Daripada Naturalisasi Pemain, Pemerintah Lebih Baik Lakukan Ini

Timnas Indonesia

JEJAKKATA, Suluhdesa.com – Mimpi adalah awal dari perubahan besar. Seperti yang dikatakan oleh Rhonda Byrne dalam bukunya The Secret – Power of Low, mimpi harus dimulai dengan visualisasi. Ini bukan sekadar teori, tetapi kenyataan yang telah terbukti dalam banyak kisah sukses. Sayangnya, banyak orang menganggap visualisasi sebagai hal yang sepele dan tidak penting. Namun, dalam kenyataannya, visualisasi dapat menjadi kunci dalam mewujudkan impian, baik secara individu maupun kolektif.

Visualisasi adalah proses membayangkan sesuatu dengan jelas dan konsisten hingga menjadi kenyataan. Dalam skala individu, misalnya, seseorang yang ingin melanjutkan studi ke Australia dapat memvisualisasikannya dengan menempelkan gambar kampus-kampus ternama di Australia di dinding kamar. Dengan melihatnya setiap hari, mimpi tersebut menjadi lebih nyata dan mendorong individu tersebut untuk mengambil langkah konkret menuju impian tersebut.

Di sisi lain, visualisasi juga dapat dilakukan dalam skala kolektif. Misalnya, suatu kelompok atau komunitas memiliki mimpi bersama untuk mencapai suatu tujuan. Dengan menampilkan simbol-simbol atau gambar yang merepresentasikan impian tersebut di tempat-tempat yang sering diakses bersama, impian kolektif itu terus diingat dan diperjuangkan oleh semua anggota kelompok.

Salah satu mimpi besar bangsa Indonesia adalah melihat tim nasional berlaga di Piala Dunia. Mimpi ini bukan baru muncul sekarang. Sejarah mencatat bahwa Indonesia, yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, pernah tampil di ajang bergengsi ini. Namun, setelah kemerdekaan, Indonesia belum pernah lagi mencicipi panggung Piala Dunia.

Sayangnya, alih-alih membangun fondasi yang kuat, sepak bola Indonesia lebih sering memilih jalan pintas. Langkah pragmatis seperti naturalisasi pemain dan merekrut pelatih asing memang memberikan hasil instan, tetapi tidak menjamin keberlanjutan. Hampir mayoritas pemain tim nasional Indonesia saat ini adalah pemain naturalisasi, yang secara fisik dan teknis memang lebih unggul, tetapi kurang memiliki keterikatan emosional dengan perjuangan sepak bola tanah air.


Selain itu, investasi besar dalam merekrut pelatih asing seperti Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert menjadi bukti bahwa kita lebih suka solusi instan daripada membangun dari dasar. Tidak ada yang salah dengan langkah ini, tetapi jika hanya mengandalkan cara ini tanpa memperkuat pembinaan usia dini dan pengembangan pemain lokal, hasilnya akan bersifat sementara.

Indonesia bisa belajar dari Jepang dalam membangun sepak bola. Sebelum Jepang menjadi kekuatan sepak bola di Asia dan tampil di Piala Dunia, mereka sudah melakukan visualisasi yang luar biasa melalui serial manga dan anime Captain Tsubasa. Tokoh utama dalam cerita ini, Tsubasa Ozora, adalah pemain berbakat yang bermimpi membawa Jepang menjuarai Piala Dunia.

Bagi anak-anak Jepang, Captain Tsubasa bukan sekadar hiburan, tetapi sumber inspirasi yang membuat mereka bermimpi dan bekerja keras untuk menjadi pesepak bola profesional. Bagi pemerintah Jepang, serial ini adalah bagian dari strategi besar untuk membangun mental juara sejak dini. Hasilnya terlihat jelas ketika Jepang menjadi tuan rumah Piala Dunia 2002 bersama Korea Selatan. Mereka tidak hanya sekadar tampil, tetapi menunjukkan performa yang kompetitif dan terus berkembang hingga kini. Bahkan, pada Piala Dunia 2022 di Qatar, Jepang mampu mengalahkan Jerman, salah satu raksasa sepak bola dunia.

Jepang tidak mencapai mimpinya secara instan. Mereka melalui proses panjang dengan strategi yang terencana. Visualisasi hanyalah salah satu bagian dari strategi tersebut, yang kemudian didukung dengan sistem pembinaan pemain muda, kompetisi yang sehat, dan kebijakan yang konsisten.

Indonesia harus belajar dari Jepang, bukan hanya dari segi teknis sepak bola, tetapi juga dalam hal membangun mental juara sejak dini. Jika Jepang bisa menggunakan media populer seperti anime untuk menginspirasi generasi muda, Indonesia juga bisa melakukan hal serupa dengan menampilkan kisah-kisah inspiratif tentang perjuangan atlet lokal dalam berbagai format media.

Selain itu, pembinaan usia dini harus menjadi prioritas. Daripada hanya mengandalkan pemain naturalisasi, lebih baik membangun akademi sepak bola yang berkualitas dengan kurikulum yang terstruktur. Pemerintah harus berperan aktif dalam mendukung infrastruktur olahraga, menyediakan fasilitas latihan yang memadai, serta memberikan insentif bagi klub dan akademi yang serius mengembangkan talenta muda. (*/gbm)

Pos terkait