oleh

Sarvepalli Radhakrisnan: Menjadi Manusia Utuh

-Opini-164 views

Radhakrishnan mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang tak terbatas. Jiwa harus melewati berbagai tahap kehidupan yang diwujudkan. Keberadaan manusia adalah berbaris terus menuju realisasi keadaan rohani yang lebih tinggi itu. Nasib manusia adalah bahwa hal itu telah dilakukan dengan cara yang sangat konsisten. Jadi takdir utama manusia adalah perwujudan dari kesatuan.

Penulis: Fr. Rafael Bani

(Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

=====================

Pembukaan

Siapakah engkau? Siapakah aku? inilah pertanyaan lazim dengan jawaban paling sulit bagi setiap pribadi di era milenial ini. Pertanyaan di atas, memunculkan banyak jawaban yang mungkin tidak memberikan kepuasaan kepada (entah) siapa saja yang bertanya, sebab pertanyaan sederhana itu memerlukan jawaban yang menyentuh jati diri yang sesungguhnya dari seseorang, yakni kodrat diri yang paling dalam.

Kita hanya akan memberikan jawaban-jawaban jasmaniah ketimbang hakikat diri kita atau jati diri kita yang sejati. Dan dalam kegalauan kita, dalam ke-tersesatan kecil kita, ada orang hebat, cendekiawan India, filsuf pemberani, dan sastrawan cemerlang yang datang dan hadir memberi kelegaan, memuaskan dahaga kita yang mengalami kegersangan. Sarvepalli Radhakrisnan.

Sekilas, Siapakah Sarvepalli Radhakrisnan?

Sarvepalli Radhakrisnan adalah seorang akademisi, ia juga adalah seorang profesor, ia juga adalah seorang filsuf, ia juga adalah seorang sastrawan, dan ia juga adalah seorang politisi India. Lahir pada tanggal 5 September 1888 di Thiruttani dan meninggal tanggal 17 April 1975 di Madras. Istrinya bernama Sivakamu, bahtera rumah tangga dimulai pada tahun 1893, dan dikaruniai 6 orang anak.

Banyak hal yang telah Radhakrisnan lakukan, entah sebagai profesor, entah sebagai filsuf, entah sebagai sastrawan, dan entah itu sebagai politisi. Ia adalah filsuf yang berkontribusi sangat besar pada pembentukan identitas Hindu Kontemporer, ia dijuluki sebagai pembangun jembatan  antara India dan Barat.

Konsep Tentang Manusia

Menurutnya, aspek fisik manusia adalah kenyataan tetapi tidak bertentangan dengan sifat rohani utama jiwa. Baginya, kebenaran ilmiah bukan hanya hasil analisis dan sintesis melainkan roh atau kreativitas yang dimiliki manusia. Roh datang dalam diri manusia secara tiba-tiba dan  melalui intuisi spontan. Manusia bukanlah penonton yang melihat kemajuan dalam sejarah manusia, tapi seorang agen aktif yang mengungkap dunia yang lebih dekat dengan idealismenya.

Tidak ada pemisahan antara manusia luar dan manusia batiniah, karena “alam roh tidak terputus dari alam kehidupan … Dua perintah realitas, transenden dan empiris, berhubungan erat.” Filsafat Dr. S. Radhakrishnan mempertahankan ide manusia utuh sebagai makhluk multidimensional.

Takdir Manusia

Radhakrishnan mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang tak terbatas. Jiwa harus melewati berbagai tahap kehidupan yang diwujudkan. Keberadaan manusia adalah berbaris terus menuju realisasi keadaan rohani yang lebih tinggi itu. Nasib manusia adalah bahwa hal itu telah dilakukan dengan cara yang sangat konsisten. Jadi takdir utama manusia adalah perwujudan dari kesatuan.

Aspek pertama dari nasib manusia adalah bahwa kebebasan dari eksistensi yang dipersonifikasi. Keselamatan adalah perwujudan kerohanian yang lengkap. Ini sama dengan realisasi keilahian, oleh karena itu dia mengatakan takdir jiwa adalah kesatuan dengan Allah.

Dalam negara ini individu mampu membawa kedamaian batin yang sempurna dan koherensi dengan luar. Kenyataannya, persatuan seseorang merasakan kehadiran satu roh dalam semua pikiran, kehidupan dan seluruh tubuh.

Intelek dan Intuisi

Intuisi adalah fakultas yang dengannya mistik berhubungan dengan realitas atau Tuhan atau tanah alam semesta. Intuisi memberi kita pengetahuan integral, yang berbeda dan lebih unggul dari pengetahuan discursive yang diberikan oleh kecerdasan dan pengetahuan sensual. Intelek tidak kreatif dan produktif. Itu adalah logis di alam, dan diperlukan untuk komunikasi, bukti atau demonstrasi. Ini menciptakan dualitas subyek dan obyek. Intuisi adalah kreatif. Ini memberi kita pengetahuan tertentu, yang bebas dari perbedaan subyektif. Di dalamnya mengetahui dan menjadi adalah satu.

Penutup

Dari warta Radhakrisnan, kita belajar bahwa tidak ada keterputusan antara yang empiris dan yang transenden, melainkan yang empiris menghantar kita menuju kepada yang transenden. Bahwa untuk selamat dan sampai kepada akhir, puncak yang bahagia maka harus ada kesatuan jiwa yang utuh.

Manusia harus menjadi agen paling aktif dan tidak menjadi penonton. Manusia harus tampil sebagai pemain. Demikianlah yang diharapkan oleh Radhakrisnan. Mari menjadi pemain dan bukan penonton. Mari tampil sebagai manusia aktif. Bukan lagi terisolasi melainkan berkolaborasi. (*)

Komentar

News Feed