oleh

Jurnalis Asal Kupang Ini Berhasil Raih Gelar Doktor

KUPANG, suluhdesa.com | Patrisius Kami, salah satu Mahasiswa asal Provinsi Nusa Tenggara Timur yang melakukan studi pada Program Studi Linguistik Program Doktor Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana, Denpasar-Bali telah menyelesaikan ujian disertasinya di hadapan delapan penguji dan berhasil menyandang gelar Doktor dalam ujian terbuka pada Kamis (26/08/2021).

Hal ini disampaikan Patris Kami saat dihubungi Media SULUH DESA, Jumat (27/08/2021) siang melalui telepon seluler.

Patris yang kini sedang berada di Denpasar mengungkapkan bahwa, ia telah menyelesaikan kuliah S3 selama empat tahun sejak tahun 2017 hingga 2021 dan telah melewati 4 tahap ujian Disertasi mulai dari Ujian Kualifikasi hingga ujian tertutup dan ujian terbuka.

“Ini semua berkat dukungan banyak pihak sehingga saya dapat selesai. Saya sudah memperoleh gelar Doktor dari Prodi Linguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Saya bersyukur Tuhan dan Embu Mamo menyertai proses kuliah saya yang penuh tantangan ini,” ungkap Magister Humaniora ini.

BACA JUGA: 

TPDI: Antonius Boediono Ngawur karena Ia Bukan Tokoh Katolik

Hamili Istri Orang, Pastor Paroki MRPD Pontianak Diberhentikan

Wanita Senang Berkhayal Berhubungan Seksual dengan Pria Six Pack

Sirilus Wali, Lahir di Ndangakapa, Kalau Bernyanyi Diiringi ‘Juk’, Sekarang Ciptakan Banyak Lagu

Dirinya menjelaskan bahwa, di hadapan delapan penguji, ia merasa bersyukur mampu menjelaskan dan mempertahankan Disertasinya yang berjudul Ekoleksikon Ritual Keda Kanga Pada Guyub Tutur Bahasa Lio-Ende Flores.

Kata Patris, ia diuji oleh 8 orang penguji yakni, Prof. Dr. Drs I Wayan Simpen, M.Hum (Promotor), Prof. Dr. Drs. I B Putra Yadnya, M.A (Kopromotor 1), Prof. Dr. I Ketut Darma Laksana, M.Hum (Kopromotor 2), Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A, Prof. Dr. Ketut Artawa., M.A, Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A,  Prof. Dr. I Nyoman Kardana, M.Hum, dan Dr. Putu  Sutama, M.S.

Penelitian untuk Disertasinya ini dilakukan di enam kampung adat di wilayah Ende-Lio, yakni di Wolokota, Wolotopo, Detusoko, Nua Ngenda, Kuru Liwu, dan Nua One.

Menurut Patris, penelitian ini menelaah ekoleksikon ritual Keda Kanga ‘rumah adat pada guyub tutur bahasa Lio-Ende Flores. Secara sepesifik penelitian ini menjawab tiga hal pokok; (1) Konstruksi leksikon pada ritual Keda Kanga sebagai tradisi pada guyub tutur bahasa Lio-Ende Flores, (2) Khazanah leksikon yang hadir pada saat ritual pembangunan Keda Kanga sebagai representasi budaya dan kekayaan bahasa Lio, dan (3) Makna-makna yang terkandung pada ritual Keda Kanga pada guyub tutur bahasa Lio-Ende Flores. Kontribusi rasional penelitian ini adalah dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang eksistensi ritual Keda Kanga sebagai identitas, kebesaran dan kewibawaan guyub tutur bahasa Lio-Ende Flores.

“Untuk memecahkan ketiga masalah pokok tersebut, penelitian Keda Kanga  dlandasi teori ekolinguistik  dengan menggunakan model dimensi logis yang dikemukakan oleh Bang dan Door dan juga teori pendukung pemecahan masalah, misalnya, teori ekolinguistik dialektikal dan teori praksis sosial. Metode yang digunakan adalah metode observasi partisipan, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, mencatat dan merekam. Data-data tuturan yang diperoleh dianalisis dari sudut domain, taksonomik, dan komponensial. Hasil penelitian ini berkontribusi pada dua hal: taksonomi dan teoritis,” jelasnya.

Selanjutnya dia menjelaskan, secara taksonomi teks ritual Keda Kanga yang diproduksi dalam setiap tahap pembangunan Keda kanga  sangat dialogis dan kontekstual ekologis.

Secara teoretis, pada dasarnya teks-teks ritual itu tidak berdiri sendiri, walaupun teks-teks tersebut terlihat  monolog-dramatik tetapi sesungguhnya teks-teks tersebut sangat dialogis kontekstual.

“Hasil penelitian memperlihatkan beberapa aspek misalnya, konstruksi butir-butir leksikon dalam teks ritual Keda Kanga menunjukkan adanya khazanah leksikon berkategori nomina, verba, adjektiva, adverbial dan numeralia. Dilihat dari aspek leksikalisasi, pendayagunaan kosakata dalam ritual keda kanga memanfaatan bentuk-bentuk yang bersinonim, antonym, dan hiponym. Aspek gramatikal, adanya kehadiran makna referensial pronominal sebagai petunjuk kehadiran diri dalam realitas sosial budaya,” tegas pria yang lahir di Wolokota, Ende 03 Juli 1985 silam.

Ungkapan dalam teks ritual Keda Kanga memiliki gaya bahasa khas berupa metafor dan paralelisme, yang menunjukan adanya karakter berpikir pada GTBLEF. Secara ekologis, butir-butir leksikon ritual Keda Kanga memiiki hubungan secara interrelasi, interaksi dan interdependensi. Khazanah leksikon yang terekam dalam ritual keda kanga berupa khazanah leksikon flora, fauna, dan khazanah leksikon nama, dan struktur Keda Kanga.

Makna-makna yang terkandung dalam ritual Keda Kanga secara ekotekstualitas dimaknai berdasarkan dimensi ideologis, sosiologis, dan biologis. Sumber makna yang terekam dalam ekotekstualitas ritual Keda Kanga yaitu, makna spiritual; makna yang menyatakan hubungan dengan kekuasaan Wujud Tertinggi dan juga wujud lain dalam keyakinan orang Lio yang disebut nitu pa’i, makna sosiologis; makna kebersamaan dan kekeluargaan; pengharapan akan kesehatan dan keselamatan; pengharapan akan keberhasilan dalam keluarga, dan makna sejarah (historis) yang menggambarkan proses pewarisan budaya dan warisan ekologis.

Dalam penelitiannya, Patris Kami menuliskan bahwa, bahasa Lio-Ende Flores sebagaimana layaknya bahasa daerah lainnya di Indonesia, memiliki keanekaragaman budaya, tradisi, adat, dan bahasa lokal yang menunjukkan sistem dan perilaku berpikir, baik secara sosioekologis maupun sosiokultural.

Menurutnya, Banyak elemen budaya, adat, dan tradisi Lio Ende beradaptasi untuk diberdayakan dan dimanfaatkan, meski secara faktual dan fungsional, sendi-sendi kebudayaan lokal itu meunjukan gejala keterpojokan bahkan bergeser nilai-nilai keetnikan. Sebagian di antara kekuatan kebudayaan warisan leluhur itu memang masih terekam kuat dalam memori dan pola hidup generasi tua. Akan tetapi, dinamika kehidupan nasional dan global mulai menggusur, meminggirkan, dan mengancam kebermaknaan, keberlanjutan, dan kelestarian sebagaimana tampak pada perubahan prinsip, pola, dan gaya hidup generasi muda Lio-Ende bahkan Indonesia umumnya.

Melihat fenomena dan dinamika kehidupan masyarakat Lio-Ende yang kian hari terus berubah akibat perkembangan zaman, penelitian terhadap ritual Keda Kanga ‘rumah adat’ ini sangat diperlukan, sehingga eksistensi dan kewibawaan secara sosial budaya tetap dipertahankan dan dijunjung tinggi, sebagai entitas dan identitas yang mengandung makna dan nilai-nilai kehidupan, baik secara sosioekologis maupun secara fisikalekologis. Dengan pengertian lain, bahwa lingkungan hidup masyarakat Lio-Ende sejatinya telah menjadi sumber daya imajinasi, inspirasi, dan kreasi dalam membangun tradisi, adat, dan elemen-elemen budaya lokal, dan itu diharapkan tetap dipertahankan dan diwariskan, karena Keda Kanga tidak sekadar simbok estetikvisual saja, namun  sebagai simbol identitas, kebesaran, keperkasaan, dan kewibawaan bagi masyarakat Lio-Ende bahkan kabupaten Ende pada umumnya.

Patris mengungkapkan, proses ritual Keda Kanga merupakan bagian dari bahasa dan lingkungan, sebagai bentuk bangunan bahasa yang menggambarkan hasil leksikalisasi, gramatikalisasi, tekstualisasi, kontekstualisasi dan kulturalisasi berbasis keberagaman yang ada di lingkungan. Di sisi lain, ritual Keda Kanga juga sebagai wujud dari lingkungan bahasa yang membatasi ruang hidup yang ragawi (fisik) dan rohani (kultural) yang menggambarkan pentingnya eksistensi berkarakter, berbudaya dan beradab, seperti yang pandangan Fowler dan Kress yang menyatakan bahwa semua bahasa diwujudkan dalam ideologi.

Fenomena dan interaksi dalam konteks ritual Keda Kanga, pada guyub tutur bahasa Lio-Ende menurutnya akhir-akhir ini, berpotensi dan berdampak pada berbagai ruang kehidupan manusia, dan lingkungan kehidupan masyarakat yang dijumpai tanpa melibatkan seluruh panca indra dan perasaan, untuk memaknai realitas keadatan sebagai patron dan norma kehidupan. Kenyataan inilah yang dicoba untuk diungkap dalam penelitian ini melalui keberadaan leksikon bahasa Lio-Ende dalam lingkungan adat keda kanga dengan perspektif ekolinguistik, dengan mengkaji hubungan timbal balik bahasa dan ekologi (lingkungan ragawi dan sosial budaya) sebagai representasi leksikon-leksikon kehidupan pada guyub tutur bahasa Lio-Ende.

Patris memaparkan bahwa penelitian terhadap ekoleksikon ritual Keda Kanga pada Guyub Tutur Bahasa Lio-Ende Flores yang disingkat GTBLEF ini, didasari atas kerisauan terhadap realitas akibat dampak perubahan iklim dan cara pandang yang terjadi saat ini, bahwa  pola pikir dan sistem berkehidupan oleh masyarakat pada umumnya, khususya GTBLEF yang kian tergerus oleh era kemoderenan mulai menunjukkan keangkuhan berinteraksi yang sangat massif terhadap sosiobudaya dan sosioekologis, sehingga perlu ditanggapi serius oleh semua generasi pemakainya sebagai bagian dari entitas dan identitas kelingkungannya. Ketidakpedulian terhadap bentuk khazanah serta perubahan-perubahan kegiatan keadatan kian mengancam sistem dan tatanan nilai kehidupan yang kaya akan sumber daya karakter, nilai, dan filosofis ragawi secara total dalam kehidupan nyata.

Penelitiannya memiliki dua tujuan. Kedua tujuan dimaksud adalah tujuan secara umum dan tujuan khusus. Secara umum, penelitian ini diharapkan dapat memengaruhi masyarakat Lio-Ende untuk mampu menggali, mengingat dan memberdayakan kembali sumber daya bahasa dan budaya masyarakat adat Lio-Ende, yang sudah sejak dahulu ada sebagai representasi nilai dan makna secara adicita (ideologi). Penggalian pengetahuan dan pengalaman generasi tua tentang masyarakat adat Lio-Ende dalam konteks ritual Keda Kanga, agar generasi muda dapat mengenal dan memperkokoh khazanah budaya lokal di tengah gempuran budaya global, khususnya leksikon yang berkaitan dengan masyarakat adat Lio-Ende, melalui bahasa ritual Keda Kanga.

Menurutnya agar tujuan itu bisa tercapai, salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui bahasa yang diajarkan pada pembelajaran berbasis lingkungan sekolah dengan mengonstruksi dan merancang Model Pendampingan dan Pemberdayaan Terpadu aneka khazanah: leksikon, ungkapan, teks, tradisi, dan sejumlah elemen budaya Lio-Ende secara teratur dan berkelanjutan demi kebertahanan, kelestarian, dan keutuhan lingkungan sosial budaya serta kesejahteraan masyarakat, untuk kemajuan di bidang industri dan pariwisata berbasis masyarakat dan lingkungan.

Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi dan mendeskripsikan bentuk bentuk leksikon, ungkapan-ungkapan dalam teks ritual Keda Kanga pada guyub tutur bahasa Lio-Ende Flores. Di samping menemukan fakta dan informasi tentang, kondisi, daya hidup, pergeseran, perubahan, penyusutan fungsi sosial-kultural-ekologis berdasarkan khazanah leksikon secara verbal dan nonverbal dalam konteks ritual Keda Kanga pada guyub tutur bahasa Lio-Ende Flores, sehingga penelitian ini dapat berkontribusi positif, baik secara teoretis maupun praktis bagi disiplin ilmu kebahasaan dan masyarakat.

Beberapa manfaat praktis di antaranya.

Pertama, data, fakta, dan informasi tentang leksikon, ujaran-ujaran dan perilaku ritual yang berwujud tradisi-tradisi adat, dan kearifan lokal masyarakat Lio-Ende bermanfaat bagi pendidikan bahasa berbasis lingkungan lokal. Semuanya itu adalah sumber daya lokal, modal budaya dan modal sosial tradisional yang dapat dikemas untuk dirujuk dalam upaya penggalian dan pemberdayaan sumber daya budaya pada lingkungan masyarakat Lio-Ende.

Kedua, data, fakta, dan informasi dengan kekayaan makna yang terkandung di dalam leksikon, ujaran-ujaran baik verbal maupun nonverbal, dalam konteks ritual Keda Kanga maupun ritual lainnya sebagai bagian dari adat istiadat, tradisi-tradisi, dan sejumlah elemen budaya yang potensial dan unik, sangat bermanfaat dalam pengembangan pendidikan formal, non formal, dan informal terutama dalam konteks penumbuhan etos dan keterampilan kerja, pembentukan karakter dan penguatan jati diri orang Lio-Ende.

Ketiga, Hasil penelitian ini bermanfaat pula dalam strategi dan upaya pengembangan kesadaran lingkungan hidup (ecoliteracy) dalam arti pentingnya keharmonisan hidup guyub tutur bahasa Lio-Ende, khususnya dan masyarakat di Kabupaten Ende umumnya.

Keempat, Penelitian ini juga bermanfaat sebagai upaya untuk mempertahankan fungsi dan pemanfaatan Keda Kanga, proses ritualnya, pemanfaatan alat dan bahan alam, tuturan-tuturannya sehingga tetap menjadi simbol, identitas, kewibawaan masyarakat Lio-Ende, dan Kabupaten Ende pada umumnya yang syarat dengan nilai-nilai dan makna-makna sosiologis dan sosial budaya.

Kelima, Penelitian ini diharapkan bermanfaat secara khusus terutama bagi generasi muda yang belum cukup, bahkan sama sekali tidak mengetahui arti dan makna ritual Keda Kanga.

Keenam, Bagi masyarakat GTBLEF khususnya dan masyarakat Kabupaten Ende pada umumnya, penelitian ini bermanfaat sebagai warisan budaya di masa depan. Dengan kata lain, hasil penelitian ini merupakan sebuah upaya untuk menjaga kelestarian dan khazanah budaya masyarakat adat Lio-Ende, terutama tentang ritual Keda Kanga.

Patris Kami menegaskan arti dari Keda Kanga itu secara etimologis dari dua kata yang berbeda dan memiliki fungs korelatif dalam kegiatan keadatan pada GTBEF.

Menurutnya dari enam kampung adat ada beberapa nama untuk rumah adat, sehingga tidak salah ia memberi penamaan Keda Kanga sebagai rumah adat. Dari berbagai bentuk penamaan rumah adat yang fariatif mulai dari keda, keda kanga, kuwu ria, kuwu wula le’ja, kuwu roe, dan sa’o nggua, untuk sebutan rumah adat, maka ia menyebutkan dengan sebutan Keda Kanga, karena secara wujud, pemanfaatan dan tata letaknya di setiap kampung adat di wilayah Lio-Ende serta keberadaan rumah adat tersebut selalu berdampingan dengan kanga ‘pelataran ritual adat’. Dari sisi yang lain tidak menunjukan adanya perbedaan fungsi, bentuk, posisi dan pemaknaan, namun memiliki sistem dan pola yang lengkap.

Keda Kanga ‘rumah adat’ merupakan bangunan tradisonal yang dibangun berdasarkan falsafah adat, yakni  gagasan yang secara turun temurun diwariskan, sesuai dengan tatanan nilai dan makna-makna simbolis yang terkandung melalui setiap tahap dalam proses ritual. Gagasan itu lahir sebagai bentuk pola pikir masyarakat Lio-Ende secara tradisional mengarah pada hierarki sumber daya budaya, yang direkam melalui peristiwa ritual, salah satunya ritual pembangunan Keda Kanga.

GTBLEF pada umumnya, menganggap Keda Kanga ‘rumah adat’ sebagai cerminan hidup profan dengan Tuhan dan para Leluhur atau dalam sebutan Du’a gheta lulu wula Ngga’e ghale wena tana yang artinya Tuhan yang di surga dan di bumi, sehingga segala norma yang mengikatnya menjadi suatu kesepakatan bersama diwajibkan dalam ritual atau upacara adat.

Setiap membangun Keda Kanga ‘rumah adat’ harus melalui proses secara matang, dalam artian harus melalui kesepakatan bersama seluruh Masyarakat, penyiapan bahan, dan yang paling penting yaitu meminta persetujuan, arahan serta perlindungan dari para Leluhur (roh nenek moyang) melalui ritual adat.

Pola permukiman dan bentuk Keda Kanga ‘rumah adat’  tradisional GTBLEF dibangun selalu berkaitan dengan konsep kekerabatan (Gemen Scap), antisipasi terhadap alam lingkungannya dan hubungannya dengan sang Pencipta alam semesta yang dipercayainya. Hal ini dapat kita lihat pada saat upacara adat, proses pembangunan Keda Kanga ‘rumah adat’ dan perkampungan tradisional yang masih ada dan berlaku di masyarakat adat, termasuk acara seremonial lainnya yang masih ada sampai sekarang ini.

Di akhir obrolannya, Patris menceritakan bahwa dirinya saat mengikuti ujian tertutup itu sebuah hotel karena hotel tersebut memiliki jaringan internet yang bagus.

“Tidak bisa di kost karena jaringan internet kurang stabil. Ya, terpaksa sewa hotel. Teman saya satu batal ujian karena jaringan internet yang parah,” ucapnya sambil tertawa.

Patris Kami merasa bahagia sebab, gelar akademik yang diraihnya kali  ini adalah sebuah persembahan paling berharga, sekaligus sebuah kebanggaan tersendiri bagi keluarga, sahabat serta beberapa perguruan tinggi swasta di NTT, tempat Patris mengabdi selama ini.

Tidak hanya itu, gelar akademik ini juga menjadi kebanggaan para jurnalis di Nusa Tenggara Timur, sebab selain sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi swasta, Patris juga seorang jurnalis di media online dan menjadi Pemimpin Umum/Penanggung jawab portal publikntt-news dan Korwil NTT media nasional liputan4.com. Di sela-sela mengajarnya, Patris kerap berada di lapangan bersama penulis mencari dan mengumpulkan berita.

Terjun di dunia jurnalistik dan mendirikan perusahaan media inilah yang menambah asah dan wawasan Patris untuk berlayar lebih ke dalam tentang kehidupan sosial masyarakat di Nusa Tenggara Timur, termasuk adat dan budaya dari masing masing etnis atau suku. (fwl/fwl)

DomaiNesia

Komentar

News Feed