oleh

Berdua Tak Selamanya Harus Selalu Bersama

Note : tokoh, waktu, dan lokasi bukan yang sesungguhnya

Saya hancur saat itu, sosok perempuan yang sudah saya harap menjadi pelengkap dan penyemangat, menjadi akhir dari doa-doa yang saya lantunkan pada Tuhan ternyata tidak mampu bernegosiasi. Katanya ingin sendiri. Mengejar mimpi dahulu. Katanya tidak cocok. Entahlah.

 

 Cerita Bersambung Bagian II (Selesai)

Oleh Pascalino Antonius Tukan

================

Cerita sebelumnya…….

Saya kemudian melihat siswi yang ditunjuk oleh Jonas. Ya itu Alin perempuan berbadan kecil dengan tinggi 160 cm, berambut pendek sebahu dan berkulit kuning layaknya orang Asia Timur itu membuat saya kagum sesaat.

Bagaimana tidak, perempuan dengan ciriciri seperti itu merupakan perempuan tipe yang saya suka……….

 =================

BACA JUGA:

Berdua Tak Selamanya Harus Selalu Bersama

Pulang Misa Hari Minggu Cerita Orang Punya Nama

Maghilewa, Aku Jatuh Cinta

“Ini saya ada satu helm sa, Allin yang pakai saja. Biar kepala tidak kena air hujan. Kalau kehujanan nanti Alin sakit,” tawar saya pada Alin agar ia menggunakan helm yang saya berikan.

“Terus Rinno bagaimana? Kalau tidak pakai helm bisa sakit juga e,” balas Alin menolak tawaran saya.

“Saya ni laki-laki kena hujan sedikit sa begini tidak mungkin sakit. Hehehe,” lanjut saya. Lalu saya memakaikan Alin helm dengan perlahan pada kepala Alin hingga masuk dengan sempurna kemudian mengaitkan cantelan agar helm tidak terlepas saat dipakai.

Usai memakaikan helm pada Alin, kami pulang menuju asrama. Diiringi derasnya hujan dan dinginnya malam, motor yang kami tumpangi melesat hingga tiba dengan selamat di asrama. Puji Tuhan, saat tiba di asrama jam menujukkan Pukul 18:45 WITA yang berarti gerbang belum ditutup. Dengan basah kuyup Alin turun dari motor setelah itu saya membukakan helm yang ia gunakan. Sambil melepaskan cantelan helm saya memohon maaf kepada Allin.

“Maaf Alin karena keasikkan cerita dengan saya, kau akhirnya pulang dengan basah kuyup begini. Habis ini langsung ganti pakaian, gosok badan dengan minyak kayu putih supaya jangan demam,” ujar saya mengingatkan Allin agar segera berganti pakaian yang basah akibat diguyur hujan itu.

“Baik Rinno, makasih banyak sudah mau temani saya belanja tadi. Maaf juga, Rinno jadi ikut basah. Pulang langsung ganti pakaian dan istirahat No,” balas Alin sambil tersenyum manis. Setelah itu Alin masuk ke dalam asrama dan saya pulang kembali ke rumah.

Pertemuan pertama kami tadi, ternyata membuahkan benih-benih cinta yang saya rasakan. Karena beberapa pertimbangan dan lampu hijau yang sudah Allin beri, maka saya memutuskan untuk…. ya apalagi kalau bukan tembak ahahah ehm. Saya berniat untuk menyatakan perasaan suka saya pada Alin setibanya di rumah.

Saat tiba di rumah tanpa banyak basa basi lagi, saya segera berganti pakaian dan setelah itu mengambil HP untuk menghubungi Alin.

“Hallo selamat malam Alin. Bunyi pesan yang saya kirimkan kepada Alin. Ternyata WA milik Allin centang dua, berarti dia sedang aktif. Wah bagus, ini juga berarti jalan untuk saya sampaikan maksud dan tujuan tadi lancar jaya.

“Malam Rinno. Sudah tiba di rumah?,” balas Alin dua menit setelah mendapat pesan dari saya.

“sudah Allin. Eh lagi tidak sibuk ko Alin? Saya ada perlu,” balas saya kemudian.

“Iya. Saya tidak sibuk, ada perlu apa memangnya?,” tanya Alin.

Saya terdiam beberapa saat, mengumpulkan keberanian agar bisa menyampaikan perasaan saya tersebut dengan lancar. Berbekal keberanian serta perasan harap-harap cemas. Cemas takut ditolak, walaupun sudah lampu hijau tapi bisa saja responnya berbanding terbalik. Saya lalu mengirimkan pesan yang bunyi begini.

“Setelah kita dua jalan tadi menghabiskan waktu bersama di dalam tribun lalu pulang bersama-sama diguyur hujan, serta saya lihat Alin punya komunikasi yang positif bagi saya, perhatian yang beberapa kali Alin tunjukkan. Saya rasa ada baiknya kita menjalin hubungan yang lebih dari sekadar teman. Saya mau Alin bisa jadi penyemangat dan pelengkap dalam hari hari saya. Apakah Alin mau jadi pasangannya saya? Saya serius. Love you!”

Setelah itu saya lalu mengirimkan pesan tersebut kepada Alin. Dan pesan saya langsung dibaca, aduh saudara -saudara perasaan saya saat itu langsung campur aduk seperti adonan semen. Gugup, senang, sedih, takut memeluk perasaan saya rapat-rapat. Beberapa saat kemudian, pesan saya tak kunjung mendapat balasan dari Alin. Cuma dilihat saja. Aduh, ini seperti yang orang Kupang bilang “susah su datang kaka”.

Menit pertama, belum juga.

Menit kedua, tetap saja.

Saya lalu melepaskan HP, sudah tidak berharap lagi. Yang ada di pikiran saya saat itu hanya malu. Karena pasti sekarang Alin bersama teman asramanya sedang menertawakan saya.

“Aih, ini pasti mereka ada ketawa saya, bisa manusia sekentang saya mau dengan Alin, malu e,” ucap saya dalam hati. Tiba-tiba HP berdering tanda menerima pesan yang masuk. Saya meraih HP yang sebelumnya saya letakkan di atas meja. Saat membuka pesan yang masuk tersebut, ternyata merupakan pesan balasan yang dikirimkan Alin. Saya membuka pesan tersebut dan…. DAMMMMN!!! Alin mengirim balasan bunyinya demikian,

“Ini serius Rinno? Ehm, terima kasih sebelumnya sudah jujur dengan saya, sebenarnya saya juga suka dengan Rinno. Saya mau jadi pasangannya Rinno.”

Seperti mimpi dapat uang 1 Miliar Rupiah, perasaan saya senang, gembira. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Saya lalu menompat kegirangan setelah membaca pesan itu. Ternyata Alin yang merupakan siswa terpandang di SMA Merah Putih, suka dengan seorang Rinno yang mungkin namanya saja tidak dikenali guru wali kelas. Hahaha.

Tidak bermaksud membuat Alin menunggu lama, saya lalu membalas pesannya.

“Terima kasih Alin sudah mau menerima saya,” balas saya.

Keesokan harinya saat tiba di kelas, saya digerogoti oleh teman satu kelas dan juga beberapa teman dari kelas lain yang memberikan ucapan selamat. Yohooo, mama sayang e, nama saya hari itu booming satu angkatan. Dammn, gila emang. Seorang Rinno Freddy Sibolang berhasih buat gaduh, karena berhasil memikat hati seorang siswi yang terkenal cantik dan pintar seangkatan.

Tidak lupa juga saya mendapat ucapan selamat dari sahabat saya Jonas, dia yang sedari awal sudah tahu dan paham arah kenapa saya meminta dirinya untuk mengenalkan Alin.

“Itu saya sudah tahu Rinno, kau mau kenal dengan Alin karena mau ga’et dia to. Hahahahah buaya jantan e, selamat bro. Jaga bae-bae anak orang tu,” ucap Jonas.

Saya senang. Saya bahagia, berawal dari iseng menyimpan kontak, berkenalan dan akhirnya perempuan yang merupakan tipe saya berhasil jadi pasangan saya. Ini juga karena berkat dan izin Bapa yang di atas. Terima kasih Tuhan.

Hubungan saya dengan Alin berjalan sebagaimana pasangan pada umumnya. Beberapa kali kami pergi ibadah bersama-sama, bertemu untuk membahas pelajaran yang kami dapat di sekolah dan aktivitas umum lainnya. Saat itu saya rasa, Alin adalah representasi dari mama yang melahirkan saya. Hampir sebagian besar sifatnya sama dengan mama. Saya beruntung bisa mendapatkannya. Benar-benar merupakan pasangan saya yang Tuhan berikan.

Setelah hubungan kami telah berjalan sekian bulan, sayapun memberanikan diri untuk mengenalkan Alin pada orang rumah. Bapak, mama adik dan kakak. Tidak disangka respon mereka positif, mereka sangat senang menerima Alin. Wah ini merupakan langkah bagus, untuk ke depannya.

Bulan berganti bulan, tibalah saatnya kami mengikuti ujian akhir nasional, ujian yang artinya selangkah lagi kami akan masuk ke dunia perguruan tinggi. Selama mempersiapkan ujian, saya dengan Alin jarang bertemu. Alin yang merupakan sosok yang ambisius untuk mendapatkan nilai tinggi pada ujian nasional, tidak mau diganggu oleh saya. Saya memaklumi keinginannya, toh ini juga demi kebaikan bersama.

Setelah berhasil melewati ujian nasional, sekarang saatnya untuk mendengarkan berita kelulusan. Saat-saat yang menegangkan bagi siswa siswi kelas 12. Dengan mengenakan pakaian adat dari daerah asal masing-masing dan juga ditemani orang tua, kami seangkatan berbaris di halaman bagian dalam sekolah.

Kepala sekolahpun membuka acara dan memberitakan kelulusan. Puji Tuhan kami satu angkatan lulus seratus persen. Semua kami bersorak kegirangan melompat senang saling berpelukan satu sama lain, semuanya berhasil menyelesaikan studi tiga tahun tanpa ada seorangpun yang tertinggal.

Saat menegangkan selanjutnya adalah pembacaan siswa dengan nilai tertinggi atau masuk nominasi siswa terbaik se-provinsi. Tak disangka, disaat pembacaan tersebut saya mendengarkan satu nama yang membuat saya tidak berdaya. Sedih. Bukan karena tidak bisa masuk dalam nominasi, tapi karena nama tersebut bakal pergi meninggalkan saya.

“……30. Marlin Anita Sibolga peringkat ke 50 dari 3.210 siswa se-provinsi. Ya siswa ini juga akan mendapatkan beasiswa untuk berkuliah di Korea Setan mewakili sekolah ini bersama 3 siswa lainnya dari Bali”. Begitu ucapan kepala sekolah.

Perasan saya campur aduk saat itu, ternyata Alin akan pergi meninggalkan saya untuk menempuh pendidikan di Korea Selatan. Itu berarti untuk sekian tahun kami tidak akan bertemu. Saya turut senang karena kekasih saya berhasil mencapai impiannya. Tidak sia-sia perjuangannya selama ini.

Selepas pengumuman tersebut, masing-masing dari kami mulai berpisah satu persatu. Ada yang langsung pulang, ada juga yang masih melepas rindu dengan guru. Saya tidak langsung pulang, dengan perasaan yang masih campur aduk, saya lalu mencari Alin.

“Selamat sayang. Perjuangan kamu selama ini tidak sia-sia. Benar kamu mau kuliah di Korea Selatan?,” tanya saya setelah bertemu Alin yang sedang duduk seorang diri di sudut taman.

“Makasih No, iya benar saya mau kuliah di Korea. Tadi saya sudah bertemu kepala sekolah, katanya besok saya harus datang ke sekolah untuk melengkapi surat dan berkas-berkas. Maaf tidak kasih tahu No sebelumnya, sebenarnya informasi ini sudah saya dapat sebelum kita UN kemarin,” jawab Allin dengan nada yang sedikit kecil. Ia tahu pasti saya sedih setelah mendapatkan berita seperti ini.

Iya saya sedih, bagaimana tidak ia akan pergi keluar negeri untuk empat tahun ke depan. Kami berdua berbeda tempat kuliah. Ia di Korea sedang saya di ibu kota provinsi. Tapi saya tetap berusaha tegar di depan Alin, saya tidak mau ia ikut sedih terlalu panjang yang membuatnya tidak fokus.

Satu bulan berlalu, setelah seleai mengurus berkas-berkas yang akan dibawa keluar negeri, saatnya untuk Alin pergi untuk mengurus visa miliknya di Bali. Kali itu kami tak bersama-sama, Allin masih di kota kami, sedangkan saya berada di ibu kota provinsi. Saya duluan meninggalkan Alin karena sudah mulai kuliah saat itu. Namun saya senang karena pesawat yang Alin tumpangi transit di ibu kota tempat saya tinggal selama kurang lebih 3 jam, jadi kami tetap bisa bertemu walau sebentar saja.

Kamipun bertemu. Saya memeluknya erat saat keluar dari pintu bandara. Setelah itu saya mengajaknya ke tempat tinggal saya untuk mengisi perut sembari menunggu pesawat. Pertemuan saat itu merupakan pertemuan terakhir bagi kami. Setelah menghantarnya kembali ke bandara, namun saya belum memegang tangannya lagi. Ternyata pelukan saya kali itu merupakan pelukan perpisahan yang saya berikan kepada Alin. Pesawatpun pergi, raganya turut ikut menghilang dari pandang.

Dari mengurus visa hingga ia pergi meninggalkan Indonesia, saya tidak bisa menghantarkannya pergi. Ah, malangnya nasib saya. Tidak masalah, dengan kekuatan doa, saya tetap menjaga Alin.

Satu tahun berlalu sejak ia tiba di Korea hubungan kami masih normal-normal saja. Hingga suatu saat, ketika hubungan telah menginjak usia dua tahun, barulah masalah dating. Masalah dari dugaan ada pasangan yang baru hingga over thinking terus menghantam hubungan kami berdua.

Tiada hari tanpa berkelahi, berdebat atas masalah-masalah yang sama lewat HP. Jalan keluar telah dikeluarkan, egopun telah diturunkan namun tetap saja. Kesabaran tiba pada pangkalnya, kami berdua berpisah. Alin benar-benar pergi. Ia kecewa. Menghilang perlahan. Saya berusaha menjelaskan namun nihil. Alin tidak menjawab pesan-pesan saya. Satu persatu sosial media milik saya diblokir Alin.

Saya hancur saat itu, sosok perempuan yang sudah saya harap menjadi pelengkap dan penyemangat, menjadi akhir dari doa-doa yang saya lantunkan pada Tuhan ternyata tidak mampu bernegosiasi. Katanya ingin sendiri. Mengejar mimpi dahulu. Katanya tidak cocok. Entahlah.

Ya mungkin tidak cocok, yang Alin omong A yang saya pahami B. Tidak masuk. Mungkin itu su. Beribu tanda tanya bergelantungan dalam pikiran. Tapi tak apalah, saya kembali menyerahkan hubungan kami berdua kedalam tangan Sang Empunya hidup.

Saya tak marah pada Alin, saya introspeksi diri. Mungkin ada salah yang saya buat, yang tak disadari sebelumnya.

Alin baik, saya yakin dari jalan yang telah dia ambil mempunyai maksud tersediri dan ia telah siap dengan konsekuensi yang diterima.

Kami berpisah, namun saya belum siap. Belum siap menanggalkan segala kisah yang sudah tercatat sebelumnya. Kasih pergi. Kasih tinggal. Kasih tanggal. Terima kasih. (*)

DomaiNesia

Komentar

News Feed