OPINI, suluhdesa.com – Alam bukan sekadar latar belakang bagi kehidupan, melainkan sumber inspirasi dan harmoni yang memberi jiwa pada seni. Namun, eksploitasi alam atas nama modernisasi—seperti proyek geothermal di Flores—mengancam keberlangsungan estetika dan ekosistem. Artikel ini mengajak kita merenungi dampak tersembunyi dari industrialisasi yang menggerus kesadaran ekologis dan keindahan alami yang tak tergantikan.

Oleh: Karolus Budiman Jama
Dosen Seni dan Koordinator Prodi S-2 Ilmu Linguistik Pps Undana
Filsuf besar Plato berucap “Musik memberi jiwa pada alam semesta, sayap pada pikiran, dan kehidupan pada segala sesuatu”. Pernyataan Plato ini, tidak sekadar ungkapan puitis yang mengenakkan telinga, atau memanjakan mata saat membacanya. Ucapan Plato ini memberi jalan bagi pikiran kita untuk kembali mendengarkan musik, sebab melalui musik kita dapat berefleksi bahwa alam memproduksi keindahan dan ketidaksadaran manusialah yang merusak pemberian alam.
Alam: Dasar Memberi Kesadaran Keindahan
Berbagai hasil karya seni para seniman tidak terlepas dari kesadaran terhadap alam. Seniman menyatu dengan alam, mereka menyadari alam memberi kehidupan. Bukan hanya kehidupan imajinatif mereka tetapi memberi roh dalam karya-karya mereka.
Eksploitasi terhadap alam seperti geothermal yang sekarang ini terjadi di Flores, setidaknya melukai sebagian sisi kehidupan seni para seniman.
Flores setelah ditetapkan sebagai pulau panas bumi, satu sisi adalah sebuah kebanggaan bahwa negeri singing island ini menyimpan kekayaan alam luara biasa. Akan tetapi, sisi yang lain semangat para kepala daerah yang mengagungkan modernism dan atas nama kemajuan ekonomi mengeksploitasi alam, ini memberi petaka bagi kehidupan seluruh mahkluk hidup di sekitarnya.
Kehilangan alam berarti kehilangan melodi yang indah. Kita tidak lagi mendengar kicauan burung dan suara dedaunan dari pohon-pohon besar yang memberi ketenangan. Eksploitasi terhadap alam dalam bentuk geothermal memutus suara music alamiah. Eksploitasi ini, justru membunuh mata rantai kehidupan.
Ritme yang khas dari alam tidak dapat kita nikmati. Riuh-rendah gesekan unik dahan pohon tidak terdengar, sebab didominasi oleh suara mesin. Bagaimana kita menikmati music alamiah sebab alam yang memberi tempo dan dinamika itu telah kita renggut.
Harmonisasi music melalui keragaman hayati yang didup di dalamnya sulit kita temui karena rumah mereka untuk berorkestrasi telah hilang. Tidak dapat kita dengar lagi kekhasan suara-suaranya karena telah bermigrai. Mereka bermigraasi karena mencari suaka baru, sebab manusia yang memiliki otoritas palsu itu berusaha untuk melenyapkannya.
Pernyataan Plato di atas tidak bisa berjelajah dengan sempurna lagi, karena bagian sayapnya yang lain telah patah. Keseimbangan alam bersama musik alamiah tidak lagi dapat merasuk roh manusia. Seba roh untuk menikmati keindahan alam, merajuk.
Bagaimana kita dapat menikmati musik kalau kita sendiri, pertama pergi dari pikiran untuk menjaga alam ini tetap lestari. Kedua, pergi dari pikiran kreatif untuk mengolah alam dengan bijak. Dengan demikian dari alam ini memberi kehidupan bagi seluruh makhluk.
Semangat yang tidak terkendali dalam mengeksploitasi alam berarti kehilangan kesadaran dasariah. Jangankan untuk menikmati keindahan, menghasilkan karya seni pun pasti tidak bisa.
Alam yang memberi kesadaran bagi manusia untuk menikmati dan menghasilkan karya seni jangan lagi dimimpikan. Sebab malam indah yang memberi tidur lelap terganti oleh kegelisahan panasnya bumi akibat geothermal.
Kegilaan Industrialisasi: Mereduksi Manusia Sehat
Tidak ada negara maju tanpa industrialisasi!! Pernyataan ini adalah sebuah klaim dalam ruang kosong, seolah-olah kemajuan sebuah negara hanya diukur dari industrialisasi. Jika pun ada yang sepakat dengan pernyataan ini, tetap memiliki keterbatasan logisnya.
Kemajuan sebuah daerah tidak semata diukur melalui bidang industrinya. Perlu sebuah analisis berdampak. Baik itu terhadap lingkungan maupun efek terhadap Kesehatan manusia.
Dalam industri makanan kemasan misalnya, tetap membutuhkan bahan pokok dari hasil pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Sumber bahan pokoknya pun harus dari lingkungan alam yang kondusif dan tidak tercemar. Hal ini untuk menjamin kualitas produknya. Sebab, esensi manusia makan adalah keberlanjutan hidup yang sehat.
Manusia modern saat ini, sesungguhnya tidak sedang menikmati makanan yang sehat dari produksi industrialisasi makanan. Manusia modern terhipnotis oleh wacana kemasan yang bersih.
Manusia modern saat ini hanya menikmati sensasi dari propaganda dan mitos makanan kemasan. Seperti, makanan instan dan minuman ringan.
Mitos makanan modern ini berdampak pada termarginalnya produksi makanan rumahan yang sehat. Sementara nilai dasar dari makanan kemasan adalah untuk memeroleh keuntungan yang besar, karena itu belum tentu memperhatikan kualitas gizi.
Banyak hasil produksi industri makanan mengalami kehilangan nutrisi alaminya, penggunaan baham kimiawi untuk pengawet, pemanis buatan, dan pewarna sintetis.
Tidak sedikit orang yang mengonsumsi makanan cepat saji dan ultra-proses mengalami obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Belum lagi soal limbah yang dapat mencemari tanah dan air yang dapat mengancam krisis lingkungan pangan.
Dampak lain dari industrialisasi makanan adalah aspek budaya. Banyak anak-anak kita berpola instan. Kearifan lokal dan tradisi kuliner perlahan hilang. Masyarakat modern tidak lagi mengenal tata cara penyajian kuliner tradisionlanya yang kental dengan nuansa estetik juga etik.
Lagi-lagi masyarakat modern terjebak pada merek global. Padahal kuliner tradisional memiliki nilai kebersamaan dan sarat makna. Sekarang digantikan oleh cepat saji dan kemudahan konsumsi.
Kegilaan terhadap industrialisasi ini mereduksi Kesehatan manusia, tidak saja secara fisik tetapi juga pada aspek mental. Seperti geothermal di Flores saat ini. Meskipun energi panas bumi sebagai sumber energi bersih dan terbarukan. Akan tetapi tetap berdampak pada lingkungan, sosial budaya, kesehatan dan keselamatan, serta ekonomi yang tidak merata.
Dalam berbagai literatur dikemukakan bahwa geothermal berdampak pada kerusakan lingkungan seperti hilangnya habitat alami karena adanya perluasan lahan. Pencemaran air dan tanah akibat limbah bor dan cairan panas bumi yang mengandung zat kimia seperti arsenic dan boron. Selain itu, gangguan geologis akibat aktivitas pengeboran. Tanah menjadi retak, penurunan tanah (subsidence). Pengalaman kecil di Flores, sampai hari ini masih terasa adalah ketika kendaraan besar yang melintas, ada goncangan tanah terasa seperti gempa.
Dampak sosial dan budayanya adalah lokasi geothermal berada pada tanah adat yang bagi masyarakat dianggap sakral. Ini menyebabkan terjadi penolakan yang berpotensi konflik, seperti di Poco Leok saat ini.
Dibangunnya industrialisasi geothermal menyulitkan masyarakat untuk mengakses ke lahan pertanian sebagai mata pencaharian mereka. Termasuk hutan adat yang menjadi pelindung ekosistem mereka.
Saat proses ekplorasi dan produksi geothermal juga mengganggu Kesehatan. Gas beracun seperti hydrogen sulfida (H2S) yang dikeluarkan dalam jangka waktu Panjang dapat membahayakan kesehatan. Selain itu, apabila kurangnya pengawasan dan standar keselamatan dapat membahayakan pekerja dan masyarakat sekitar.
Dalam bidang ekonomi, geothermal juga mengakibatkan ketimpangann ekonomi. Belum tentu ada pemerataan peluang kerja bagi masyarakat sekitar. Sebab, tradisi mereka adalah pertanian dan bukan industry. Pendidikan mereka terbatas pada pengetahuan apa adanya dan belum sampai pada industri geothermal.
Sampai saat ini, proyek besar geothermal masih melibatkan investor asing dan para pekerja asing. ini menyebabkan sulitnya pengontrolan dari masyarakat lokal dalam proses eksplorasi dan produksi. yang untung lagi-lagi pihak luar, sementara masyarakat lokal kalau ampasnya di terima, itu hanya sebagian kecil.





