oleh

Diskursus Kosmosentrisme dan Konsekuensi Logisnya Bagi Manusia

-Opini-189 views

Penulis: Mardyka Bnani

(Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

========================

Abstraksi

Manusia selalu bergerak; dari yang ‘ini’ kepada yang ‘itu’.  Ini secara implisit berarti  bahwa manusia selalu berada dalam proses perubahan. Paradigma tentang perubahan itu sendiri selalu bersumber dan terkonsentrasi dalam ilmu pengetahuan sebagai ranah kognitif manusia. Salah satu fase/tahap perkembangan pengetahuan manusia dalam filsafat ilmu yang akan dibahas dalam artikel ini ialah tahap kosmosentrisme, di mana alam semesta menjadi tolak ukur dan rujukan utama objek diskursus. Terhadap suatu paradigma yang hampir ‘dilupakan’ ini penulis mencoba menelisik secara historis dan kemudian mengangkatnya pada pandangan dunia dewasa ini yakni manusia dan ilmu pengetahuan sebagai subjek utama yang seringkali dibekali dan diwarnai oleh berbagai kepentingan, kesan-kesan, dan sikap pesimistik yang bersifat destruktif terhadap yang lain.

Kata Kunci: Kosmosentrime, Ilmu Pengetahuan

 

Diskursus Kosmosentrime

Tak bisa disangkal bahwa ilmu pengetahuan muncul dari peradaban Yunani. Ini bermula dari para filsuf Yunani yang mendiami pantai dan pulau-pulau Mediteranian Timur, di akhir abad ke-6 dan ke-5 SM. Karya-karya mereka hanya dikenal melalui cuplikan-cuplikan, rujukan-rujukan dan kutipan-kutipan singkat yang dibut oleh para pengarang yang hidup belakangan, mungkin setelah ratusan tahun. Cuplikan-cuplikan itu kemudian diseleksi dan menjadikannya tampak lebih rasional dan ilmiah daripada sekadar sebuah pembenaran.

Alam semesta menjadi perhatian satu-satunya yang diamati dan dipahami dengan menggunakan akal budi, dan selanjutnya direfleksikan secara spekulatif oleh filsuf-filsuf awal Yunani Kuno pra-Socratik.  (Ravertz,2009: 7-8).

Tujuan permenungan itu ialah demi menemukan apa yang disebut sebagai “asas” atau “prinsip” “dasar” (arkhe, principium, dan principle) yang dengannya kemudian alam semesta dipercayai pada mulanya terbentuk, setelah melalui pengamatan pada fenomena-fenomena dan gejala-gejala alam yang ditemui.

Sebagai contoh ucapan termasyur Thales yang dikenal sebagai filsuf tertua, ”semuanya adalah air” sebenarnya diikuti dengan cuplikan “dan dunia dipenuhi dengan dewa-dewa”, kemudian diikuti “udara” (Anaximenes), “to apeiron/tak terbatas” (Anaximandros), “keteraturan” (Anaxagoras), “segala sesuatu berubah/pantha rei” (Heraclitus),” tak ada sesuatu pun yang berubah” (Parmenides). (Russell,2016).

Kendati demikian tempaknya dapat dipercaya bahwa para filsuf Yunani kuno lebih  tertarik pada penjelasan tentang fenomena-fenomena dunia  pencerapan inderawi (perceptual world).

Para filsuf (Pra-Sokratik) memandang alam semesta dan menemukan suatu tertib yang tidak berubah-ubah, yaitu suatu makrokosmos.  Dengan ‘memandang’ makrokosmos, sang filsuf menyadari adanya gerak alamiah dan nada harmonis yang sama dalam dirinya sendiri. Apa yang dilakukannya adalah menyesuaikan diri dengan tertib alam semesta itu.

Tertib harmonis makrokosmos merupakan keadaan yang baik dan pengetahuan akan yang baik itu mendorongnya untuk mewujudkan tertib itu dalam tingkah laku kehidupannya sendiri. dengan jalan ini sang filsuf melakukan kegiatan yang disebut mimesis (meniru). “Kontemplasi atas kosmos”, dengan demikian , menjadi tingkah laku praktis melalui kesadaran akan dirinya sebagai mikrokosmos. (Hadirman, 2019:23).

Dengan demikian pada fase/tahap Kosmosentrisme ini menjadi tahap ontologis sebab fase ini merupakan awal mula/ babak baru dalam ilmu pengetahuan yang muncul kemudian.

Konsekuensi-logis dari Diskursus Kosmosentrisme bagi Manusia Dewasa ini

Dari pemahaman sederhana- mendasar-menukik tentang “kontemplasi atas kosmos” yang diberikan oleh para filsuf Pra-Soktratik di atas kita memasuki suatu atmosfer baru dalam ilmu pengetahuan. Suatu kemerdekaan ontologis di mana ilmu pengetahuan melepaskan diri dari belenggu mitos-mitos yang seringkali menjadi parameter orang berpikir dan bertindak. Sehingga mitos sering membelokan pemahaman orang untuk mencapai kebenaran yang ontologis.

Sebagai konsekuensi-logis dari pemahaman yang diberikan oleh para filsuf Pra-Soktratik ialah:

Pemahaman filsuf-filsuf awal ‘memerdekakan’ kita dari ‘keterbatasan pengetahuan’ yakni mitos-mitos yang seringkali timbul dan berkembang dalam kehidupan sosial-budaya dalam masyarakat yang bersifat ‘dogmatis’ dan cenderung mengandung “anakronisme-anakrnisme” yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Semangat “pemberontakan tradisi” yang dimulai oleh Para Filsuf awal itu menghantar ‘otoritas ratio’ kepada suatu kemerdekaan berpikir dengan dasar dan prinsip yang bisa dipertanggungjawabkan bukan berdasarkan “persepsi orang” atau “ “menurut ceritera di kampung ini/itu..”  atau semacamnya.

Pada posisi ini, orang mungkin “mencurigai” para filsuf awal telah menciptakan suatu ilmu atau cara berpikir baru yang membuat orang kemudian menjadi manusia anti-budaya sendiri, melainkan bagaimana budaya itu dipahami secara lebih bertanggung jawab dengan bantuan akal budi, usaha memahami dan merefleksikan dan kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan yang spekulatif logis.

Keberanian untuk menelisik Kosmos (arkhe) adalah sebuah keberanian yang radikal/mendasar sebab mereka berani keluar dari pemahaman yang berkembang dalam budaya mereka saat itu. Keberanian para filsuf ini memengaruhi kita bagaimana berpikir secara spekulatif. Berpikir spekulatif menjadi salah satu ciri terpenting dalam filsafat. Sifat filsafat yang spekulatif ini tidak diartikan secara negatif sebagai sifat gambling. Melainkan selalu dalam usaha mencari yang baru.  Dalam artian bahwa tindakan yang dimaksud ialah tindakan yang terarah, yang dapat dipertanggungjawabkan secara Ilmiah. (Darji Darmodiarjo & Shidarta, 2006: 17). Inilah cara berpikir yang kemudian tetap dipertahankan dalam berbagai cabang Ilmu pengetahuan dewasa ini.

Selain itu ketertarikan para filsuf awal pada pencahrian akan ‘arkhe’/prinsip  memberikan suatu sudut pandang berpikir yang tidak sekadar bersandar pada ‘kesan/persepsi’ melainkan didasarkan atas pemikiran yang “radikal”. Berpikir radikal dalam artian eksploratif tentunya membantu manusia dewasa ini untuk mengkonstruksi isi pemikirannya dalam memahami suatu fenomena dan atau peristiwa secara lebih mendalam, karena orang harus bepikir secara radikal yakni sampai pada akar-akarnya. Sehingga apa yang dipahami itu bukan berhenti pada pemahaman yang ‘dangkal’ melainkan ‘dalam’.

Akhirnya kita sampai pada pola pemahaman baru yang lebih altruistik tentang urgensitas posisi tahap Kosmosentrisme dari para filsuf Yunani kuno yang memberikan sumbangsih vital bagi manusia dan ilmu pengetahuan dewasa ini. Manusia dan Ilmu Pengetahuannya dewasa ini seharusnya memberanikan diri untuk lebih bersikap altruistik yakni pandangan yang menaruh perhatian pada kebaikan, kesejahteraan, dan kebahagiaan sesama (Mangunhardjana, 1997: 16).

Mengapa demikian? Manusia dan Ilmu pengetahuan perlu menaruh perhatian pada kebaikan dan kesejahteraan manusia tanpa menegasi yang lain sebab dengan jalan ini ‘khaos”/keteraturan dunia yang selalu dicita-citakan bukan menjadi suatu ketiadaaan/nothingness yang utopis melainkan menjadi sesuatu yang ada dan bisa dicapai.

Daftar pustaka

Darmodiarjo,  Darji dan Shidarta. 2006. Pokok-poko Filsafat Hukum. Jakarta: Gramedia

Hadirman, F. Budi. 2019. Kritik Ideologi; Menyingkap Pertautan Pengetahuan dan Kepentingan bersama

Jurgen Habermas. Yogyakarta: Kanisius.

Mangunhardjana,   A.  1997. ISME-ISME dari A sampi Z. Yogyakarta: Kanisius.

Ravertz,  Jerome R. 2009. The Philosophy of Science. Terj. Saut Pasaribu. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Russell, Bertrand, 2016. History of Western Philosophy and Its Conection with Political and Social Circumstances From the Earliest Times to the Present Day.

Terj. Sigit Jatmiko.,dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (*)

Komentar

News Feed