oleh

Pater Chris Surinono Diangkat Jadi Wakil Pimpinan OCD Dunia dan Tinggal di Roma

BAJAWA, suluhdesa.com | Pater Doktor Chris Surinono, OCD, seorang Imam Katolik dari Ordo Carmelitarum Discalceatorum (OCD) atau Ordo Karmel Tak Berkasut asal Bajawa, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur, pada hari Rabu (08/09/2021) Pukul 00.50 WITA atau Pukul 18.50 waktu Roma, ditelepon oleh General OCD dari Italia untuk menjadi Definitor General OCD atau Wakil Pimpinan OCD dunia yang akan mengurusi para Imam/Biarawan/Biarawati OCD dan OCD Awam di 10 negara se Asia-Pasifik, yakni Australia, Jepang, Korea, China, Filipina, Taiwan, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura, untuk periode 2021-2027.

Tahun 2019 lalu Pater Chris menyelesaikan studi Doktornya pada bidang spesialisasi spiritualitas di Fakultas Teologi de Norte de España, Burgos, Spanyol, dan telah memiliki kontrak dengan Universitas De La Mistica di Kota Avila, Spanyol, untuk mengajar di sana.

Pada hari Jumat (10/09/2021) Pukul 09.00 WITA, Media SULUH DESA berhasil menghubungi Pater Chris yang kini berada di Biara OCD Santo Yoseph Bogenga Bajawa.

BACA JUGA:

Berhadapan dengan 7 Penguji, Pater Markus Ture OCD Berhasil Raih Gelar Doktor

Kunjungi Biara OCD Kupang, Wagub NTT Serahkan Bantuan Beras

8 Frater OCD Indonesia Ikrar Kaul Pertama, Bertahan Dengan Cinta yang Total

Terjadi dialog dan diskusi yang menarik, terutama mengenai tugas barunya sebagai Definitor General OCD dan pandangan-pandangannya mengenai spiritualitas Gereja Katolik dan Biara Karmel OCD secara umum.

Atas izinnya, di bawah ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Media SULUH DESA dan dijawab Pater Chris dengan penuh kerendahan hati untuk dipublikasikan.

Media SULUH DESA (MSD): Bagaimana perasaan anda saat diangkat menjadi Wakil Pimpinan OCD di Asia-Pasifik?

Pater Chriss Surinono, OCD (P. Chris): Saya tidak pernah menyangka karena bagaimanapun kita OCD Indonesia ini masih baru dibandingkan dengan Karmel OCD di seluruh Asia-Pasifik yang sudah lama. Banyak orang yang sudah disiapkan dan lebih siap. Ketika saya ditelepon tengah malam Oleh Pater General dari Roma saya sudah tidur. General OCD dunia telepon dan mengatakan bahwa saya diangkat jadi wakilnya untuk mengurusi Karmel OCD di Asia-Pasifik. Perasaan saya campur aduk antara senang, sedih, terharu, cemas, takut. Tapi ya sudahlah memang ini jalan Tuhan. Saya tidak bisa menolak dan lawan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Saya percaya bahwa Tuhan akan membantu sehingga pekerjaan dan tugas itu akan menjadi lebih baik.

MSD: Berapa orang yang mendampingi General OCD dan berarti anda akan pindah tinggal di Roma?

Chris: Yang mendampingi General OCD itu ada delapan orang dan semuanya akan tinggal di Roma. Kami semua akan mewakili seluruh dunia. Kantor kami ini di Generalat di Roma. Tugas saya itu mengurusi OCD di Asia-Pasifik tapi kita bekerja bersama-sama delapan orang itu.

MSD: Anda terpilih menjadi Wakil Pimpinan OCD dunia itu tentunya sangat membanggakan Kabupaten Ngada dan Provinsi NTT. Bisakah anda memberikan motivasi bagi anak-anak muda supaya tekun dalam cita-cita sehingga bisa berhasil?

Chris: Dari pengalaman saya studi, saya melihat kita orang Indonesia khususnya NTT itu sebenarnya tidak bodoh. Kita orang NTT itu sangat mampu, dibandingkan dengan negara-negara lain, kita orang Indonesia itu dalam urusan bahasa sangat hebat. Hanya ada kekurangan kita yakni kurang disiplin diri dan rasa percaya diri yang kurang atau masih minder. Kita kurang percaya diri kalau kita itu bisa. Mestinya pendidikan kita itu mengubah hal ini. Saya juga melihat barangkali ini disebabkan karena pola pembinaan orang tua terhadap anak-anak atau guru dengan anak-anak yang belum dimaksimalkan dengan baik. Kalau kita mau bandingkan pola relasi pembinaan orang tua atau guru terhadap anak-anak di Eropa itu sudah mengalami kemajuan. Mereka itu memperlakukan anak sebagai sahabat atau teman. Jadi anak-anak memandang orang tua atau guru tidak dengan perasaan takut. Walau demikian ada batasan-batasan yang membuat mereka tetap segan. Kita itu dididik untuk takut sehingga anak-anak merasa ketakutan untuk berkreasi karena pasti dianggap kurang baik. Anak-anak kita yang pemalu, minder, dan takut mesti kita rangkul dan membiarkan mereka bermimpi atau bercita-cita. Padahal kita memiliki banyak potensi dan kemampuan yang tidak jauh berbeda dengan orang-orang di luar NTT. Sekali lagi secara intelektual kita tidak kurang, namun masih kurang dalam hal disiplin. Oleh karena itu anak-anak kita harus didorong dan anak-anak muda di NTT harus berani.

MSD: Kita kembali ke Karmel OCD. Sejauh ini pengamatan Pater terhadap perkembangan Karmel OCD Indonesia bagaimana?

Chris: Saya melihat perkembangan Karmel OCD di Indonesia itu sangat luar biasa. Dari sisi panggilan, saya mengalami bahwa sangat luar biasa. Banyak sekali anak-anak muda yang bergabung untuk menjadi Imam Katolik. Hanya memang kita ini masih baru sehingga banyak pembenahan-pembenahan ke dalam soal formasi, pendidikan. Itu semua perlu dibenahi. Tetapi secara global, Karmel OCD mengalami perkembangan yang sangat baik. Suasana persaudaraan di dalam komunitas maupun di luar sangat mendukung dan masing-masing pihak saling memotivasi dan mendorong. Itu adalah hal yang positif.

MSD: Apakah dengan diangkatnya Pater menjadi Definitor General akan meningkatkan status Karmel OCD Indonesia dari Komisariat ke Provinsialat?

Chris: Ya ada kemungkinan, karena banyak persyaratan untuk menjadi Provinsialat dari yang saat ini berstatus Komisariat. Ada banyak persyaratan yang sekali lagi harus dipenuhi. Persyaratan itu misalnya kemandirian finansial. Itu sangat perlu. Kemandirian finansial itu berarti OCD Indonesia harus memiliki pendapatan tetap. Orang Eropa tidak bisa percaya kalau kita punya pendapatan tetap tetapi umat masih beri uang, makanan, atau apapun itu. Orang Katolik di Indonesia itukan sangat murah hati. Nah ini tidak bisa menjadi alasan. Orang Eropa itu tetap tidak percaya. Pendapatan tetap itu harus dihasilkan dari pekerjaan sendiri dan pekerjaan tetap untuk mencukupi kebutuhan komunitas itu sendiri. Nah ini ke depan harus dibenahi dan selama ini Konfrater sudah bekerja keras untuk itu. Para Pastor muda OCD Indonesia dan rekan-rekan saya sangat luar biasa. Hal ini bukan saja merupakan tugas saya, tetapi kolegial kita di General memberi dorongan untuk itu. Kami yang membantu General itu melakukan visi dan misi yang dimiliki Karmel OCD di dunia secara umum. Kalau ada kesulitan-kesulitan seperti di Amerika, Afrika, atau Asia, kita akan saling diskusikan itu bersama-sama lalu mencari solusi untuk membantu. Bukan hanya aspek itu. Tetapi aspek spiritualitas, aspek pewartaan, misinya. Itu semua kita lakukan secara bersama-sama.

MSD: Mengenai spiritualitas Karmel OCD terutama kontemplasi, apakah masih efektif untuk umat ikuti di tengah pergeseran nilai-nilai? Menurut pandangan anda?

Chris: Itu menjadi cita-cita bersama Karmel OCD secara umum untuk melihat bagaimana spiritualitas ini mampu menjawabi kerinduan umat yang sudah dijejali dengan berbagai macam hal yang menjauhkan umat dari dirinya sendiri atau dari Tuhan. Spiritualitas Karmel sebenarnya mau menjawabi itu. Sekarang di Eropa itu banyak umat yang harus kita isi spiritualitasnya supaya mereka jangan mencari spiritualitas lain. Pun demikian di Indonesia. Di Indonesia kita fokus untuk mengangkat kembali spiritualitas Karmel yang didirikan Santa Teresa Avila, Yohanes Dari Salib, dan Santa Theresia Kanak-Kanak Yesus. Ini untuk menjawabi kerinduan hati banyak orang. Hanya sekarang itu bagaimana kita mencari sarana-sarana atau model-model pewartaan supaya warisan rohani yang ada di dalam Gereja yang menjadi kekayaan rohani Karmel mampu menjawabi kerinduan hati umat.

MSD: Kita melihat Gereja Katolik secara umum mengalami pergeseran nilai yang begitu besar. Contohnya di Eropa sendiri banyak umat yang perlahan-lahan meninggalkan Gereja walaupun di satu sisi banyak anak muda juga yang dibaptis. Indonesia juga mengalami hal itu namun masih senyap dan belum terangkat ke publik. Tanggapan anda?

P. Chris Surinono, OCD (Biarawan dan Pastor Karmel. Sementara tinggal di Biara Karmel OCD Bogenga-Bajawa-Flores)

Chris: Itu merupakan pengalaman Gereja yang sering terjadi dan Gereja Katolik selalu memiliki antisipasi terhadap situasi-situasi seperti itu. Nah, pengalaman-pengalaman dalam sejarah Gereja Katolik di Eropa juga mengalami kemunduran, pukulan dari dalam Gereja sendiri atau dari luar itu banyak. Biasanya Gereja harus kembali ke dalam diri untuk bagaimana memperbaiki aspek formasi. Di sini termasuk formasi pendidikan calon imam dan formasi iman umat. Formasi para calon imam itu sangat penting. Bukan hanya soal bagaimana dia menjadi imam tetapi bagaimana supaya dia secara pribadi mempunyai suatu kematangan diri, kematangan sosial, emosional, kematangan seksual, kematangan psikologis. Sehingga saat dia keluar dari formasi yang begitu panjang untuk berada di tengah umat, dia tidak kaget dengan situasi umat yang kadang jauh secara konkrit dari formasi yang dipeolehnya. Ini sebenarnya Gereja harus memperhatikan formasi ke dalam. Itu sangat penting sehingga para calon imam yang kemudian menjadi imam atau biarawan-biarawati itu benar-benar keluar mencapai kondisi diri yang sudah matang. Bahkan mereka mampu memberikan apa yang dibutuhkan oleh umat, bukan apa yang kami tahu. Kadang-kadang kami ini memberi apa yang kami tahu bukan apa yang dibutuhkan oleh umat. Sehingga itu tidak ketemu dan membuat umat menjadi jenuh. Contohnya kotbah-kotbah yang kami sampaikan kepada umat itu lebih kepada apa yang kami tahu daripada apa yang dibutuhkan oleh umat. Makanya yang paling penting itu adalah memberikan apa yang dibutuhkan oleh umat dari pengetahuan yang diramu secara sederhana dari seorang imam atau seorang calon imam. Kesenjangan ini yang harus dijembatani. Dan menjembatani itu harus memperbaiki formasi ini. Sekali lagi yang paling penting itu adalah kembali ke dalam diri dulu termasuk proses pembinaan yang sudah menjadi imam. Kalau ini diperhatikan secara serius akan menjembatani hal-hal ini. Ya tapi namanya kita ini Gereja, kita ini bukan kumpulan orang kudus. Gereja itu kumpulan orang berdosa, orang yang sedang mencari Tuhan sehingga kita bersama-sama memperbaikinya. Sekali lagi, kami para pastor harus lebih ke dalam lagi untuk mengenal kondisi umat.

Tentang Pater Doktor Chris Surinono, OCD

Chris Surinono menyelesaikan Seminari Mataloko tahun 1989, kemudian ia gabung ke Karmel OCD. Setelah itu ia stud di Fakultas Filsafat-Teologi di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

Chris yang sudah menjadi Frater itu lalu mengikrarkan Kaul pertama tahun 1992 dan ia pun mengikatkan dirinya dalam Kaul Kekal di tahun 1997.

Frater Chris Surinono akhirnya ditahbiskan menjadi Imam pada 5 September tahun 1999 oleh Yang Mulia Uskup Keuskupan Agung Ende Mgr Longinus Da Cunha.

Setelah ditahbiskan Pater Chris Surinonon ditugaskan menjadi Asisten Prefek para Frater Karmel OCD di Seminari San Juan Kupang, lalu diangkat menjadi Prefek tahun 2001-2003.

Tahun 2004-2006, ia melanjutkan studi S2 di Cites (Centro International Teresia-Sanjuanitas atau sekarang dikenaldengan nama Universitas de la Mistica, di Kota Avila, Spanyol).

Tahun 2006-2014, setelah selesai S2 dan kembali ke Kupang, ia menjadi staf pengajar di Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

Tahun 2008-2011, ia dipilih menjadi pimpinan Karmel OCD Indonesia.

Tahun 2011-2014, Pater Chris bertugas di rumah formasi OCD untuk para Teologan di Yogyakarta.

Tahun 2014, dirinya pergi ke Spanyol dan membantu di Seminari Tinggi OCD di Kota Madrid.

Tahun 2016-2019, Pater Chris studi S3 spesialisasi Spiritualitas di Fakultas Teologi de Norte de España, Burgos, dan lulus sehingga dapat menyematkan gelar Doktornya. (fwl/fwl)

DomaiNesia

Komentar

News Feed