
Tak Hanya Komodo, 94 Desa Wisata Jadi Kartu As Baru Manggarai Barat Tarik Wisatawan
Suluhdesa.com – Manggarai Barat terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia. Daerah yang selama ini identik dengan Taman Nasional Komodo kini mengembangkan potensi baru melalui puluhan desa wisata yang tersebar di berbagai kecamatan. Langkah ini membuka peluang agar wisatawan tidak hanya berkunjung ke Pulau Komodo, tetapi juga menikmati keindahan alam, budaya, hingga kehidupan masyarakat desa yang masih terjaga.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Barat, Petrus A. Rasyid, mengatakan potensi ekowisata terbesar berada di desa-desa wisata. Menurutnya, pemerintah daerah telah mencatat sekitar 94 desa wisata yang memiliki daya tarik masing-masing. Dari jumlah tersebut, tujuh desa telah memperoleh pendampingan melalui program Fasilitasi Masyarakat Desa Wisata (Fadmadewi) untuk meningkatkan kualitas pengelolaan destinasi.
“Kita sudah punya desa wisata kurang lebih 94. Dari 94 desa wisata itu ada kurang lebih 7 desa wisata yang sudah kita intervensi dengan program Fasilitasi Masyarakat Desa Wisata (Fadmadewi),” kata Petrus A. Rasyid, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (18/7/2026).
Program tersebut mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Petrus menjelaskan, Desa Wae Lolos dan Bukit Porong menjadi dua desa yang mencatat perkembangan paling pesat setelah mendapatkan pendampingan. Kedua kawasan itu dinilai berhasil mengembangkan potensi wisata berbasis alam dan masyarakat. Sementara desa wisata lainnya masih menjalani proses penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penyediaan fasilitas pendukung.
Pengembangan desa wisata juga dipandang sebagai strategi untuk menyebarkan manfaat ekonomi ke lebih banyak wilayah. Wisatawan tidak lagi terpusat di Labuan Bajo atau kawasan Taman Nasional Komodo. Mereka memiliki pilihan untuk menjelajahi desa-desa yang menawarkan panorama pegunungan, air terjun, budaya lokal, pertanian, hingga wisata bahari.
Petrus menilai pembangunan pariwisata membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menciptakan destinasi yang berkualitas. Peran pelaku usaha, komunitas, akademisi, media, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pariwisata yang sehat.
“Urusan kepariwisataan itu bukan menjadi urusan mutlak dari Dinas Pariwisata saja. Ada begitu banyak stakeholder kunci di luar sana yang juga sebenarnya berperan besar dalam memajukan ekosistem yang berkaitan dengan pariwisata,” ujar Petrus, seperti dikutip Kompas.com.
Komitmen memperkuat ekowisata juga terlihat melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Ekowisata Berkelanjutan yang berlangsung di Ballroom Crowne Plaza Labuan Bajo, Kamis (16/7/2026). Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) bersama IN-FLORES. Seminar menghadirkan pemerintah, akademisi, pelaku industri, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan untuk merumuskan arah pengembangan ekowisata yang lebih berkelanjutan.
Dalam forum itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, menegaskan bahwa penguatan sektor pariwisata kini berjalan beriringan dengan transformasi digital. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menghadirkan aplikasi Gendang Mabar sebagai media promosi destinasi wisata di luar kawasan Taman Nasional Komodo. Aplikasi tersebut diharapkan memudahkan wisatawan memperoleh informasi mengenai berbagai objek wisata yang tersebar di seluruh wilayah kabupaten.
“Penguatan kelembagaan pemerintah Kabupaten Manggarai Barat di bidang kepariwisataan kami iringi dengan transformasi digital. Destinasi berkelas dunia tidak bisa lagi dikelola dengan cara konvensional,” kata Fransiskus Sales Sodo, dikutip dari Kompas.com.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOLBF, Andhy MT Marpaung, berharap seminar nasional tersebut menghasilkan rekomendasi yang dapat diterapkan secara nyata. Menurutnya, kolaborasi menjadi kunci agar pengembangan ekowisata di Manggarai Barat mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat lokal.
“Diharapkan bisa menghasilkan gagasan, rekomendasi, dan komitmen bersama yang dapat menjadi pijakan dalam memperkuat pengembangan ekowisata yang berkualitas, berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan di Kabupaten Manggarai Barat,” ujar Andhy.
Keberadaan 94 desa wisata menjadi modal besar bagi Manggarai Barat untuk memperluas pilihan destinasi bagi wisatawan. Jika dikelola secara konsisten, desa-desa tersebut dapat menjadi penggerak ekonomi baru sekaligus memperkuat citra Labuan Bajo dan Manggarai Barat sebagai kawasan wisata kelas dunia yang tidak hanya menawarkan pesona Komodo, tetapi juga kekayaan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat desa yang autentik. (*)

