oleh

RENUNGAN KATOLIK: HARI RAYA MARIA DIANGKAT KE SURGA

Bacaan I: Wahyu 11: 19; 12: 1.3-6.10

Bacaan II: 1Kor 15: 20-26

Injil: Lukas 1: 39-56.

 

Kita adalah warga kerajaan surga

 

Penulis: P. Chris Surinono, OCD

=============

 

Hari ini Gereja Katolik merayakan Maria dengan jiwa dan raga diangkat ke surga. Ini adalah salah satu dogma iman dalam Gereja Katolik. Hari ini menjadi kesempatan yang baik untuk memahami ajaran Gereja Katolik ini, sehingga saya ingin membagi satu dua pokok permenungan yang bisa mencerahkan pemahaman kita tentang ajaran iman kita ini. Sebelum kita merenungkan perikop bacaan para hari raya ini, saya mengajak kita untuk mengerti soal dogma Bunda Maria ini.

BACA JUGA:

Renungan Katolik: Ini Dia Tanda-tanda Krisis Iman?

Orang Muda Katolik dan Partisipasi Politik

Menjala Kaum Kristiani untuk Berelasi dengan Allah Melalui Media

SMAK Negeri St. Thomas Morus Ende: Siapkan Kader Awam Katolik yang Militan

Pertama, kita perlu mengenal apa yang dimaksudkan dengan dogma dalam Gereja Katolik. Dogma apa yang diwahyukan oleh Allah melalui Kita Suci dan Tradisi Gereja, sehingga dogma itu merupakan satu kebenaran iman yang absolut, definit, infalibel, tak terulangi dan incuetionabel. Kemudian kebenaran iman yang diwartakan ini tak bisa ditoleh baik oleh Paus, sebagai kuasa pengajaran maupun oleh keputusan Konsili. Agar sebuah kebenaran iman itu dijadikan sebagai dogma, perlu adanya penetapan langsung dari Gereja Katolik kepada umat sebagai salah satu bagian dari iman dan ajarannya. Keputusan itu diambil oleh Kuasa Mengajar Gereja dan dinyatakan dalam satu upacara agung dan infalibel (tak ada kekeliruan).

Kedua, Dogma ini menyatakan bahwa Maria diangkat ke surga, bukan Maria naik ke surga. Menurut tradisi suci dan teologi Gereja Katolik, hari raya ini dibuat untuk menyatakan bahwa Maria dimuliakan oleh Allah baik tubuh dan jiwanya diangkat ke surga. Maria diangkat oleh Allah, sedangkan Yesus naik ke surga dengan kekuatan ilahi-Nya sendiri. Gereja Katolik mengajarkan bahwa tubuh manusia akan dimuliakan pada akhir zaman, namun Maria mendapat keistimewaan ini sebagai antisipasi kemuliaan yang akan diberikan kepada semua orang beriman. Pemuliaan kepada Maria ini adalah sebuah pesan bahwa semua orang yang beriman kepada Kristus yang bangkit adalah warga Kerajaan Surga.

Ketiga, dogma ini diproklamirkan oleh Paus Pius XII. Meski pengakuan Gereja secara resmi baru pada tahun 1950, namun sejak tahun 1849 sudah mulai berdatangan dari seluruh penjuru dunia ke Tahta Suci, Vatikan, permohonan agar Maria dinyatakan bahwa Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raga sebagai satu kebenaran iman dalam Gereja Katolik. Maka, atas pertimbangan devosi dan keyakinan umat ini, maka pada tanggal 1 November 1950, dengan Surat Apostolik “Munificentissimus Deus”. Dalam salah satu alinea Surat Apostolik Paus dalam menegaskan demikian: “Setelah begitu banyak doa permohonan kepada Allah dan seruan dalam terang Roh Kebenaran, demi kemuliaan Allah Maha Kuasa, yang mencurahkan rahmat khusus kepada Perawan Maria; untuk penghormatan kepada Putra-Nya, Raja kehidupan kekal dan pemenang atas kematian; untuk memperluas kemuliaan dalam diri Bunda Maria dan untuk kebahagiaan dan sukacita bagi semua anggota Gereja, maka dengan kuasa Yesus Kristus Tuhan kita, demi kebahagiaan Rasul Petrus dan Paulus dan sukacita kita, kami memproklamirkan, menyatakan dan memutuskan bahwa Bunda Allah yang Tak bernoda, Perawan Maria yang setelah hidupnya di dunia ini diangkat ke surga jiwa dan raganya, sebagai kebenaran iman yang diwahyukan”.

Keempat, Maria diangkat ke surga jiwa dan raga adalah antisipasi kebangkitan dan kemuliaan jiwa dan raga setiap orang beriman. Hari Raya ini memiliki dua makna: pertama bahwa Maria mengakhiri hidupnya di dunia dengan sukacita dan kedua, Allah memasukkannya dalam sukacita Surgawi. Hari Raya ini penting bagi orang Katolik, karena “Dengan memandang Maria, yang sepenuhnya suci dan sudah dimuliakan bersama jiwa dan raganya, Gereja merenungkan dalam diri Maria panggilannya sendiri di dunia sekarang ini dan apa yang akan dialaminya kelak dalam tanah air surgawi” (KGK, no. 199). Jadi apa yang penting bagi umat Katolik dengan merayakan Maria diangkat ke surga adalah relasi erat tak terpisahkan antara Kebangkitan Yesus Kristus dan kebangkitan kita sendiri. Jadi, Maria yang sudah dimuliakan jiwa dan raganya di surga merupakan antisipasi bagi kemuliaan kita kelak, karena Maria adalah juga manusia dan ciptaan seperti kita.

Kelima, di akhir hidupnya di dunia ini, tubuh Bunda Maria tidak hancur. Kitab Suci tidak memberikan informasi tentang akhir hidup Maria sesudah Pentakosta sampai Ia diangkat ke surga. Kita hanya tahu bahwa Bunda Maria dipercayakan oleh Yesus dari atas Kayu Salib kepada Rasul Yohanes. Dengan menyatakan kebenaran iman atau dogma Maria diangkat ke surga, Paus Pius XII tidak ingin masuk dalam perdebatan  apakah Bunda Maria mati dan bangkit, atau apakah Maria langsung diangkat ke surga oleh Allah. Banyak teolog yang berpendapat bahwa Perawan Maria meninggal untuk lebih bersenasib dengan Yesus, tapi tidak sedikit yang berkeyakinan bahwa terjadi suatu “transisi” atau “Maria seakan tidur” sebagaimana yang diyakini dan dirayakah oleh Gereja Timur sejak abad-abad awal kekristenan. Dalam dua pendapat berbeda ini terdapat kesesuaian bahwa Maria, oleh keistimewaan yang diberikan Allah kepadanya, tidak mengalami kehancuran tubuh dan diangkat ke surga, di mana ia menjadi Ratu Surga, dan dalam kemuliaan bersama Putra-Nya Yesus Kristus.

Lima poin di atas bisa menjadi bahan pengetahuan agar kita semakin beriman dengan tahu dan mau. Tahu apa yang kita imani dan ikhlas menerimanya sebagai kekayaan iman kita sendiri. Paus Emeritus, Benediktus XVI katakan demikian: “Pada hari raya Maria diangkat ke surga ini, kita diajak untuk merenungkan bersama Maria. Ia membuka pintu harapan untuk menikmati hidup yang penuh sukacita dan memberi jalan iman kepada bagaimana mendapatkannya. Ia menunjukkan kepada kita bagaimana menerima Yesus Putranya dalam dan dengan kekuatan iman; agar kita tidak patah semangat dan kehilangan rasa persahabatan kita dengan Yesus, melainkan membiarkan diri dan hidup kita selalu diterangi dan dituntun oleh Sabda-Nya; mengikuti-Nya dalam rutinitas hidup, baik dalam kesulitan dan dalam situasi di mana kita mengalami salib hidup terasa semakin berat. Maria adalah tabut perjanjian yang sekarang berada dalam surga, dan dari sana Maria menuntun dan menyertai kita dalam jalan yang benar dan baik menuju ke rumah kita yang sesungguhnya, dalam kesatuan penuh sukacita dan damai dengan Allah” (Homili HR Maria di angkat ke surga, tahun 2010).

Selanjutnya mari kita refleksikan isi bacaan pada hari raya ini. Bacaan Pertama soal penglihatan Yohanes. Seperti dikisah dalam Kitab Wahyu, dijelaskan tentang identitas Maria dan situasi yang sedang dihadapi Buda Maria. Yohanes melihat Bait Suci, yakni Surga, dan Tabuh Tabut Perjanjian di dalam bait suci itu, yakni Bunda Maria yang berbahagia dalam Surga. Tapi ada tanda lain, tapi tanda lain ini dilihat bukan dalam Bait Suci dan lagi, tapi di langit: “seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Naga itu siap menelan anaknya, tapi tiba-tiba anak itu direnggut dan dibawa lari kepada Allah dan ke hadapan takhta-Nya.

Peristiwa ini adalah gambaran tentang kemenangan anak Allah atas kejahatan dunia. Maria menjadi contoh bahwa kejahatan dan penderitaan apa pun yang dialami manusia tidak akan diabaikan dan disepelekan oleh Allah dan kekuatan kebaikan-Nya. Allah selalu peduli dengan penderitaan dan kesulitan manusia. Allah tidak pernah masa bodoh dengan perjuangan kita dalam berbuat baik, berlaku jujur dan berbagi kebahagiaan. Dan justru, semakin orang berbuat baik, semakin ia mengalami banyak kesulitan dari setan. Tapi, Tuhan dan kebaikan-Nya selalu menang atas kejahatan. Berbuat baik dan berlaku adil adalah jalan pasti mengalahkan kejahatan.

Kejahatan dan ketidakadilan tidak akan pernah menang dan menguasai manusia. Oleh karena itu, memang tidak rugi untuk selalu berbuat baik dan berlaku adil dalam hidup ini; tidak akan pernah salah orang mengandalkan kekuatan Tuhan dalam hidupnya. Bunda Maria adalah orang yang pertama yang selalu menang atas kejahatan; ia adalah manusia yang tidak lelah berbuat baik dan berlaku adil. Tuhan dan kekuatan-Nya adalah pegangan pasti untuk kebahagiaan hati dan kedamaian hidupnya. Maka, datanglah kepada Maria, ia akan memberikan jalan mengalami kekuatan Yesus Putra-Nya. Tidak akan rugi menghormati dan berdoa bersama Maria, Bunda Yesus.

Kidung sukacita atau Magnificat yang dimadahkan Maria diawali dengan peristiwa kunjungannya ke rumah Zakaria dan Elisabeth. Ia masuk ke rumah dan memberi salam kepada Elisabeth. Mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang ada dalam rahimnya, dan Elisabeth pun penuh dengan Roh Kudus. Kunjung dan menjumpai sesama adalah hal biasa setiap hari. Tapi, jelas bahwa setiap perjumpaan selalu membawa perubahan dan memperbesar kegembiraan. Maria selalu merasa orang lain itu penting baginya. Ia ikhlas berkorban dan rela berbagi sukacita yang dimilikinya. Demikian juga dari Elisabeth merasa Maria itu istimewa baginya dan bagi anak yang dikandungnya. Ia mengapresiasi kebaikan yang dimiliki Maria.

Menghargai dan menghormati sesama adalah bagian dari ungkapan iman dan kasih. Dalam dunia yang semakin individualis dan mementingkan diri dan kelompok sendiri, kisah Maria mengunjungi Elisabeth dan berbagi kebahagiaan adalah pesan moral dan pesan biblis bagi kita dan dunia, bahwa jalan pasti untuk merasakan sukacita adalah berbagi, berkorban, dan mementingkan orang lain. Memberi adalah jalan membuka hati untuk menerima Roh Kebahagiaan. Kita tidak memilih orang tua; saudara dan saudari. Kita juga tidak memilih rekan kerja dan sesama dalam komunitas. Mereka adalah hadiah dari Tuhan. Hadiah Tuhan itu pasti punya tujuan yakni untuk belajar darinya dan berbagi sukacita bersama mereka. Tuhan selalu beri yang terbaik bagi kita. Maka, cari dan temukan sisi baik dari sesamamu; temukan dan alami kebaikan, meski sedikit, dari dia yang ada bersamamu setiap hari. Artinya, menikmati kebaikan mereka yang dekat dengan kita dan yang sedang menjadi bagian dari hidup kita adalah jalan terbaik untuk menikmati damai dan sukacita di dunia ini dan sekaligus jalan menuju kebahagiaan surgawi.

Kadang kita merasa hidup ini sulit dan penuh beban. Tapi, sesungguhnya Tuhan selalu menutup pintu yang satu untuk menjauhkanmu dari kesulitan dan beban yang lebih besar dan membuka banyak pintu lain untuk memberikan kita lebih banyak berkat-Nya. Maria, Bunda Yesus dan juga Bunda kita diangkat oleh Allah untuk masuk dan menikmati kebahagiaan sejati. Sebagaimana ia selalu bersama Yesus dari Nazaret sampai di kaki salib, demikian juga Maria akan mendampingi, menguatkan dan selalu bersama kita dalam ziarah kita menuju surga. Dengan mengangkat Bunda Maria ke dalam surga, Allah mau meyakinkan kita, bahwa kita, seperti Maria adalah warga Kerajaan Surga. (*)

*) Biarawan dan Pastor Karmel. Sementara tinggal di Biara Karmel OCD Bogenga-Bajawa, Flores.

DomaiNesia

Komentar

News Feed