ribu sebelum memperhitungkan biaya produksi dan kemasan.

“Yang sama-sama tiga kilogram bawang merah, ketika dijual mentah harganya Rp60 ribu. Ketika diolah menjadi satu kilogram bawang goreng, nilainya bisa menjadi Rp300 ribu,” kata Melki.

Menurut Gubernur, contoh tersebut memperlihatkan pentingnya hilirisasi produk pertanian di desa. Nilai tambah dari hasil bumi seharusnya lebih banyak dinikmati masyarakat setempat, bukan berpindah setelah bahan mentah keluar dari wilayah produksi.

“Nilai tambahnya jangan keluar dari sini. Yang menetap di sini, biar orang-orang sendiri mendapatkan manfaat lebih dari produk sendiri,” ujarnya.

Gubernur Apresiasi Peran BKD NTT

Peluncuran Bawang Merah Goreng Sumlili juga mendapat perhatian karena program tersebut dikawal oleh BKD Provinsi NTT. Lembaga yang selama ini lebih dikenal melalui fungsi manajemen kepegawaian ikut mengambil bagian dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat desa.

Melki memberikan apresiasi kepada BKD NTT karena mampu menerjemahkan kebijakan pemerintah provinsi menjadi kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat.

“Walaupun tugas utamanya berkaitan dengan kepegawaian, ini menunjukkan bahwa BKD juga bisa memberikan dampak bagi pembangunan ekonomi,” ujar Melki.

Apresiasi tersebut menegaskan bahwa perangkat daerah didorong untuk melihat pembangunan secara lebih luas. Setiap instansi dapat memberi kontribusi sesuai kapasitasnya selama tetap terhubung dengan arah kebijakan pemerintah dan kebutuhan masyarakat.

Bagi BKD NTT, intervensi di Sumlili tidak hanya menghasilkan produk bawang merah goreng. Program tersebut juga menyentuh bidang pendidikan dan peningkatan kapasitas generasi muda.

19 Agustus, Pelatihan Pengolahan Bawang Merah Digelar

Sebelum produk diluncurkan Gubernur, BKD NTT telah menggelar sosialisasi dan pelatihan pengolahan bawang merah di Desa Sumlili pada 19 Agustus 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Desa Sumlili dan menyasar kelompok ibu rumah tangga.

Sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan. Mereka mendapatkan pengetahuan mengenai proses pengolahan bawang merah menjadi bawang goreng, pengemasan, kualitas produk, dan peluang mengembangkan usaha rumah tangga.

Kegiatan dipimpin Sekretaris BKD NTT, Dra. Threse E. Ndolu Eoh, M.A., dan melibatkan instruktur serta pelaku usaha lokal, termasuk Siti Aminah bersama tim. Camat Kupang Barat Villy Nakamnanu, Kepala Desa Sumlili Yusael Ndun, unsur pemerintah, ASN BKD NTT, serta masyarakat turut hadir dan mendukung kegiatan tersebut.

Pelatihan tersebut menjadi tahap penting karena masyarakat tidak hanya menerima penjelasan mengenai potensi usaha. Peserta langsung diperkenalkan pada proses mengubah bahan mentah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Dari kegiatan itulah bawang merah Sumlili mulai diarahkan menjadi produk kemasan. Tahapan ini kemudian dilanjutkan dengan persiapan hingga produk siap diperkenalkan secara resmi.

Hari yang Sama, 150 Siswa Mendapat Edukasi Pendidikan

Pada 19 Agustus 2026, BKD NTT juga melaksanakan sosialisasi pendidikan dan bimbingan kepada sekitar 150 siswa SMA Negeri 1 Kupang Barat dan SMK Negeri 1 Kupang Barat.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pendekatan intervensi yang tidak hanya berfokus pada ekonomi masyarakat. BKD NTT juga memberikan perhatian pada peningkatan literasi pendidikan dan akses informasi bagi generasi muda desa.

Materi diarahkan pada peluang melanjutkan pendidikan, pengembangan kapasitas individu, serta informasi mengenai berbagai pilihan pendidikan dan sekolah kedinasan.

Pola ini memperlihatkan dua sasaran yang berjalan bersamaan. Orang tua dan kelompok masyarakat memperoleh penguatan keterampilan ekonomi, sementara generasi muda mendapat akses informasi untuk memperluas pilihan pendidikan.

Kepala BKD Provinsi NTT, Kanisius H.M. Mau, menjelaskan bahwa program di Sumlili dibangun dalam kerangka kebijakan pembangunan yang diinisiasi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT.

Selain pengembangan OVOP, BKD NTT juga menjalankan kegiatan peningkatan literasi pendidikan bagi masyarakat desa. Program tersebut mencakup sosialisasi pendidikan, bimbingan belajar, dan penguatan informasi bagi generasi muda.

Semua Berawal dari Musyawarah Desa 11 Agustus

Rangkaian intervensi BKD NTT di Sumlili dimulai lebih awal melalui musyawarah desa pada 11 Agustus 2026. Forum tersebut menjadi titik awal untuk memetakan kebutuhan dan potensi yang dapat dikembangkan bersama masyarakat.

Dari musyawarah itu, bawang merah dipilih sebagai salah satu potensi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Komoditas tersebut selama ini lebih banyak dikenal sebagai bahan pangan yang dijual dalam bentuk mentah.

BKD NTT kemudian mendorong agar bawang merah tidak berhenti sebagai komoditas primer. Melalui pelatihan pengolahan dan pengemasan, masyarakat mulai diperkenalkan pada peluang usaha yang lebih luas.

Urutan tersebut menunjukkan bahwa peluncuran produk pada 3 September bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Ada proses sebelumnya yang dimulai dari musyawarah, dilanjutkan edukasi, pelatihan, pengolahan, dan persiapan produk.

Produk Harus Legal, Aman dan Berkualitas

Mewakili Bupati Kupang, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Kupang, Adrian Abineno, mengingatkan bahwa peluncuran produk harus menjadi awal dari proses yang lebih panjang.

Menurutnya, masyarakat perlu menjaga kualitas produk, keamanan pangan, legalitas, dan konsistensi produksi agar Bawang Merah Goreng Sumlili dapat berkembang di pasar.

“Kita ingin produk Desa Sumlili bukan hanya dikenal karena rasanya atau tampilannya, tetapi juga dikenal sebagai produk yang legal, aman, berkualitas dan dapat dipercaya,” kata Adrian.

Pelaku usaha juga didorong melengkapi Nomor Induk Berusaha serta sertifikasi yang diperlukan sesuai jenis produk. Selain itu, pendampingan lanjutan dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat pemasaran, mengurus legalitas, dan membuka akses pembiayaan.

Gubernur Melki turut mendorong masyarakat agar tidak mengembangkan usaha secara sendiri-sendiri. Kelompok usaha diperlukan agar proses produksi, pengemasan, legalitas, pemasaran, dan akses pembiayaan dapat dikelola dengan lebih kuat.

Dari Peluncuran Menuju Tantangan Berikutnya

Peluncuran Bawang Merah Goreng Sumlili menjadi penanda bahwa rangkaian intervensi BKD NTT telah menghasilkan produk yang dapat diperkenalkan kepada pasar. Namun, keberhasilan berikutnya akan ditentukan oleh kemampuan menjaga kualitas, kontinuitas produksi, pemasaran, legalitas, dan penerimaan konsumen.

Program juga perlu diukur dari dampaknya terhadap pendapatan masyarakat. Produk yang diluncurkan akan memiliki arti lebih besar jika mampu menciptakan kegiatan usaha yang bertahan dan memberi tambahan penghasilan bagi keluarga.

Urutan perjalanan program memperlihatkan proses yang jelas. Produk diluncurkan pada 3 September, setelah pelatihan dan edukasi pada 19 Agustus, yang sebelumnya diawali musyawarah desa pada 11 Agustus 2026.

Dari rangkaian tersebut, BKD NTT menunjukkan bahwa intervensi birokrasi dapat bergerak dari perencanaan menuju hasil yang terlihat. Bawang merah yang sebelumnya hanya dijual sebagai bahan mentah mulai diolah, dikemas, diberi identitas, dan dipersiapkan menjadi produk unggulan desa.

Pesan Gubernur kemudian menjadi arah bagi kelanjutannya. Hasil bumi NTT perlu diolah lebih dahulu agar nilai tambah tetap tinggal di desa dan lebih banyak dinikmati masyarakat sendiri. (*)