emergency_team_frame_compressed_1mb

Ambulans PMI Bantu Rujuk Korban Gempa dari Dampek ke Labuan Bajo

MANGGARAI TIMUR, SULUHDESA.COM – Palang Merah Indonesia memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Sejak Senin, 17 Agustus 2026, ambulans PMI mulai beroperasi untuk membantu merujuk pasien yang membutuhkan penanganan medis lanjutan sekaligus menjemput warga dari lokasi pengungsian menuju Posko Layanan Kesehatan Terpadu atau Rumah Sakit Lapangan di Damer, Dampek.

Setiap hari, ambulans PMI melayani sekitar tiga hingga empat pasien. Sebagian pasien harus menempuh tahapan rujukan dari posko layanan medis menuju helipad Basarnas sebelum diterbangkan menggunakan helikopter ke Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo.

Layanan tersebut menjadi penting karena sejumlah korban mengalami cedera serius yang memerlukan penanganan lebih lengkap. Kondisi fasilitas kesehatan di wilayah terdampak juga belum sepenuhnya mampu melayani kebutuhan medis setelah gempa.

Sebagian besar pasien yang dirujuk mengalami patah kaki, patah tangan, dan cedera kepala. Cedera tersebut membutuhkan pemeriksaan dan tindakan medis yang tidak seluruhnya dapat diberikan di Dampek.

Permintaan Rujukan Cukup Tinggi

Kepala Markas PMI Kabupaten Manggarai Timur, Alfred Tuname, mengatakan permintaan bantuan rujukan cukup tinggi karena banyak warga membutuhkan pelayanan medis lanjutan. Keterbatasan tenaga kesehatan dan kerusakan fasilitas kesehatan menjadi tantangan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat terdampak.

“Kami cukup banyak menerima permintaan dari masyarakat untuk membantu merujuk pasien dari Dampek ke Rumah Sakit Siloam Labuan Bajo. Sebagian besar pasien mengalami patah kaki, patah tangan, atau cedera pada kepala,” kata Alfred.

Menurut Alfred, kondisi tersebut semakin menantang karena tenaga medis di Dampek masih sangat terbatas. Puskesmas setempat juga mengalami kerusakan berat setelah gempa sehingga kapasitas pelayanan kesehatan belum dapat berjalan seperti dalam kondisi normal.

Dalam situasi seperti ini, ambulans bukan hanya berfungsi sebagai kendaraan pengangkut pasien. Layanan tersebut menjadi penghubung penting antara titik pengungsian, posko kesehatan, helipad, dan rumah sakit rujukan yang memiliki fasilitas lebih memadai.

Jarak menuju fasilitas rujukan juga membuat koordinasi antarunsur menjadi sangat penting. Pasien yang membutuhkan penanganan cepat harus dipindahkan dari Dampek menuju titik penerbangan sebelum dibawa menggunakan helikopter ke Labuan Bajo.

Tim Kesehatan Datangi Posko Pengungsian

Pelayanan PMI tidak hanya diarahkan kepada pasien dengan cedera berat. Tim ambulans PMI bersama tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan setempat juga mendatangi sejumlah posko mandiri yang dibentuk dan dikelola masyarakat.

Kunjungan langsung tersebut dilakukan untuk memeriksa warga yang mengalami cedera ringan maupun keluhan kesehatan setelah gempa. Keluhan yang ditemukan antara lain sesak napas, batuk, memar, serta luka ringan.

Pola pelayanan dengan mendatangi pengungsian menjadi penting karena tidak seluruh warga bersedia datang ke fasilitas kesehatan. Sebagian masyarakat masih mengalami trauma setelah gempa dan memilih tetap berada di sekitar tempat pengungsian.

“Sebagian masyarakat masih enggan datang ke rumah sakit karena trauma akibat gempa. Karena itu, kami bersama tenaga kesehatan berupaya mendatangi posko-posko mandiri agar warga tetap mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan,” jelas Alfred.

Trauma menjadi persoalan tersendiri setelah bencana. Warga yang mengalami luka atau keluhan kesehatan belum tentu langsung mencari pertolongan medis karena rasa takut meninggalkan lokasi yang dianggap lebih aman atau kekhawatiran terhadap gempa susulan.

Kondisi tersebut membuat pelayanan kesehatan bergerak menjadi pilihan yang diperlukan. Petugas tidak hanya menunggu pasien datang, tetapi mendekati warga agar gangguan kesehatan dapat diketahui lebih awal.

Rumah Sakit Lapangan Masih Terbatas

Kunjungan kesehatan ke posko-posko mandiri juga membantu mengurangi tekanan terhadap Rumah Sakit Lapangan. Kapasitas fasilitas sementara tersebut masih terbatas, terutama karena jumlah tempat tidur pasien atau velbed belum mencukupi.

Warga dengan keluhan ringan dapat diperiksa dan mendapatkan pengobatan langsung di posko pengungsian. Sementara pasien dengan kondisi yang membutuhkan penanganan lebih serius dapat diprioritaskan menuju Rumah Sakit Lapangan atau dirujuk lebih lanjut.

Pembagian pelayanan seperti ini membantu tenaga medis menentukan prioritas berdasarkan kondisi pasien. Dalam situasi pascabencana, kapasitas tenaga kesehatan, alat medis, kendaraan, dan tempat perawatan harus digunakan secara terukur karena kebutuhan dapat muncul secara bersamaan dari banyak lokasi.

Alfred menjelaskan bahwa pelayanan langsung di posko juga memberikan ruang lebih besar bagi Rumah Sakit Lapangan untuk menangani pasien yang benar-benar membutuhkan observasi atau tindakan lanjutan. Pendekatan tersebut menjadi penting selama kapasitas tempat tidur masih terbatas.

PMI Pusat Tambah Dokter dan Tenaga Kesehatan

Dukungan pelayanan kesehatan di Dampek akan diperkuat mulai Rabu, 19 Agustus 2026. PMI Pusat dijadwalkan mengirim satu dokter dan dua tenaga kesehatan untuk bergabung dengan tim ambulans serta tenaga kesehatan setempat.

Penambahan personel tersebut diharapkan memperkuat pemeriksaan, pengobatan, pemantauan pasien, dan pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian. Kehadiran tenaga medis tambahan juga penting karena pelayanan telah berjalan setiap hari dan kebutuhan masyarakat masih cukup tinggi.

Dukungan tersebut menunjukkan bahwa respons terhadap gempa mulai bergerak dari fase pertolongan awal menuju pelayanan yang lebih terorganisasi. Kebutuhan kesehatan tidak selesai ketika korban berhasil dievakuasi, sebab masyarakat tetap menghadapi cedera, penyakit, keterbatasan fasilitas, serta tekanan psikologis setelah bencana.

Di sisi lain, pola rujukan dari Dampek menuju Labuan Bajo menunjukkan tantangan geografis dalam penanganan korban. Ketika fasilitas lokal tidak mampu menangani cedera tertentu, pasien harus dipindahkan melalui beberapa tahapan sebelum mencapai rumah sakit dengan pelayanan yang dibutuhkan.

Pelayanan Kesehatan Menjadi Kebutuhan Mendesak

Gempa tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum. Ketika puskesmas ikut mengalami kerusakan berat, kemampuan masyarakat mendapatkan pertolongan kesehatan juga ikut terganggu.

Situasi tersebut semakin berat ketika korban mengalami patah tulang dan cedera kepala yang membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Tanpa sistem rujukan yang berjalan, keterlambatan penanganan dapat memperburuk kondisi pasien.

Operasional ambulans PMI sejak 17 Agustus menjadi salah satu mata rantai dalam sistem rujukan tersebut. Tiga hingga empat pasien setiap hari mungkin terlihat sebagai angka kecil, tetapi setiap perjalanan membawa warga yang membutuhkan pelayanan medis lebih lengkap.

Pada saat bersamaan, warga dengan luka ringan dan keluhan kesehatan juga tidak boleh diabaikan. Pemeriksaan langsung ke posko membantu memastikan mereka tetap memperoleh pelayanan meski belum berani datang ke rumah sakit.

Bagi masyarakat Dampek, pemulihan setelah gempa masih membutuhkan proses. Cedera fisik harus ditangani, fasilitas kesehatan perlu kembali diperkuat, sementara trauma masyarakat membutuhkan perhatian dalam setiap pendekatan pelayanan.

Dari posko pengungsian menuju Rumah Sakit Lapangan, lalu dari Dampek menuju Labuan Bajo, pelayanan kesehatan kini bergerak mengikuti kebutuhan pasien. Di tengah keterbatasan fasilitas dan tenaga medis, ambulans PMI menjadi salah satu jalur yang menjaga agar warga dengan cedera serius tetap memiliki akses menuju pertolongan yang mereka perlukan. (*)