Kenangan Bersama OJK NTT di Malang: Lupa Nama Masih Ingat Rasa, dan Bus Lewotobi yang Mengingatkan

Malang, Suluhdesa.com – Kegiatan media gathering OJK NTT bersama 20 wartawan dari media cetak, online, dan radio yang berlangsung pada 8-10 Desember 2025 di Malang telah meninggalkan kenangan yang sulit dilupakan. Semua dimulai sejak tim tiba di Bandara Juanda Surabaya, di mana tim dijemput dengan bus bertuliskan “Lewotobi”,  mengingatkan pada gunung berapi di Flores Timur, Hokeng, Larantuka yang pernah meletus dan menelan banyak korban, termasuk Seminari Hokeng yang terkenal.

Perjalanan sekitar satu setengah jam menuju Malang selalu diiringi lagu berirama kas Timur dengan sedikit remix, salah satunya yang viral berjudul “Tor Monitor Ketua” dengan syair ikonik “Lupa nama tapi masih ingat rasa”. Lagu ini kemudian menjadi latar suara bagi seluruh aktivitas tim.

Bacaan Lainnya

Setibanya di Malang, tim beristirahat sebentar sebelum mengikuti materi yang dibawakan oleh empat pemateri selama 3 jam. Ketua OJK NTT Japarmen Manalu membahas market update, Polantoro membahas literasi dan inklusi keuangan, Dona Bella membahas perkembangan lembaga jasa keuangan, serta Topan Ariyadi membahas fungsi perlindungan konsumen. Dalam materi yang menjadi catatan penting suluhdesa, disebutkan bahwa NTT masih membutuhkan peningkatan perekonomian masyarakat dengan mengurangi kredit konsumtif, serta menangani masalah investasi bodong, judi online, dan kredit online ilegal. Polantoro juga menekankan perbedaan antara multilevel marketing yang menjual produk (tidak ilegal) dengan yang tidak memiliki barang (perlu diwaspadai).

Pada hari kedua, tim melakukan aktivitas outbond, paintball, dan off-road di Desa Coban Talun, Kota Batu. Saat prgi dan kembali, tim menggunakan bus Lewotobi dan diiringi lagu “Lupa nama tapi masih ingat rasa”. Keakraban antar OJK NTT dan wartawan terlihat jelas, bahkan Kepala OJK NTT Japarmen Manalu tidak ragu berbaur, saling canda tawa, dan bahkan hingga ketika dirinya rela “dikotori” selama game pertama.

Kekompakan semakin nampak di game paintball. Saling serang dan menyelamatkan kawan mirip dengan situasi perang betulan. Bahkan, ada yang tertembak hingga mengalami memar dan sedikit darah, namun diakhiri dengan candaan. itulah game dan persahabatan.

Adrenalin semakin teruji saat game off-road, di mana tim mengendarai mobil mengelilingi hutan pinus dan perkebunan wortel serta sawi. Di tengah hutan, tim berhenti menikmati kopi, teh, dan pisang goreng panas yang disiapkan oleh Lisa dan suaminya yang merupakan penduduk Wonorejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, yang membuka usaha kecil akibat keluhan wisatawan yang haus dan lapar setelah off-road. Menurut Lisa, omsetnya bisa mencapai lebih dari Rp500 ribu sehari.

Meskipun lagu itu menyanyikan “lupa nama”, semua nama dan momen dalam gathering ini ternyata tetap terpatri di ingatan tim dan rasa masih tersimpan hingga kini.**

Pos terkait