oleh

Restoran Nelayan Kupang Sepi Pengunjung, Omset Menurun

KUPANG, suluhdesa.com | Pandemi Covid-19 yang melanda secara global mengakibatkan banyak pekerjaan dan usaha menjadi menurun dan terhambat. Bahkan perusahaan-perusahaan besar terpaksa harus merumahkan sebagian besar karyawan mereka lantaran tak sanggup membayar gaji di tengah lilitan tunggakan pajak, air, listrik, dan lain sebagainya sebagai akibat dari merosotnya omset mereka. Ada pula yang harus gulung tikar dan menutup tempat usaha karena Covid-19 ini.

BACA JUGA:

Wisata Pantai Ena Lewa dan Vila Gemo Tampilkan Keramahtamahan

Leko Ena, Wisata Pantai Selatan Aimere-Inerie yang Indah

Wawali Pantau Vaksinasi Bagi Lansia di Kota Kupang

Upaya Peningkatan Kinerja Guru, UPTD SMPN 10 Kupang Gelar Workshop

Jajanan Tempoe Doloe, Kuliner di Desa Ngadiprono, Kedu

Hal ini juga dialami Restoran Nelayan yang terletak di Jalan Timor Raya, Pasir Panjang, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pemilik Restoran Nelayan Kupang Robertus Manek Lay dalam perbincangan singkat dengan Media SULUH DESA, pada hari Senin (26/07/2021) yang lalu di dalam resto menceritakan bahwa usaha miliknya ini mengalami kerugian besar akibat terdampak Covid-19.

“Usaha rumah makan saya ini sampai sekarang banyak yang tidak masuk dan nyaris tidak ada pesanan,” ungkapnya sedih.

Padahal sebelum Covid-19 melanda, lanjut Robertus, setiap hari dalam seminggu banyak sekali masyarakat atau pengunjung yang datang untuk memesan makanan, memesan tempat ini untuk dijadikan lokasi resepsi pernikahan, ulang tahun, dan pertemuan.

“Omset sebelum Covid-19 itu sangat bagus. Mengalami peningkatan. Sejak adanya pandemi ini, omset kami menurun drastis apalagi ada situasi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang mana hanya sampai jam delapan malam. Saat belum ada PPKM itu kami buka sampai jam sepuluh malam dengan protokol kesehatan yang ketat. Hanya itu tadi, sangat sepi pengunjung yang datang,” katanya.

Ia menceritakan jika dirinya saat ini sangat kesulitan untuk membayar gaji seluruh karyawannya. Dengan terpaksa juga ia harus merumahkan sebagian besar karyawannya supaya usaha tersebut tetap berjalan.

“Pajak kami harus tetap bayar. Air, listrik, dan makan minum para karyawan yang lain juga harus tetap kami perhatikan. Namun mau bagaimana lagi. Sekarang semuanya sedang susah. Kantor-kantor juga yang biasa memesan makanan dari sini sudah jarang bahkan hampir tidak ada sehingga pemasukan kami kali ini memang benar-benar surut,” tutur Robertus.

Menurut Robertus, karyawannya sebelum Covid-19 melanda berjumlah 30 orang lebih. Saat ini yang tersisa tinggal belasan orang karyawan.

“Kita saja bisa terdampak model seperti ini, apalagi teman-teman yang jualan di pasar itu. Pasti lebih parah lagi. Dengan adanya PPKM ini kami hanya lima belas hari kerja saja. Kita ini bertahan saja,” ungkap Robertus.

Dengan adanya situasi pandemi ini yang entah kapan selesai, Robertus hanya bisa pasrah dan mencoba dengan berbagai cara supaya usahanya itu tetap berjalan.

“Saya ingat karyawan saya, ingat anak-anak semua ini. Kasihan mereka. Saya berharap dan mari kita bersama berdoa supaya wabah ini cepat berlalu sehingga kita semua dapat kembali beraktivitas kembali seperti biasa. Kita jangan putus asa. Harus merefleksikan ini sebagai cara Tuhan yang memang menghendaki supaya kita semua megubah sikap hidup kita jika selama ini tidak berjalan pada jalan yang baik dan benar,” tutup Robertus. (idus/idus)

DomaiNesia

Komentar

News Feed