oleh

Puisi-puisi Ezra Mollo Bilaut

-Sastra-722 views

PUISI, suluhdesa.com | Yang fana adalah waktu, kita abadi. Ungkapan ini mengalir dalam puisi-puisi berikut. Bahwasanya kita abadi dalam tulisan. Sebab dengan tulisan, kita terus mekar dalam sanubari. Bahkan dalam doa-doa kecil yang dipanjatkan setiap pendoa. Mari kita abadi dalam puisi.

BACA JUGA: 

Puisi-puisi Peserta Didik SMP Negeri 6 Nekamese

 

////

 

MISTERI TERSEMBUNYI

 

Mati hari karena pandemi

Misteri tersembunyi di sudut hati

Menanti janji

Pemenang hati

Mundur menari ke dalam api

Pandemi mengubur hati yang terus menari

Misteri yang makin lestari

Ya makin menjadi-jadi

Tantangan kemanusiaan terus menyerang

Tak kunjung hilang

Banyak pahlawan yang jadi korban

Tak dapat melawan

Bagaikan jadi bawaan

Harapan kian jadi kegelapan

Duka jadi luka dalam dada

Kian tak ada penawarnya

 

////

 

MAKNA SENJA

Mentari bergerak di ujung sana

Menari meninggalkan hari

Terukir jejak kaki bagai pelangi

Yang hadir melukis hari

Saat waktu kian kemari

Hatipun sepi

Ditinggal mentari

Rindu yang sendu

Kelabu bagai debu

Hati dibuat kaku

Karena makna senja bagai beku

Tak tahu apa yang ‘kan ku lakukan

Semburat merah

Di langit cerah

Bagai panah

Di akhir senja

Bayangan malam penuh kelam

Hadirkan suasana mencekam

Pena kugenggam dengan tanganku keram

Mengukir mentari yang mulai karam

Ditelan langit malam

////

 

AWAN KELABU PENYAPU DEBU

Siratan hitam muncul di langit malam

Pukul 01.00 minggu pertama bulan April

Berjatuhan tetesan air hujan membasahi bumi

Angin bertiup kencang tak henti

Bisikan hati semakin tak teratur

Ketakutan melanda, tawapun pergi

Lenyap diterpa angin malam

Rumput dan pohon merebah

Bagai menyembah Dia yang Maha Kuasa

Bagaikan sedang menyapu dunia

Dengan hujan ia merontokkan dosa

Dan dengan angin meniupnya menjauh

Bagai petani yang memisahkan gandum dari ilalang

Manusia merunduk seakan berpasrah

Apapun yang terjadi “Dia tetap Maha Kuasa”

////

 

DIALAH HAKIM YANG AGUNG

 

Aku tertidur dalam kalbu yang penuh kabut

Tapi aku tak tahu

Bahwa abu sedang mengelilingiku

Sedikit demi sedikit

Tinta hitam mulai tumpah di atas kertas

Mengalir memenuhi kertas siratan darah

Dari Dia yang tergantung di sana

Terpaku,

kaku,…

Dicambuk,

kelu…

Diludahi,

malu…

Dinodai tak tanggung-tanggung

Tergantung bagai patung

Seolah dilupakan

Setiap cambukan yang mengenai tulang

Merobek daging dan melubangi lambung

Sakit yang diderita, malu yang diterima

Semua demi kita manusia

Sadarlah

Sebab untuk yang kedua kalinya

Bukan untuk digantung

Tapi sebagai Hakim Yang Agung

==================

 

(*) EZRA MOLLO BILAUT adalah Peserta Didik Kelas IX SMP Negeri 6 Nekamese, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan puisi-puisinya ini sudah dibukukan dalam Antologi Puisi Gelita Durja Pandemi “Sebuah Elegi”

Komentar

News Feed