
Bapperida NTT Dorong Transformasi Ekonomi Desa Manmas Melalui Program OVOP
Alor, SULUHDESA.COM – Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Provinsi Nusa Tenggara Timur mendorong transformasi ekonomi Desa Manmas, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, melalui program One Village, One Product (OVOP). Upaya ini diwujudkan dengan mengintegrasikan intervensi lintas perangkat daerah untuk memperkuat pengolahan kemiri dan umbi garut menjadi produk bernilai tambah, sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.
Sebagai bagian dari program tersebut, lima kelompok masyarakat menerima bantuan peralatan produksi, sementara warga memperoleh pelatihan pengolahan hasil pertanian. Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada 27 hingga 29 Oktober 2026 ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat mengembangkan usaha berbasis potensi lokal, dengan dukungan pemerintah mulai dari peningkatan keterampilan hingga perluasan akses pasar.
Kemiri dan umbi garut menjadi perhatian karena kedua komoditas tersebut memiliki potensi ekonomi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Selama ini, sebagian hasil pertanian masyarakat masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, sehingga peluang memperoleh pendapatan tambahan melalui kegiatan pengolahan belum berkembang secara optimal.
Melalui pendekatan OVOP, Desa Manmas didorong untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil pertaniannya dengan mengembangkan produk yang memiliki kualitas dan daya saing. Bapperida Provinsi NTT bertindak sebagai perangkat daerah penanggung jawab intervensi, dengan melibatkan berbagai pihak untuk menghubungkan pengembangan usaha masyarakat dan kebutuhan pembangunan desa.
Lima Kelompok Menerima Bantuan Peralatan Produksi
Dukungan terhadap pengembangan ekonomi Desa Manmas diwujudkan melalui penyerahan peralatan produksi kepada lima kelompok penerima manfaat. Bantuan tersebut diserahkan dalam rangkaian kunjungan Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Peralatan yang diberikan mencakup mesin potong keripik, mesin penggiling, mesin pengepres minyak kemiri, oven, kompor, serta berbagai perlengkapan pengolahan pangan. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu kelompok usaha meningkatkan kapasitas produksi dan menghasilkan produk olahan dengan mutu yang lebih baik.
Dalam kegiatan itu, Johni menegaskan bahwa keberhasilan intervensi pemerintah harus diukur dari manfaat ekonomi yang dihasilkan masyarakat. Bantuan peralatan perlu dimanfaatkan secara produktif agar dapat mendorong kegiatan usaha yang berkelanjutan.
“Ekonomi masyarakat tidak hidup hanya karena uang dibelanjakan. Ekonomi masyarakat hidup ketika uang terus berputar, usaha bertumbuh, produk terjual, dan semakin banyak keluarga memperoleh penghasilan,” ujar Johni, sebagaimana dikutip dari publikasi resmi Pemerintah Provinsi NTT pada 29 Oktober 2026.
Menurut Johni, potensi pengolahan emping, tepung umbi-umbian, dan minyak kemiri di Desa Manmas perlu dikembangkan menjadi produk unggulan yang memiliki pasar. Pemerintah juga diharapkan membantu kelompok usaha memperbaiki kualitas produk, pengemasan, serta kemampuan produksi.
Untuk mendukung pemasaran, Johni menyebut NTT Mart dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) sebagai saluran potensial yang dapat dimanfaatkan. Namun, pengembangan pasar tersebut masih membutuhkan kesiapan produk dan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, perbankan, serta mitra pembangunan.
Pengolahan Kemiri dan Umbi Garut Diperkuat Melalui Pelatihan
Setelah penyerahan bantuan, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan hilirisasi pangan lokal pada Kamis, 29 Oktober 2026. Warga Desa Manmas memperoleh keterampilan mengolah kemiri menjadi minyak kemiri serta memanfaatkan umbi garut sebagai bahan baku emping dan pati garut.
Pelatihan pengolahan minyak kemiri dipandu oleh Pdt. Laura Meza, S.Th., menggunakan mesin cold press. Melalui praktik tersebut, masyarakat diperkenalkan pada teknik pengolahan biji kemiri menjadi produk yang berpotensi memberikan nilai jual lebih tinggi dibandingkan komoditas mentah.
Sementara itu, Soleman Molina, S.IP., membimbing pengolahan umbi garut menjadi emping dan pati garut. Pelatihan ini memperkenalkan alternatif pemanfaatan hasil pertanian yang dapat dikembangkan sebagai produk pangan olahan berbasis sumber daya setempat.
Kepala Desa Manmas, Robinzon Asadama, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah provinsi dalam pengembangan ekonomi masyarakat. Ia berharap bantuan peralatan yang telah diterima dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produksi kelompok usaha dan memperkuat pemberdayaan ekonomi desa.
Pengembangan produk olahan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk memperluas kegiatan usaha di luar penjualan hasil panen. Apabila produksi dan pemasaran dapat berjalan secara berkelanjutan, manfaat ekonomi berpotensi menjangkau petani, kelompok pengolah, serta pelaku usaha pendukung lainnya.
Intervensi Lintas Sektor Menjawab Kebutuhan Desa
Selain penguatan ekonomi, rangkaian kegiatan Bapperida Provinsi NTT juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan kebutuhan pembangunan. Pada Selasa, 27 Oktober 2026, warga mengemukakan persoalan infrastruktur jalan Apui–Manmas, validasi data stunting, serta kebutuhan peningkatan pelayanan kesehatan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Alor turut memberikan pelayanan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat. Sementara itu, Bapperida bersama perangkat daerah terkait menyampaikan informasi mengenai partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan melalui SE PARMAS dan kebijakan MUSIK KEREN.
Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi lokal berkaitan dengan berbagai kebutuhan pembangunan lainnya. Ketersediaan jalan, layanan kesehatan, dan ruang partisipasi masyarakat menjadi bagian dari kondisi yang turut memengaruhi kemampuan desa mengembangkan kegiatan produktif.
Dalam kerangka OVOP, perbaikan akses transportasi memiliki arti penting bagi distribusi hasil pertanian dan produk olahan. Infrastruktur yang memadai dapat membantu masyarakat menjangkau pasar, meskipun realisasi usulan pembangunan jalan tetap bergantung pada proses perencanaan dan penganggaran pemerintah.
Pendekatan lintas sektor ini menjadi bagian dari upaya Bapperida menghubungkan pengembangan komoditas unggulan dengan kebutuhan masyarakat. Intervensi pemerintah diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung untuk memperkuat kegiatan ekonomi desa.
Bapperida Siapkan Pendampingan Lanjutan
Pelaksana Tugas Sekretaris Bapperida Provinsi NTT, Johni Paut, menegaskan bahwa intervensi di Desa Manmas akan dilanjutkan melalui pendampingan, pelatihan, dan bimbingan teknis bagi kelompok penerima manfaat. Dukungan tersebut diarahkan agar bantuan peralatan dapat dimanfaatkan dan keterampilan masyarakat terus berkembang.
Pendampingan juga diharapkan mencakup peningkatan kualitas produksi, perbaikan pengemasan, serta pengolahan potensi lokal menjadi produk yang memiliki daya saing. Langkah ini penting karena kemampuan menghasilkan barang olahan belum otomatis menjamin adanya pasar dan peningkatan pendapatan.
Bagi kelompok usaha di Desa Manmas, tantangan berikutnya adalah menjaga kesinambungan produksi dan membangun jaringan pemasaran. Ketersediaan bahan baku, mutu produk, pengelolaan usaha, dan kemampuan memenuhi kebutuhan konsumen menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan OVOP.
Keberhasilan program nantinya perlu dilihat dari perkembangan kegiatan usaha setelah bantuan dan pelatihan diberikan. Jumlah produk yang dihasilkan, penjualan, pemanfaatan peralatan, serta perubahan pendapatan kelompok menjadi ukuran yang lebih konkret dibandingkan banyaknya kegiatan yang telah dilaksanakan.
Melalui intervensi Bapperida Provinsi NTT, Desa Manmas mulai memperkuat langkah pengembangan kemiri dan umbi garut sebagai produk unggulan lokal. Kolaborasi pemerintah dan masyarakat membuka kesempatan bagi hasil pertanian desa untuk diolah menjadi sumber kegiatan ekonomi yang lebih produktif.
Tiga hari kegiatan telah memberikan bekal awal berupa peralatan, keterampilan, dan arah pendampingan. Tantangan selanjutnya adalah memastikan seluruh dukungan tersebut terus bekerja, sehingga hasil bumi Desa Manmas tidak hanya bernilai ketika dipanen, tetapi juga mampu memberikan tambahan penghasilan ketika diolah dan dipasarkan oleh masyarakatnya sendiri. (gbm/ichad)


