​Ibadat Jumat Agung di Stasi Yesus Maria Yosef Liliba: Ribuan Umat Padati Kapela, Air Mata Tahun Lalu Kini Berganti Senyum Harapan

RD Yonas Kamlasi membuka selubung salib (Foto: Poly Muga)

Kupang, Suluhdesa.com – Suasana Ibadat Jumat Agung 2025 di Stasi Yesus Maria Yosef (YMY) Liliba, Paroki St. Yosef Pekerja Penfui, menjadi momen penuh makna bagi ribuan umat Katolik. Sejak pukul 13.00 WITA umat berdatangan dan diperkirakan 5.000 umat memadati area gereja, memenuhi 4.200 kursi yang disediakan hingga ke halaman, pelataran, dan emperan kapela lama.

Ibadat yang dipimpin oleh RD. Yonas Kamlasi berlangsung khidmat, dengan umat mengikuti setiap tahapan liturgi dalam suasana hening dan penuh kekhusyukan.

Dalam kotbahnya, RD. Yonas mengajak umat untuk mengganti air mata penderitaan dengan senyum penuh pengharapan. Ia mengingatkan bahwa salib Kristus bukan hanya simbol penderitaan, tetapi juga tanda kasih, harapan, dan keselamatan.

“Tahun lalu kita meneteskan air mata, hari ini kita tersenyum. Bukan karena baju baru atau konten medsos, tapi karena salib Kristus membawa kita pada harapan baru,” ujar RD. Yonas dengan suara penuh keteduhan.​

Ia juga menekankan bahwa salib Kristus melahirkan murid-murid yang setia, seperti Maria yang berdiri di bawah salib.

“Salib melahirkan murid-murid Kristus. Di bawah salib Kristus berdirilah Bunda Gereja, yaitu Ibu Maria,” tambahnya.​

RD. Yonas mengajak umat untuk merenungkan makna salib dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan bahwa salib bukan hanya penghias, tetapi tanda keutamaan yang mendorong dan menginspirasi umat agar setia memikul salib hidup masing-masing.

“Salib yang kita gunakan bukan hanya penghias, tetapi tanda keutamaan yang mendorong dan menginspirasi kita agar setia memikul salib hidup kita masing-masing,” tegasnya.​

Dalam kotbahnya, RD. Yonas juga membagikan dua kisah inspiratif. Pertama, kisah tentang Brutus yang mengkhianati ayah angkatnya, Julius Caesar, menjadi refleksi tentang kesetiaan.

“Apakah kita mau menjadi pengkhianat salib Kristus dalam kehidupan kita?” tanya RD. Yonas.​

Kedua, kisah burung pelikan yang melukai dadanya sendiri untuk memberi minum anak-anaknya menjadi simbol pengorbanan.

“Apakah kita juga siap untuk berkorban demi kemuliaan Tuhan dan kebaikan bersama?” tambahnya.​

Umat menghormati Salib Kristus (Foto: Poly Muga)Ibadat Jumat Agung tahun ini menjadi istimewa karena untuk pertama kalinya umat menggunakan gedung gereja baru, meskipun belum sepenuhnya selesai. Gereja berbentuk salib dengan panjang 50 meter dan lebar 24 meter ini menjadi simbol harapan baru bagi umat.

“Salib yang besar ini membutuhkan bahu-bahu yang kuat dari seluruh umat Stasi YMY Liliba. Bahu yang siap untuk berkorban, bersedekah, dan memberi,” ujar RD. Yonas.​

Meskipun jumlah umat yang hadir membludak, perayaan berlangsung tertib dan khidmat. Hal ini berkat kerja keras seksi keamanan dan parkir yang didukung oleh polisi serta umat Wilayah V. Arus masuk dan keluar gereja berjalan lancar meskipun umat harus antre.

Ibadat Jumat Agung di Stasi YMY Liliba menjadi momen refleksi dan penghayatan mendalam bagi umat. RD. Yonas mengajak umat untuk merenungkan makna salib dalam kehidupan sehari-hari dan menjadikan salib sebagai sumber kekuatan dan harapan.

“Ketika kita dikhianati, kita bisa datang pada Dia yang telah lebih dahulu dikhianati. Ketika kita mengalami luka, kita bisa datang pada Dia yang telah terluka. Salib Kristus membawa kehidupan dan harapan bagi kita,” tutupnya.​

Ibadat Jumat Agung 2025 di Stasi YMY Liliba menjadi momen yang penuh makna, di mana umat diajak untuk mengganti air mata penderitaan dengan senyum penuh harapan. Dengan semangat pengorbanan dan kesetiaan, umat diajak untuk memikul salib kehidupan masing-masing dan menjadikan salib Kristus sebagai sumber kekuatan dan harapan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Pos terkait