
Donor Darah Jadi Bagian Pembelajaran Latsar CPNS di BPSDMD NTT
KUPANG, SULUHDESA.COM – Donor darah tidak hanya berbicara tentang kebutuhan medis. Di lingkungan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur, kegiatan ini mulai ditempatkan sebagai bagian dari pembelajaran nilai kemanusiaan, pelayanan, loyalitas, dan solidaritas bagi peserta Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil.
Rangkaian kegiatan tersebut diawali pada 5 Agustus 2026. Ketua Palang Merah Indonesia Provinsi NTT, Ir. Alfridus Bria Seran, bersama rombongan Markas PMI NTT melakukan pertemuan dengan Pelaksana Tugas Kepala BPSDMD Provinsi NTT, Flafianus Dua, S.Fil., M.M., dan para pejabat di lingkungan BPSDMD untuk membahas rencana sosialisasi, edukasi, dan donor darah.
Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan yang langsung ditindaklanjuti. Pada malam 6 Agustus 2026, PMI NTT memberikan sosialisasi dan edukasi kepada peserta Latsar CPNS saat apel malam, sedangkan kegiatan donor darah dilaksanakan pada malam berikutnya, 7 Agustus 2026, di Aula Latsar BPSDMD Provinsi NTT.
Donor darah tersebut menghasilkan 24 kantong darah. Dari jumlah itu, golongan darah A sebanyak 4 kantong, golongan darah B sebanyak 5 kantong, golongan darah O sebanyak 13 kantong, dan golongan darah AB sebanyak 2 kantong.
Jumlah 24 kantong mungkin terlihat kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan darah setiap bulan. Namun, setiap kantong memiliki arti besar bagi pasien yang membutuhkan transfusi, terutama karena satu kantong darah dapat diproses menjadi beberapa komponen yang dapat membantu lebih dari satu pasien.
Kegiatan tersebut juga memberi ruang baru bagi peserta Latsar CPNS untuk melihat nilai dasar ASN dalam bentuk yang konkret. Materi pembelajaran tidak berhenti dalam ruang kelas, tetapi dapat diwujudkan melalui tindakan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
Dari Apel Malam Menuju Aksi Kemanusiaan
Plt. Kepala BPSDMD Provinsi NTT menyambut baik ajakan PMI NTT untuk membangun kerja sama yang lebih teratur. Menurutnya, BPSDMD pada prinsipnya siap mendukung agenda kemanusiaan, sementara teknis operasional akan dibicarakan bersama para pejabat manajerial.
“Pada prinsipnya kami siap bekerja sama untuk kemanusiaan. Nanti kami komunikasikan dengan semua pejabat BPSDMD dan ASN yang ada, sedangkan teknis operasionalnya akan dibicarakan bersama para pejabat manajerial,” kata Flafianus.
Menurut Flafianus, kegiatan donor darah juga memiliki nilai pembelajaran yang kuat bagi peserta Latsar CPNS. Dari tujuh nilai BerAKHLAK, setidaknya terdapat tiga nilai yang dapat dirasakan secara langsung melalui kegiatan tersebut, yaitu berorientasi pelayanan, harmonis, dan loyal.
“Donor darah merupakan wujud nyata berbagi dan membantu sesama melalui darah. Di dalamnya ada nilai berorientasi pelayanan, nilai harmonis, loyal, kemanusiaan, dan solidaritas kepada sesama sebagai bentuk bakti bagi negara,” ujarnya.
Flafianus menilai kegiatan donor darah yang dilakukan kali ini memang masih bersifat spontan. Namun, respons peserta menunjukkan bahwa aksi sederhana dapat memberi dampak nyata ketika didukung edukasi dan kesadaran.
“Donor darah kemarin masih bersifat spontan, tetapi faktanya berdampak. Darah kita bisa menyelamatkan dua sampai tiga nyawa. Suatu saat kita semua akan membutuhkan darah, maka marilah kita berbagi,” katanya.
Flafianus juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai pendonor. Kebiasaan itu sudah dilakukan sejak masa kuliah dan terus dipandang sebagai bagian dari pola hidup yang memberi manfaat kesehatan sekaligus nilai kemanusiaan.
“Saya sudah donor sejak kuliah. Dari sisi kesehatan, donor itu menyehatkan. Ada nilai kemanusiaan sebagai nilai universal. Mari kita menempatkan aspek kemanusiaan ini sebagai sesuatu yang mesti kita tanamkan dan kita beri contoh,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperkuat posisi donor darah sebagai bagian dari pembentukan karakter ASN. Seorang aparatur tidak hanya dituntut memahami nilai organisasi, tetapi juga menunjukkan nilai itu melalui tindakan yang dapat dirasakan masyarakat.
Nilai BerAKHLAK dalam Tindakan
Bagi peserta Latsar CPNS, kegiatan ini memiliki hubungan langsung dengan nilai dasar ASN. Dari tujuh nilai BerAKHLAK, setidaknya terdapat tiga nilai yang tampak secara nyata melalui kegiatan donor darah, yaitu berorientasi pelayanan, harmonis, dan loyal.
Nilai berorientasi pelayanan terlihat melalui kesediaan berbagi darah untuk membantu orang lain. Pelayanan publik dalam konteks ini hadir dalam bentuk sederhana tetapi sangat konkret, yaitu memberikan bagian dari tubuh yang dapat digunakan untuk membantu pasien yang membutuhkan.
Nilai harmonis tumbuh melalui kepedulian terhadap sesama tanpa membedakan latar belakang penerima darah. Pendonor tidak mengetahui siapa yang akan menggunakan darah tersebut, tetapi tetap bersedia membantu berdasarkan kesadaran bahwa kebutuhan kemanusiaan melampaui perbedaan sosial, agama, suku, jabatan, atau status ekonomi.
Sementara itu, nilai loyal dapat dimaknai melalui pengabdian kepada masyarakat dan negara. Solidaritas terhadap sesama menjadi bagian dari tanggung jawab sebagai aparatur yang tidak hanya menjalankan tugas administratif, tetapi juga hadir dalam berbagai bentuk pelayanan kemanusiaan.
Kegiatan ini juga menunjukkan adanya nilai penyerapan nyata dari agenda Latsar. Peserta tidak hanya mendengar penjelasan mengenai nilai dasar ASN, tetapi memperoleh kesempatan untuk mengalami langsung bagaimana nilai tersebut diterjemahkan dalam kehidupan sosial.
PMI NTT Apresiasi Keterbukaan BPSDMD
Ketua PMI Provinsi NTT, Ir. Alfridus Bria Seran, menyampaikan terima kasih kepada Plt. Kepala BPSDMD Provinsi NTT, Flafianus Dua, bersama seluruh jajaran yang telah menerima rombongan PMI dan memberikan ruang untuk melakukan sosialisasi kepada peserta Latsar CPNS.
“Kami dari Pengurus PMI Provinsi NTT menyampaikan terima kasih kepada Pak Flafianus Dua sebagai Plt. Kepala BPSDMD beserta jajarannya yang telah menerima dan meluangkan waktu bagi kami untuk menyampaikan sosialisasi dan edukasi tentang donor darah kepada para peserta Latsar CPNS di lingkungan BPSDMD pada 6 Agustus 2026,” kata Alfridus.
Apresiasi juga diberikan karena sosialisasi tersebut langsung diikuti dengan kegiatan donor darah pada hari berikutnya. Respons cepat tersebut menunjukkan bahwa edukasi dapat segera diterjemahkan menjadi aksi ketika terdapat dukungan kelembagaan.
“Terima kasih juga karena kegiatan sosialisasi dan edukasi ini kemudian langsung diikuti dengan donor darah pada keesokan harinya, 7 Agustus 2026. PMI dan BPSDMD sama-sama memiliki misi untuk menjaga dan meningkatkan kualitas hidup umat manusia,” ujarnya.
Menurut Alfridus, PMI harus terus bergerak melakukan sosialisasi donor darah karena kebutuhan darah terus meningkat. Pelayanan darah PMI NTT harus menopang permintaan dari 16 rumah sakit dan satu klinik utama di wilayah Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.
Kondisi tersebut mendorong PMI aktif mendatangi berbagai lembaga. Instansi pemerintah, sektor swasta, TNI, Polri, lembaga pendidikan, organisasi sosial, komunitas, dan kelompok masyarakat menjadi mitra penting dalam menjaga ketersediaan darah.
Upaya tersebut menempatkan donor darah sebagai gerakan bersama. PMI mengelola pelayanan darah, tetapi ketersediaan darah tetap bergantung pada kesediaan masyarakat untuk menjadi pendonor.
Kebutuhan Lebih dari 3.000 Kantong per Bulan
Kepala Divisi Pelayanan Markas PMI NTT, Adrianus Jeharun, menjelaskan bahwa kebutuhan darah untuk 16 rumah sakit dan satu klinik utama rata-rata mencapai lebih dari 3.000 kantong setiap bulan. Sementara kemampuan penyediaan saat ini baru berada pada kisaran 2.600 kantong.
Data tahun 2025 menunjukkan pemakaian darah mencapai 31.723 kantong. Angka tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan pelayanan darah dan menjelaskan mengapa PMI terus memperluas kemitraan dengan berbagai lembaga.
Kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan menjadi persoalan yang harus dijawab secara kolektif. Satu instansi mungkin hanya mampu menyumbangkan puluhan kantong dalam satu kegiatan, tetapi kontribusi banyak lembaga secara rutin akan membantu memperkuat stok darah.
Adrianus juga menekankan bahwa donor darah memiliki manfaat ganda. Selain membantu menyelamatkan nyawa orang lain, donor darah juga memberi manfaat kesehatan bagi pendonor ketika dilakukan sesuai persyaratan medis.
Salah satu manfaatnya berkaitan dengan kesehatan jantung dan sirkulasi darah. Donor darah juga membantu mengurangi kelebihan zat besi dalam tubuh yang dalam kondisi tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Tubuh juga akan merespons donor dengan memproduksi sel darah merah baru. Proses ini membantu pembaruan sel darah setelah sejumlah darah diambil melalui prosedur donor.
Manfaat lain adalah deteksi dini kondisi kesehatan. Sebelum donor dilakukan, petugas medis memeriksa tekanan darah, denyut nadi, kadar hemoglobin, dan sejumlah indikator lain untuk memastikan calon pendonor dalam kondisi layak.
Darah yang didonorkan juga melalui proses skrining penyakit menular sesuai prosedur pelayanan darah. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan darah bagi penerima.
Jadwal Edukasi Rabu, Donor Jumat
Rangkaian kegiatan di BPSDMD tidak direncanakan berhenti pada donor darah 7 Agustus 2026. Ke depan, sosialisasi kepada peserta Latsar direncanakan berlangsung setiap hari Rabu, sedangkan kegiatan donor darah dijadwalkan setiap hari Jumat.
Pola tersebut dapat memberi nilai tambah bagi program Latsar. Peserta tidak hanya menerima materi mengenai nilai dasar ASN, tetapi juga memperoleh kesempatan langsung untuk mempraktikkan pelayanan dan solidaritas sosial.
Jika dijalankan secara konsisten, kegiatan ini dapat membentuk kebiasaan baru. Setiap angkatan Latsar berpotensi menjadi kelompok pendonor sukarela yang memahami alasan, manfaat, dan tanggung jawab moral di balik donor darah.
Langkah BPSDMD juga dapat menjadi contoh bagi lembaga pemerintah lain. Donor darah dapat dimasukkan dalam agenda pembinaan pegawai, kegiatan sosial, peringatan hari besar, atau program rutin kelembagaan tanpa kehilangan substansi kemanusiaannya.
Hal terpenting bukan terletak pada seremoni. Nilainya justru berada pada konsistensi, jumlah pendonor yang terus bertambah, pemahaman yang semakin baik, serta kemampuan membangun budaya saling membantu.
Dari Aula Latsar BPSDMD, 24 kantong darah menjadi bukti awal bahwa edukasi dapat segera berubah menjadi tindakan. Bagi seorang pasien yang membutuhkan transfusi, satu kantong darah bukan angka statistik. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk bertahan hidup, pulih, dan kembali kepada keluarga. (SP)


