suluhdesa_formal_group_1mb

Sekda NTT Baru Dilantik, Opa Akhim Pun Pamit

Kupang, Suluhdesa.com – Ada orang yang kita kenal dari ruang rapat. Ada yang kita kenal dari tumpukan pekerjaan, perjalanan dinas, atau percakapan panjang di kantor. Saya justru merasa benar-benar mengenal Bapak Akhim Sakau, yang lebih akrab kami panggil Opa Akhim, dari sebuah meja catur.

Kami sudah berada dalam lingkungan kerja yang sama sekitar lima atau enam tahun. Perjumpaan bermula ketika Korpri bergabung dengan Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Beberapa tahun kemudian, setelah Assessment Center memperoleh Akreditasi A dan mulai dikelola secara mandiri, Opa Akhim ikut menjadi bagian dari aktivitas di sana, terutama berkaitan dengan fasilitas dan kebutuhan operasional.

Namun, kedekatan tidak tumbuh dari urusan pekerjaan itu. Meja catur justru membuka ruang yang berbeda. Di sana tidak ada jabatan, disposisi, surat tugas, atau target pekerjaan. Yang ada hanya papan 64 petak, tiga puluh dua buah catur, dua pemain, dan beberapa orang yang biasanya lebih ribut daripada mereka yang sedang bertanding.

Saya termasuk orang yang cukup sering menantang Opa bermain. Kalau tidak ikut bermain, saya senang berdiri di samping papan dan menonton. Menyaksikan Opa bermain selalu menarik karena Opa punya kebiasaan yang lambat laun kami kenali sebagai trik.

Tangannya kadang memegang salah satu buah catur cukup lama. Lawan bisa mengira buah itulah yang akan digerakkan. Jangan cepat percaya. Beberapa detik kemudian, tangan Opa pindah ke buah lain dan langkah yang keluar sama sekali berbeda.

Matanya juga punya cerita sendiri. Tatapannya kadang mengikuti satu bidak, seolah seluruh rencana sedang diarahkan ke sana. Lawan yang terlalu percaya pada arah mata itu bisa terkecoh karena sasaran sebenarnya berada di sisi lain papan.

Setelah cukup sering bermain, kami mulai mengenali kebiasaan tersebut. Karena itu, orang-orang di sekitar meja tidak hanya menonton. Kami ikut mengomentari permainan, meskipun komentar dari penonton tentu jauh lebih mudah daripada mengambil keputusan ketika duduk langsung di depan papan.

“Opa, jangan ke situ.”

“Itu bahaya.”

“Nanti kena serangan.”

Kadang komentar datang hampir bersamaan. Opa biasanya tidak langsung mengubah langkah. Wajahnya tetap tenang, lalu keluar satu kalimat pendek yang kemudian menjadi sangat terkenal di antara kami.

“Saya sudah tahu.”

Kalimat itu disampaikan dengan dialek Kupang yang membuatnya terdengar semakin khas. Tidak panjang, tidak disertai penjelasan, juga tidak menunjukkan sedikit pun kepanikan. Opa seperti ingin menyampaikan bahwa semua ancaman yang kami lihat sudah masuk dalam perhitungannya.

Masalahnya, “saya sudah tahu” tidak selalu berarti Opa benar-benar tahu.

Ada pertandingan ketika beberapa langkah setelah kalimat itu diucapkan, serangan lawan benar-benar masuk. Benteng terancam. Menteri kehilangan ruang. Pertahanan terbuka. Tidak lama kemudian, posisi yang sebelumnya kami peringatkan berubah menjadi jalan bagi kekalahan.

Kami tentu tertawa.

Opa juga tidak punya banyak ruang untuk membela diri karena papan catur memberikan bukti yang terlalu terang. Kalimat “saya sudah tahu” pun mendapat tambahan makna baru. Setiap kali keluar, kami menunggu apakah kali ini benar-benar tahu atau hanya tetap percaya diri.

Tetapi jangan salah. Ada juga pertandingan ketika kami merasa sudah menemukan kesalahan Opa, lalu beberapa langkah kemudian keadaan justru berbalik. Serangan lawan tertahan, satu bidak masuk ke posisi penting, lalu tiba-tiba Opa mengambil alih permainan.

Pada situasi seperti itu, giliran kami yang diam. Opa tinggal menikmati kemenangan sambil memperlihatkan wajah yang seolah berkata bahwa sejak tadi memang sudah memperhitungkan semuanya. Kami hanya bisa tertawa lagi.

Dari permainan-permainan kecil itulah saya melihat satu sisi Opa Akhim yang terus melekat dalam ingatan. Bukan soal siapa lebih hebat bermain catur. Bukan pula tentang seberapa banyak kemenangan yang dikumpulkan. Saya lebih tertarik pada rasa percaya dirinya ketika menghadapi posisi sulit.

Ketika papan terlihat tidak menguntungkan, Opa jarang menunjukkan kepanikan. Ketika kami memperingatkan adanya ancaman, respons pertama bukan menyerah. Opa tetap percaya bahwa masih ada langkah berikutnya.

Tentu rasa percaya diri tidak membuat seseorang selalu benar. Catur sendiri berkali-kali membuktikan itu kepada kami. Seseorang dapat yakin pada rencananya, lalu kalah. Seseorang juga dapat melakukan langkah buruk, bertahan, menemukan celah, lalu menang.

Justru di situ letak menariknya. Optimisme bukan jaminan kemenangan, tetapi membuat seseorang tidak cepat meninggalkan permainan. Selama raja belum mati, Opa seperti selalu percaya masih ada sesuatu yang bisa dilakukan.

Saya tidak hendak membaca seluruh karakter Opa hanya dari permainan catur. Manusia terlalu kompleks untuk disimpulkan dari satu kebiasaan. Tetapi dari interaksi yang berulang, kita sering menangkap sisi seseorang yang tidak muncul dalam dokumen kepegawaian.

Dokumen kantor dapat mencatat pangkat, masa kerja, unit kerja, dan tanggal pensiun. Dokumen tidak mencatat cara seseorang tertawa ketika kalah bermain catur. Arsip juga tidak mencatat kalimat yang begitu sering diucapkan sampai berubah menjadi bahan candaan bersama.

Di lingkungan kerja, hal-hal kecil seperti itu justru sering bertahan paling lama dalam ingatan.

Selama beberapa tahun bersama, saya melihat Opa menjalankan perannya di sekitar aktivitas Assessment Center. Tugas Opa tidak selalu berada di bagian yang paling terlihat. Banyak pekerjaan berkaitan dengan fasilitas, kesiapan tempat, dan berbagai kebutuhan yang mendukung aktivitas kami.

Pekerjaan pendukung memang punya nasib unik. Ketika semuanya tersedia dan berfungsi, orang jarang membicarakannya. Begitu sesuatu tidak tersedia, barulah semua orang bertanya.

Assessment Center juga berjalan seperti itu. Orang dapat melihat asesor, peserta, instrumen, hasil asesmen, atau berbagai kegiatan resmi yang dilakukan. Namun, sebuah kegiatan tidak akan berjalan baik jika ruang belum siap, fasilitas bermasalah, atau berbagai kebutuhan teknis tidak tersedia.

Opa menjadi salah satu orang yang berada pada bagian tersebut.

Saya tidak ingin melebih-lebihkan perannya. Sebuah organisasi tentu tidak dibangun oleh satu orang. Assessment Center juga tumbuh melalui pekerjaan banyak orang, dengan tanggung jawab yang berbeda-beda.

Namun, justru karena itu saya merasa penting mengingat orang dari kontribusinya secara proporsional. Tidak semua pengabdian berlangsung di panggung utama. Tidak semua pekerjaan menghasilkan tepuk tangan, foto resmi, atau nama yang disebut dalam sambutan.

Sebagian pengabdian berlangsung dalam rutinitas.

Datang bekerja. Memastikan sesuatu siap. Menyelesaikan kebutuhan yang muncul. Membantu ketika diperlukan. Besok datang lagi dan mengerjakan hal yang kurang lebih sama.

Rutinitas sering terlihat biasa karena terus berulang. Padahal, setelah seseorang berhenti hadir, kita baru menyadari bahwa kebiasaan tersebut selama bertahun-tahun menjadi bagian dari denyut kehidupan kantor.

Tanggal 31 Agustus 2026 kemudian datang sebagai batas bagi rutinitas Opa Akhim sebagai seorang PNS.

Kami tentu sudah mengetahui bahwa Opa akan memasuki masa purnabakti. Pensiun bukan peristiwa yang datang tanpa pemberitahuan. Tanggalnya sudah dapat dihitung jauh hari.

Tetapi mengetahui sebuah tanggal berbeda dari tiba di tanggal tersebut.

Ada perbedaan antara berkata, “Opa sebentar lagi pensiun,” dan menyadari bahwa hari kerja terakhir benar-benar sudah datang. Ada perbedaan antara membicarakan purnabakti beberapa bulan sebelumnya dan melihat seorang rekan melakukan presensi untuk salah satu kali terakhir sebagai pegawai aktif.

Beberapa hari sebelumnya, Jumat, 28 Agustus 2026, kebetulan berlangsung sebuah peristiwa penting di lingkungan Pemerintah Provinsi NTT. Bapak Fransiskus Sales Sodo dilantik sebagai Sekretaris Daerah Provinsi NTT.

Di tengah suasana tersebut, kami sempat berfoto bersama Opa Akhim di tangga Gedung Sasando.

Waktu itu foto tersebut mungkin hanya terasa sebagai dokumentasi kebersamaan. Kami berdiri bersama, menghadap kamera, lalu melanjutkan kegiatan. Tidak ada yang memberi judul besar pada momen tersebut.

Namun, beberapa hari kemudian saya melihat foto itu secara berbeda.

Di tempat yang sama, birokrasi NTT sedang menyambut seorang Sekda baru. Sementara di antara kami berdiri seorang pegawai yang tinggal menghitung hari sebelum meninggalkan status PNS.

Satu orang memulai babak baru dalam perjalanan birokrasi. Satu orang lain sedang menutup perjalanan pengabdian yang panjang.

Pertemuan dua momen tersebut memang kebetulan. Pelantikan Sekda tidak berhubungan dengan pensiunnya Opa. Tidak ada kaitan administratif di antara keduanya.

Namun, kebetulan itu memberi gambaran yang sangat jelas tentang bagaimana sebuah organisasi hidup.

Orang datang. Orang menerima tanggung jawab. Orang bekerja bertahun-tahun. Jabatan berganti. Pimpinan berganti. Generasi pegawai berganti. Lalu ada waktunya seseorang menyerahkan ruang kepada mereka yang datang sesudahnya.

Pagi 31 Agustus memberikan satu potongan cerita lagi.

Seusai presensi, saya berpapasan dengan Opa di lobi Gedung Sasando. Seperti biasa, kesempatan untuk menggoda tidak saya lewatkan.

“Wah, Opa Akhim sudah bekerja berapa generasi sekda?”

Opa tertawa.

Tidak ada jawaban panjang. Kami sama-sama berlalu menuju kegiatan masing-masing. Opa kemudian berjalan menuju lapangan upacara.

Percakapan itu hanya berlangsung beberapa detik. Tetapi setelah saya pikirkan kembali, pertanyaan tersebut seperti membuka seluruh panjang perjalanan yang tidak saya saksikan sejak awal.

Saya hanya mengenal Opa sekitar lima atau enam tahun terakhir. Sebelum kami bertemu, sudah ada perjalanan panjang sebagai pegawai negeri. Sudah ada pimpinan yang datang dan pergi. Sudah ada banyak perubahan dalam birokrasi yang dilewati.

Saya tidak mempunyai cukup pengalaman bersama Opa untuk menulis seluruh riwayat pengabdiannya. Karena itu, saya juga tidak ingin berpura-pura mengetahui semuanya. Saya hanya dapat bercerita tentang bagian kecil yang saya lihat dan alami sendiri.

Dan bagian kecil itu ternyata cukup berwarna.

Ada Assessment Center.

Ada urusan fasilitas.

Ada meja catur.

Ada tangan yang sengaja memegang buah tertentu untuk mengecoh lawan.

Ada mata yang mengikuti bidak yang bukan sasaran sebenarnya.

Ada penonton yang suka ikut campur.

Ada kekalahan.

Ada kemenangan.

Dan tentu saja, ada “Saya sudah tahu.”

Mungkin begitulah seseorang tinggal dalam ingatan kita. Bukan melalui rangkaian kalimat besar, tetapi dari detail yang terus muncul ketika namanya disebut.

Kelak orang lain mungkin mengingat Opa Akhim dengan cerita yang berbeda. Mereka yang bekerja lebih lama bersamanya tentu mempunyai pengalaman lain. Ada yang mengenal dari tugas, perjalanan kerja, percakapan, atau kejadian yang sama sekali tidak pernah saya lihat.

Saya punya meja catur.

Dari meja itulah saya belajar bahwa mengenal rekan kerja tidak selalu membutuhkan percakapan serius. Kadang kita mengenal seseorang dari cara menghadapi kekalahan, cara mempertahankan keyakinan, atau cara tertawa setelah langkahnya terbukti salah.

Kini meja yang sama tentu masih dapat digunakan. Buah-buah catur masih lengkap. Permainan bisa terus berlangsung dengan orang lain.

Tetapi rasanya akan berbeda ketika tidak ada lagi Opa sebagai pegawai aktif yang duduk di salah satu sisinya.

Organisasi memang harus terus bergerak. Pekerjaan tidak boleh berhenti hanya karena seseorang pensiun. Tugas berpindah. Pegawai lain mengambil tanggung jawab. Kegiatan tetap berjalan.

Namun, ada sesuatu yang tidak bisa dipindahkan melalui surat tugas.

Pengalaman.

Tidak ada pegawai pengganti yang dapat menggantikan cerita yang sama persis. Orang baru akan membawa kebiasaan baru, candaan baru, dan mungkin cerita baru yang suatu hari juga akan dikenang ketika masa pengabdiannya selesai.

Karena itu, pensiun tidak perlu dibaca sebagai hilangnya seseorang dari seluruh kehidupan kantor. Status formal memang selesai. Hubungan antarmanusia tidak harus ikut selesai.

Besok Opa mungkin tidak lagi datang untuk melakukan presensi sebagai PNS. Tidak lagi berjalan menuju tempat kerja dengan tanggung jawab yang sama. Namun, nama Opa akan tetap muncul ketika seseorang melihat papan catur dan mengingat satu pertandingan tertentu.

Mungkin ada yang akan berkata, “Kalau Opa Akhim tadi, pasti bilang ‘saya sudah tahu’.”

Lalu kami tertawa.

Bagi saya, di situlah sebuah pengabdian menemukan bentuk yang paling manusiawi. Pemerintah memiliki arsip mengenai perjalanan pegawainya. Rekan kerja memiliki cerita.

Arsip menyimpan tanggal.

Cerita menyimpan suasana.

Arsip mencatat kapan seseorang berhenti bekerja.

Cerita mengingat bagaimana seseorang pernah hadir.

Jumat itu, kami berfoto di Hall Gedung Sasando beberapa jam sebelum Sekretaris Daerah NTT dilantik. Beberapa hari kemudian, Opa Akhim sampai pada hari terakhir pengabdiannya sebagai PNS.

Barangkali tidak ada skenario yang sengaja mempertemukan kedua momentum itu. Tetapi saya menyukai cara waktu menempatkannya berdampingan.

Satu perjalanan baru dimulai.

Satu perjalanan panjang selesai.

Birokrasi terus bergerak.

Dan Opa Akhim melangkah keluar dari rutinitas yang sudah begitu lama dijalani.

Selamat memasuki masa purnabakti, Opa.

Terima kasih untuk kebersamaan, bantuan, candaan, dan pertandingan-pertandingan catur yang membuat hari kerja terasa lebih hidup. Terima kasih juga untuk satu kalimat pendek yang mungkin akan terus kami gunakan lama setelah Opa tidak lagi berada di kantor.

“Saya sudah tahu.”

Kali ini kami tidak akan membantah.

Semoga Opa memang sudah tahu bahwa di balik guyonan kami, ada rasa hormat dan terima kasih untuk perjalanan panjang yang baru saja selesai. (*/Gergorius Babo)