Deteksi Dini PTM di Desa Tena Teke: Prodi Keperawatan Waikabubak Edukasi dan Layani Masyarakat

Sumba Barat Daya, Suluhdesa.com – Dalam upaya menekan angka kejadian Penyakit Tidak Menular (PTM), Program Studi Keperawatan Waikabubak Poltekkes Kemenkes Kupang melaksanakan kegiatan deteksi dini faktor risiko PTM bagi keluarga di Dusun II, Desa Tena Teke, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian masyarakat sebagai wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Bertempat di tengah-tengah komunitas, tim yang terdiri dari dosen dan mahasiswa tersebut menyasar langsung keluarga dengan potensi risiko tinggi terhadap penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, dan gout arthritis.

Ketua pelaksana kegiatan, Maria Mencyana P. Saghu, S.Kep., Ns., M.Kes, menegaskan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengidentifikasi secara dini faktor-faktor yang dapat memperburuk kondisi PTM dalam keluarga. Ia juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat sebagai langkah awal dalam membangun kesadaran dan budaya hidup sehat.

“Kegiatan ini tidak hanya memberikan layanan pemeriksaan gratis, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa agar lebih siap menjadi tenaga kesehatan yang kompeten dan empatik,” ujar Maria.

Mahasiswa dilibatkan dalam proses komunikasi interpersonal, edukasi, dan pengumpulan data lapangan untuk memperkuat keterampilan praktis mereka.

Julianus Lende, S.Kep., Ns., yang turut serta dalam tim pengabmas, menjelaskan bahwa pemeriksaan yang dilakukan mencakup pengukuran tekanan darah, kadar gula darah, dan asam urat. “Tujuannya agar masyarakat tahu kondisi kesehatannya saat ini, dan bisa segera melakukan tindak lanjut,” katanya.

Tim dosen lainnya, seperti Ririn Widyastuti, SST., M.Keb, juga memberikan materi edukasi tentang pentingnya deteksi dini dan perubahan gaya hidup.

“Kami fokus mengedukasi soal bahaya merokok, konsumsi makanan tinggi gula dan garam, serta kurangnya aktivitas fisik. Ini semua adalah pemicu utama PTM yang bisa dicegah,” jelasnya.

Grasiana Florida B., S.Kep., Ns., M.Kep., bersama Julianus Lende juga menambahkan bahwa deteksi dini merupakan kunci untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

“Kami ingin masyarakat lebih peduli, bukan hanya tahu sakitnya setelah parah,” tambah Grasiana.

Dalam sesi pemeriksaan, tercatat enam warga memiliki tekanan darah tinggi, sementara tujuh lainnya menunjukkan kadar gula darah dan asam urat yang patut diwaspadai.

Petrus Belarminus, S.Kep., Ns., M.Kep., mengungkapkan bahwa warga dengan kondisi tersebut langsung diarahkan untuk memeriksakan diri lebih lanjut ke fasilitas kesehatan terdekat.

Hironimus Mone Ngongo, S.Kep., Ns., MH dan Verayanti Albertina Bata, S.Kep., Ns., MPH menekankan pentingnya pemeriksaan rutin sebagai langkah antisipatif.

“Makin cepat risiko diketahui, makin besar peluang untuk mencegah penyakit yang lebih serius,” ujar mereka.

Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Camat Wewewa Selatan, Stefanus Malo, S.I.P.

Ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif kampus dalam mendekatkan pelayanan kesehatan ke masyarakat.

“Kami terbantu. Ini bukan hanya kegiatan sosial biasa, tapi sangat strategis. Kami pun langsung berkoordinasi dengan Puskesmas agar hasil pemeriksaan bisa ditindaklanjuti,” ujarnya.

Masyarakat tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan dari awal hingga akhir. Banyak dari mereka baru pertama kali melakukan pemeriksaan tekanan darah atau gula darah. Beberapa peserta bahkan mengaku baru menyadari pentingnya pola hidup sehat setelah menerima penjelasan dari tim dosen dan mahasiswa.

Program Studi Keperawatan Waikabubak menunjukkan komitmennya untuk terus terlibat aktif dalam menjawab tantangan kesehatan masyarakat. Selain memberikan pelayanan, kegiatan seperti ini juga mempererat kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah daerah, serta masyarakat lokal.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat semakin sadar bahwa menjaga kesehatan itu penting. Deteksi dini bukan hanya soal mencegah, tapi juga soal menghargai hidup,” tutup Maria Mencyana.

Dengan kolaborasi dan edukasi yang terus berjalan, Desa Tena Teke kini menjadi contoh bagaimana masyarakat desa bisa menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyakit tidak menular.

Pos terkait