oleh

Pandemi dan Pesan Pengharapan

RENUNGAN MINGGU XXIII

Bacaan I: Yes 35: 4-7

Bacaan II: Yak 2: 1-5

Injil: Mrk 7: 31-37

 

Oleh P. Chris Surinono, OCD

==============

 

Pandemi sudah secara radikal mengubah banyak hal. Mengubah cara kita melihat hidup, cara menjalin relasi dengan sesama dan memandang barang material dan kesia-siaan dalam hidup yang sementara ini. Jika satu krisis bersama tidak sampai mengubah cara berada dan cara hidup kita, maka, seperti kata Paus Fransiskus, kita kehilangan momen dan kesempatan untuk suatu transformasi diri dan kemanusiaan agar hidup bisa lebih baik dan bermartabat. Jika kerinduan untuk keluar dari krisis pandemi dan disertai kedisiplinan yang kuat, pertanda bahwa kita sedang dibimbing Allah untuk menemukan jalan dan cara terbaik mengalami kehadiran-Nya dan memiliki orientasi hidup yang kekal. Paus Fransiskus tidak hanya mengajak umat untuk memandang secara positif dan penuh rasa optimis atas persoalan global ini, melainkan juga mendorong siapa saja untuk berharap pada kuasa dan penyelenggaraan Allah.

Yesaya tinggal dan karya pewartaannya di Israel, Yudea dan beberapa daerah sekitarnya. Ia mendapat panggilan dan perutusan Allah pada masa raja, Uzia, Jotam, Acaz dan Ezequiel, raja Yudea. Ia dikenal sebagai nabi yang bukan saja berani menelanjangi para pemimpin yang nyaman dalam pratek-pratek dosa sosial; mengkritisi kebijakan raja-raja yang tidak memihak kepada rakyat; para penguasa yang menutup mata kepada ketimpangan dan penderitaan rakyat, melainkan juga dikenal sebagai nabi pengharapan. Ia menyerukan pesan pengharapan bagi bangsa Israel. Pesan akan kedatangan hari Tuhan, hari pembebasan; hari di mana semua orang dan segalanya menjadi baru.

BACA JUGA:

Aturan Dibuat Tapi Tak Ditaati, Sesungguhnya Orang Itu Jadi Pencuri

Renungan Katolik: Tuhan, Kepada Siapakah Kami akan Pergi?

Renungan Katolik: Ini Dia Tanda-tanda Krisis Iman?

Pesan pengharapan diserukan karena keprihatinannya akan penderitaan rakyat. Ia melihat dan merasakan sendiri bagaimana bangsa Israel yang dijajah, dibuang ke Babel, dijauhkan dari pusat bait Allah. Umat yang putus asa, patah semangatnya, kecewa dan segala problem kehidupan yang menimpa mereka. Mengalami sendiri situasi umat yang demikian, ia berseru: “kuatkanlah hatimu, jangan takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu! Seruan ramalannya ini, dalam konteks sejarah keselamatan, akan terpenuhi dalam diri Yesus Kristus. Kisah Injil hari ini, Mrk 7: 31-37 mengafirmasi apa yang sudah dikatakan oleh Nabi Yesaya tentang Yesus Kristus. Ia menjadikan segala-galanya baik Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara”.

Kritik dan seruan pengharapan Nabi Yesaya masih aktual dan relevan dengan hidup kita sekarang. Kata-kata seruannya cocok dengan situasi pandemi yang kita semua sedang alami. Pemerintah telah pekerja keras mengatasi penyebaran virus ini. Masyarakat diajak bekerja sama menaati protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus yang mematikan ini. Kerja sama yang baik ini menjadi langkah terbaik untuk mengatasi bukan saja penyebaran virus tapi juga memulihkan kembali dunia ekonomi, usaha dan jalinan relasi sosial. Kerja sama untuk pemulihan ini, dalam bahasa teologi adalah ungkapan konkret atas iman dan kepercayaan bahwa Allah beserta kita.

Allah tidak membiarkan manusia berjuang mengatasi kemalangannya sendiri tanpa kuasa dan campur tangan Allah. Allah beserta kita. Allah bekerja bersama semua yang dengan jujur, iklas dan penuh pemberian diri bekerja untuk kebaikan bersama. Tapi, mereka yang tidak mengalami Allah beserta kita, tidak akan bisa bekerja sama dengan Allah dan orang lain. Mereka lebih banyak bekerja sama dengan kekuatan jahat dan iblis. Allah tidak akan bisa berbuat apa-apa dengan mereka yang membuat peraturan dan ia sendiri melanggarnya; Allah tidak akan bisa bekerja dalam diri mereka yang mengambil keuntungan secara tidak layak dan wajar dalam situasi pendemi ini.

Mustahil Allah bisa bekerja sama dengan mereka yang masa bodoh dengan peraturan bersama. Yesus tidak mungkin bisa menyembuhkan orang bisu dan tuli kalau mereka sendiri tidak mau, tidak berharap dan tidak bekerja sama dengan usaha Yesus itu.

Masker berfungsi untuk menutup mulut dan hidung. Kita seakan hanya diijinkan atau menginjikan untuk melihat sebagian wajah saja. Ini simbol kontradiksi dan ketimpangan hidup sosial. Kita diminta untuk menutup mulut dan hidung, tapi bukan menutup dan mendiamkan segala ketidakadilan dan kejahatan. Yesaya tidak takut berbicara tentang ketidakadilan. Ia kritis kepada para pengambil kebijakan dan yang bekerja demi kebaikan bersama. Ia tidak menutup hidung untuk membaui segala pratek oportunis demi kepentingan yang egoistis dan serakah.

Praktik oportunis dan egoistis atas penderitaan orang lain adalah tanda nyata kehilangan martabat diri dan jiwa yang kering. Tentu hanya mereka yang nuraninya sudah mati dan martabat diri sudah tidak ada lagi yang tidak tergerak melihat dan peduli dengan penderitaan banyak orang lain. Yesaya mengajak kita untuk mengikuti Yesus yang selalu tergerak hati-Nya oleh belas kasihan. Belas kasihan kepada mereka yang sedang sakit, mereka yang tak sanggup berbicara, mereka yang tak mampu menyembuhkan diri dan jiwanya sendiri. Kita semua mengalami sendiri dampak negatif dari pandemi ini. Usaha dan dunia ekonomi yang sulit; banyak orang harus kehilangan pekerjaan, usaha kolaps, ditutup atau terpaksa dilego dengan harga murah.

Ketika mau menyembuhkan orang bisu, “Yesus berkata kepadanya: “Efata”, artinya terbukalah”. Satu seruan saja, tapi padat dengan pesan moral dan spiritual. Yesus, dengan mengatakan “terbukalah! Sebenarnya mau menegaskan bahwa jangan engkau membisu dan mendiamkan segala kemampuan dirimu dan kekayaan kerahiman Allah. Pesan Yesus sangat jelas bahwa manusia tidak boleh lupa diri atas kekayaan dan kemampuan yang telah ditanamkan Allah dalam dirinya. Ia berkewajiban moral untuk mengembangkan kebaikan itu dan berbagi dengan sesama.

Manusia tidak boleh lupa bahwa ia punya dimensi tubuh dan aspek roh; jiwa dan raga, maka ia berkewajiban untuk menjaga tubuh agar sehat. Tubuh harus diberi nutrisi agar kuat, sehat dan bisa bekerja untuk kebaikan diri dan sesama. Tapi, ia juga memiliki dimensi jiwa. Ia pun punya kewajiban ilahi untuk memberi makan kepada jiwanya agar bisa hidup baik dan berbagi kebaikan. Tubuh fisik mendapat makan dan minum untuk sehat. Dalam situasi pandemi ini, kita dianjurkan untuk menjaga kesehatan tubuh dengan makan bergizi, istirahat yang cukup dan berolahraga, menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Ini pesan moral dari Tuhan yang disuarakan oleh pemerintah dan mereka yang peduli dengan kesehatan bersama.

Disisi lain, seruan kata ¡Efata! Dari Yesus juga mengingatkan kita bahwa manusia bukan hanya tubuh fisik saja, tapi juga jiwa. Seperti tubuh, jiwa juga perlu diberi makanan dari sakramen-sakramen, doa-doa dan rahmat ilahi agar tubuh-fisik kuat dan seimbang dalam siarah hidup menuju kepada keabadian. Saya menjadi sangat heran dalam kondisi pandemi ini gereja-gereja harus ditutup. Memang saya tidak dalam posisi untuk berkata dan berkeputusan, tapi dari pesan Yesus dalam penyembuhan orang buta ini, secara pribadi bisa berpendapat bahwa secara sakramental spiritual kondisi jiwa diperlemah.

Jiwa kita tidak dikuatkan dengan sakramen-sakramen. Banyak umat yang belum kembali ke gereja untuk mendapatkan kekuatan jiwa dalam sakramen. Bahkan ada yang menjadi lebih nyaman mengikuti misa lewat live-streaming. Nilai rohani dalam sakramen sebagai perjumpaan pribadi dengan Allah menjadi tidak kuat dan menguatkan diri dan hidup bersama.

Bagian terakhir dari perikop Injil hari ini dikatakan bahwa Yesus melarang orang-orang untuk berbicara tentang itu. Tapi, “semakin mereka dilarang semakin mereka luas mereka memberitakannya”. Artinya karya cinta Tuhan selalu menyebar seperti virus; menjangkau hati dan hidup banyak orang untuk memuji dan memuliakan Allah dengan kata dan perbuatan.

Ciri mereka yang sudah merasakan kebaikan Tuhan adalah berani berbagi kebaikan itu dengan sesamanya. Allah sungguh beserta mereka, maka kehadiran Allah yang mengubah hidup, membuat kebersamaan hidup menjadi tempat yang penuh suka cita, gembira, adil dan jujur. Tidak ada nilai hidup yang lebih berarti daripada berbagi kebaikan dan menyebarluaskan perasaan bahagia dan damai dengan sesama. Mereka yang merasakan hidup dan rejeki sebagai pemberian Tuhan tidak akan pernah bisa menyimpan semuanya untuk dirinya sendiri. Mereka akan berbagi dan berusaha untuk juga membahagiakan orang lain. Berjumpa dengan Yesus, orang yang tuli ini berubah.

Perjumpaan dengan Yesus menjadikan ia orang baru, pribadi yang pandai mendengar, pandai berempati dan simpati dengan diri dan situasi sesama; pribadi yang juga bukan hanya prihatin tapi juga bekerja adil bagi orang lain; pribadi yang juga berusaha untuk mengubah orang lain dengan berbagi kebahagiaan.

Penyembuhan yang dibuat Yesus punya pesan moral yang sangat kuat, yakni untuk hidup bahagia dan damai dalam batin hanya dengan membahagiakan sesama dan Allah. Allah telah mengubah orang tuli ini, dan ia serta semua orang yang menyaksikan itu turut berbahagia. Orang yang bekerja Bersama Tuhan akan selalu membuat orang lain merasa ada keadilan, kejujuran dan suka cita.

Doa dan sakramen Gereja adalah momen perjumpaan kita dengan Allah, yang tidak saja membuat perubahan dalam diri tapi juga memberikan kekuatan dan rahmat ilahi agar mampu mewartakan kebaikan yang Allah tanamkan dalam diri dan berbagi kerahiman Allah dengan sesama. Ada pesan pengharapan bahwa tidak akan sia-sia orang yang bekerja dan berharap pada Allah; tidak akan rugi jiwa dan raga kalau orang hidup jujur, peka, disiplin dan punya rasa empati dan ketergerakkan hati akan penderitaan sesamanya. Tuhan tidak pernah berkata “tidak” pada setiap doa dan perbuatan baik bagi sesama, tapi Ia katakan “tunggu”, “sabar” dan berharap” pada segala campur tangan-Ku untuk diri dan hidupmu.

Doa Raja Daud bi bawah ini bisa menjadi kekuatan dan pesan pengharapan bagi kita di masa pandemi ini: Kita berdoa bersama:

“Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada Tuhan:

“Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercaya”. Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari erat perangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk.

Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, dibawa sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Engkau tak akan takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu siang” (Mazmur 91). (*)

*) Imam dan Biarawan Karmel, Tinggal di Biara OCD Bogenga-Bajawa

DomaiNesia

Komentar

News Feed