oleh

Mengapa Mengenal Allah Saja Tidak Cukup?

RENUNGAN MINGGU XXIII

Bacaan I: Yes 50: 5-91

Bacaan II: Yak 2: 14-18

Injil: Mrk 8: 27-35

 

Penulis: P. Chris Surinono, OCD

====================

Allah sangat tahu apa yang terbaik baik setiap orang. Tidak ada daun dari pohon yang jatuh tanpa kehendak dan izin-Nya. Demikian juga bagi setiap pribadi di mata dan rencana Allah. Hanya ada satu kehendak Allah bagi setiap orang yakni agr ia hidup bahagia dan mengalami kasih-Nya yang tiada batas. Apa yang kita katakan ini bisa menjadi simpul umum dari pesan bacaan-bacaan yang kita dengar pada hari Minggu ini.

Mari kita lihat dan refleksikan teks Injil hari ini, yang diambil dari Markus 8: 27-35. Teks ini berbicara tentang pertanyaan Yesus tentang diri-Nya. Ia bertanya kepada para murid tentang pendapat orang lain tentang diri-Nya, sesudah itu Ia bertanya pendapat para murid tentang diri-Nya.

Yang menarik adalah bahwa pertanyaan ini dalam teks atau perikop sentral. Sebagaimana kita tahu bahwa Injil Markus terdapat 16 bab. Perikop yang mengisahkan pertanyaan Yesus adalah terdapat pada bab ke 8. Perikop ini semacam engsel yang mengubungkan apa yang sebelumnya dan apa yang sesudahnya. Apa yang terjadi sebelumnya terjadi banyak hal, mulai dari pewartaan Yohanes Pembaptis dan kisah Yesus hidup awal Yesus. Terutama karya pewartaan-Nya soal kedatangan Kerajaan Allah. “Sesudah Yohanes ditangkap, datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah. Kata-Nya: “Waktunya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (1: 14-15). Dalam konteks pewartaan tentang datangnya Kerajaan Allah yang terwujud selain dalam diri Yesus sendiri, juga terekspresikan dalam apa yang dikerjakan dan dikatakan oleh Yesus sendiri.

Sesudah merasa cukup banyak dengan apa yang dikerjakan dan dikatakan-Nya, Yesus sadar bahwa pengetahuan dan pengenalan para murid atas diri-Nya perlu dijernihkan dan dimurnikan agar kepengikutan mereka dijalani dengan tahu dan mau. Tahu siapa diri-Nya, dan mau ikhlas melaksanakan apa yang dikatakan dan dikerjakan oleh Yesus sendiri. Ia seakan beristirahat untuk memberi kesempatan kepada para muridnya untuk tahu siapa yang mereka ikuti ini dan mengenal apa yang Ia kehendaki atas diri mereka semua, sehingga Yesus bertanya tentang siapa diri-Nya dan apa yang sudah Ia kerjakan itu.

Kita bisa lihat ada empat (4) poin menarik dari perikop ini yang bisa memberikan kita pencerahan iman dan upaya manusiawi kita dalam mengikuti dan mengenal apa yang Ia kerjakan bagi setiap kita.

Pertama: Ada sebuah pertanyaan menyangkut diri-Nya. Setelah sekian lama dalam sekolah kehidupan dan diskursus ke berimanan bersama Yesus, para murid diharapkan sudah bisa berbagi hidup dengan-Nya; sudah mendengar dan telah melihat siapa Dia dan apa yang Dia kerjakan bagi datangnya Kerajaan Allah dan bagi keselamatan setiap pribadi manusia. Pertanyaan tentang diri-Nya adalah sebuah refleksi bagi para murid untuk lebih mengenal, mendengar dan lebih berbagi kehidupan dengan-Nya agar mereka juga kelak mampu membagi dengan orang lain apa yang sudah mereka lihat, sudah mereka dengar dan apa sudah mereka bagikan dengan Yesus.

BACA JUGA:

Pater Chris Surinono Diangkat Jadi Wakil Pimpinan OCD Dunia dan Tinggal di Roma

Virus Corona: Sebuah Penciptaan Kehidupan Baru?

OMK TIDAK HARUS HIDUP SUCI TETAPI MENYERAHKAN DIRI DALAM PENYELENGGARAAN ALLAH

Pertanyaan ini adalah sebuah seruan pengajaran dari Yesus agar kelak mereka tidak mewartakan apa yang mereka tidak kenal, tidak tahu dan tidak mereka dapat sendiri dari Yesus. Nanti pada ujung bukanya mewartakan Kerajaan Allah, sebaliknya bisa saja dirinya sendiri dan kepentingan dirinya yang jadi obyek pewartaan. Ini yang tidak dikehendaki Yesus. Alih-alih menjalani dan berbagi kabar gembira, malah sebaliknya kabar yang tidak menggembirakan.

Yesus sangat tegaskan mau katakan beberapa hal berhubungan dengan pertanyaan-Nya ini, yakni perlu pertama-tama adalah mendengar-Nya. Mendengar artinya dengan rendah hati menyadari diri sebagai manusia yang membutuhkan rahmat dan berkat-Nya. Tanpa Allah, tanpa mendengar sabda atau diri-Nya, manusia sesungguhnya sudah sedang kehilangan daya dan karya keselamatan yang dikerjakan Allah. Mendengar artinya menerima dengan hati lapang dan ikhlas apa yang diinginkan Allah. Kadang manusia sulit mendengarkan. Ada juga yang hanya mau mendengar apa yang disukai dan diharapkan. Padahal, apa yang diharapkan Allah kadang tidak sejalan dengan apa yang kita harapkan, sehingga mendengar itu sulit. Sulit karena kita harus menomor duakan segala hal yang ada dalam diri kita agar yang  dikehendaki Allah menjadi pedoman dan menuntun hati dan hidup. Dalam keseharian hidup, kita bisa temukan kesulitan yang satu ini. Ada orang tua yang sangat sibuk dengan urusannya sehingga sulit mendengarkan anak-anaknya; ada anak-anak yang sulit mendengarkan orang tua, karena sibuk dengan urusan diri dan kesenangannya sendiri. Ia bisa malas tahu dengan orang tua, sambil terus bermain game, hp dan tik-tok. Telinga sudah dibatasi orang alat-alat teknologi yang menjauhkan orang untuk saling mendengar dengan baik.

Selain mendengar, pertanyaan Yesus ini adalah satu ajaran agar para murid bisa melihat siapa Dia dan apa yang Ia kerjakan bagi dunia dan keselamatan dunia. Melihat tidak sekedar mengarakan sebuah pandangan, melainkan mengerti dan aktif terlibat dalam apa yang sedang dikerjakan oleh orang lain. Itulah makna melihat. Yesus mengharapkan agar para murid menggunakan daya indra penglihatan untuk mengenal Allah dan segala rencana karya keselamatan. Bukan itu saja. Dengan melihat para murid diharapkan selain mampu mengikuti apa yang Ia kerjakan, tapi juga mampu mewujudkan dengan cara dan kemampuannya apa yang Allah berikan dan kerjakan. Tanpa kemampuan melihat Yesus dan seluruh karya kasih-Nya, mustahil kita mampu mengalami diri Allah-Rahim dan seluruh kebaikan-Nya.

Demikian juga dengan mendengar, dan melihat diri Allah dan seluruh karya, para murid dan kita semua akan mampu berbagi kehidupan dengan Allah. Berbagi di sini berarti kita mampu menjadikan diri berarti bagi orang lain dan bagi Allah, serta mampu membagi berbagi berkat dan rahmat dengan sesama. Mendengar, melihat dan berbagi adalah satu sekolah iman dalam keseharian hidup. Orang yang mampu mendengar, melihat dan berbagi kehidupan dengan Allah akan juga menjadikan diri, hidup dan karyanya sebagai wujud nyata kehadiran Allah dan karya keselamatan bagi diri dan sesama.

Kedua: Yesus tidak mulai dengan pengenalan para murid atas diri-Nya, tetapi dengan orang lain, yakni apa kata mereka tentang diri-Nya. Mengapa mereka mengenal Yesus sebagai Yohanes Pembaptis dan Elia. Dua nama besar ini memang selalu terwariskan dalam hidup iman mereka. Yohanes, meski dibunuh Herodes, tapi diyakini bahwa Ia dibangkitkan Allah. Demikian juga Elia. Mereka percaya bahwa Elia memang tidak mati. Ia diangkat ke surga dengan seluruh kereta kudanya. Atas dasar ini, mereka menjadi yakin bahwa dua tokoh besar ini akan datang kembali, maka jawaban mereka bisa dimengerti dalam konteks ini. jawaban mereka juga mengindikasikan bahwa mereka masih terbawa dengan apa yang sudah lalu. Mereka belum mampu menjadikan pengalaman hari ini dalam diri Yesus sebagai keterbukaan kepada masa depan. Artinya, mereka belum mendengar, melihat dan berbagi kehidupan dengan Yesus sendiri. Jadi, Yesus mau katakan kepada pada murid bahwa tugas kamulah untuk memperkenalkan mereka, yakni mendorong dan memberikan semangat agar mereka berani melihat, mendengar dan berbagi kehidupan bersama Yesus sekarang, di sini dan dalam dunia ini.

Pertanyaan Yesus ini juga adalah satu pengajaran bahwa iman memang sangat personal-individu, yakni relasi dengar Allah, namun punya implikasi dan pengaruh sosial. Iman yang tidak diwujudkan dalam kehidupan sosial yang baik dan benar, maka iman itu tidak akan pernah menjadi sarana dan jalan keselamatan. St. Yakobus katakan: iman tanpa wujud nyata, maka iman itu mati, tidak hidup dan menghidupkan. Sia-sia mengaku sebagai orang beriman, tapi hidup tidak mewujudkan pengakuan itu, karena tidak mendengar, melihat dan berbagi kehidupan dengan Allah. Demikian juga hidup iman orang lain adalah pelajaran bagi hidup iman kita. Iman dan keberimanan orang lain bukan sasaran kritik, serangan, perdebatan dan olokan, tapi sarana untuk membedah iman kita sendiri. Ini pengaruh sosial dari keberimanan kita.

Ketiga: adalah soal jawaban Petrus atas pertanyaan Yesus tentang diri-Nya. Apa katamu, siapakah Aku ini? Pertanyaan ini tidak lagi dijawab bersamaan atau beramai-ramai. Hanya Petrus yang berani jawab. Ia tegas menjawab: “Engkau adalah Mesias”. Jawaban Petrus ini memperlihatkan bahwa ia tahu dengan baik siapa itu Yesus. Ia tahu Yesus adalah Anak Allah; Putra Tunggal Allah; Mesias, Penyelamat. Ini karya Roh Kudus dalam diri Petrus. Tidak bisa sembarangan jawab kalau dia tidak dibisikan oleh Allah Roh Kudus. Ia, dengan keterbukaan kepada dinamikan Roh Kudus, menjadi tahu, mengenal Allah dalam diri Yesus.

Atas jawaban dari Petrus ini, Yesus menasihati agar mereka tidak mengatakan itu kepada siapa pun. Larangan ini adalah satu gaya Markus dalam mewartakan diri Yesus sebagai Mesias. Mereka perlu berada dalam proses menuju pengenalan yang baik dan benar. Mereka perlu, bukan saja masuk dalam proses mesianik Allah, tapi juga mengenal Allah dalam diskursus keseharian hidup. Artinya, Allah yang Mesias itu bukan hanya hadir pada akhir jaman, tapi hadir, kerja dan berkarya dalam keseharian hidup manusia. Mesianik dan pengalaman keselamatan itu terjadi dan terwujud dalam hidup sehari-hari yang mengandalkan Tuhan dan berkat-Nya. Allah masuk ke dalam hidup manusia, maka manusia pun harus mengenal Allah bukan lagi di luar konteks diri, hidup dan segala aktivitas hariannya.

Keempat: Tindakan Petrus menjadi sebuah sinyal bahwa tidak cukup hanya mengenal diri Allah, mengakui dengan iman, dan percaya kepada-Nya. Mendengar jawaban Petrus, Yesus lalu menjelaskan apa artinya Mesias: Pribadi yang harus menderita, dihukum, mati di salib dan bangkit pada hari ketiga. Tindakan Allah dalam melaksanakan karya keselamatan dengan cara demikian tidak diterima oleh Petrus. Petrus menjadi tidak ikhlas kalau Gurunya itu harus ditolak, diabaikan, dihukum dan harus mati ditangan orang-orang yang ia sendiri benci. Penolakan Petrus atas apa yang akan terjadi dalam diri Yesus adalah penolakan terhadap kerja Allah sendiri.

Pengenalan Petrus atas Yesus tidak menjamin bahwa ia juga akan menerima segala karya Allah. Jadi ada semacam pertentangan dalam diri Petrus antara mengenal Allah dan menerima apa yang dikerjakan Allah. Orang yang menolak cara kerja Allah itu disamakan dengan cara kerja setan. “Enyahlah Iblis”. Iblis adalah orang yang tidak menerima cara kerja Allah, dan menolak semua penderitaan dan korban Allah. Setan adalah mereka yang mengutamakan kepentingan diri, kesenangan diri sendiri. Setan adalah mereka yang tidak berani hidup dan kerja menurut kehendak kebaikan Allah. Allah bekerja untuk kebahagiaan dan keselamatan semua orang, maka setan adalah dia yang bekerja hanya untuk diri, ego dan kepentingan kelompoknya sendiri. Orang tidak bekerja untuk kebahagiaan orang lain adalah orang yang dikendalikan oleh setan.

Pertanyaan Yesus tidak bisa dijawab oleh para teolog; tidak bisa dijelaskan oleh para pastor, pimpinan paroki dan institusi religius; bahkan tidak bisa dijawab dalam Katekismus Gereja Katolik. Tapi hanya oleh diri sendiri, cara hidup dan cinta dalam karya sendiri. Tanpa cara hidup yang lepas bebas, karya tulus dan jujur, kata dan tindakan yang benar dan baik, mustahil kita bisa mengenal dan mengalami kerahiman Allah. Segala doa, liturgi renungan, kotbah, pengajaran adalah stimulus dan dorongan untuk menghidupi pertanyaan Yesus; dan sekaligus sebuah gaya dalam menjalin persahabatan dengan Allah secara pribadi. Beriman saja tidak cukup untuk mengenal dan  untuk tahu dengan baik apa yang dikehendaki Allah dalam hidup kita. Perlu relasi pribadi yang intim, penuh percaya mendengar, melihat dan berbagi kehidupan dengan Allah dan sesama. Amin. (*)

*) Penulis adalah Definitor Karmel OCD dan saat ini untuk sementara tinggal di Biara OCD Bogenga Bajawa.

DomaiNesia

Komentar

News Feed