
Mawar, Anomali di Ujung Pengabdian Ibu Agnes Ina Odjan
Kupang, Suluhdesa.com – Alor mematahkan prasangka, menghadirkan persahabatan, dan menyimpan kenangan. Perjumpaan dengan Mawar, dugong jantan bernama tak biasa, menjadi bagian dari perjalanan terakhir bersama Ibu Agnes menjelang purnabakti. Dari pengalaman sejak 2009 hingga 2026, tulisan ini merekam konsistensi, komitmen, disiplin, kesetiaan, dan kebaikan yang tidak ikut pensiun bersama berakhirnya masa pengabdian.
Alor dan Prasangka yang Runtuh
Alor mempunyai cara sendiri untuk mematahkan prasangka. Orang bisa datang dengan kepala penuh cerita yang menakutkan tentang pulau ini, tetapi pulang membawa kekaguman, persahabatan, dan kerinduan untuk kembali.
Sebelum pertama kali menginjakkan kaki di Alor sekitar tahun 2014, saya lebih banyak mengenalnya dari cerita orang. Ada stereotipe tentang masyarakatnya yang keras, cerita tentang suanggi, dan berbagai kisah menyeramkan yang dari mulut ke mulut membentuk bayangan tentang sebuah tempat yang seolah tidak mudah didatangi orang asing.
Cerita-cerita itu cukup kuat memengaruhi pikiran, bahkan membuat beberapa teman enggan ketika mendapat penugasan ke Alor. Saya justru memilih berangkat karena rasa penasaran mendorong saya untuk melihat sendiri apakah Alor memang seperti yang diceritakan orang.
Saya menumpang pesawat Trans dan mendarat dengan mulus di Bandara Mali. Tidak seorang pun saya kenal dalam perjalanan itu sehingga ketika turun, saya benar-benar menjadi orang asing di tempat yang baru pertama kali saya datangi.
Jujur, ada rasa takut yang saya sembunyikan. Cerita tentang kerasnya Alor, suanggi, dan berbagai stereotipe lainnya masih memenuhi pikiran ketika saya berjalan keluar dari bandara.

Namun Alor tidak membutuhkan waktu lama untuk mulai meruntuhkan prasangka itu. Orang pertama yang melakukannya justru seorang tukang ojek yang sama sekali tidak saya kenal.
Dia menawarkan jasa ojek, tetapi saya menolak karena ingin menggunakan mobil. Saya mengira percakapan selesai sampai di situ, tetapi orang yang jasanya baru saja saya tolak malah menawarkan diri membantu mencarikan mobil.
Saya terperangah dengan kebaikannya. Saya datang membawa bayangan tentang Alor yang keras, tetapi orang pertama yang saya temui justru memperlihatkan keramahan dan kesediaan membantu.
Pertemuan sederhana di Bandara Mali itu menjadi pintu masuk untuk mengenal Alor yang sesungguhnya. Hari-hari berikutnya membuat satu demi satu cerita yang saya bawa dari Kupang kehilangan tempatnya.
Dalam kunjungan pertama itulah saya bertemu Anis Atamai melalui Freddy, keluarganya. Saat itu Anis bekerja sebagai wartawan freelance, tetapi dalam ingatan saya, Anis tidak hanya melekat sebagai wartawan yang sibuk mengejar berita.
Saya justru selalu teringat sebuah motor merah yang seolah siap membawanya ke mana saja. Dengan motor itulah Anis membawa saya menelisik Kalabahi dan sekitarnya, memperkenalkan Alor bukan melalui cerita orang, tetapi melalui tempat-tempat dan manusia yang saya jumpai sendiri.
Kami mengunjungi Kampung Adat Takpala, menyusuri Pantai Maimol, singgah di Gereja Katolik Moru, dan menjelajahi berbagai sudut lainnya. Dari atas motor merah itu, Alor perlahan memperlihatkan wajah yang sama sekali berbeda dari bayangan yang saya bawa ketika turun di Bandara Mali.
Saya datang dengan bayangan tentang kerasnya Alor, tetapi menemukan keramahan. Saya datang membawa cerita yang menyeramkan, tetapi menemukan persahabatan; saya datang sebagai orang asing yang tidak mengenal siapa pun, tetapi pulang membawa seorang sahabat.
Waktu kemudian membawa Anis menempuh perjalanan hidup yang berbeda hingga mendapat kepercayaan masyarakat menjadi anggota DPRD Kabupaten Alor. Jabatan dan kesibukan berubah, tetapi persahabatan yang bermula dari kunjungan sederhana itu tetap terajut hingga hari ini.
Karena itu, ketika mendengar nama Alor, saya tidak hanya membayangkan laut biru, Takpala, Maimol, Moru, atau ikan segarnya. Saya juga teringat Anis Atamai, motor merahnya, dan sebuah perjalanan yang mengajarkan bahwa mengenal langsung seseorang atau sebuah tempat sering kali menjadi cara terbaik untuk meruntuhkan prasangka.
Sejak itu, Alor tidak lagi menjadi tempat yang saya datangi dengan kecemasan. Alor berubah menjadi kerinduan untuk kembali.
Mawar
Kerinduan itu membawa saya kembali ke Alor pada Minggu ke-2 September 2026 dalam sebuah perjalanan yang kemudian mempunyai arti khusus. Kali ini Alor tidak hanya menghadirkan cerita tentang alam dan persahabatan, tetapi juga menjadi tempat kami menyimpan salah satu kenangan di penghujung perjalanan pengabdian seorang rekan.
Saya bersama kawan-kawan asesor bertugas di Alor dan kegiatan kami diawasi Ibu Agnes Ina Odjan, Kepala Bidang Mutasi dan Pensiun Pegawai BKD Provinsi NTT. Kami menyadari penugasan tersebut mempunyai arti berbeda karena masa purnabakti Ibu Agnes sudah sangat dekat.
Sabtu, 14 September 2026, pagi-pagi buta sebelum aktivitas dimulai, ditemani Pak Imanuel, kami memutuskan menemui salah satu primadona Alor. Namanya begitu lembut dan terdengar romantis: Mawar.
Namun jangan buru-buru membayangkan sekuntum bunga yang tumbuh di tepi pantai. Mawar yang hendak kami temui hidup di laut dan berenang bebas di perairan Alor.
Mawar adalah seekor dugong jantan. Nama yang kita kenal sebagai bunga dan lebih sering disematkan kepada perempuan justru melekat pada seekor dugong jantan yang menjadi salah satu daya tarik Alor.
Kami menyewa sebuah perahu dan berlayar menuju tempat Mawar biasa muncul, tidak jauh dari Pulau Sika. Perahu melaju melawan arus sehingga gelombang cukup terasa dan mulai membuat Ibu Rini, salah seorang teman seperjalanan, terlihat cemas.
Beberapa kali Ibu Rini meminta kami pulang, tetapi kami terus menguatkannya agar perjalanan dilanjutkan. Sementara itu, Ibu Agnes terlihat tenang dan menikmati perjalanan seolah gelombang pagi itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Ketika semakin dekat dengan lokasi Mawar, nakhoda memperlambat laju perahu dan kami mulai menunggu. Tidak lama kemudian, yang kami nantikan muncul dan berenang mendekati perahu.
Mawar datang dan suasana perahu langsung berubah penuh kegembiraan. Nakhoda mematikan mesin, sementara dugong jantan itu melintas di bawah perahu dan berputar-putar seperti sedang menyambut kedatangan kami.
Kami memanggil namanya berkali-kali dan Mawar semakin banyak bertingkah. Hal yang membuat kami tertawa, Mawar terlihat lebih tertarik ketika suara perempuan memanggilnya.
Saat Ibu Kiki menyapa, Mawar semakin mendekat dan bahkan memeluk paralon di sisi perahu yang berfungsi sebagai pelampung. Kami bercanda bahwa naluri kejantanannya rupanya bekerja dengan sangat baik, walaupun namanya justru lebih sering kita hubungkan dengan perempuan.
Hampir setengah jam kami menikmati perjumpaan dengan Mawar sebelum perjalanan dilanjutkan menuju hamparan pasir putih yang muncul ketika air surut. Laut begitu jernih dan bersih, sementara kami bermain pasir, menikmati pemandangan, serta mengabadikan kebersamaan.
Di hamparan pasir putih itulah Unun berbisik kepada saya, “Kita minta satu kata dari Ibu Agnes.” Kami sama-sama mengetahui masa purnabaktinya sudah dekat, tetapi saya menjawab, “Belum waktunya. Kita foto bersama saja.”
Kami pun berfoto dengan berbagai gaya dan sudut, berlatar laut Alor yang indah. Pagi itu kami memilih menikmati kebersamaan, seakan masih ada banyak perjalanan lain yang akan kami lalui bersama.
Ternyata waktu bergerak cepat. Hanya enam belas hari setelah perjalanan menemui Mawar, tanggal 30 September 2026 tiba dan kalimat “belum waktunya” yang saya ucapkan kepada Unun berubah menjadi: inilah waktunya.
Foto-foto dari Alor yang masih sangat baru itu pun memperoleh makna berbeda. Apa yang semula kami abadikan sebagai kegembiraan ternyata menjadi rekaman dari salah satu perjalanan dinas terakhir Ibu Agnes bersama kami.
Di situlah Mawar memperoleh tempat khusus dalam cerita ini. Dugong jantan dengan nama yang tidak biasa itu membawa kami kepada sebuah pagi penuh tawa, lalu tanpa direncanakan menjadi bagian dari kenangan di ujung pengabdian Ibu Agnes.
Alor pernah mematahkan prasangka yang saya bawa ketika pertama kali datang. Mawar kemudian memberi saya anomali lain, seekor dugong jantan dengan nama yang lebih lazim kita hubungkan dengan bunga dan perempuan.
Namun ketika cerita ini sampai kepada Ibu Agnes, saya justru menemukan sesuatu yang berbeda. Mawar saya kenang karena anomalinya, sedangkan Ibu Agnes saya kenang karena konsistensinya.
Dan konsistensi itu bukan baru saya lihat di atas perahu di Alor pada September 2026. Untuk menemukannya, ingatan saya harus berjalan tujuh belas tahun ke belakang.
Tujuh Belas Tahun Sebelumnya
Hari ini, 30 September 2026, ketika kami melepas Ibu Agnes menuju babak kehidupan yang baru, ingatan saya kembali ke tahun 2009. Saat itu saya baru memasuki dunia birokrasi sebagai CPNS di Biro Kepegawaian Setda Provinsi NTT.
Saya ditempatkan di Bidang Pengembangan Pegawai dengan formasi programmer, sedangkan Ibu Agnes sudah menjadi salah satu pejabat di bidang yang sama. Kami berada di lingkungan kerja yang sama, tetapi berdiri pada titik perjalanan karier yang sangat berbeda.
Salah satu kenangan paling kuat muncul menjelang penerimaan CPNS 2009. Almarhum Bapak Paulus Manehat, Kepala Bidang Pengembangan Pegawai saat itu, memberi saya tantangan untuk membantu membuat proses penerimaan CPNS lebih efektif.
Pada tahun-tahun sebelumnya, rangkaian penerimaan dapat memakan waktu sekitar tiga bulan. Ada pelamar yang mendaftar pada lebih dari satu formasi, persoalan validasi ijazah, serta pencetakan kartu ujian yang membutuhkan waktu berhari-hari.

Pak Flafi selaku Kasubag Diklat dan Formasi kemudian meminta saya mencoba membangun sebuah solusi. Dengan bantuan seorang teman dosen, saya membuat aplikasi berbasis web sederhana yang dijalankan melalui jaringan LAN, sesuatu yang tidak terlalu asing bagi saya karena sebelum menjadi PNS saya bekerja sebagai dosen tetap di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
Pendaftaran masih dilakukan secara manual di SPN, lalu setiap sore data pelamar dientri ke dalam aplikasi. Sistem sederhana tersebut membantu mempercepat pengelolaan data dan sejumlah pekerjaan administrasi yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup panjang.
Namun setelah tujuh belas tahun berlalu, bukan aplikasi itu yang paling kuat tinggal dalam ingatan saya. Saya justru mengingat seseorang yang sudah menjadi pejabat, tetapi tetap duduk bersama staf dan mengentri data pelamar sampai larut malam.
Orang itu adalah Ibu Agnes. Ibu Agnes tidak hanya memberi instruksi lalu menunggu pekerjaan selesai, tetapi ikut bekerja bersama staf ketika pekerjaan memang harus dituntaskan.
Bagi saya yang ketika itu masih seorang CPNS baru, pemandangan sederhana tersebut meninggalkan pelajaran yang jauh lebih panjang umurnya daripada aplikasi yang kami bangun. Saya belajar bahwa jabatan tidak harus menciptakan jarak antara seorang pemimpin dan pekerjaan yang sedang diselesaikan bersama stafnya.
Karena itu, ketika hari ini Martin, salah seorang staf Ibu Agnes, memberikan kesaksian tentang kedisiplinan dan cara atasannya bekerja, saya tidak sedang mendengar sesuatu yang baru. Saya seperti melihat kembali sosok yang pernah saya saksikan bekerja bersama staf sampai malam pada 2009.
Tujuh belas tahun ternyata cukup panjang untuk menguji apakah sebuah karakter hanya muncul sesaat atau benar-benar melekat dalam diri seseorang. Dalam rentang waktu itulah perjalanan karier membawa kami melalui jalan yang berbeda.
Saya sendiri sudah enam kali mengalami perpindahan tugas. Dalam perjalanan tersebut, saya tiga kali keluar masuk BKD, pernah bertugas di Bappeda, dan dua kali menjalani penugasan di Dinas Pendidikan.

Sementara saya berpindah dari satu lingkungan kerja ke lingkungan lainnya, Ibu Agnes menghabiskan sebagian besar perjalanan kariernya di BKD. Setiap kali perjalanan membawa saya kembali ke kantor itu, saya selalu menemukan karakter kerja Ibu Agnes yang sama.
Kesempatan untuk berpindah atau mengambil jalan karier lain bukan berarti tidak pernah datang. Bahkan menjelang masa pensiun, Ibu Agnes pernah mendapat tawaran untuk menduduki posisi baru, tetapi memilih tetap berada di BKD.
Saya tidak ingin menerka alasan personal di balik pilihan itu. Bagi saya, keputusan tersebut memperlihatkan betapa panjang hubungan Ibu Agnes dengan BKD, sebuah tempat yang telah menjadi bagian besar dari perjalanan pengabdiannya.
Jika saya harus mencari benang merah antara Ibu Agnes yang saya kenal pada 2009 dan Ibu Agnes yang duduk bersama kami di atas perahu menuju Mawar pada September 2026, saya menemukannya pada karakter yang tetap terjaga. Konsistensi, komitmen, disiplin, dan kesetiaan hadir bukan sebagai kata-kata yang ditempelkan pada akhir masa kerja, tetapi sebagai sesuatu yang saya saksikan dalam rentang tujuh belas tahun.
Ketika Waktunya Tiba
Kini saya kembali teringat percakapan singkat dengan Unun di hamparan pasir putih Alor. Ketika dia mengusulkan agar kami meminta satu kata dari Ibu Agnes, saya mengatakan, “Belum waktunya.”
Hari ini saya harus mengakui bahwa waktunya benar-benar telah tiba. Bukan lagi waktunya meminta Ibu Agnes mengucapkan satu kata untuk kami, tetapi waktunya bagi kami menyampaikan beberapa kata kepada seseorang yang telah menyelesaikan perjalanan panjang pengabdiannya.
Saya mengenal Ibu Agnes ketika saya sendiri baru belajar menjadi seorang PNS. Tujuh belas tahun kemudian, saya mendapat kesempatan menyaksikan bagian akhir perjalanan pengabdiannya, bahkan berada dalam salah satu perjalanan dinas terakhir bersamanya.
Jarak antara 2009 dan 2026 menyimpan begitu banyak perubahan. Jabatan berubah, orang-orang datang dan pergi, teknologi berkembang, dan saya sendiri berpindah dari satu tempat tugas ke tempat lainnya, tetapi ada karakter kerja Ibu Agnes yang tetap dapat saya kenali.
Karena itu, ketika hari ini harus mengucapkan terima kasih, ingatan saya tidak pertama-tama tertuju pada jabatan yang pernah didudukinya. Saya justru teringat seorang pejabat yang duduk bersama staf mengentri data sampai malam, seorang rekan yang tetap tenang di atas perahu ketika gelombang membuat sebagian dari kami cemas, dan seorang aparatur yang menghabiskan sebagian besar perjalanan pengabdiannya di tempat yang sama.
Mungkin seperti itulah seseorang meninggalkan jejak. Bukan melalui seberapa panjang daftar jabatan yang pernah diduduki, tetapi melalui hal-hal sederhana yang masih dapat diceritakan orang lain ketika perjalanan kedinasannya telah selesai.
Alor mengajarkan kepada saya bahwa prasangka dapat runtuh ketika kita berani datang dan mengenal. Anis Atamai membuktikan bahwa sebuah perjalanan dinas dapat melahirkan persahabatan yang bertahan bertahun-tahun, sementara Mawar dengan namanya yang tidak biasa memberi kami cerita yang mungkin akan terus mengundang senyum setiap kali dikenang.

Ibu Agnes meninggalkan pelajaran yang berbeda dan jauh lebih personal bagi saya. Pengabdian tidak terutama dikenang dari jabatan terakhir seseorang, tetapi dari cara seseorang bekerja, memperlakukan orang lain, menjaga komitmen, dan tetap setia sepanjang perjalanan.
Enam belas hari lalu kami masih berada di Alor, duduk dalam satu perahu, mencari Mawar, tertawa bersama, lalu berdiri dalam satu bingkai foto di hamparan pasir putih. Ketika Unun mengusulkan sebuah pesan perpisahan, saya mengatakan, “Belum waktunya.”
Hari ini, waktunya telah tiba. Karena itu, izinkan saya mengganti dua kata yang saya ucapkan di Alor dengan dua kata lain yang jauh lebih pantas disampaikan sekarang: terima kasih.
Terima kasih, Ibu Agnes, untuk perjalanan panjang itu. Terima kasih untuk teladan yang mungkin tidak pernah sengaja diajarkan, tetapi kami pelajari dari cara Ibu Agnes bekerja dan menjalani pengabdian.
Mawar akan tetap berenang di laut Alor dan Anis tetap menjadi sahabat yang menghubungkan saya dengan kenangan tentang pulau itu. Ibu Agnes kini melangkah menuju babak kehidupan yang baru, sementara jejak kebaikan dari perjalanan yang telah dilewati akan tetap tinggal bersama orang-orang yang pernah bekerja dan berjalan bersamanya.
Selamat memasuki masa purnabakti, Ibu Agnes. Tugas kedinasan boleh selesai, tetapi kebaikan yang ditanam sepanjang perjalanan tidak ikut pensiun.


