oleh

Acara Rumah Adat Oeluek di TTU dan Silsilah Usi Falo

KEFAMENANU, suluhdesa.com | Rumah adat Oeluek pada akhirnya selesai, dan menurut tradisional yang telah turun-temurun dilaksanakan, penyelesaian rumah adat bakal diresmikan dengan acara pendirian Hau Monef (Tiang Ksatriaan) yang ditujukan untuk mentakhtakan para leluhur yang mati secara ksatria dan juga melakukan ritual pentakhtaan leluhur di dalam rumah adat (Tatokob Be’e-Na’i).

Kegiatan ini diawali dengan ritual mengambil air dari mata air adat yang bertempat di Oelika. Koordinator kegiatan, Lukas Fallo menjelaskan hal ini ketika ditemui pada Minggu, (11/07/2021) di rumah kediamannya di Desa Fatusene, Kecamatan Miomaffo Timur, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan peresmian rumah adat Oeluek (Usi Falo) dihadiri oleh semua anak cucu dari Usi Falo Snoe Mnasi. Kepada Media SULUH DESA, Lukas Falo mengaku sangat bangga dengan kegiatan yang berjalan lancar sekalipun dibatasi oleh situasi Pandemi Covid-19.

“Kami sangat bangga karena kegiatan ini berjalan lancar serta aman dan damai. Kita tahu bahwa sementara ini Covid-19 tengah melanda dunia dan kita diharapkan untuk mematuhi aturan yang telah ditentukan. Dan puji Tuhan kita tetap menerapkan protokol kesehatan,” ungkap Lukas Falo.

Acara ini berlangsung sejak Kamis (08/07/2021) sampai Sabtu (10/07/2021). Kegiatan tersebut berawal dengan ritual pengambilan air adat di Oelika, Desa Fatusene, pada hari Kamis (08/07/2021). Kemudian dilanjutkan dengan penyambutan para Atoen Amaf yang membawakan  hau monef untuk ditancapkan di depan rumah adat. Sesudah itu para tua adat melakukan ritual lagi untuk mentakhtakan para leluhur di dalam rumah adat.

Penyambutan atoen amaf yang membawa Haumonef (Tiang Ksatria)

Selanjutnya pada Jumat (09/07/2021)  kegiatan dilanjutkan dengan penyambutan setiap anak cucu yang datang untuk memohon berkat dari leluhur. Sementara itu ibu-ibu membunyikan gong untuk menyambut anak cucu yang datang.

Pada hari Sabtu (10/07/2021)  kegiatan diakhiri dengan pembacaan laporan dana oleh koordinator kegiatan peresmian rumah adat, Lukas Falo.

Sementara itu, Ruben Lete Falo yang dipercaya sebagai penutur adat mengisahkan silsilah Usi Falo secara singkat.

“Silsilah Usi Falo dapat kita ringkas secara singkat sebagai informasi bagi anak cucu agar memahami sebaran keluarga yang kini telah meluas. Hal ini kita maksudkan agar anak cucu di manapun berada dapat saling mengenal dan meminimalisir kemungkinan untuk saling menikah tanpa kenal asal-usul mereka sendiri,” tutur Ruben Lete Falo.

Berikut ini adalah silsilah Usi Falo yang diringkas sesuai penjelasan Ruben Lete Falo.

Usi Falo Snoe Mnasi memiliki lima orang anak yakni Kuan Snoe yang berdomisili di Desa Fatusene, Unu Snoe yang berdomisili di Faenono, Anunu Snoe yang berdomisili di Naiola, Kolo Snoe yang berdomisili di Tubu-Nilulat, dan Tol Snoe yang menjaga rumah adat di Bonak.

Kemudian Kuan Snoe memperistri Las Pai Kuabib dan melahirkan dua orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Dua orang anak laki-laki yakni Bait Kuan dan Lelan Kuan. Dan tiga orang anak perempuan adalah Bose Kuan yang dinikahkan dengan Muni Ase (Usi Taus Maon’nain), Kono Kuan yang dinikahkan dengan Oba Liat (Usi Binsasi),  dan Taek Kuan yang dinikahkan dengan Usi Talan.

Setelah beranjak dewasa akhirnya Bait Kuan memperistri Abuk Taneseb dan melahirkan 5 orang anak perempuan dan 3 orang anak laki-laki. Sedangkan Lelan Kuan memperistri Tafin Seno dan tidak memiliki keturunan. Lima orang anak perempuan Bait Kuan dan Abuk Taneseb adalah Las Bait, Sali Bait, Tati Bait, To’o Bait, dan Bose Bait. Tiga orang anak laki-lakinya adalah Taneseb Bait, Lete Bait, dan Snoe Bait.

Setelah beranjak dewasa, delapan orang anak ini memilih suami dan istrinya masing-masing untuk mendirikan bahtera rumah tangga. Seturut restu orang tua, lima orang putri terkasih dinikahkan dengan pria perkasa pilihannya.

Las Bait menikah dengan Sasi Afoan (Usi Bana), Sali Bait menikah dengan Kono Oba (Usi Binsasi), Tati Bait menikah dengan Bona Muni (Usi Tau Maon’nain), To’o Bait menikah dengan To’o Leu (Usi Talan), dan Bose Bait menikah dengan Baku Tefe (Usi Salu). Sedangkan tiga orang putra perkasa juga dinikahkan dengan permaisuri pilihannya masing-masing yakni Taneseb Bait menikah dengan Balok Muni, Lete Bait menikah dengan Nobe Salai, dan Snoe Bait menikah dengan Siu Neno.

Dari silsilah inilah kemudian keturunan Usi Falo Snoe Mnasi mulai menyebar ke seantero Pulau Timor dan kegiatan peresmian rumah adat ini ditujukan untuk mengumpulkan kembali anak cucu Usi Falo Snoe Mnasi untuk saling mengenal satu sama lain.

Anak cucu dari Feto Las Bait dan Sasi Afoan

Kemudian Ruben Lete Falo juga menambahkan informasi bahwa Usi Falo Snoe Mnasi merupakan anak dari Korea Mnasi yang adalah leluhur dari Tanah Rote. Sehingga tidak heran jika anak cucu dari Usi Falo Snoe Mnasi tampak manis dan menawan.

Lebih lanjut, Stefen Falo yang hadir sebagai salah satu anak laki-laki mengaku bahwa kegiatan ini sangat bermakna bagi semua keturunan Usi Falo Snoe Mnasi.

“Saya melihat bahwa anak-anak era sekarang tidak lagi mengetahui silsilah keluarga. Sehingga tidak heran jika saling menikah tanpa tahu bahwa orang yang dicintainya adalah salah satu keluarga. Kegiatan ini bagi saya sangat bermakna karena dapat mempertemukan semua keturunan Usi Falo Snoe Mnasi sehingga saling mengenal sebagai keluarga dalam satu turunan,” ujarnya.

Ia juga berharap agar kegiatan ini tidak berakhir sampai di sini tetapi berlanjut terus sampai selamanya.

“Sesuai ketentuan yang sudah ditetapkan bahwa setiap tanggal 2 November semua wajib berkumpul untuk melakukan ritual di rumah adat Oeluek agar perkenalan satu sama lain dapat terjadi dan sekaligus memupuk rasa kekeluargaan dalam satu rumah, yakni rumah adat Oeluek,” tutup Stefen Falo sembari menghisap rokoknya. (Geztha/Geztha)

Komentar

News Feed