oleh

Renungan Katolik: Ini Dia Tanda-tanda Krisis Iman?

MINGGU KE XIX MASA BIASA

Bacaan I: 1Raj 19: 4-8

Bacaan II:Efe 4: 30-5: 2

Injil: Yoh 6: 41-51

 

Oleh: P. Chris Surinono, OCD

===============

Makanan selalu menjadi persoalan hidup manusia. Ada banyak yang tidak bisa makan apa pun. Tapi ada juga yang sebaliknya. Bisa makan apa saja. Gambaran ketimpangan ekonomi mewarnai dunia aktual. Perbedaan antara yang sukses dan gagal dalam memenuhi kebutuhan dasar hidup. Ketimpangan serupa ini bukan saja harus menjadi perhatian dan orientasi para pengambil keputusan, tapi juga perhatian Allah. Allah hanya punya satu cita-cita yakni agar manusia bisa hidup secara bermartabat.

 Tema utama dalam bacaan-bacaan Minggu ke XIX ini adalah soal iman akan Allah pemberi kehidupan. Allah bukan saja mau memuaskan sisi rohani manusia, tapi juga ingin memberi kekuatan sisi diri fisik manusia. Keprihatinan Allah ini diperlihatkan dalam kisah Nabi Elia dalam bacaan pertama. Demikian juga kisah dalam Injil hari ini memperlihatkan rasa peduli Yesus atas rasa lapar dan haus manusia.

BACA JUGA:

Berhadapan dengan 7 Penguji, Pater Markus Ture OCD Berhasil Raih Gelar Doktor

Frater OCD Asal Bajawa Ditemukan Tewas Gantung Diri di Kebun Biara

Pulang Misa Hari Minggu Cerita Orang Punya Nama

 Kisah Elia di pandang gurun adalah kisah kepedulian Allah bagi manusia. Manusia yang lapar dan yang sedang kelaparan. Kisah Elia bisa dibaca dari kaca mata manusia dan dari sisi kepedulian Allah. Dari sisi manusiawi, Elia adalah gambaran diri manusia yang kurang percaya pada Allah pemberi kesegaran jasmani dan rohani. Setelah ia berhasil menumpas dengan gagah berani nabi-nabi palsu; nabi pilihan pemerintahan raja Ahab yang bekerja bukan atas nama Allah, melainkan nama raja dan kepentingan raja. Tapi kesuksesan itu tidak membuat Elia yakin dan sungguh percaya akan intervensi Allah dalam hidupnya. Malah sebaliknya. Ia merasa ditinggalkan dan diabaikan oleh Allah sendiri.

Dalam keterpurukkan oleh rasa diabaikan Allah dan segala rasa negatif akan Allah itu, ia menjauhi Allah. Ia menjauh dari Allah. Ia lari meninggalkan tugasnya sebagai nabi. Ia protes, kecewa dan marah kepada Allah, bahkan ia ingin mati. “Cukuplah sudah! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku”. Jadi padang gurung menjadi simbol suasana batin dan pergumulan imannya akan Allah.

Dalam suasana batin yang demikian, Allah tidak tinggal diam. Ia bertindak. Allah tahu kerinduan terdalam hati Elia. Ia bukan hanya butuh makanan untuk kekuatan fisiknya, tapi juga butuh kekuatan batin. Allah campur tangan untuk mengatasi kesulitan fisik dan pergumulan batin yang sedang dialami oleh Elia. Allah datang. Ia menjumpai Elia dalam diri seorang malaikat dan makanan roti dan air. Malaikat adalah gambaran diri Allah Roh Kudus sumber kekuatan; roti dan air adalah diri Yesus sendiri sebagai sumber hidup.

Malaikat, roti dan air adalah simbol diri Allah Tritunggal sendiri yang peduli dengan kebutuhan jasmani dan rohani manusia. Dengan kekuatan kata-kata Malaikat dan makanan itu, Elia menjadi kuat jiwa dan raganya untuk berziarah lagi ke gunung Horeb.

Kisah soal krisis iman akan Allah pemberi kehidupan juga kita temukan dalam Injil hari ini: Yohanes, 6: 41-51. Penginjil melanjutkan diskursus dan pengajaran Yesus soal Roti Hidup. Yohanes coba menguraikan secara mendetail ajaran Yesus soal iman akan Yesus tentang makanan untuk hidup di dunia ini dan untuk kehidupan kekal.

Kisah tentang Nabi Elia yang ragu akan kekuatan diri Allah sebagai pemberi kehidupan diulangi lagi dalam Injil. Yesus memberi makan lima ribu orang laki-laki saja, mereka bukanya semakin percaya kepada Yesus, malah sebaliknya. Mereka malah meragukan Yesus sebagai Allah.

Seperti Nabi Elia yang berjaya dengan kemenangan di gunung Karmel, malah menjadi ragu akan campur tangan Allah dalam dirinya, demikian juga orang-orang Yahudi, setelah menikmati roti dan ikan, malah menjadi ragu dan bersungut-sungut kepada Yesus: “bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Yesus, karena Ia telah mengatakan, Akulah roti yang telah turun dari surga”.

Keraguan orang Yahudi karena latar belakang Yesus yang mereka kenal. Kata mereka: “Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari surga?

Keraguan mereka disebabkan oleh ketidakmampuaan mereka melihat sisi Ilahi Yesus. Mereka hanya mampu melihat apa yang terlihat dengan mata kepala mereka. Tapi tak sanggup membaca dan menangkap apa yang dibalik kisah itu dan sisi ilahi diri Yesus sendiri. Demikian juga, roti dan air tidak dilihat secara ilahi, tapi semata-mata demi memenuhi rasa lapar perut mereka. Mereka gagal menemukan bahwa  hidup diri dan hidup manusia bukan hanya dari perut saja.

Diri manusia seutuhnya bukan dipasok dari makanan jasmani saja, melainkan lebih jauh dan lebih mulia daripada sekedar makan dan minum. Hidup di dunia; makanan itu menjadi dasar membangun hidup yang lebih bermartabat dan ilahi; untuk kebaikan dan kebahagiaan jiwa dan raga. Keseharian hidup manusia perlu untuk melayani sisi hidup yang lain, yakni keselamatan kekal dan kebahagiaan diri seutuhnya.

Dari ulasan singkat bacaan-bacaan ini, bisa kita tarik beberapa pesan bagi hidup dan siarah hidup di dunia ini:

Pertama: Kisah keselamatan manusia sudah ada dan terus berlangsung sampai sekarang dan di sini. Allah tidak hanya memperlihatkan dirinya kepada Elia, sebagaimana dikisahkan dalam Perjanjian Lama. Tapi Allah bekerja dari awal sampai akhir; alfa dan omega demi kepentingan diri dan hidup manusia seutuhnya. Keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia ini adalah rencana kekal dan satunya-satunya dari Allah dan dikerjakan oleh Allah sendiri. Keselamatan manusia menjadi kerinduan Allah. Allah bekerja. Ia berusaha dengan berbagai cara dan sarana agar manusia mampu percaya dan mengalami karya keselamatan yang Ia kerjakan dan berikan buat manusia yang percaya kepada-Nya.

Kedua: Rencana karya keselamatan yang dari kekal itu terpenuh secara utuh dan paripurna dalam dan melalui Inkarnasi Yesus Kristus. Jadi Yesus adalah penggenapan rencana cinta Allah atas hidup manusia. Yesus adalah wujud nyata kepedulian Allah. Ia menjadi Allah yang memperlihatkan kepada manusia apa yang terjadi dan apa yang akan diberikan Allah kepada manusia. Yesus menurunkan semua yang ada dalam surga dan gaya kehidupan surgawi bagi manusia di dunia. Sekaligus Ia adalah jalan yang harus digunakan setiap orang untuk bisa mencapai Allah dan bisa mengalami segala kerahiman-Nya. Tidak ada yang bisa sampai kepada Bapa selain melalui Yesus Kristus. Ikatan yang mempersatukan surga dan dunia; manusia dan Allah; hidup surgawi dan duniawi disatukan oleh Yesus dan dalam diri-Nya sendiri. Oleh karena itu, dalam diri Yesus, dan dalam hidup mereka yang percaya kepada Yesus tidak ada lagi pemisahan antara urusan dunia dan surgawi surga; urusan sekarang dan urusan nanti; hidup di dunia dan hidup di surga. Dikotomi yang demikian hanya ada pada mereka yang tidak percaya kepada Yesus. Sebaliknya bagi mereka yang percaya kepada Yesus, surga dan dunia; duniawi dan surgawi; hidup kekal dan hidup yang sementara suda hada dan satu dalam satu pribadi yakni Yesus Kristus. Maka, orang yang hidup di dunia dengan iman akan Yesus tidak lagi sekedar hidup untuk dunia saja, melainkan dunia menjadi titik pijak untuk kehidupan surgawi; keselamatan jiwa.

Ketiga: Allah selalu menjadi orang pertama yang selalu peduli dengan hidup manusia di dunia ini. Kepedulian-Nya diperlihatkan dengan memberikan Elia roti dan air; dari lima roti dan dua ikan memberikan makanan kepada ribuan orang.   Inkarnasi Yesus menjadi tanda nyata bahwa Allah menghendaki agar manusia tidak mati karena lapar; mati kehausan; mati akibat ketidakpekaan dan tidak peduli dari sesamanya. Allah bukan saja memberikan diri-Nya tetapi juga membiarkan diri dan hidup-Nya menjadi makanan jiwa dan raga manusia. Manusia diajak untuk melihat bahwa semua rejekinya adalah hadiah Allah. Allah sudah iklas berbagi hidup. Itulah kebahagiaan Allah. Orang yang paling bahagia adalah mereka yang berbagi. Berbagi hidup dan berbagi rejeki. Semakin berbagi, semakin ia mendapatkan, karena Allah adalah sumber segala rejeki.

Keempat: Bersungut-sungut adalah bukti nyata kegagalan dalam beriman. Mengomel dan menggerutu, serta lari menjauhi Allah adalah bukti krisis iman dan kepercayaan. Elia lari menjauhi Allah kepada padang gurun, bukti bahwa ia tidak percaya bahkan tidak pernah mengalami kerahiman Allah. Bangsa Yahudi bersungut-sungut, tanda bahwa mereka tidak percaya kepada Yesus dan seluruh karya rahmat yang dikerjakan Yesus. Iman yang kuat dan teguh menjauhkan orang dari sikap ragu, bersungut-sungut; mengomel dan menggerutu terus. Kalau suami tidak percaya pada istri, pasti ditunjukkan dengan mengomel dan curiga terus menerus; demikian juga sebaliknya. Kalau rekan kerja tidak percaya pada sesama, pasti wujudnya adalah uring-uringan dan masa bodoh dalam kerja; kalau umat mulai mengomel dengan hidup dan cara kerja pastornya maka itu adalah bukti ketidakpercayaan kepada pastornya.

Kelima: Manusia memang bukan hidup untuk makan, tapi makan untuk bisa hidup dan hidup yang bermartabat. Tapi bermartabatnya manusia itu bukan ditunjukkan dengan memiliki makanan dan harta benda lain, atau jabatan dan sukses dalam karier politik, melainkan karena pribadinya dan karena kebaikan yang dibagikan. Hidup yang hanya menjadikan makanan jasmani sebagai sumber utama, tidak heran mereka akan hidup “penuh kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah”. Orientasi dir pada hidup seputar perut saja akan menjauh diri mereka dari Allah dan kepuasan sejati. Karena semakin makanan jasmani menjadi obyek pencarian utama dalam hidup, semakin kejahatan itu sulit dibuang, bahkan menjadi sahabat dan gaya hidupnya. Mereka tidak akan pernah merasa lapar dan haus akan Allah, karena setan dan kekuatan jahat menjadi sumber kepuasan badan mereka, meski jiwanya kering dan merintih kehausan.

Keenam: Roti Hidup yang dimaksudkan Yesus adalah diri-Nya. Ia membiarkan diri-Nya sebagai makanan untuk hidup dan kebahagiaan sejati. Roti Hidup adalah Dia yang seperti dikatakan oleh St. Paulus dalam bacaan ke dua hari ini: “Hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah telah mengampuni kami dalam Kristus”. Tiga hal yang sangat penting dalam hidup dan sumber kebahagiaan: ramah tamah, saling mengasihi dan memaafkan. Ini adalah tiga ciri dan identitas murid-murid Kristus. Tiga kekuatan bagi mereka yang mau menemukan dan mengalami Kristus sebagai Roti Hidup. Ramah tamah dalam kata dan tindakan, kasih dan memaafkan adalah jalan kebahagiaan sejati; cara mengalami kerahiman Allah.

Ketujuh: Pandemi yang melanda dunia menjadi ruang dan waktu untuk membaharui diri, cara dan orientasi hidup.  Paus Fransiskus menasihati kita untuk menjadikan momen pandemi sebagai proses transformasi diri dan hidup yang lebih bermartabat ilahi. Jika satu krisis bersama, tidak menjadi kesempatan untuk memgaharui diri dan cara hidup bersesama maka, seperti kata Paus Fransiskus, kita kehilangan momen dan kesempatan untuk suatu transformasi diri dan kemanusiaan agar hidup bisa lebih baik dan bermartabat. Jika kerinduan untuk keluar dari krisis pandemi dan disertai kedisiplinan diri yang kuat, pertanda bahwa kita sedang menumbuhkan iman kepada Allah yang peduli dan sedang membiarkan dibimbing Allah untuk menemukan jalan dan cara terbaik mengalami kehadiran-Nya. Amin. (*)

*) Biarawan dan Pastor Karmel. Sementara tinggal di Biara Karmel OCD Bogenga-Bajawa-Flores.

DomaiNesia

Komentar

News Feed