ETMC Memanas, Harapan Menguat: Suara Yosef Nae Soi tentang Kompetisi dan Kebangkitan PSN Ngada

Yosef Nae Soi, mantan wakil gubernur NTT periode 2019-2023, mantan pemain Persami Maumere di era 1970-an, dan kini menjadi Koni NTT.

Suluhdesa.comDi tengah memanasnya persaingan El Tari Memorial Cup (ETMC) 2025 di Ende, perhatian publik tertuju pada dinamika permainan yang penuh kejutan. Ketegangan, drama lapangan, dan persaingan ketat membuat turnamen ini semakin menarik untuk diikuti. Dalam momentum inilah, Yosef Nae Soi—tokoh olahraga NTT yang pernah merasakan atmosfer kompetisi sebagai pemain dan kini sebagai Ketua KONI—menyampaikan pandangan jernihnya kepada Pater Yan Jawa SVD. Analisisnya yang tenang, lugas, dan berakar pada pengalaman panjang membuka wawasan baru tentang kualitas kompetisi, arah pembinaan sepak bola NTT, serta kiprah PSN Ngada yang berhasil menembus delapan besar dan memantik harapan baru bagi masyarakat Ngada.

Kejuaraan El Tari Memorial Cup (ETMC) 2025 di Ende memasuki fase-fase penentuan. Persaingan ketat, kejutan-kejutan baru, hingga fenomena naik-turunnya performa tim terjadi sejak fase penyisihan hingga babak 16 besar. Di tengah dinamika tersebut, Yosef Nae Soi—mantan Wakil Gubernur NTT periode 2019–2024, mantan pemain Persami Maumere era 1970-an, sekaligus Ketua KONI NTT—memberikan pandangan jernih mengenai kualitas kompetisi dan kiprah tim kebanggaan masyarakat Ngada, PSN Ngada, yang berhasil melaju ke babak delapan besar.

Sebagai salah satu tokoh olahraga yang mengikuti perkembangan sepak bola NTT dari era ke era, Nae Soi menilai bahwa ETMC 2025 layak disebut kompetisi paling terbuka dalam beberapa penyelenggaraan terakhir. Meski mengaku belum menonton semua laga secara langsung, rekaman pertandingan yang ia saksikan memberikan gambaran jelas bahwa banyak tim memiliki peluang yang sama untuk menembus semifinal, final, bahkan menjadi juara. Menurutnya, tidak ada unggulan mutlak dalam turnamen ini. Semua tim masih mungkin membuat kejutan, sebagaimana Persebata Lembata yang tanpa gelar ETMC justru berhasil lolos ke Liga 3 dalam perebutan tiket nasional.

Nae Soi menegaskan bahwa ada faktor-faktor fundamental yang menentukan keberhasilan sebuah tim: kemampuan mengolah bola, stamina, kecepatan, ketepatan bergerak dengan atau tanpa bola, akurasi passing, dan kualitas tendangan. Faktor-faktor teknis ini, menurutnya, menjadi fondasi perkembangan sepak bola modern. Namun kekuatan teknis saja tidak cukup. Kejelian pelatih dalam membaca pertandingan, menyusun strategi, serta memberikan instruksi yang tepat untuk mengantisipasi taktik lawan sangat menentukan arah permainan. Konsistensi juga menjadi kunci. Ia mengingatkan bahwa ada tim yang menang terus sejak penyisihan tetapi tumbang ketika memperebutkan tiket Liga 3. Sebaliknya, ia menyebut istilah remontada—pembalikan keadaan—di mana tim yang sempat kalah di awal mampu bangkit karena tekad yang kuat dan sportivitas tinggi.

Dalam konteks PSN Ngada, Nae Soi memberi apresiasi atas keberhasilan tim tersebut menembus delapan besar. Menurutnya, pencapaian ini bukan hal kecil, mengingat kompetisi yang semakin ketat dan kualitas lawan yang terus meningkat. Dari rekaman pertandingan yang ia amati, PSN Ngada menunjukkan modal penting: kerja keras, disiplin, dan semangat juang. Hal-hal ini menjadi fondasi yang memungkinkan mereka bersaing dan menjaga konsistensi di setiap laga.

Ia menilai bahwa peluang PSN Ngada untuk melangkah lebih jauh tetap terbuka selama mereka mampu menjaga stamina, mempertahankan kecepatan, meningkatkan pergerakan tanpa bola, dan memperbaiki akurasi umpan. Selain itu, kemampuan pelatih dalam membaca situasi pertandingan akan menjadi faktor yang sangat menentukan. Dalam kompetisi seperti ETMC yang penuh tekanan dan kejutan, sebuah laga bisa berubah arah dalam hitungan menit. Karena itu, kesiapan mental dan fleksibilitas strategi menjadi penting.

Lebih luas lagi, Nae Soi menekankan pentingnya menjadikan ETMC bukan sekadar ajang unjuk gengsi, tetapi wadah pembinaan sepak bola NTT. Budaya latihan yang profesional, disiplin yang kuat, dan penguatan peran pelatih harus menjadi prioritas. Ia percaya bahwa jika fondasi pembinaan diperkuat, maka semakin banyak tim dari NTT yang akan mampu menembus Liga 3, bahkan melaju ke jenjang lebih tinggi.

Pandangan Yosef Nae Soi ini menjadi catatan penting di tengah euforia ETMC 2025. Kompetisi ini bukan hanya tentang siapa juara, tetapi tentang arah perkembangan sepak bola NTT secara keseluruhan—dan kiprah PSN Ngada yang berhasil melaju hingga delapan besar menjadi salah satu bukti bahwa potensi itu terus tumbuh. (gbm)

Pos terkait