oleh

Diwisuda di UGM Jadi Doktor, Niko Loy: Finalisasi Sementara Kehidupan

YOGYAKARTA, suluhdesa.com | Nikolaus Loy, asal Kampung Maghilewa, Desa Inerie, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang saat ini menjadi dosen di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta, akhirnya diwisuda menjadi seorang Doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, pada hari Rabu (28/07/2021) Pukul 07.45 sampai Pukul 09.00 WIB secara daring.

BACA JUGA:

Niko Loy, dari Maghilewa Merantau ke Jogja dan Kini Bergelar Doktor

Berhadapan dengan 7 Penguji, Pater Markus Ture OCD Berhasil Raih Gelar Doktor

Dolvi Kolo, Mantan Penjual Ikan yang Siap Bertarung di DPD RI

Doktor Nikolaus Loy diwisuda bersama 711 pascasarjana lainnya yang terdiri atas 581 lulusan Magister (S2) dengan empat wisudawan merupakan Warga Negara Asing (WNA), 75 lulusan Program Spesialis, dan 55 lulusan Program Doktor (S3) dengan dua di antaranya adalah WNA. Wisuda tersebut diberikan oleh Rektor UGM Yogyakarta Prof Manut Mulyono.

Hal ini dijelaskan Doktor Niko saat dihubungi Media SULUH DESA, Rabu (28/07/2021) Pukul 12.00 WITA lewat telepon seluler.

Niko menyampaikan bahwa dirinya mengikuti proses wisuda menjadi Doktor secara online dari rumah dan didampingi istrinya Maria Ernawati Millatana, S.Pd., M.Pd.

“Kami wisuda secara online. Ya saya ikut dari rumah didampingi istri saya karena anak-anak harus sekolah secara online juga. Saya sendiri merasa ini sebagai sebuah berkat Tuhan, apalagi saya menyelesaikan kuliah S3 ini dalam suasanan penuh kekurangan. Namun karena memiliki niat dan tekad, akhirnya saya bisa menyelesaikan semua ini dengan baik,” beber Niko yang menamatkan pendidikan dasarnya di SDK Maghilewa pada tahun 1980.

Niko menjelaskan bahwa gelar Doktor ini diraihnya usai mempresentasikan disertasinya pada hari Jumat (29/01/2021) lalu dengan judul “Sekuritisasi Isu Keamanan Energi Indonesia: 2004-2017, di depan delapan penguji.

“Saya melakukan riset tentang isu keamanan energi dengan disertasi tentang apakah isu energi itu sudah mencapai isu keamanan di pihak elit? Apakah kebijakan energi yang ada sudah menunjukkan bahwa ini menjadi isu prioritas keamanan nasional yang dikonstruksi oleh elit (Presiden SBY)? Apakah kebijakan energi yang ada sudah menunjukkan bahwa isu ini menjadi isu prioritas keamanan nasional?,” ucapnya.

Doktor Ilmu Politik ini berhasil memperoleh temuan.

“Temuan pertama saya menggunakan teori bahasa yaitu teori tutur tindak. Temuan energi memang sudah menjadi status isu keamanan nasional yang dikonstruksi elit politik (Presiden SBY) akan tetapi kebijakannya dalam bentuk disertifikasi energi itu ternyata berjalan sangat lamban. Jadi ada kesenjangan antara retorika krisis energi dengan kebijakan keseriusan untuk melakukan diversifikasi energi dalam bentuk pengembangan energi baru dan terbarukan,” papar pria yang menerima Australian Development Scholarship (ADS) untuk studi pembangunan di School Of Geography and Environmental Sciences, Monash, Australia ini.

Terkait dengan dirinya yang diwisuda di tengah Covid-19 ini, Niko berujar kalau hal itu hanyalah sebuah seremoni.

“Yang lebih penting itu ke depan adalah karya-karya yang harus ditonjolkan. Wisuda ini hanya semacam ritual yang mengesahkan bahwa ada satu tahap yang saya sebut sebagai finalisasi sementara dari perkembangan kehidupan. Pendidikan saya sudah selesai karena yang paling tinggi kan Doktoral toh,” urai Niko.

Menurut Niko, ini menjadi dasar untuk melangkah ke tahap berikutnya.

“Yang penting dari seorang akademisi itu adalah sekali lagi karya. Selain karya ilmiah tetapi juga karya yang berguna bagi kehidupan masyarakat luas. Itu yang paling penting ya,” tutur Niko yang mengaku bahwa sambil mengajar di UPN Veteran, ia harus membagikan waktu untuk mengurus keluarganya pindah dari Pulau Sumba ke Yogyakarta.

Saat ditanya media ini, apakah memiliki cita-cita atau ambisi untuk memperoleh gelar Profesor di kemudian hari?

Niko menjawab, “itu adalah bonus jika saya terus melakukan riset dan publikasi serta pengabdian kepada masyarakat. Jika saya memperoleh gelar Profesor, ya terima kasih. Itu saja. Karena itu merupakan konsekuensi dari karya. Hal ini tidak bakal didapat jika selesai S3 lalu diam-diam saja. Tugas saya berat ke depan yakni harus melahirkan karya-karya berkualitas untuk masyarakat. Doakan ya.”

Di akhir pembicaraan sebelum menutup telepon, Niko mengucapkan terima kasih kepada istri dan anak-anaknya yang selalu mendukung dan mencintainya.

“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh keluarga, kepada UPN Veteran Yogyakarta dan UGM Yogyakarta yang sudah memberikan saya ruang dan kesempatan untuk studi,” tutup Niko. (fwl/fwl)

DomaiNesia

Komentar

News Feed