oleh

Konsistensi Pembelajaran Daring di Tengah Covid-19

-Opini-351 views

Berkenaan dengan pembelajaran daring yang dicanangkan sebagai upaya pembelajaran di tengah pendemik COVID-19, terdapat pula strategi-stretegi yang bisa memungkinkan pembelajaran tersebut dapat dilakukan meskipun terdapat indikasi yang kurang efektif. Mau tidak mau pembelajaran daring harus dilakukan agar konsumen pendidikan tidak mengalami kekeringan intelektual. Strategi yang dibangun lebih berkaitan dengan proses kegiatan dan metode agar konsumen pendidikan lebih mencapai tujuan pembelajaran.

 

  Penulis: Eufronius Meka Lado

(Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

===============

Situasi Pandemik COVID-19 membuat masyarakat dunia menjadi resah dan takut. Keresahan dan ketakutan tersebut mengartikan psikologi manusia terganggu dengan situasi pandemik yang sedang mewabah dunia ini. Bukan hanya aspek psikologis melainkan aspek-aspek lainnya ikut dilibatkan seperti sosial, ekonomi, pendidikan dan lain sebagainya.

Inilah tanda bahwa wabah COVID-19 ini sangat berbahaya dan memberikan ancaman bagi kehidupan manusia. Sejak Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan pemerintah pada 18 Maret 2020 segala kegiatan di dalam dan di luar ruangan di semua sektor sementara waktu ditunda demi  mengurangi  penyebaran Corona Virus atau COVID-19 terutama pada  bidang  pendidikan.

Pada  tanggal 24 Maret 2020, Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran COVID-19, dalam Surat Edaran tersebut dijelaskan bahwa proses belajar dilaksanakan di rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dan juga dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Belajar  di rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi COVID-19. Metode belajar yang dicanangkan tersebut belum sepenuhnya menjadi puncak atau bahkan yang paling baik tetapi ada kelemahan-kelemahan pula dalam penawaran metode pembelajaran daring di tengah pandemik COVID-19 ini.

Secara umum pembelajaran diartikan pembelajaran yang berlangsung antara pengajar dan pelajar yang diajarkan. Jadi ada suatu komunikasi yang hadir antara pengajar dengan pelajar. Komunikasi yang hadir mengandaikan pelajar juga siap menerima apa yang diberikan dan menanggapi apa yang diajarkan. Menurut Azhar, pembelajaran  adalah segala sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan  dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan  peserta didik.

Alat yang digunakan dalam pembelajaran  sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan, sesuai dengan karakteristik peserta didik, dan dipandang sangat efektif untuk menyampaikan informasi, sehingga siswa dapat memahami  dengan baik.

Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pendidik harus memenuhi kualifikasi sesuai dengan tingkatan peserta didik yang diajari, mata pelajaran yang dirampu, dan ketentuan  lainnya. Di samping itu, pendidik harus menguasai sumber belajar dan media pembelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran.

Menurut Sagala, pembelajaran adalah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Berkaitan dengan hal ini ada dua titik penekanan yang harus diperhatikan secara saksama yaitu dari pengajar yang harus mempersiapkan segala sesuatu bagi pelajar dan pelajar secara aktif meresponnya melalui tindakan yaitu belajar.

Dari term pembelajaran, tentu mempunyai keterkaitan dengan pembelajaran daring di masa pandemik ini. Pembelajaran daring sangat familiar apalagi di masa pandemik ini dengan sebutan pembelajaran online (online learning). Adapun istilah lainnya yang biasa digunakan dikalangan masyarakat yaitu pembelajaran jarak jauh (learning distance).

Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang berlangsung di dalam jaringan di mana pengajar dan yang diajar tidak bertatap muka secara langsung.

Menurut lsman, pembelajaran  daring adalah pemanfaatan jaringan internet dalam proses pembelajaran. Sedangkan menurut Meidawati, dkk pembelajaran daring sendiri dapat dipahami sebagai pendidikan formal yang diselenggarakan oleh sekolah yang peserta didik dan instrukturnya (guru) berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem komunikasi  interaktif untuk keduanya dan berbagai sumber daya menghubungkan yang diperlukan di dalamya.

Pembelajaran daring dapat dilakukan dari mana dan kapan saja tergantung pada ketersediaan alat pendukung yang digunakan dan situasi yang memungkinkan untuk dilakukan pembelajaran. Jadi penekanan pada pembelajaran daring tergantung situasi dan ketersediaan yang memungkinkan. Inilah yang menjadi tantangan bersama di masa pandemik COVID-19.

Berkenaan dengan wabah yang sedang menyerang di seluruh dunia. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus secara resmi mengumumkan Virus Corona (COVID-19) sebagai pandemi, Rabu (11/3/2020).

Pandemi terjadi jika suatu penyakit menular tersebar dengan mudah dari manusia ke manusia di berbagai tempat di seluruh dunia. Hingga saat ini jumlah kasus COVID-19 di luar Cina telah meningkat 13 kali lipat dalam dua pekan terakhir dan merasa cemas dengan “tingkat kelambanan yang mengkhawatirkan”.

Tedros mengatakan bahwa penyebutan pandemi tak berarti WHO mengubah sarannya tentang apa yang harus dilakukan oleh banyak negara. Namun, ia meminta pemerintah untuk mengambil “tindakan mendesak dan agresif”. Dengan ini perkumpulan-perkumpulan yang melibatkan banyak orang ditiadakan dan dilakukan dari rumah masing-masing sehingga bisa membantu memutuskan mata rantai penyebaran COVID 19 ini.

Alasan demikian juga dilakukan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Nadiem Makarim, mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran COVID 19, dalam Surat Edaran tersebut dijelaskan bahwa proses belajar dilaksanakan di rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dan juga dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar  yang  bermakna  bagi  siswa.

Pembelajaran daring yang dicanangkan itu memungkin bisa dilakukan dengan upaya untuk memutuskan mata rantai COVID-19 ini. Atas dasar dan berbagai macam pertimbangan-pertimbangan mau tidak mau pembelajaran daring ini juga tetap dilakukan oleh kaum intelektual muda sehingga mereka juga masih bisa belajar meskipun dari rumah mereka masing-masing. Memang idea yang dicanangkan itu juga tidak serta merta mendapatkan respon yang positif dari berbagai kalangan-kalangan tetapi itu akan kita bahas dalam wacana berikutnya. Di sini kita menekankan pembelajaran daring sebagai idea di tengah COVID 19.

Idea yang dicanangkan ini dibuat dan diedarkan untuk mengisi waktu-waktu bagi kaum intelektual muda sehingga bisa memungkinkan mereka untuk mendapatkan pelajaran dari guru atau dosen meskipun tidak seefektif pembelajaran face to face. Idea yang dibangun dan diluncurkan ini mempermudah para kaum intelektual untuk belajar dari rumah mereka masing-masing.

Dengan idea ini bisa dimungkinkan pemutusan mata rantai penyebaran Covid dari dunia pendidikan. Tetapi bukan hanya dunia pendidikan yang menjadi acuan melainkan semua masyarakat untuk mengambil bagian secara aktif dan mengikuti anjuran protokol kesehatan untuk memutuskan mata rantai penyebaran COVID-19. Ide konsistensi pembelajaran daring ini berdasarkan pada prinsip, hukum, ketentuan-ketentuannya, dan media yang digunakan.

Dalam suatu pembelajaran harus ada prinsip yang menjadi pedoman terjadinya sesuatu, dalam kaitan dengan ini adalah pembelajaran daring. Prinsip yang dibangun harus mencapi pada taraf bonum commune (kebaikan bersama). Prinsip pembelajaran daring adalah terselenggaranya pembelajaran yang bermakna, yaitu proses pembelajaran yang berorientasi pada interaksi dan kegiatan  pembelajaran. Pembelajaran bukan terpaku pada pemberian tugas-tugas belajar kepada  siswa. Tenaga pengajar dan yang diajar  harus tersambung dalam proses pembelajaran daring.

Menurut Munawar di dalam Padjar, dkk (2019), perancangan sistem pembelajaran Daring harus mengacu pada 3 prinsip yang harus dipenuhi yaitu:

  1. Sistem pembelajaran harus  sederhana   sehingga  mudah untuk  di pelajari.
  2. Sistem pembelajaran harus dibuat personal sehingga pemakai sistem tidak  saling         tergantung.
  3. Sistem harus cepat dalam proses pencarian materi atau menjawab soal dari hasil perancangan sistem yang di kembangkan.

Dalam suatu penetapan harus mempunyai dasar hukum agar tidak melanggar suatu etika dalam sistem penerapan tersebut. Dasar-dasar hukum itu sebagai berikut:

  • Keppres (Keputusan Presiden) No. 11 Tahun 2020, tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19.
  • Keppres No. 12 Tahun 2020, tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus (Covid-19) Sebagai Bencana
  • Surat Keputusan Kepala BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)Nomor 9 tahun 2020, tentang Penetapan Status Keadaan Tertentu, Darurat Bencana Wabah Penyakitakibat Virus Corona di Indonesia.
  • SE Mendikbud No. 3 Tahun 2020, tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan
  • Surat Mendikbud No. 46962/MPK.A/HK/2020, tentang Pembelajaran secara           Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka PencegahanPenyebaran COVID-19  pada Perguruan
  • SE Mendikbud No. 4 Tahun 2020, tentang pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam masa darurat penyebaran virus
  • Surat Edaran Menteri PANRB (Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) No. 19 Tahun 2020, tentang Penyesuaian Sistem Kerja Aparatur Sipil Negara        dalam Upaya Pencegahan Penyebaran COVID 19 di Lingkungan lnstansi Pemerintah.

Ketentuan-ketentuan pembelajaran daring telah dicantumkan pada SE Mendikbud No. 4 Tahun 2020, tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran Virus Corona dengan batasan-batasannya sebagai berikut:

  • Siswa tidak dibebani tuntutan menuntaskan  seluruh capaian  kurikulum   untuk  kenaikan
  • Pembelajaran dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.
  • Difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai  Covid-19.
  • Tugas dan aktivitas disesuaikan dengan minat dan kondisi siswa, serta mempertimbangkan kesenjangan akses dan fasilitas  belajar di rumah.
  • Bukti atau Produk aktivitas belajar dari rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif (mutu pendidikan) dari guru, tanpa harus  berupa  skor/nilai  kuantitatif (berdasarkan jumlah).

Penggunaan media harus mempunyai kesesuaian dalam pembelajaran daring dalam artian antara pengajar dan pelajar harus menyepakati media online apa yang akan digunakan sehingga tidak menghasilkan suatu pengertian yang ambigu.

Beberapa platform   atau   media online yang  dapat digunakan dalam pembelajaran online seperti: E-learning, Edmodo, Google meet, Y-Ciass, Google class, Webinar,  Zoom, Skype, Webex, Facebook live, You tube live, schoology, Whats App, Email, dan Messenger. Semua sarana ini dapat ditemukan diaplikasi Play Store dan Google.

Suatu perwujudan pembelajaran tentu mempunyai implementasi tujuan ke arah yang baik dan memungkinkan dengan keadaan-keadaannya. Untuk mewujudkan upaya yang akan direalisasiakan tentu harus dibangun suatu strategi-strategi yang bisa menunjang kebaikan bersama. Artinya meminimalisir segala kecenderungan-kecenderungan yang akan terjadi.

Pendidikan yang dibangun pra COVID-19 adalah pendidikan face to face dengan upaya untuk menumbuhkan rasa semangat dan daya sosialitas dalam kehidupan.Kehidupan sosial manusia tentu membawa arti bahwa sesama manusia saling membutuhkan. Manusia tidak pernah hidup dalam kesendiriaan melainkan selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Dalam dunia pendidikan diterapkan hal demikian pula. Ketika suatu pembelajaran yang terjadi rasa kebutuhan kepada orang lain sangatlah tinggi demi memperoleh suatu pengetahuan. Sebab manusia adalah makhluk yang selalu mencari dan tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Sehingga manusia dikenal sebagai animal rationale.

Berkenaan dengan pembelajaran daring yang dicanangkan sebagai upaya pembelajaran di tengah pendemik COVID-19, terdapat pula strategi-stretegi yang bisa memungkinkan pembelajaran tersebut dapat dilakukan meskipun terdapat indikasi yang kurang efektif. Mau tidak mau pembelajaran daring harus dilakukan agar konsumen pendidikan tidak mengalami kekeringan intelektual. Strategi yang dibangun lebih berkaitan dengan proses kegiatan dan metode agar konsumen pendidikan lebih mencapai tujuan pembelajaran. Adapun strategi-strateginya yaitu sebagai berikut:

  1. Penetapan Menejemen Waktu

Waktu sangat penting dalam suatu pembelajaran agar konsumen pendidikan tidak merasa bosan dengan keadaan yang dilakukannya. Dengan waktu konsumen pendidikan lebih terampil dalam melakukan sesuatu hal. Sebab ada pepatah yang mengatakan bahwa waktu adalah uang. Dengan pengaturan waktu pada sistem pembelajaran daring memacu konsumen pendidikan lebih bersikap disiplin terhadap waktu.

Misalnya dalam pengiriman tugas atau perkuliahan sudah ditetapkan batasan waktu dari produsen pendidikan atau pengajar sesuai dimungkinkan dengan situasi dari konsumen pendidikan. Dalam hal ini pula konsumen pendidikan harus mencari solusi atau cara agar tidak terjadi keterlambatan.

  1. Persiapan Teknologi yang Dibutuhkan

Berkaitan dengan teknologi yang dibutuhkan harus adanya kesepakatan yang dilakukan oleh produsen pendidikan dan konsumen agar tidak terjadi diskomunikasi di dalamnya. Misalnnya penggunaan fitur-fitur atau media online harus disampaikan dan disepakati.

  1. Belajar dengan Serius

Kesalahan yang sering dilakukan konsumen pendidikan, sebagaimana dilansir dari Psychology Today adalah tidak fokus ketika melakukan pembelajaran daring. Dengan itu para konsumen disarankan untuk menetapkan ruangan khusus dan dijauhkan dari gangguan-gangguan untuk menonton video yang tidak berguna selama pembelajaran daring sedang berlangsung.

  1. Jaga Komunikasi Pengajar dan Teman Kelas

Di masa pandemik COVID-19 ini harus dibangun suatu keterampilan dan kreatifitas penggunaan media online untuk keperluan-keperluan yang menguntungkan. Berkaitan dengan ini pengajar atau produsen pendidikan harus tetap terlihat dan membangun komunikasi dengan konsumen pendidikan serta konsumen sendiri harus berkomunikasi pula dengan lainnya jika terjadi kepincangan dalam pembelajaran daring.

Dampak Pembelajaran Daring

Dampak positif

  • Pembelajaran Daring Mendorong Percepatan Transformasi Pendidikan

Sistem  pendidikan   jarak jauh  atau  yang  lebih   dikenal   dengan pembelajaran  daring  tentunya   membutuhkan  Information Technology (IT).  Hal   inilah   yang memicu adanya percepatan transformasi teknologi pendidikan yang selaras   dengan era revolusi 4.0 yang terus bergerak maju.

Era ini tentunya akan   berdampak pada peran pendidikan khususnya peran pendidiknya. Jika peran pendidik masih mempertahankan sebagai penyampaian pengetahuan, maka mereka  akan  kehilangan peran seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan metode pembelajarannya.

Kondisi tersebut harus diatasi dengan  menambah kompetensi  pendidik yang mendukung pengetahuan untuk eksplorasi dan penciptaan melalui pembelajaran  mandiri. Oleh karena itu, sejalan dengan   upaya bangsa Indonesia dalam menyongsong era  industri 4.0, di mana semua  aspek kehidupan tidak terlepas dari sentuhan teknologi. Semua sektor kehidupan   terutama sektor pendidikan harus mampu  beradaptasi dan mengadopsi teknologi dan kemajuan sektor tersebut untuk bisa tetap bertahan dan eksis di tengah badai efek destruktif (mengganggu kemapanan) industry 4.0 yang semakin marak.

Jika   sebelumnya berbagai wacana tentang kebijakan pendukung, serta sosialisasi tentang era industri 4.0 belum berhasil membuat institusi pendidikan  tinggi menggapai progres yang signifikan (penting), maka saat ini  COVID-19  justru memberikan dampak yang luar biasa dalam transformasi digital pendidikan di Indonesia.

  • Pembelajaran Daring  Meningkatkan  Produktivitas

Pada masa pandemi COVID-19, sektor pendidikan berupaya mematuhi kebijakan yang dilakukan oleh pemimpin negeri dengan melakukan pembelajaran secara daring. Dengan demikian para pengajar dan mahasiswa atau pelajar dituntut untuk menyesuaikan diri di dalamnya dengan tetap meningkatkan produktivitas.

Produktivitas di lingkungan lingkungan pendidikan ditandai dengan maraknya kegiatan belajar mengajar. Kegiatan ini memberikan semangat  para  dosen atau guru untuk terlibat sebagai pembicara demi  menunjang tugasnya. Selain dosen atau guru, para mahasiswa atau pelajar juga dilibatkan dalam berbagaikegiatan  kompetisi dikampus atau sekolah secara online. Hal yang tidak biasa dilakukan semasa belajar offline ini mendorong mahasiswa atau pelajar untuk belajar dan berjuang dalam beragam kompetisi di tingkat lokal, wilayah nasional, maupun internasional secara online.

  • Pembelajaran Daring Menimbulkan Maraknya Kreativitas Tanpa Batas

Pandemi  COVID-19 memberikan dampak positif untuk membuat ide-ide baru bermunculan. Para ilmuwan, peneliti, dosen, dan mahasiswa berupaya  melakukan eksperimen  untuk menemukan Vaksin  COVID-19. Selain itu, para akademisi berjuang untuk terlibat dalam kegiatan pertemuan ilmiah secara online dan membangun relasi untuk melakukan kolaborasi penulisan buku semakin meningkat, para akademisi juga semakin  kreatif  dalam  proses  belajar  mengajar secara daring. Di mana para akademisi berupaya menyesuaikan diri dalam penggunaan aplikasi pembelajaran seperti, Google Meet, Google Classroom, Zoom, Schoology, Skype, Edmodo dan lain  sebagainya. Kemudian,  para dosen  mendesain  materi  pembelajaran lebih kreatif dan inovatif dengan tujuan para mahasiswa dapat memahami  materi yang diajarkan.

Kreativitas  tanpa   batas ini juga dilakukan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat di tengah  Pandemik COVID-19 yaitu dengan membuat masker yang bisa dicuci maupun   meracik hand  sanitizer dan dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian pihak kaum intelektual kepada  masyarakat.

Dampak  Negatif  

Adanya  beberapa  aspek di antaranya:

  • Penguasaan IT

Penyelenggaraan pendidikan bukan hanya di ruang tertutup dengan bukutetapi pendidik revolusi teknologi inforrnasi telah  mengubah cara kerja  manusia mulai  dari cara berkomunikasi, cara memproduksi, cara mengkoordinasi, cara berpikir,  hingga cara belajar dan mengajar, selain itu, kemajuan teknologi informasi telah  mengaburkan batas organisasi, pasar, masyarakat, ruang dan waktu.

Pada  saat ini belum semua pihak menguasai teknologi infiormasi secara maksimal. Dapat  dilihat secara keseluruhan kondisi para pendidik di Indonesia tidak semuanya  memahami penggunaan teknologi informasi. Hal  ini dapat  dilihat  pada  pendidik  senior  yang  lahir pada  tahun  sebelum  1980-an. Kendala  teknologi tersebut membatasi mereka dalam mengimplementasikan media pembelajaran secara daring.

Hal lain dialami oleh para mahasiswa yang kondisinya hampir sama  dengan para pendidik yang dimaksud yang penuh dengan keterbatasan dalam pemahaman penggunaan teknologi. Ini dapat dilihat pada keberadaan para  mahasiswa yang berada di daerah pinggiran, pedesaan, terlebih lagi mereka  yang  terbiasa dalam dengan sistem pembelajaran secara tatap muka dan tidak terbiasa  karena tidak memiliki perangkat teknologi informasi yang bisa diakses untuk  belajar.

  • Sarana dan  Prasarana yang  Kurang  Memadai

Di masa pandemik COVID-19, kaum intelektual membutuhkan sarana dan prasarana yang menunjang proses pembelajaran.  Perangkat  pendukung teknologi yang digunakan oleh para dosen  dan mahasiswa dapat berupa komputer atau laptop dan handphone android  yang  bisa mengakses aplikasi pembelajaran.

Saat ini, perangkat pendukung teknologi  informasi pastinya memiliki harga yang mahal. Dengan demikian banyak daerah di wilayah Indonesia yang dosen dan mahasiswanya dalam kondisi ekonomi masih mengkhawatirkan. Apalagi ditambah dengan adanya Pandemik  COVID-19 yang menuntut para pekerja harus bekerja dari rumah.

Hal ini yang memicu  peningkatan kesejahteraan pihak terkait masih terbatas dalam menikmati sarana dan prasarana teknologi informasi. Dengan adanya keterbatasan tersebut, mengakibatkan para mahasiswa tidak dapat melibatkan diri secara maksimal dalam pembelajaran daring.

  • Akses Internet yang Terbatas

Perangkat yang digunakan dalam proses pernbelajaran secara daring tentunya membutuhkan jaringan internet. Pada kenyataannya sampai detik ini jaringan internet benar-benar masih belum merata di seluruh penjuru negeri  ini. Tidak   semua lembaga pendidikan dapat menikmati internet. Hal lain adalah tidak semua pendidik dan mahasiswa memiliki jaringan internet yang cukup ditempat tinggalnya masing-masing.

Hal ini yang mengakibatkan banyaknya mahasiswa tidak terlibat dalam proses pembelajaran secara daring. Jika ada pun kondisi jaringan internetnya masih belum mampu mengkover media pembelajaran secara daring.

  • Efektivitas dalam Penilaian

Kerugian besar melanda para pendidik dan mahasiswa ketika terjadi penutupan kampus atau sekolah saat badai COVID-19 mulai menyebar. Banyak kegiatan  ujian yang semestinya dilakukan dalam kondisi tatap muka sekarang mendadak  berubah menjadi online. Penilaian yang dilakukan oleh pihak lembaga pendidikan barangkali dianggap kurang urgen (mendesak pelaksanaan). Tetapi bagi keluarga informasi, penilaian itu sangat penting.

Dengan beranggapan hilangnya informasi mahasiswa makaakan  berdampak pada penilaian yang diberikan oleh dosen. Mahasiswa yang mampu dari segi ekonomi terlihat tetapi  kalah pengetahuan akan  mendapat nilai yang lebih baik ketimbang mahasiswa yang lemah dari segi ekonomi tetapi menang  pengetahuan, justru memperoleh nilai yang rendah. Hal ini memicu pupusnya semangat belajar mahasiswa yang telah mampu menguasai  banyak keterampilan  di tahun  ini tetapi  tidak memperoleh penilaian yang semestinya.

Pembelajaran daring sejauh efektif jika situasi dan sarana serta prasarana yang memungkin untuk dilakukan. Berkenaan dengan COVID-19 semua merasa dilema ketika berbuat sesuatu. Jika keluar rumah mempunyai resiko yang amat besar dan jika di dalam rumah resikopun juga sangat besar. Tetapi mau tidak mau harus dilakukan demi menunjang kehidupan. Itulah segi ekonomi. Tetapi dunia pendidikan juga mempunyai kemiripan dan kesinambungan dengan segi ekonomi. Pembelajaran daring yang dicanangkan merupakan salah satu solusi dalam dunia pendidikan demi menunjang dan mengisi waktu konsumen pendidikan agar tidak kering di masa pandemik COVID-19.

Pembelajaran daring memberikan banyak manfaat dan kreatifitas bagi kaum intelektual muda agar menjadi generasi yang bermutu dan berkualitas di kemudian hari.

DAFTAR PUSATAKA

  1. Gusty, Sri, dkk.,Belajar Mandiri: Pembelajaran Daring Di Tengah Covid 19, Medan: Yayasan Kita Menulis, 2020.
  2. Pohan, Albert Efendi, Konsep Pembelajaran Daring Berbasis Ilmiah, Purwodadi-Grobongan: Cv. Sarnu Untung, 2020.
  3. Wahyu Aji Fatma Dewi, Jurnal Ilmu Pendidikan Volume 2 Nomor 1 April 2020.
  4. https://tirto.id/eEvE
  5. https://siedoo.com/berita-30442-berikut-4-strategi-pembelajaran-daring-di-masa-pandemi-covid-19/

(*)

Komentar

News Feed