Kupang, Suluhdesa.com – Kelompok Umat Basis (KUB) Santa Teresa dari Kalkuta, Stasi Yesus Maria Yosef Liliba, Paroki St. Yosef Pekerja Penfui, kembali menggelar pertemuan katekese dalam rangka Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2025 dengan tema Pertobatan Ekologis: Peziarahan Pengharapan di Tahun Yobel 2025 dan subtema minggu pertama Pertobatan Ekologis Awal Adaptasi Perubahan Iklim.
Pertemuan pertama ini berlangsung di rumah keluarga Pius Toda, dipandu oleh Goris Babo, dengan fokus utama pada refleksi lingkungan dan aksi nyata yang berkelanjutan.
Dalam katekese tersebut, peserta diajak untuk menjawab tiga pertanyaan reflektif mengenai keberlanjutan aksi peduli lingkungan, dampak jika kepedulian hanya dilakukan saat katekese, serta pengalaman dan sikap terhadap perubahan iklim.
Refleksi dan Realitas Lingkungan
Bapak Agus Olapaon menyoroti ketidakpastian cuaca yang semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim.
Ia juga mengutip pernyataan dosennya bahwa menipisnya lapisan ozon, salah satunya dipicu oleh pemakaian parfum secara masif oleh manusia.
Sementara itu, bapak Frans Muga, sesepuh umat KUB Santa Teresia dari Kalkuta, menekankan bahwa masalah sampah memerlukan penanganan yang lebih serius.
Ia berbagi pengalaman dari Ketua RT 41 Kelurahan Liliba, yang sukses menjaga kebersihan lingkungan hingga mendapat predikat RT terbersih.
Ia mengajak umat KUB untuk belajar dari praktik baik tersebut.
Goris Babo menyoroti rendahnya kesadaran kebersihan lingkungan, mengkritik lomba kebersihan yang tidak memiliki dampak berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa pemahaman dan kesadaran harus dimulai dari diri sendiri dan keluarga.
Ibu Lin Ndiwa berbagi pengalaman pribadi dengan menyiapkan kotak sampah di setiap kamar dan membiasakan diri untuk mengumpulkan sampah plastik yang ditemukan di kantor atau gereja untuk dibuang dengan benar.
Inspirasi juga datang dari ibu Regina, yang menceritakan kebijakan unik di SDK Rosa Mystica, di mana setiap siswa membawa kantong sampah pribadi dari rumah dan membawa kembali sampah mereka setelah sekolah.

Ibu Wiwin membagikan pengalamannya yang secara rutin mengumpulkan sampah plastik dan mengantarkannya ke Bank Sampah untuk mengurangi limbah plastik di lingkungan sekitar.
Bapk Pius Toda mengungkapkan kekesalannya terhadap perilaku masyarakat yang membuang popok bayi sembarangan, sehingga sering kali terbawa oleh anjing ke rumah-rumah warga.
Sedangkan ibu Erna Tara menyoroti kebiasaan buruk para pembeli di kiosnya yang sembarangan membuang sampah plastik meskipun sudah tersedia tempat sampah.
Bapak Agus Jehani memberikan contoh inspiratif dari pembeli di Toko Soekiran, khususnya pembeli asal Bali, yang selalu membawa tas kain untuk belanja, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Refleksi filosofis disampaikan oleh bapak Remy Kua, Ketua KUB Santa Teresa dari Kalkuta.
Ia menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan dalam sebuah piramida, dengan Tuhan sebagai puncaknya dan manusia serta alam sebagai fondasi.
Aksi Nyata: Sabtu Bersih dan Komitmen Berkelanjutan
Setelah sesi sharing, peserta melakukan refleksi bacaan suci dan doa, serta menyusun rencana aksi konkret sebagai perwujudan pertobatan ekologis.
Hasilnya, seluruh peserta bersepakat untuk menetapkan Sabtu Bersih, di mana setiap warga KUB wajib membersihkan lingkungan masing-masing.
Sebagai bentuk komitmen dan pengawasan, mereka juga diwajibkan untuk mengunggah dokumentasi kegiatan di grup WhatsApp KUB.
Komitmen ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menjadikan kepedulian lingkungan sebagai kebiasaan, bukan sekadar kegiatan temporer saat masa Prapaskah saja. (*)





