oleh

Kasus Pesugihan dan Mata Anak Dicongkel Bertentangan dengan Pancasila

JAKARTA, suluhdesa.com | Kasus dugaan ritual pesugihan yang menumbalkan mata bocah 6 tahun di Kabupen Gowa, Sulawesi Selatan menjadi kabar yang memilukan masyarakat karena diketahui pelaku dari tindak kekerasan ini adalah keluarga korban sendiri yaitu Ayah, Ibu, Paman, dan Kakek korban.

Kasus yang saat ini sedang dalan proses hukum mendapatkan perhatian dari Staf Khusus Ketua Dewan Dewan Pengarah, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, Antonius Benny Susetyo.

Kepada Media SULUH DESA, Selasa (14/09/2021) siang, Benny menjelaskan bahawa kasus seperti ini merupakan fenomena gunung es.

“Fanomena seperti ini memang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Hal ini dilakukan karena mereka yakin kalau ilmu yang mereka yakini harus dengan tumbal untuk mendapatkan tujuannya baik itu kekayaan, kekebalan, dan lain sebagainya,” jelas Benny.

Paling penting dikatakan Benny adalah rasional dalam memandang suatu hal dan tentunya dapat dibuktikan secara ilmiah, bukan melakukan mitos demi jalan pintas mencapai apa yang diinginkan. Jalan akal budi yang seharusnya dijadikan untuk mengambil keputusan kadang tidak dihiraukan.

BACA JUGA:

Pengasuhan Alternatif Bagi Anak yang Kehilangan Orang Tua Akibat Corona di NTT

Yayasan Arnoldus Wea Gugah Anak NTT untuk Berani Bermimpi dan Berjuang

Hamili Istri Orang, Pastor Paroki MRPD Pontianak Diberhentikan

“Harus realistis dan rasional dalam memandang suatu hal dan harus bisa dibuktikan secara ilmiah agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi, walaupun di belahan dunia lain masih ada terjadi,” lanjut Benny.

Benny menegaskan bahwa tindakan ini tentu bertentangan dengan Pancasila.

“Tindakkan ini bertentangan nilai sila pertama karena Tuhan yang Maha Esa  tidak membebarkan melakukan tindakan melukai rasa kemanusian ini jelas melukai wajah Tuhan yang mengajar belas kasih karena rasa kemanusia diinjak martabatnya,” tegas Benny.

Benny menambahkan bahwasanya siapa yang mencintai Tuhan dia mencintai sesama.

“Negara yang berdasarkan Pancasila praktik seperti ini harus segera diakhiri dan paham bahwa itu merupakan jalan sesat serta harus dikembalikan pada jalan benar dengan mengembalikan  kepada ajaran yg benar,” tutup Benny. (idus/idus)

DomaiNesia

Komentar

News Feed