oleh

Kelor di NTT Siap Diekspor ke Seluruh Dunia

KUPANG, suluhdesa.com | PT Moringa Organik Indonesia (MOI) yang memiliki Standard Operating Procedure (SOP) dalam proses pengolahan kelor telah digandeng Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk menyuplai kelor ke Eropa, Afrika, dan Amerika. Selain itu Dekranasda dan PT MOI akan menjadikan NTT sebagai penyuplai kelor terbesar di Indonesia ke seluruh dunia sekaligus sebagai Provinsi Kelor.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Dekranasda NTT Julie Sutrisno Laiskodat di Kantor Dekranasda NTT, Minggu (05/09/2021) Pukul 17.00 WITA.

Julie Laiskodat yang yang didampingi Maria Fransisca Djogo, Kiki dari Dapur Kelor, Courage seorang Mahasiswa dari Ghana, dan Kang Dedi dari PT MOI, mengungkapkan bahwa, kerja sama yang bakal dilakukan ini mengajari mereka tentang cara menanam kelor, pengolahan kelor, sampai mengemas kelor secara baik dan sesuai standard internasional.

BACA JUGA: 

Julie Laiskodat Ingatkan Warga Umatoos untuk Konsumsi Kelor Cegah Kurang Gizi dan Stunting

Gubernur NTT; Jepang Minta 40 Ton Powder Kelor Setiap Minggu

Kuliah Umum di Poltekkes Kupang, Gubernur NTT Pesan 100 Gelas Jus Kelor

“Kelor NTT memiliki kualitas terbaik di dunia sehingga target Dekranasda NTT harus menyuplai kelor ke seluruh dunia. Kami akan memfasilitasi semua kabupaten dan kota yang mempunyai potensi kelor terbaik dan UMKM Kelor yang telah diuji kualitasnya,” ungkap Julie.

Istri dari Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat ini menegaskan bahwa, NTT selalu menghadapi masalah stunting dan gizi buruk. Namun ia selalu memberikan sosialisasi tentang kelor supaya dikonsumsi oleh seluruh masyarakat.

“Karena kelor itu mempunyai kandungan gizi yang lengkap. Selain itu, kelor dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Dekranasda NTT memiliki program moringa untuk keluarga, jadi semua produk atau bahan makanan di rumah tangga, harus ada kelor. Kelor bisa menghasilkan pendapatan ekonomi, kelor bisa dijual. Para keloris (pelaku kelor) di NTT sudah banyak, tetapi mereka belum memahami tentang standarisasi nutrisi kelor dan pasarannya. Jadi kerja sama dengan MOI ini untuk menggunakan standardisasi untuk mengolah kelor, standard internasional,” beber dia.

Dirinya memiliki cita-cita supaya kelor di NTT dapat menyejahterakan masyarakat.

“Kita mau menjadikan NTT sebagai Provinsi Kelor yang nantinya akan diolah dengan kualitas yang baik sehingga bisa masuk di pasar dunia,” imbuhnya.

Menjawab pertanyaan Media SULUH DESA, Julie Laiskodat mengatakan, dua tahun ke depan, Provinsi NTT setelah belajar dari PT MOI tentang proses pengolahan kelor yang sesuai standard internasional, akan menyuplai sendiri kelor ke seluruh Eropa, Amerika, Afrika, Australia, dan Negara-negara lain di Asia.

“Untuk sementara kita dengan PT MOI dulu. Setelah kita belajar, kita akan memiliki sistem sendiri,” jawab dia.

Kang Dudi sebagai Founder dan Owner PT Moringa Organik Indonesia (MOI), Dudi, menjelaskan pihaknya sudah fokus mengurus Kelor sejak tahun 2013 dan di Provinsi NTT bekerja sama dengan Korem 161 Wirasakti Kupang. Namun dalam perjalanan, pihaknya berhenti sebab belum memenuhi target.

Menurutnya, dalam proses mengembangkan kelor harus ada SOP yang ditetapkan.

“MOI punya SOP. Makanya kami siap kembangkan dan akan mengekspor kelor berbasis kualitas ke seluruh dunia,” tegas Dudi.

Selanjutnya Dudi mengatakan tentang komitmen Gubernur NTT untuk mengembangkan kelor dan menjadikan NTT sebagai provinsi kelor merupakan hal positif.

“Kami dari PT MOI akan membantu mewujudkan itu dan menjadikan kelor NTT sebagai penyuplai utama. Kelor di NTT memiliki nutrisi dan gizi yang tinggi. Namun harus ada standar pengolahan yang baik agar nutrisinya tetap dijaga. Di luar negeri, orang tidak membeli kelor dengan ukuran kilogram, tetapi kandungan nutrisi di dalamnya. Jadi bisnis kelor itu bisnis nutrisi dan kualitas,” ujar dia.

Di hadapan wartawan, Kang dudi menyampaikan jika pada Desember nanti sudah ada 1 kontainer yang akan disuplai ke luar.

“Saya juga akan mengajarkan ilmu saya secara gratis kepada para keloris di NTT jika ada yang ingin belajar melalui Dekranasda,” tutupnya.

Sedangkan Courage yang sedang meneliti kelor di Indonesia menyampaikan bahwa, kelor di NTT sangat baik kualitasnya.

“Usaha kelor ada di Bali, ada di Blora, dan beberapa tempat lain, namun NTT memiliki kualitas yang baik. NTT sendiri memiliki beberapa jenis kelor,” tuturnya.

Mahasiswa asal Ghana ini menjelaskan bahwa, dirinya akan meminjam sistem proses pengolahan kelor yang dimiliki PT MOI untuk mengembangkan kelor di Ghana.

“Selain itu, kelor dari NTT akan saya pasarkan di Ghana juga karena Ghana itu berada di Afrika dan dekat dengan Eropa serta Amerika,” pungkas pria yang sedang studi S2 di IPB ini. (idus/idus)

DomaiNesia

Komentar

News Feed