
Konflik Lahan di Adonara Kembali Memakan Korban, Satu Warga Tewas dan Dua Terluka
Suluhdesa.com – Konflik perebutan lahan antara Dusun Bele, Desa Waiburak, dan Desa Narasaosina di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali memakan korban jiwa. Bentrokan yang terjadi pada Sabtu (18/7/2026) pagi mengakibatkan seorang warga meninggal dunia, sementara dua orang lainnya mengalami luka-luka dan harus mendapatkan penanganan medis.
Korban meninggal diketahui bernama Nayamudin Iskandar (21), warga Dusun Bele, Desa Waiburak. Korban mengalami luka tembak di bagian dada kiri yang mengenai jantung. Meski sempat dibawa ke fasilitas kesehatan, nyawanya tidak dapat diselamatkan.
“Pria 21 tahun meninggal kena benda tajam pas jantung. Luka tembak di dada kiri. Pasien datang pukul 07.10 Wita dinyatakan meninggal pukul 07.22 Wita,” kata Kepala Puskesmas Ile Boleng, Stefanus Ola Bura, dikutip dari Pos-Kupang.com, Sabtu (18/7/2026).
Selain korban meninggal, dua warga lainnya mengalami luka tembak. Mereka adalah Purnama BL (19) yang mengalami luka di bagian tengah dada serta Siti Soleha (63) yang mengalami luka tembak pada kedua paha bagian belakang. Keduanya telah dirujuk ke RSUD Lewoleba dan RSUD Larantuka untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Stefanus Ola Bura membenarkan bahwa kedua korban selamat telah mendapat penanganan awal di Puskesmas Ile Boleng sebelum dirujuk ke rumah sakit karena membutuhkan penanganan medis yang lebih lengkap.
Informasi dari warga setempat menyebutkan situasi di lokasi bentrokan sempat berlangsung mencekam. Sejumlah warga mengaku melihat korban tergeletak di jalan setelah bentrokan terjadi. Ketegangan yang meningkat membuat masyarakat memilih bertahan di rumah dan menghindari lokasi konflik.
Akibat insiden tersebut, Jalan Trans Waiwerang dilaporkan lumpuh total. Arus lalu lintas terhenti karena warga khawatir melintas di kawasan yang masih dianggap rawan. Aktivitas masyarakat di sekitar lokasi juga ikut terganggu.
Konflik antara kedua wilayah ini bukan kali pertama terjadi. Pada Mei 2026, bentrokan serupa juga pernah pecah dan menyebabkan sejumlah rumah terbakar serta puluhan warga mengalami luka akibat tembakan peluru rakitan. Setelah kejadian itu, aparat bersama tokoh masyarakat sempat melakukan mediasi untuk meredakan ketegangan.
Dalam proses mediasi sebelumnya, masing-masing pihak yang berkonflik juga dilaporkan telah menyerahkan sejumlah senjata rakitan kepada kepolisian sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan mencegah bentrokan kembali terjadi.
Namun, bentrokan yang kembali terjadi pada Sabtu pagi menunjukkan bahwa persoalan yang menjadi akar konflik belum sepenuhnya terselesaikan. Hingga kini, aparat keamanan masih melakukan pengamanan di lokasi untuk mencegah meluasnya konflik dan menjaga situasi tetap kondusif.
Pihak berwenang juga diharapkan segera melakukan penyelidikan guna mengungkap kronologi kejadian serta memastikan penanganan konflik berjalan sesuai hukum. Upaya dialog dan penyelesaian damai dinilai menjadi langkah penting agar peristiwa serupa tidak kembali memakan korban jiwa.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian mengenai penyebab pasti bentrokan maupun perkembangan penanganan kasus tersebut.


