oleh

Saya Terpapar Covid, Tak Perlu Ikut Arus Kebodohan Massal

Support dan dukungan datang dari teman-teman. Manny, salah satu peserta, sampai mengirimkan minyak kayu putih asli via grab. Jefry mengirimkan video untuk mengetes pernapasan karena saya tidak punya alat oximeter. Dukungan juga datang dari warga KUB St. Theresia Kalkuta melalui group Whatsapp setelah saya melaporkan kondisi kesehatan saya dan istri kepada Ketua RT  yang juga adalah Ketua KUB, serta dukungan pimpinan saya, Kepala BKD Provinsi NTT, Henderina S. Laiskodat, SP, M.Si dan jajarannya serta rekan-rekan kerja.

 

Oleh: Giorgio Babo Moggi *)

=================

 

KISAH, suluhdesa.com | Bila kita mau jujur, di awal-awal, banyak orang yang memandang penderita Covid-19 sebagai aib. Covid dianggap  sebagai hukuman kepada orang-orang tertentu. Dalam pikiran mereka, seolah-olah Covid mampu memilih-milih orang-orang tertentu untuk diserang.

Karena aib, kita mulai menjaga jarak dengan penderita, mencibir, tak tegur sapa, malah usir kehadiran penderita Covid-19 dari rumah atau kampungnya sendiri.

BACA JUGA:

Diwisuda di UGM Jadi Doktor, Niko Loy: Finalisasi Sementara Kehidupan

Berhadapan dengan 7 Penguji, Pater Markus Ture OCD Berhasil Raih Gelar Doktor

Itu salah satu dari sejumlah kisah pilu penderita di awal-awal Covid-19 muncul sebagai monster yang menakutkan dan mematikan. Tapi, semakin ke sini, sikap dan perilaku ini semakin berkurang. Kini, orang semakin realistis bahwa Covid-19 itu dapat menyerang siapa saja serta rasa solidaritas antar sesama bangkit.

Inilah yang dialami penulis dan hendak di-share-kan melalui tulisan ini. Tepatnya, hari Jumat, tanggal 9 Juli 2021, saya dinyatakan positif Covid-19, ‘status’ yang saya hindari selama ini. Di dalam hati, saya selalu ucapkan agar terhindar dari Covid. Kenyataannya, saya tidak bisa lari dari kenyataan itu sendiri. Setinggi-tingginya harapan saya akhirnya saya jatuh ke pelimbahan juga (positif  Covid).

Begini  kronologi peristiwa dari awal hingga saya dinyatakan positif Covid-19. Selama sebulan saya sedang mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) di BPSDM Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya dan 39 peserta lainnya wajib tinggal di asrama. Kami masuk asrama melalui prokes yang ketat seperti harus rapid test dan selama kegiatan diawasi Satgas Covid dari Satuan Polisi Pamong Praja dan Puskemas Sikumana.

Lebih kurang sebulan, saya pulang rumah sebanyak 4 kali, yakni pada setiap hari Sabtu, sedangkan saya kembali ke asrama pada hari Minggu.

Hari Sabtu, tanggal 3 Juli 2021, saya kembali ke rumah, berkumpul dengan keluarga dan merayakan misa mingguan di Kapela Yesus Maria Yoseph Liliba. Malam Senin, saya berniat kembali ke asrama, tetapi hidung saya mendadak berair (gejala flu mulai menyerang), kemudian saya menunda pulang ke asrama.

Malam itu, gejala flu mengarah ke deman dan meriang. Saya menanggapi  gejala ini sebagai gejala biasa sebagaimana saya sering alami sekali dalam kurung waktu 3-4 bulan. Dalam kondisi sakit, keesokan harinya saya tetap pulang ke asrama mengingat kami harus mempresentasikan tugas kelompok.

Saya mengikuti kelas bersama rekan-rekan lainnya. Kelompok saya, kelompok satu diberi kesempatan pertama untuk mempresentasikan tugas. Saya dimandatkan oleh ketua dan anggota kelompok sebagai presenter. Dalam kondisi yang kurang fit, akhirnya presentasi berjalan dengan baik. Setelah itu, saya mohon pamit kepada ketua kelas dan beberapa kawan untuk kembali ke kamar dan istirahat.

Saya tidur sangat lelap dalam kondisi tubuh yang “tidak enak” – flu, meriang dan demam. Saya minum vitamin yang diberikan oleh Itha Kana dan Gani Manisa – teman-teman PKP. Saya tidur sangat lelap dan bangun malam menjelang jam makan malam. Kondisi tubuh saya tidak banyak berubah. Saya berusaha untuk menguatkan dan meyakinkan diri agar lekas sembuh.

Keesokan harinya, Selasa, saya mengikuti kelas seperti biasa dan saya duduk di kursi di barisan paling belakang. Sebelah kanan saya Marloan, kiri saya, Gani Manisa. Hidungnya mulai ingusan. Marloan sempat menanyakan kondisi saya dan menyarankan saya untuk istirahat dan segera periksa ke dokter.

Sesuatu yang tak nyaman di masa pandemi adalah flu dan batuk, lalu kita berada di tengah-tengah orang lain. Perasaan dengan teman-teman sudah pasti. Kekhawatiran akan penularan kepada orang lain juga pasti. Saya kemudian mundur diri dan pamit dengan teman-teman untuk kembali ke kamar. Saya kembali istirahat, konsumsi vitamin dan aqua sebanyak-banyak. Makan siang seperti biasa, tetapi saya mulai menjaga jarak dengan teman-teman. Sorenya kondisi tubuh saya tidak banyak berubah. Sahabat saya, Facun berjanji untuk anjang sana ke asrama. Malam  itu pula saya meminta bantuannya untuk mengantarkan saya pulang ke rumah.

Kami tidak langsung ke rumah. Kami sempat mampir di sebuah rumah makan “favorit” kami. Sebelumnya Facun sudah menghubungi Patris,  rekan dosen ketika kami masih mengajar di Unwira, untuk bergabung. Selain makan, kami bacarita tentang pekerjaan serta mendengar sharing Facun yang baru saja pulang studi di Amerika Serikat. Satu setengah jam kami berada  di rumah makan tersebut, akhirnya saya meminta Facun untuk antar saya ke rumah. Kami pun bubar, jalan beriringan dan berpisah di cabang RSS setelah jembatan Liliba. Patris terus ke Baumata, saya dan Facun menuju rumah di Ukitau.

Kedatangan saya sudah dinanti oleh istri dan keponakan.  Facun turun sebentar lalu pamit. Saya masuk kamar makan dan minta keponakan untuk mengoles minyak di kaki dan tangan. Sialnya, pada saat turun mobil saya tanggalkan masker. Di meja makan, istri saya tiba-tiba bersin. Kami dua hanya saling memandang. Saya membathin, “wah gawat istri saya, tertular pilek.”

Demam dan pilek belum redah, seluruh tubuh mulai terasa pegal-pegal. Paginya, istri berangkat kerja seperti biasa. Sore harinya, istri mengeluh rasa meriang, demam dan flu. Istri sempat istirahat sejanak, sebelum jam 7 malam kami berangkat ke rumah sakit.

Saya trauma menyebut apalagi melihat rumah sakit. Apalagi ada informasi di media bahwa pasien Covid di RSUD Prof. W.Z. Johannes membludak. Tetapi, inilah kenyataan yang tak bisa kami hindari. Rumah sakit adalah pilihan paling bijak dan rasional.

Dengan sikap berani, kami menghantar istri ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Di sana, kami dilayani oleh petugas dengan baik. Istri diperiksa atau diukur tekanan darah, suhu dan saturasi, serta di-swab antigen. Dari hasil swab dinyatakan istri reaktif dan harus dites PCR keesokan harinya. Akhirnya istri saya dipindahkan ke IGD khusus pasien Covid. Selama dua malam di sana, istri ditemani saya dan keponakan, Farini. Kami dalam ruang yang sama, bersama pasien Covid yang lainnya.

Segala kekhawatiran saya pudar seketika tatkala melihat petugas, Azzryel  Giovanny, dan kawan-kawan melayani pasien dengan penuh tanggung jawab tanpa kekhawatiran apapun. Mereka mengenakan APD atau minimal bermasker. Ini menjadi sumber energi positif untuk kami agar tidak perlu khawatir tentang Covid tersebut. Tiada jalan lain, selain hadapi kenyataan dan siap berperang dengan Covid.

Hasil PCR menyatakan istri saya positif dan rekomendasi dokter istri bisa melakukan isolasi mandiri di rumah. Pertimbangan ini diberikan mungkin karena level Covid istri belum terlalu parah – karena indra penciuman dan rasa istri masih berfungsi dengan baik.

Akhirnya, kami pulang. Sesampai di rumah, saya justeru gelisah. Saya duduk tidak nyaman. Demam dan meriang sudah berkurang, tetapi rasa pegal di pinggul dan punggung semakin menjadi-jadi. Duduk tidak nyaman, tidur pun demikian. Akhirnya, saya putuskan kembali ke rumah sakit bersama keponakan. Di sana, saya meminta untuk di-swab dan hasilnya saya dinyatakan positif. Saya meminta petugas untuk swab keponakan saya, puji Tuhan, hasilnya negatif.

Reaksi pertama tubuh saya ketika dinyatakan positif Covid adalah berkeringat. Saya pun bersemangat. Aneh, khan? Sambil menunggu obat, saya ngobrol dengan dua perawat yang sedang bertugas.

Setelah terima obat, kami pulang ke rumah. Saya sampaikan kepada teman-teman PKP mengingat Diklat belum selesai – sampai pada tahap presentasi rancangan aksi perubahan. Paling tidak teman-teman dapat menyampaikan kepada penyelenggara agar saya dapat mempertanggungjawabkan rancangan aksi perubahan secara daring. Support dan dukungan datang dari teman-teman. Manny, salah satu peserta, sampai mengirimkan minyak kayu putih asli via grab. Jefry mengirimkan video untuk mengetes pernapasan karena saya tidak punya alat oximeter. Dukungan juga datang dari warga KUB St. Theresia Kalkuta melalui group Whatsapp setelah saya melaporkan kondisi kesehatan saya dan istri kepada Ketua RT  yang juga adalah Ketua KUB. Tentu, saya juga wajib melaporkan melalui Whatsapp Group kepada pimpinan saya, Kepala BKD Provinsi NTT, Henderina S. Laiskodat, SP, M.Si, perihal status terkonfirmasi positif Covid dan dukungan pun datang darinya dan rekan-rekan kerja.

Sesuai pesan petugas, saya dan istri melakukan isolasi mandiri di kamar terpisah supaya proses pemulihan cepat. Selama masa isolasi, makan dan minum diurus oleh Farini. Keluarga saya, Erlin, Marsel dan Edel datang berkunjung seperti biasa dengan prokes yang ketat, juga Fin, Servas dan Avent mampir sebentar memberikan dukungan.

Dari pengalaman yang saya uraikan di atas, pelajaran yang dapat dipetik, pertama, Virus Corona itu ada, bukan sesuatu yang mengada-ada. Gejalanya bisa seperti gejala flu, pilek, demam dan batuk yang sering kita alami sehari-hari. Bisa juga lebih dari itu, hingga  hilangnya fungsi indra penciuman dan rasa, apapun makanan yang disantap hanya dengan satu rasa alias tidak merasa apa-apa, bahkan tekanan oksigen menurun.

Bila anda sudah merasa gejala-gejala seperti ini sebaiknya anda segera mengambil tindakan pemeriksaan untuk memastikan; anda terserang Covid atau tidak? Atau, jika belum sempat, pastikan anda mengikuti prokes yang ketat; memakai masker dan menjaga jarak dengan orang lain seperti saat makan dan berkomunikasi. Jika ini tidak dilakukan, maka sangat rawan bagi orang yang melakukan kontak dengan anda yang mungkin  imun tubuhnya tidak sekuat anda.

Kedua, seandainya Covid itu manusia, ia akan mengungkapkannya bahwa ia juga butuh pengakuan dari kita. Seperti yang saya alami, saya merasakan gejala biasa – batuk, flu, pilek, demam dan meriang. Bagi saya, itu “penyakit” rutin yang menghampiri atau menyerang sekali dalam rentang waktu 3 atau 4 bulan.

Kali ini berbeda, saya berusaha maksimal untuk makan dan minum vitamin serta tidur yang cukup belum bisa memulihkan kondisi tubuh. Nah, setelah di-swab antigen, dipastikan bahwa saya positif Covid, reaksi tubuh saya langsung berkeringat. Berkeringat bukan karena takut, tetapi setelah ada kepastian bahwa saya terkonfirmasi Covid. Inilah cara tubuh merespon. Efeknya saya bisa tidur nyenyak dua hari pertama setelah swab. Covid itu butuh pengakuan dari kita, begitu pula tubuh kita. Jadi,jangan kita jangan pernah menganggap sepele dengan gejala-gejala yang mengarah ke Covid-19.

Ketiga, jika sendainya anda ditawarkan isolasi di rumah sakit atau di rumah; sebaiknya isolasi di rumah asalkan syarat kondisi kita tidak terlalu parah seperti yang kami alami ini. Ini untuk membantu pihak rumah sakit dan juga pasien lain yang mungkin kondisi lebih parah daripada kita yang sangat memerlukan penanganan intensif dari dokter dan perawat.

Keempat, terapi pemulihan dari Covid yang paling utama adalah mengendalikan pikiran kita. Berusahalah untuk senantiasa berpikir positif bahkan terhadap Covid itu sekalipun keberadaannya dapat membunuh kita sewaktu-waktu. Ubah cara berpikir kita, lihatlah Covid sebagai kesempatan kita untuk ‘mengasingkan’ diri dan merefleksikan hidup kita sehingga tubuh kita berkesempatan istirahat dari segala rutinitas.

Terimalah isolasi mandiri sebagai kenyataan dan secara positif menggunakan kesempatan  isolasi mandiri untuk “merefresh” sel-sel tubuh dan sistem kerja dalam tubuh kita. Untuk itu, hindari pikiran tentang pekerjaan, tanggung jawab di dalam rumah serta hal-hal lain yang memberatkan. Karena hal itu dapat saja memperlambat pemulihan dari Covid dan bahkan bisa berakibat fatal hingga  ‘membunuh’ kita.

Kelima, jika terjangkit Covid jangan down dan mengutuk diri dalam pikiran kita dengan memandang Covid sebagai  aib. Siapa saja dapat terjangkit Covid seperti halnya kita dapat saja terjangkit flu atau pilek biasa. Hari ini anda, mungkin besok giliran mereka.

Nah, jika kita melakukan isolasi mandiri, sekembali dari rumah sakit segera melaporkan ke survailancer Puskemas dan juga kepada Ketua RT supaya bisa dipantau oleh Satgas Covid kelurahan atau kecamatan. Untuk melapor ke survailancer Puskemas Oebobo, kami dibantu pak Gani Manisa, beliau juga anggota Satgas Covid, perwakilan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi NTT.

Keenam, pikiran kita fokus pada penyembuhan tentu didukung oleh pola makan kita; makanlah makanan bergizi, perbanyak konsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin C dan kurangi minum obat (jika gejalanya tidak ada, misalkan tidak demam maka tak perlu minum Paracetamol), sedangkan tablet vitamin wajib dikonsumsi. Istirahatlah yang cukup, berjemur diri di pagi hari dan perlu juga mobilitas jika tidak bisa dilakukan di halaman rumah, lakukan di dalam kamar.

Ketujuh, vaksin itu bukan anti Covid, tetapi  vaksin dapat meningkatkan  herd immunity. Saya telah divaksin sebanyak dua kali beberapa bulan yang lalu (Maret dan April), kenyataannya tubuh saya masih diserang Covid.

Seandainya, tubuh saya belum divaksin, mungkin keadaan saya berbeda. Jika kembali kepada cerita saya di awal tadi, saya mengalami gejala diduga Covid seminggu sebelum di-swab, artinya Covid sudah seminggu bersarang dalam tubuh saya. Selama sepekan, imun tubuh saya berjibaku memerangi Covid dan itu tak terlepas bantuan herd immunity yang diperoleh dari vaksin.

Jadi, bergegaslah untuk vaksin. Jauhkan diri dari informasi hoaks dan tak perlu ikut arus kebodohan massal yang dipertontonkan sekelompok masyarakat di negeri ini.

Pengalaman kecil ini tak bermaksud menggurui siapapun. Apa yang ditulis apa yang kami alami dan lakukan. Kekuatan kita pada pikiran kita. Karena pikiran kita mampu mengendalikan seluruh anggota tubuh dan sel-sel di dalamnya. Karena itu bebaskan pikiran kita dari segala beban dan energi negatif, fokuslah pada tujuan yakni penyembuhan diri dari Covid-19.

Pikiran yang sehat, ditunjang imun yang sehat, dan di atas semua itu harus berlandaskan iman yang kokoh, untuk tak pernah berhenti berdoa, memohon kesembuhan dari Sang Tabib Ilahi, Tuhan Allah Sang Pemilik semesta raya.

Kiranya kisah ini dapat bermanfaat dan meneguhkan siapapun yang sedang menderita Covid. Tak usah takut berlebihan, hadapi dan anggaplah isolasi mandiri sebagai pemulihan sel-sel tubuh kita serta pemulihan jiwa atau psikis kita. Pikiran anda menentukan nasib anda. Bebaskan diri dari rasa takut dan kegelisahan yang berlebihan. Dan,  iman menjauhkan segala kekhawatiran dan memberikan penghiburan serta daya penyembuhan Ilahi.

Kekuatan pikiran, makanan bergizi, realistis dan optimis, serta kekuatan iman memampukan saya hari ini kembali menjalani rutinitas.

Saya menyampaikan permohonan maaf apabila dalam rentang waktu kronologi di atas melakukan interaksi dan menyebabkan pihak lain tertular. Akhir kata, saya menghaturkan limpah terima kasih tak terhingga kepada Tuhan, pula terima kasih untuk sesama yang dengan caranya masing-masing mendukung proses penyembuhan kami dari Covid-19. Salam sehat! * (gbm)

*) Warga Kota Kupang, tinggal di Liliba, penyintas Covid-19.

DomaiNesia

Komentar

News Feed