oleh

Simon Sabon Ola Mau Jadi Rektor Undana Sebab yang Sebelumnya Tidak Baik

 KUPANG, suluhdesa.com | Prof. Dr. Simon Sabon Ola, M.Hum, salah satu Bakal Calon (Balon) Rektor Undana untuk Periode 2021-2025, menyampaikan bahwa, Universitas Nusa Cendana Kupang perlu melakukan pembenahan di segala aspek. Hal itu akan membuat Undana semakin berkualitas ke depan dan dapat bersaing dengan Perguruan Tinggi (PT) lain yang berada di Indonesia.

Prof. Simon mengungkapkan tentang Akreditasi semua Prodi di Undana yang hanya satu dari lima puluhan Prodi di Program S1 maupun S2 dan S3, yang terakreditasi A, yakni Prodi Peternakan di Fakultas Peternakan.

“Nah kita mau andalkan apa kalau begitu? Prodi yang lain itu B bahkan ada yang C. Kita toleh ke hal lain, universitas lain bicara, misalnya sudah menjadi universitas kelas dunia. Mereka yang lain banyak pembenahan dan kemajuan. Kita di Undana ini mau bicara jadi universitas kelas dunia bagaimana kalau Akreditasi Prodi dan Akreditasi Institusi masih seperti itu. Apakah kita mau akreditasi internasional dan apa yang kita tunjukkan dari akreditasi model begini?,” tohoknya.

BACA JUGA:

Simon Sabon Ola: Saya Kalau Jadi Rektor Undana Tidak Pakai Ancam

Hanya Makan Ubi Karet, Simon Sabon Ola Jadi Profesor

Yopi Bedan Terpilih Jadi Ketua Umum KMK St.Thomas Aquinas FKM Undana Kupang

Menurut Prof. Simon, kalau Akreditasi Institusinya sudah A, barulah Undana berpikir untuk menjadi Universitas kelas dunia. Simon juga menyampaikan bahwa, kalau mau jadi Rektor Undana jangan ciut nyali karena itu.

“Saya ingatkan. Memangnya itu Undana, Perguruan Tinggi milik siapa? Kan PT itu dibuka untuk seluruh masyarakat di NTT dan Indonesia. Tapi kalau semua tidak peduli maka masyarakat juga tidak berminat dengan Undana. Coba kamu buka website milik Undana, lihat informasi yang ada mengenai Undana, itu hanya sepenggal-sepenggal, terpotong-potong tidak lengkap. Kadang-kadang website itu ngadat dan tidak bisa diakses. Parah sekali. Padahal untuk menjadi PT kelas dunia, hal itu harus sekali klik dan membuka semua informasi dan data mengenai Undana beserta seluruh isinya. Itu baru namanya mau jadi kelas dunia. Bagaimana kita mau jadi Universitas kelas dunia, kalau data yang ada hanya seputar Penfui? Kita harus kreatif lah supaya dapat dijangkau oleh semua pihak di seluruh dunia,” kata Prof. Simon di hadapan Media SULUH DESA yang bertandang ke rumahnya di Jalan Bougenvil III, Kelurahan Manulai 2, Kecamatan Alak, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, hari Minggu (22/08/2021) Pukul 12.WITA.

Saat membahas tentang pencalonan dirinya menjadi Rektor Undana, Prof. Simon menyatakan kesanggupannya. Prof. Simon mengatakan jika dirinya layak sebab memenuhi kriteria yang ditentukan aturan.

“Saya layak untuk menjadi Rektor Undana dan saya memenuhi kriteria untuk itu. Yang berikutnya saya memiliki obsesi yang lebih baik dari pemimpin Undana yang sekarang. Perlu dicatat kalau saya maju hari ini, berarti Kampus Undana itu belum optimal dan maksimal. Saya mau jadi Rektor, karena yang sebelumnya tidak baik, belum baik dalam memaksimalkan Undana. Saya pastikan ketika saya terpilih, saya akan lakukan yang terbaik dari pemimpin yang sekarang. Pertanyaannya apakah Undana hari ini tidak baik? Jawabannya itu relatif. Coba tanya di orang-orang yang jujur, mereka akan sampaikan kalau Undana kurang begitu baik. Akan tetapi bagi orang-orang yang berada di dalam lingkaran kekuasaan, menurut mereka Undana sedang baik-baik saja. Mengapa demikian? Karena jawaban mereka itu terbelenggu dengan ketakutan. Para staf yang jabatannya diberikan akan selalu menjawab baik. Tetapi kalau orang yang netral akan menyampaikan Undana belum maksimal,” tegasnya.

Hal ini sudah tercatat dalam visinya, bahwa 70% adalah penguatan manajemen berbasis kompetensi. Selain itu dalam memimpin Undana, Prof. Simon bermimpi akan melakukan hal-hal yang bersiat entrepreneur. Dengan demikian akan menguatkan Undana dari sisi finansial.

“Caranya adalah saya akan menggandeng para pengusaha swasta maupun BUMN untuk bekerja sama membangun Undana, tentunya dengan mekanisme yang benar yang sesuai dengan Undang-Undang. Undana itu mesti diperkuat dari sisi kewirausahaan jika hendak maju. Apapun yang dilakukan, itu adalah untuk meningkatkan mutu Undana. Menurut saya, Undana tidak perlu membangun hotel berbintang yang mengundang decak kagum masyarakat, lebih dari itu adalah output yang dihasilkan oleh Undana mesti berkualitas sehingga berguna bagi masyarakat. Masyarakat lokal, nasional, maupun internasional. Saya kalau jadi Rektor, saya akan membuka fakultas-fakultas yang mendatangkan uang yang banyak seperti Fakultas Kedokteran Spesialis, Fakultas yang mengurusi Akta Notaries dan profesi-profesi lain,” papar dia.

Prof. Simon menandaskan bahwa hal tersebut sangat mudah baginya dalam proses membuka Prodi-Prodi baru.

“Kalau mau buka Prodi itu sangat mudah. Orang di Kementerian itu tidak butuh kau punya surat Rektor tetapi kau harus datang untuk merendah begitu. Jangan pergi ke sana lalu omong kau Rektor dan kau punya hebat, ya, itu orang  tidak akan akomodir kau punya kepentingan. Saya berani datangkan orang-orang berkualitas untuk membangun Prodi yang mendatangkan uang banyak bagi Undana,” tambah Prof. Simon.

Selain itu, ucap dia, semua dosen yang masih S2 akan disekolahkan ke jenjang S3. Hal itu karena dirinya memiliki kewenangan.

“Kewenangan itulah yang kita pakai. Bukan kekuasaan yang kita pakai. Kewenangan itu termasuk kewenangan lobi, kewenangan mendatangkan uang lewat jaringan. Bagi saya itu sangat gampang jika terpilih dan jika dalam perjalanan saya tidak mampu membangun Undana, saya bersedia umumkan ke publik bahwa saya gagal dan mengundurkan diri,” tekadnya.

Fakta lain yang diungkapkan Prof. Simon adalah, jika ia pernah dipilih menjadi Wakil Rektor kali yang lalu namun tidak dilantik.

“Itu merupakan kewenangan Rektor tetapi itu kewenangan tidak pada tempatnya. Kali ini saya maju lagi mencalonkan diri menjadi Rektor Undana, saya sangat yakin saya lolos karena ada kewenangan Kementerian. Saya pikir Anggota Senat Undana yang berjumlah 51 orang ini sebagiannya masih rasional sehingga mereka akan memilih orang yang lebih berkompeten untuk meningkatkan kualitas Undana ke depan, bukan memilih karena diintimidasi apalagi karena faktor suku, agama, dan golongan,” imbuhnya.

Selain itu, sambung Prof. Simon, Undana membutuhkan pemimpin yang tegas namun humanis dan berani membuat keputusan. Keputusan yang bagaimana? Keputusan yang di atas semua kepentingan dan semua harapan.

“Menjadi Rektor Undana artinya tidak boleh berdiri di satu titik lalu perintah dengan main teriak-teriak, sementara kita sendiri tidak merasa empati dengan mereka para staf atau mahasiswa. Untuk sementara di Undana itu tidak ada sikap humanis maupun empati. Buktinya banyak. Para staf banyak yang mengeluh ke saya bahwa kalau masuk kampus itu mereka merasa asing dan angker. Menjadi Rektor Undana itu harus membuka diri terhadap semua orang, terhadap semua staf dan tidak boleh memilih orang-orang tertentu saja,” tandasnya.

Prof. Simon di akhir perbincangan menyampaikan juga tekadnya yang lain. Jika dirinya menjadi Rektor Undana, ia akan mereformasi birokrasi.

“Jika terjadi penyimpangan-penympangan terhadap anggaran, saya akan menyerahkan orang-orang itu kepada lembaga-lembaga penegak hukum untuk memprosesnya. Jika menjadi Rektor kita harus humanis dan tidak boleh menciptakan gesekan-gesekan apalagi baku gosok sehingga membuat iklim menjadi tidak nyaman. Jadi Rektor yang sebagai pemimpin mesti bijaksana menyikapi segala permasalahan. Rektor Undana itu tidak saja cerdas tetapi harus mampu berpikir untuk memberikan orang lain kesempatan berkarya, mengeluarkan segala kompetensinya untuk membangun Undana. Dengan melakukan koordinasi lintas bidang ilmu,” tutur dia.

Menjadi Rektor Undana bagi Prof. Simon, berarti tidak boleh merasa hebat untuk semua hal. Dalam proses membenahi Undana, yang pertama yang akan ia lakukan adalah membenahi akreditasi Prodi dan Institusi. Yang kedua adalah penguatan manajemen para dosen.

“Teman-teman dosen yang layak yang menjadi Lektor Kepala harus dimaksimalkan dan diangkat. Teman-teman Doktor senior yang layak jadi Guru Besar harus diurus segera sehingga layak memperoleh gelar Profesor. Jangan mempersulit mereka atau bahkan tidak mau membantu mereka. Yang bertanggung jawab terhadap mereka ini adalah Rektor. Dosen-Dosen di Undana harus diperbanyak sehingga memenuhi kuota yang seimbang dengan mahasiswa. Selama inikan banyak Prodi yang dosennya hanya 4 atau 5 orang saja. Yang paling parah adalah selama ini jika ada akreditasi, Prodi itu disulap dengan baik tetapi jika tim itu balik belakang dan kembali, tempat yang disulap itu dibongkar. Yang diakreditasi itu hanya omong saja tanpa data. Selama ini tidak ada keberanian untuk mengangkat Dosen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) sehingga Undana jadi begitu-begitu saja. Guru Besar di Undana itu baru sedikit. Itu yang salah siapa? Ya Rektor. Karena Rektor tidak peduli dengan keadaan yang ada, Rektor Undana harus memikirkan itu untuk menambah jumlah Guru Besar dari para Doktor yang memang layak,” tutupnya. (idus/idus)

DomaiNesia

Komentar

News Feed