
Undangan Terakhir
SULUHDESA.COM – Beberapa hari lalu, saya menerima sebuah undangan kumpul keluarga dari kerabat saya, Vian Jago. Tidak ada yang terasa berbeda ketika pertama kali membacanya, sampai kabar kepergian Romo Yakobus Longga membuat saya kembali memandang tanda tangan di bagian bawah surat itu.
Undangan tersebut berkaitan dengan penggalangan dana untuk mendukung penyelesaian pembangunan Kapela St. Yoseph Naioni, sebuah rumah ibadah yang sedang diperjuangkan umat dengan segala kemampuan dan semangat kebersamaan yang mereka miliki.
Vian bukan orang baru dalam pelayanan di Stasi Naioni. Sepanjang yang saya ketahui, kerabat saya ini pernah terlibat dalam kepengurusan stasi, dan tanggung jawab terakhir yang saya dengar adalah sebagai ketua panitia pembangunan kapela tersebut.
Melalui Vian, saya sesekali mengikuti perkembangan pembangunan kapela dan mendengar cerita tentang pelayanan Romo Yalo. Dari percakapan-percakapan itu, saya memperoleh gambaran tentang perjuangan umat yang ingin mempunyai tempat ibadah yang lebih layak.
Beberapa bulan lalu, saya sempat mampir ketika umat sedang bergotong royong melakukan pengecoran tiang bangunan. Orang-orang bekerja bersama, menyumbangkan tenaga dan waktu untuk mewujudkan tempat yang kelak menjadi rumah doa dan persekutuan mereka.
Menurut panitia, Romo Yalo juga sempat hadir dalam kegiatan pengecoran tersebut. Namun ketika saya tiba, Romo sudah pulang, sehingga kesempatan untuk berjumpa langsung dengannya kembali terlewat.
Kapela itu berdiri di atas bukit karang, lebih tinggi daripada perkampungan dan hamparan sawah di sekitarnya. Untuk mencapainya, kita harus mengikuti jalan sempit yang berkelok menyusuri tepian persawahan sebelum tiba di lokasi pembangunan.
Saya masih mengingat suasana di tempat itu. Di atas bukit tersebut, umat sedang membangun sesuatu yang bagi mereka tentu lebih besar daripada susunan batu, pasir, semen, dan tiang beton.
Mereka sedang membangun rumah bagi kehidupan iman bersama, sebuah tempat yang kelak menjadi saksi doa, harapan, sukacita, dan air mata dari generasi yang datang sesudah mereka.
Karena itu, ketika undangan kumpul keluarga tersebut sampai kepada saya, maksudnya mudah dipahami. Kegiatan seperti ini merupakan salah satu cara masyarakat, terutama dalam tradisi kekeluargaan Flores, menghimpun dukungan bagi kebutuhan bersama.
Tradisi tersebut juga menemukan ruang dalam pelayanan Gereja. Saya pernah menyaksikan pendekatan serupa dilakukan umat Stasi Yang Mahakudus Liliba, ketika semangat kekeluargaan digunakan untuk mendukung kepentingan persekutuan.
Namun ada sesuatu pada undangan dari Vian yang kemudian membuat saya membacanya dengan perasaan berbeda. Di bagian bawah surat itu terdapat tanda tangan seorang imam muda, Romo Yakobus Longga, yang lebih akrab disapa Romo Yalo.
Undangan tersebut ditujukan untuk kegiatan yang direncanakan berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Ketika pertama kali menerimanya, saya melihatnya sebagai surat biasa, salah satu dari sekian banyak undangan kegiatan umat yang datang melalui keluarga dan lingkungan pergaulan.
Siapa menyangka, tanda tangan pada surat itu kemudian menjadi kenangan yang begitu menyentuh. Romo Yalo telah berpulang sebelum hari pelaksanaan kegiatan yang tercantum dalam undangan tersebut.
Surat itu mendadak mempunyai makna lain bagi saya. Sesuatu yang semula mengajak orang datang dan berkumpul kini mengingatkan pada seseorang yang tidak lagi dapat hadir bersama umatnya.
Saya tidak mengenal Romo Yalo secara dekat. Pengetahuan saya tentang sosok imam muda ini lebih banyak berasal dari cerita beberapa umat Kuasi Haukoto dan Stasi Naioni, juga dari percakapan dengan Pak Raymundus Lake yang kerap saya temui dalam urusan komite sekolah.
Dari cerita-cerita itulah saya sedikit mengenal pelayanan dan kepribadiannya. Saya juga mengetahui bahwa beberapa tahun silam Romo Yalo pernah diundang dalam kegiatan pembinaan rohani bagi ASN di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT.
Selebihnya, perjumpaan saya dengan Romo Yalo lebih sering terjadi melalui layar telepon. Video-video pendeknya sesekali melintas di beranda media sosial, membawa pesan rohani dengan bahasa sederhana dan cara penyampaian yang akrab.
Dua hari sebelum kabar kepergiannya, salah satu video Romo Yalo kembali melintas di beranda saya. Ketika itu saya sedang bersama Pak Stevan Ruron, dan kami sempat mempercakapkan sosok imam muda tersebut.
Percakapan itu berlangsung biasa saja. Tidak ada sesuatu yang membuat saya membayangkan bahwa tidak lama kemudian nama Romo Yalo akan kembali hadir dalam percakapan yang sama sekali berbeda.
Kabar kepergiannya kemudian datang. Seperti banyak orang lain yang mendengar berita duka secara mendadak, saya pun merasa terkejut.
Di tengah umat, bermunculan pertanyaan yang memperlihatkan betapa sulitnya menerima kenyataan tersebut. Ada yang bertanya tentang sakitnya, ada yang bertanya apa yang sebenarnya terjadi, dan ada pula yang seolah belum percaya bahwa imam muda yang dikenal ceria itu telah berpulang.
Saya memahami pertanyaan-pertanyaan itu sebagai bagian dari keterkejutan dan rasa kehilangan. Namun tidak semua pertanyaan harus segera dijawab, terlebih ketika keluarga dan umat masih berada dalam suasana duka.
Di media sosial, video-video Romo Yalo mulai dibagikan kembali. Potongan-potongan pesannya muncul di berbagai beranda, seakan orang-orang sedang mencari sesuatu yang dapat membantu mereka memahami kepergian yang terasa begitu cepat.
Saya pun menonton kembali beberapa video tersebut. Dari sekian banyak yang melintas, ada tiga pesan yang membuat saya berhenti lebih lama.
Pesan pertama berbicara tentang lilin yang menyala. Dalam video itu, Romo Yalo mengingatkan bahwa nyala lilin bukan hanya tanda kenangan, melainkan juga pengingat tentang kehadiran Tuhan bagi mereka yang sedang menderita.
Ia mengajak orang untuk tidak menyerah, tetap bersinar, dan tidak melupakan doa. Pesan itu terasa begitu dekat ketika didengarkan kembali di tengah suasana kehilangan.
Saya membayangkan sebatang lilin yang menyala dalam ruang gelap. Nyala kecilnya mungkin tidak mampu menghapus seluruh kegelapan, tetapi cukup untuk membuat orang mengetahui bahwa masih ada terang.
Barangkali demikian pula kehidupan seseorang. Tidak semua orang meninggalkan bangunan besar atau karya yang dikenal luas, tetapi setiap orang dapat menghadirkan terang melalui kata-kata, perhatian, dan kebaikan yang dibagikan kepada sesama.
Pesan kedua berbicara tentang senyuman. Romo Yalo mengajak orang untuk tetap tersenyum, bahkan ketika orang lain tidak memahami keadaan yang sedang dialaminya.
Dalam video itu terselip pengingat bahwa manusia sering menilai orang lain dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang sebenarnya dirasakan. Ia juga mengajak pendengarnya untuk tetap berharap bahwa hari esok mungkin membawa kebaikan yang telah Tuhan siapkan.
Saya kembali memikirkan pesan tersebut setelah mendengar kabar kepergiannya. Betapa sering kita melihat seseorang tersenyum, lalu menganggap seluruh kehidupannya sedang baik-baik saja.
Padahal setiap orang mempunyai pergumulan yang tidak selalu dapat dibaca dari wajahnya. Ada beban yang disimpan dalam diam, ada kelelahan yang tidak diceritakan, dan ada harapan yang terus dipelihara meskipun perjalanan hidup tidak selalu mudah.
Saya tidak mengetahui pergumulan pribadi Romo Yalo dan tidak ingin menafsirkan senyumannya sebagai petunjuk tentang sesuatu yang tidak pernah saya ketahui. Namun pesannya mengingatkan saya agar lebih berhati-hati memandang kehidupan orang lain, sebab di balik setiap senyuman ada pribadi yang layak diperlakukan dengan perhatian dan kasih.
Pesan ketiga berbicara tentang pengampunan. Romo Yalo mengajak pendengarnya melihat kedekatan dengan Tuhan melalui kesediaan mengampuni orang yang pernah melukai hati.
Pesan itu terdengar singkat, tetapi tidak mudah dijalankan. Mengampuni orang yang menyakiti kita sering kali membutuhkan perjuangan jauh lebih panjang daripada mengucapkan kata pengampunan itu sendiri.
Saya pun menyadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari, mengampuni tidak selalu berarti melupakan luka begitu saja. Ada proses menerima kenyataan, melepaskan keinginan membalas, dan perlahan memberi ruang bagi hati untuk kembali menemukan kedamaian.
Ketiga pesan itu kini saya dengarkan dalam suasana berbeda. Ada lilin yang mengajak kita terus bersinar, senyuman yang mengingatkan kita untuk tetap berharap, dan pengampunan yang mengajak kita membebaskan hati dari luka.
Pesan-pesan tersebut tidak menghapus kesedihan karena kehilangan. Namun di tengah suasana duka, kata-kata yang pernah disampaikan Romo Yalo dapat menjadi pegangan bagi orang-orang yang ditinggalkan.
Saya sempat berpikir, mungkinkah seseorang mengetahui bahwa waktunya bersama kita tidak akan lama lagi? Pertanyaan seperti itu mungkin muncul ketika kita mendengar kembali pesan seseorang setelah kepergiannya.
Namun kita tidak dapat mengetahui isi hati atau kesadaran seseorang hanya dari video yang ditinggalkannya. Kata-kata yang dahulu terdengar sebagai nasihat biasa sering memperoleh kedalaman baru justru karena orang yang mengucapkannya sudah tidak berada di tengah kita.
Barangkali bukan Romo Yalo yang sedang menyampaikan perpisahan melalui tiga video tersebut. Barangkali kitalah yang baru mendengarkan pesannya dengan cara berbeda setelah kepergiannya.
Saya teringat betapa sering kita mendengar nasihat ketika seseorang masih bersama kita. Namun baru setelah orang itu pergi, kita menyadari bahwa ada kata-kata sederhana yang seharusnya didengarkan dengan lebih sungguh-sungguh.
Pikiran saya kemudian kembali kepada surat undangan yang dikirim Vian. Di sana masih tertulis rencana kumpul keluarga untuk mendukung pembangunan Kapela St. Yoseph Naioni, lengkap dengan tanda tangan Romo Yalo.
Saya teringat bukit karang tempat kapela itu sedang dibangun. Saya juga teringat umat yang bekerja bersama ketika pengecoran tiang, jalan sempit di tepian sawah, dan kabar dari panitia bahwa Romo Yalo telah pulang sebelum saya tiba.
Waktu itu, saya menganggapnya sebagai perjumpaan yang kebetulan terlewat. Kini saya menyadari bahwa kesempatan untuk bertemu langsung dengannya memang tidak akan datang lagi.
Surat undangan tersebut awalnya mengajak kami berkumpul untuk membantu menyelesaikan sebuah bangunan. Setelah kepergian Romo Yalo, surat yang sama mengajak saya merenungkan sesuatu yang lebih dalam tentang kehidupan, pelayanan, dan kesempatan yang tidak selalu datang kembali.
Kita dapat menyusun agenda, menentukan tanggal kegiatan, menyiapkan undangan, dan merencanakan banyak hal. Namun tidak seorang pun mempunyai kepastian bahwa seluruh rencana itu akan dijalani bersama orang-orang yang hari ini masih berada di dekatnya.
Kesadaran itu tidak seharusnya membuat kita takut menjalani hidup. Justru karena waktu mempunyai batas yang tidak kita ketahui, setiap kesempatan untuk berbuat baik, menguatkan sesama, dan menghadirkan kasih menjadi semakin berharga.
Saya tidak pernah mempunyai kesempatan mengenal Romo Yalo lebih dekat. Namun melalui sebuah undangan, cerita beberapa umat, dan tiga video yang kembali saya dengarkan, saya memperoleh bahan perenungan yang tidak kecil.
Mungkin itulah salah satu cara sebuah pelayanan terus hidup setelah orang yang menjalankannya berpulang. Bukan hanya melalui bangunan yang pernah diperjuangkan atau kegiatan yang pernah diselenggarakan, melainkan melalui pesan dan kebaikan yang diteruskan oleh orang-orang yang masih berjalan.
Saya kembali memandang undangan itu. Tanggal kegiatan masih tertulis di sana, demikian pula nama dan tanda tangan Romo Yalo.
Saya teringat kapela di atas bukit karang, tempat kami hampir berjumpa beberapa bulan lalu. Kini saya tahu, kesempatan itu tidak akan datang lagi, tetapi pesan-pesan yang pernah disampaikannya masih dapat saya dengarkan.
Romo Yalo mengajak orang untuk tetap bersinar, tetap tersenyum dalam pengharapan, dan belajar mengampuni. Tiga pesan sederhana yang mungkin dahulu hanya melintas di beranda, tetapi kini tinggal lebih lama dalam ingatan saya.
Undangan itu masih ada. Orang yang menandatanganinya telah pergi, tetapi pesannya belum selesai berbicara kepada kita. (*)


