Solidarity in the Conference Hall

Jelang Liga 3 Nusantara, Pemain PSN Ngada Dalami Hukum Olahraga Bersama Josef Nae Soi

SURABAYA, SULUHDESA.COM – Persiapan PSN Ngada menghadapi Liga 3 Nusantara 2026/2027 tidak hanya berlangsung di lapangan latihan. Pemain dan jajaran manajemen PSN Ngada juga mengikuti kuliah umum tentang hukum olahraga internasional yang dibawakan Dr. Drs. Josef A. Nae Soi, M.M. di Aula Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya, Kamis (22/10/2026).

Kehadiran pemain dan manajemen dalam ruang akademik tersebut berlangsung di tengah persiapan PSN menuju kompetisi kasta ketiga sepak bola nasional. Tim asal Kabupaten Ngada itu resmi diberangkatkan menuju Liga 3 Nusantara pada 19 Oktober 2026 dan menjalani persiapan di Gelora Joko Samudro, Gresik. Kick-off kompetisi dijadwalkan pada 13 November 2026.

Kuliah umum bertajuk “Kedaulatan dalam Hukum Olahraga Internasional” memiliki konteks tersendiri bagi PSN. Josef tidak hanya berbicara sebagai figur yang berkecimpung dalam dunia olahraga nasional, tetapi juga memiliki keterkaitan langsung dengan pengelolaan PSN Ngada setelah klub memasuki fase baru pengelolaan melalui badan usaha.

Pemerintah Kabupaten Ngada sebelumnya menyampaikan bahwa PSN dikelola melalui PT Ngada Jaya Perkasa dengan Josef Nae Soi sebagai pemilik. Untuk Liga 3 musim ini, Gresik juga dipilih sebagai home base PSN sembari dipersiapkan rencana pengembangan Stadion Lebijaga Bajawa ke depan.

Perubahan tersebut membawa PSN ke fase yang berbeda. Klub tidak hanya dituntut meningkatkan kualitas tim di lapangan, tetapi juga membangun tata kelola, disiplin organisasi, administrasi, pengembangan pemain, serta jejaring yang dapat menopang keberlanjutan klub.

Persiapan Tidak Hanya Fisik dan Taktik

PSN memasuki Liga 3 Nusantara setelah melewati perjalanan panjang di Liga 4 Nasional. Tiket promosi diraih setelah PSN mengalahkan Persibangga Purbalingga 2-1 pada babak delapan besar Liga 4 Nasional, 2 Juli 2026.

Naiknya level kompetisi membawa tuntutan yang lebih besar. Latihan fisik, teknik, taktik, dan penyusunan komposisi pemain tetap menjadi fondasi, tetapi pemain juga memasuki lingkungan sepak bola yang diatur oleh regulasi, disiplin kompetisi, administrasi, hak dan kewajiban, serta tata kelola organisasi.

Saat diberangkatkan menuju kompetisi, PSN memiliki 23 pemain. Tim pelatih masih melakukan evaluasi untuk melengkapi kuota maksimal 30 pemain, sementara sejumlah pemain lainnya direncanakan bergabung dari Surabaya dan Kupang.

Dalam konteks itu, kehadiran pemain di kuliah umum UNESA memberi perspektif lain dalam persiapan mereka. Pemain diajak melihat bahwa sepak bola modern tidak hanya berlangsung selama 90 menit pertandingan, tetapi berada di dalam sistem hukum, organisasi, ekonomi, dan kelembagaan yang jauh lebih luas.

UNESA Soroti Riset, Sains dan Teknologi Olahraga

Kuliah umum diawali sambutan Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan UNESA, Dr. Irmantara Subagio, M.Kes. Irmantara membagikan pengalamannya setelah melakukan perjalanan ke sejumlah negara di Eropa dan Asia dalam beberapa pekan sebelumnya.

Menurut Irmantara, ekosistem olahraga di negara-negara maju saat ini semakin berorientasi pada penelitian, sains, dan inovasi teknologi. Indonesia perlu belajar dari perkembangan tersebut, lalu membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh untuk memperkuat olahraga di dalam negeri.

Dari sisi sarana dan prasarana, Irmantara melihat Indonesia telah melakukan banyak pembangunan. Tantangan yang perlu diperkuat adalah bagaimana fasilitas tersebut dihubungkan dengan penelitian, sport science, teknologi, serta kualitas sumber daya manusia.

Irmantara kemudian mengajak peserta menyimak pemaparan Josef mengenai hubungan kedaulatan dengan olahraga. Josef dinilai memiliki pengalaman panjang di dunia pemerintahan, politik, dan olahraga, serta merupakan alumnus institusi yang pada 1972 masih bernama Sekolah Tinggi Olahraga Surabaya.

Josef Ajak Pemain Melihat Sepak Bola dari Sisi Hukum

Josef membuka paparannya dengan menjelaskan konsep kedaulatan negara dan hubungan negara dengan organisasi olahraga internasional. Menurutnya, perkembangan olahraga global membuat persoalan kedaulatan tidak dapat dilepaskan dari regulasi organisasi seperti FIFA dan International Olympic Committee atau IOC.

Dalam sistem tersebut terdapat konsep lex sportiva, yakni prinsip dan kaidah hukum olahraga yang berkembang melalui regulasi organisasi olahraga internasional dan berbagai putusan dalam penyelesaian sengketa olahraga. Karakter transnasionalnya membuat aturan olahraga dapat bekerja melampaui batas yurisdiksi satu negara.

Josef menggunakan pengalaman Indonesia sebagai contoh. Salah satunya terjadi pada 2015 ketika intervensi pemerintah terhadap PSSI berujung pada suspensi FIFA dan berdampak pada keikutsertaan Indonesia dalam agenda sepak bola internasional.

Kasus itu digunakan Josef untuk memperlihatkan bahwa sepak bola memiliki struktur regulasi yang harus dipahami oleh federasi, klub, pengurus, hingga pemain. Kebijakan di tingkat nasional dapat bersinggungan dengan kewajiban yang lahir dari keanggotaan dalam organisasi olahraga internasional.

Josef juga mengangkat pencabutan status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023. Peristiwa tersebut dipakai untuk menunjukkan hubungan yang kompleks antara olahraga, kebijakan negara, politik internasional, dan kewajiban sebagai bagian dari sistem sepak bola global.

Bagi pemain PSN yang hadir, paparan tersebut memberi konteks mengenai dunia yang sedang mereka masuki. Semakin tinggi level kompetisi, semakin besar pula kebutuhan untuk memahami aturan, disiplin, profesionalisme, dan tanggung jawab sebagai pemain.

PSN Masuk Fase Pengelolaan Lebih Profesional

Materi hukum olahraga itu beririsan dengan perubahan yang sedang berlangsung di PSN Ngada. Klub kini bergerak menuju model pengelolaan berbasis badan usaha setelah sebelumnya memiliki keterkaitan langsung dengan Pemerintah Kabupaten Ngada.

Pemerintah Kabupaten Ngada menyebut pengelolaan PSN melalui PT Ngada Jaya telah disesuaikan dengan regulasi yang berlaku. Josef Nae Soi disebut sebagai pemilik badan usaha yang mengelola klub tersebut.

Perubahan model pengelolaan membawa konsekuensi terhadap cara klub dibangun. Tata kelola pemain, pembiayaan, administrasi, fasilitas, bisnis klub, pembinaan usia muda, hingga kemitraan perlu bergerak bersama jika PSN ingin bertahan dalam kompetisi nasional.

Kebutuhan itu semakin relevan setelah PSN memperoleh promosi ke Liga 3 Nusantara. Kompetisi yang lebih tinggi menuntut klub memiliki fondasi organisasi yang tidak hanya bergantung pada performa tim dalam satu musim.

Diplomasi Olahraga Buka Peluang Beasiswa Pemain PSN

Kuliah umum di UNESA juga menghasilkan perkembangan lain di luar ruang akademik. Dalam semangat diplomasi olahraga, pihak pengelola PSN dan UNESA secara lisan membangun kesepahaman mengenai peluang beasiswa bagi pemain PSN Ngada untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Surabaya.

Kesepahaman tersebut masih merupakan komunikasi awal dan belum dituangkan dalam perjanjian tertulis. Namun, langkah itu membuka kemungkinan pengembangan pemain yang tidak hanya berorientasi pada karier sepak bola, tetapi juga pada keberlanjutan pendidikan.

Peluang beasiswa menjadi penting karena karier atlet memiliki batas waktu. Pendidikan dapat memberi pemain bekal tambahan untuk menjalani kehidupan setelah masa aktif sebagai pesepak bola maupun mengembangkan karier lain di dalam industri olahraga.

Kerja sama tersebut juga memperlihatkan bentuk konkret diplomasi olahraga yang dibicarakan Josef dalam kuliah umum. Hubungan yang dimulai dari sepak bola dapat membuka ruang kerja sama pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, sport science, penelitian, hingga penguatan kapasitas klub.

Jika kemudian dituangkan dalam kerja sama formal, peluang pendidikan tersebut dapat menjadi salah satu model pengembangan pemain PSN. Klub tidak hanya membina atlet untuk bertanding, tetapi juga memperhatikan pendidikan dan masa depan mereka di luar lapangan.

Olahraga Menjadi Jembatan Lebih Luas

Dalam paparannya, Josef menekankan bahwa olahraga memiliki dimensi yang lebih luas daripada kompetisi fisik. Olahraga dapat menjadi instrumen diplomasi, penguatan identitas, ekonomi, persatuan, serta ruang membangun jejaring antarwilayah dan lembaga.

Bagi PSN, perspektif tersebut memiliki makna konkret. Klub membawa identitas Ngada ketika tampil pada kompetisi nasional, sementara kehadiran di luar daerah membuka kesempatan membangun hubungan dengan perguruan tinggi, komunitas olahraga, dunia usaha, dan berbagai institusi lainnya.

Promosi PSN ke Liga 3 Nusantara karena itu tidak hanya berarti kenaikan kasta kompetisi. Perjalanan tersebut sekaligus membuka ruang lebih luas bagi klub untuk memperkenalkan Ngada dan membangun jaringan yang dapat memberi manfaat kembali kepada pemain maupun daerah.

Peluang pendidikan melalui UNESA menjadi salah satu contoh. Pertemuan yang awalnya merupakan kuliah umum berkembang menjadi pembicaraan mengenai masa depan akademik pemain.

Pendidikan dan Prestasi Berjalan Bersama

Josef pada bagian akhir kuliahnya mendorong generasi muda olahraga untuk tidak hanya menguasai aspek teknis. Pemahaman mengenai hukum olahraga internasional, diplomasi, tata kelola, serta kewirausahaan olahraga atau sportpreneurship juga semakin dibutuhkan.

Pesan tersebut memiliki relevansi langsung bagi pemain PSN. Karier sepak bola membutuhkan kemampuan bermain, tetapi pemain juga perlu memiliki pengetahuan, karakter, disiplin, pendidikan, dan kesiapan menghadapi kehidupan setelah tidak lagi aktif bertanding.

Josef mengaitkan pembentukan sumber daya manusia olahraga dengan nilai excellence, respect, dan friendship. Keunggulan dalam prestasi harus berjalan bersama penghormatan terhadap aturan, lawan, organisasi, dan hubungan yang dibangun melalui olahraga.

Bagi manajemen PSN, pendekatan tersebut memperluas makna pembinaan pemain. Pemain tidak hanya dipersiapkan untuk menghasilkan kemenangan, tetapi juga dikembangkan sebagai individu yang memiliki kapasitas untuk tumbuh di dalam maupun di luar sepak bola.

Dari Gresik, UNESA hingga Liga 3 Nusantara

Kehadiran pemain dan manajemen PSN Ngada di UNESA menjadi sisi lain dari persiapan tim menjelang Liga 3 Nusantara. Jika lapangan latihan di Gresik digunakan untuk mematangkan kondisi fisik, teknik, dan taktik, ruang kuliah memberi pemain kesempatan memahami ekosistem olahraga yang lebih luas.

PSN saat ini bergerak dalam beberapa perubahan secara bersamaan. Tim naik dari Liga 4 ke Liga 3 Nusantara, pengelolaan klub diarahkan menuju tata kelola berbasis badan usaha, sedangkan jejaring dengan institusi pendidikan mulai dibangun untuk mendukung pengembangan pemain.

Kesepahaman awal mengenai peluang beasiswa di UNESA menambah dimensi baru dalam perjalanan tersebut. Persiapan menuju Liga 3 tidak lagi hanya berbicara tentang siapa yang akan bermain dan bagaimana strategi diterapkan, tetapi juga bagaimana klub membangun manusia yang berada di balik seragam PSN.

PSN sedang menyiapkan diri menghadapi level kompetisi yang lebih tinggi. Prestasi tetap menjadi tujuan di lapangan, sementara profesionalisme, pendidikan, pemahaman hukum, dan penguatan kelembagaan menjadi fondasi agar perjalanan klub dapat bertahan lebih panjang. (*)