oleh

Menangkal Radikalisme Agama: Suatu Kemendesakan

-Opini-353 views

Pada dasarnya, tidak ada satu agama-primitive sekalipun yang menghendaki dan mengajarkan permusuhan dan kekacauan. Semua agama mengajarkan yang baik kepada para pemeluknya. Kita semua mengamini pernyataan tersebut. Pertanyaannya sekarang; mengapa masih ada kekacauan (chaos) yang disebabkan oleh agama?

 

 Penulis: Yoseph Wae

(Mahasiswa Semester IV Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

================

Pengantar

Maraknya pemberitaan di berbagai media terkait terorisme dan aksi anarkis dari kelompok radikalis bukan lagi hal baru dewasa ini. Terorisme dan radikalisme agama telah menjadi momok serentak melahirkan kegelisahan eksistensial di level mondial. Keduanya telah mengancam eksistensi manusia. Pereduksian hakikat kemanusiaan manusia nampak jelas dalam berbagai aksi teror dan konflik antar-agama.

Manusia tidak lagi dilihat sebagai citra Tuhan yang keberadaannya mesti dihargai dan dijaga, malah dibinasakan. Ironisnya atas nama agama. Keduanya telah melahirkan kesengsaraan luar biasa bagi umat manusia.

Terorisme menjadi momok yang menakutkan. Terorisme merupakan persoalan mondial yang menuntut keterlibatan banyak pihak untuk memeranginya. Demikian pula halnya dengan radikalisme agama.

Pada dasarnya, tidak ada satu agama-primitive sekalipun yang menghendaki dan mengajarkan permusuhan dan kekacauan. Semua agama mengajarkan yang baik kepada para pemeluknya. Kita semua mengamini pernyataan tersebut. Pertanyaannya sekarang; mengapa masih ada kekacauan (chaos) yang disebabkan oleh agama?

Adalah fakta yang mesti diamini bahwa pluralitas agama bukanlah suatu kenyataan baru di dunia ini. Pluralitas itu kini dialami secara langsung dan intensif. Dalam konteks keindonesiaan kita hal  ini sungguh amat terasa. Di banyak tempat kita dapat menemukan bangunan gereja bersebelahan dengan masjid. Masjid di dekat Vihara. Ada orang Katolik ditengah-tengah orang Islam. Orang Islam hidup bertetangga dengan orang Katolik, Hindu ataupun Buddha. Inilah kenyataan kita di Indonesia.

Radikalisme Agama

Indonesia juga merupakan negara multikultur. Indonesia dihuni oleh masyarakat yang beragam adat dan budaya, bahasa serta sejumlah kekhasan daerah lainnya. Fakta pluralitas ini merupakan kekuatan integratif dalam membangun Indonesia. Perlu pula disadari bahwa kenyataan ini turut menyimpan potensi konflik yang dapat mengancam stabilitas kehidupan bangsa dan negara.

Salah satu faktor penyebab disintegrasi dan instabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia adalah konflik antar-agama. Konflik antar-agama sudah seringkali terjadi di negara kita dengan jumlah korban yang tidak sedikit.

Konflik dan kerusuhan bernuansa agama ini disebabkan oleh adanya sikap ekslusivisme. Yakni sikap yang menekankan kebenaran mutlak agama sendiri. Mengklaim bahwa agama yang dianutnya adalah satu-satunya agama yang paling benar, agama lain sesat. Dengannya mereka menolak partisipasi semua agama lain dalam kebenaran dan keselamatan.

Klaim kebenaran overdosis inilah yang kemudian membawa orang pada paham radikalisme. Radikalisme agama mencapai bentuknya yang paling konkrit pada penggunaan kekerasan fisik, kejahatan terhadap kemanusiaan yang berujung pada kematian. Kematian telah menjadi sebuah ideologi baru yang dipropagandakan oleh kaum radikalis atas nama agama.

Di Indonesia fenomena radikalisme agama ini sangat terasa. Gerakan Fajar Nusantara sempat menggema di seantero negeri ini. Tidak hanya itu kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dibawah pimpinan Santoso turut meramaikan fenomena pincang kemanusiaan di negeri ini. Bahkan banyak saudara setanah air yang kini telah bergabung dengan ISIS.

Menangkal Radikalisme Agama, Sebuah Kemendesakan

Di hadapan fenomena pincang kemanusiaan seperti ini apa yang mesti kita lakukan? Kita tidak bisa menutup mata terhadap kenyataan ini. Adalah sebuah kemendesakan memerangi fenomena pincang kemanusiaan ini.

Bangsa Indonesia ditakdirkan sebagai sebuah bangsa dengan corak masyarakat yang plural (pluralistic society). Pluralitas ini sejak dahulu telah dipersepsikan dan dikonsepsikan oleh para founding fathers sebagai kekuatan, sehingga bukan sebuah kebetulan motto negara kita adalah Bhinneka Tunggal Ika. Itu merupakan bukti kemanunggalan kita sebagai sebuah bangsa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Harmoni hidup bersama merupakan hal urgen yang perlu diperjuangkan, terlebih dalam konteks keindonesiaan kita yang multikultur. Pluralitas akan menjadi sebuah kekuatan integratif bangsa manakala kita mengedepankan kerukunan hidup antar umat beragama.

Hemat saya, persoalan terorisme dewasa ini tidak dapat dipisahkan kaitannya dengan agama. Agama merupakan sebuah elemen yang sangat sentral dalam penciptaan konflik, dalam hal ini melalui aksi teror dan radikal dari sekelompok agama tertentu.

Hans Kung, seorang pemrakarsa proyek ethos mondial mengatakan bahwa tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian antar agama-agama, dan tidak ada perdamaian antar agama-agama tanpa dialog antar-agama.

Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya dialog antar-agama di hadapan konflik dan Ekslusivisme mestinya ditanggalkan. Untuk menumbuhkan semangat dialog antar-agama maka yang perlu dikedepankan adalah konsep pluralisme. Ini penting sebab kita hidup dalam dunia yang pluralistis. Di sini dituntut sebuah etika pluralisme. Etika pluralisme memandang agamanya bukan sebagai yang lebih benar dari agama orang lain.

Setiap agama mempunyai rujukan kebenarannya sendiri dan karena itu mempunyai hak hidup dan mengembangkan dirinya. Perlu diingat, Indonesia bukan negara agama. Benar bahwa Indonesia secara resmi mengakui ada enam agama yang dianut rakyatnya. Namun tidak ada satu agama pun yang diklaim sebagai yang paling benar. Pluralitas agama ini mendorong kita berpaling dari sikap ekslusif menuju etika pluralisme.

Menangkal radikalisme agama merupakan sebuah kemendesakan dewasa ini. Pasalnya fenomena pincang kemanusiaan ini telah menjatuhkan banyak korban. Di sini terlihat jelas hakikat kemanusiaan direduksi hingga titik ekstrim. Hidup manusia tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang terberi. Kehidupan menjadi nirmakna di hadapan terorisme dan radikalisme agama.

Padahal setiap agama besar menginginkan dua hal utama, yaitu keselamatan sekarang- dan kemuliaan bagi Tuhan. Persoalannya agama yang adalah sarana diubahwujudkan menjadi tujuan dalam kesadaran para penganutnya. Atas nama agama keselamatan orang lain dikorbankan. Seolah-olah agama yang harus diselamatkan dan bukan manusia.

Selain membangun etika pluralisme, di sini ditawarkan sebuah pendekatan etis pro-eksistensi. Pro-eksistensi menekankan kebersamaan –berbeda dengan pandekatan ko-eksistensi yang hanya menekankan kesamaan hak agama-agama untuk bereksistensi-  agama-agama meski mereka berbeda. Pro-eksistensi mengakui kesamaan hak untuk bereksistensi serentak pula menuntut kebersamaan hidup agama-agama.

Pendekatan ini juga menuntut setiap agama untuk bertanggungjawab atas kebersamaan hidup. kata kunci dalam etika pro-eksistensi adalah hidup. Di sini nampak jelas kontras antara pendekatan pro-eksistensi dalam konfrontasinya dengan terorisme dan radikalisme agama yang memandang nihil arti sebuah kehidupan. Hidup dan kehidupan adalah pemberian sang pencipta bukan ciptaan manusia beragama. Sebagai sesuatu yang terberi hidup semestinya dijaga keberlangsungannya, bukan dibinasakan.

Pro-eksistensi menuntut kelompok-kelompok (baca:agama-agama) untuk tidak sekadar hidup secara berdamai tapi juga tanggap terhadap kebutuhan dan persoalan kelompok lain.

Penutup

Radikalisme agama merupakan persoalan mondial yang menuntut keterlibatan banyak pihak untuk memeranginya. Dalam konteks keindonesiaan kita, merupakan sebuah kemendesakan memeranginya.

Stabilitas hidup berbangsa dan bernegara tidak akan terjadi jika di tengah pluralitas kita sebagai satu bangsa masih ditengarai oleh adanya konflik antar-agama (radikalisme agama) serta terorisme. Di hadapan persoalan bernuansa keagamaan seperti ini tidak ada senjata yang lebih ampuh untuk memeranginya selain membangun dialog antar-agama.

Dialog antar-agama mensyaratkan adanya keterbukaan dari setiap pemeluk agama untuk menanggalkan ekslusivisme serentak mengedepankan pluralisme. Sebagai bangsa yang pluralis, stabilitas hidup berbangsa dan bernegara tidak mungkin tercapai jika kita mengabaikan paham pluralisme.

Pluralisme mengajarkan bahwa tidak ada satu agama pun yang punya klaim kebenaran mutlak yang dengannya memandang rendah agama lain. Di sini tidak ada lagi klaim kebenaran overdosis. Di hadapan fakta pluralitas agama sebuah pendekatan etis pro-eksistensi mutlak perlu guna menangkal radikalisme agama dan terorisme. Pro-eksistensi menjunjung tinggi kehidupan arti dan nilai sebuah kehidupan. Hidup merupakan credo pendekatan etis pro-eksistensi.

Sumber :

Dae, Max Biae (Ketua redaksi), Terorisme dan Peradaban, Seri Buku Vox, No. 49/1/2004, Maumere:STFK Ledalero, 2004

Hayat, Bahrul, Mengelola Kemajemukan Umat Beragama, Jakarta:PT. Saadah Cipta Mandiri, 2012

Jegalus, Norbertus, Membangun Kerukunan Beragama dari Ko-eksistensi sampai Pro-eksistensi, Maumere: Ledalero, 2011

Kleden, Paul Budi, Dialog Antaragama Dalam Terang Filsafat Proses Alfred North Whitehead, Maumere:Ledalero, 2002

Panda, Herman P., Agama-agama dan Dialog Antaragama dalam Pandangan Kristen, Maumere:Ledalero, 2013

(*)

Komentar

News Feed