oleh

Pendidikan: Jalan Kebaikan Bagi Manusia Menurut Swami Vivekananda

-Opini-307 views

Pendidikan pada zaman sekarang menjadi sangat penting bagi semua kalangan manusia. Sebab pendidikan itu sendiri menjadi corong ilmu pengetahuan. Namun dalam praktiknya pendidikan belum mencapai titik maksimal atau dalam hal ini masih banyak orang-orang terdidik yang belum mampu menunjukkan kebaikan dari pendidikan. Bahkan tidak jarang orang-orang terdidik justru menjadi biang berbagai persoalan dalam negeri. Contoh sederhana yang dapat dilihat secara kasat mata adalah korupsi yang merajalela di antara orang-orang berpendidikan tinggi.

 

Penulis: Agustinus Timo Sasi

(Mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

====================

 

Pengantar

Pendidikan bukan hanya sekadar mengetahui dan memahami materi pelajaran, tetapi lebih dari itu, pendidikan merupakan kegiatan untuk mencapai emansipasi dan pencerahan. Hal ini terkait dengan terus menerus memperoleh komponen pengetahuan untuk menjadi manusia yang baik. Kemudian muncul pertanyaan di benak kita, “Siapakah Manusia yang Baik itu?” dan jika kita ikuti untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan ini, setiap individu memiliki pendapat yang berbeda karena mereka menggunakan istilah ‘Menjadi Baik’ sesuai dengan keyakinan dan pertimbangan mereka yang merupakan hasil dari kapasitas dan lingkungan individu.

Pendidikan mengarahkan dan membentuk pribadi manusia untuk berlaku dan bertindak dengan bijak dalam melakukan sesuatu. Sesuatu yang dilakukan memiliki nilai yang mampu membantu manusia untuk selalu menjadikan hidup sebagai makhluk yang rasional. Apa yang diperoleh dalam keseharian harus senantiasa diimplementasikan kepada publik sehingga menghasilkan buah dalam kelimpahan.

Itulah yang diutarakan oleh Swami Vivekananda yang menekankan pada kemanusiaan dan nilai-nilai budaya individu. Ada bermacam-macam kecenderungan yang membuat manusia menjadi berguna bagi orang lain dan menjadikan manusia baik dengan banyak pribadi yang mendewakan kekuasaan, harta dan kekuatan.

Konsep Pendidikan Menurut Swami Vivekanda

Swami Vivekananda percaya bahwa pengetahuan ada di dalam diri kita. Kita harus menemukan atau menyadarinya. Jika kita tahu potensi kita sendiri, kita pasti akan lebih baik. Dalam hal ini Swamiji mengatakan bahwa setiap dari kita biasanya tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi bawaannya. Dia percaya pada pendidikan sesuai dengan kecenderungan anak. Dia telah fokus pada konsentrasi pikiran dan untuk meningkatkan konsentrasi, dia menekankan pada ketaatan Brahamacharya. Beliau juga menjelaskan tujuan pendidikan, ciri-ciri guru yang baik dan juga murid yang baik. Dari semua ucapannya dia selalu membimbing kita untuk menjadi manusia.

Tujuan Pendidikan Menurut Swami Vivekanda

Bagi Swami, hakikat pendidikan sebagai sarana aktualisasi diri dan realisasi kapasitas diri sendiri dan tujuan utama pendidikan adalah untuk mengeluarkan yang terbaik yang ada pada setiap individu. Tujuan pendidikan yang diutarakan oleh Swami adalah mengembangkan keyakinan pada diri sendiri, mempersiapkan individu untuk memenuhi kebutuhan primer, untuk mempromosikan kemandirian dan persaudaraan universal,  dan untuk mengembangkan kehendak dan memungkinkan seseorang untuk menyadari keilahian yang terpendam dalam dirinya.  Membuat murid sadar akan kesempurnaan.

Konsep Pendidikan Manusia

Konsep pendidikan yang membuat manusia dapat dielaborasi dengan bantuan tujuan pendidikan yang disebutkan di atas. Vivekananda menekankan pada kualitas bawaan individu dan keyakinan seseorang pada kualitas tersebut. Dia sama-sama menekankan pengembangan kualitas umum tetapi dasar di antara individu untuk memenuhi kebutuhan primer mereka sendiri. Selain itu, Swami menyatakan pendidikan sebagai alat untuk meningkatkan kemandirian dan persaudaraan universal dan untuk mencapai kesempurnaan yang membantu mewujudkan ketuhanan dalam diri olehnya.

Manusia Utama Menurut Swami Vivekanda

Bagi Swami, manusia utama adalah manusia yang menyadari bahwa semua makhluk adalah sama, bersumber dari atma. Ia menyatakan bahwa,  mereka yang menyadari bahwa inti dari kehidupan ini adalah yang kekal yaitu Atman dimana atman itu yang tidak mati, tidak di basahi oleh air dan tidak terbakar oleh api. Atman ada dimana-mana karena atman tidak memiliki bentuk. karena tidak memiliki bentuk yang tidak terbatasi oleh waktu dan ruang, tidak bisa hidup di tempat tertentu, atman ada di mana-mana di semua tempat ada pada semua diri sendiri.

Sesungguhnya kepribadian manusia terdiri dari tiga lapisan-lapisan yaitu badan kasar, badan halus, dan Atman. Badan kasar adalah badan yang terlihat yang mengalami kelahiran dan kematian di berkahi dengan mata juga telingga. Ketika badan kasar hancur pada saat kematian tetapi organ internal yang terdiri dari pikiran, kecerdasan dan terdiri dari badan halus terbuat dari material yang halus bertahan dari kematian badan fisik, dan sisik yang bisa menghancurkan badan halus.

Atman yang melihat refleksi ini dan memberikan perintah serta arah. Ia adalah penguasa semua instrument ini, penguasa rumah, raja dalam tubuh kita. Keegoisan, kecerdasan, organ, instrumen, tubuh semua menjuruti perintahnya ialah yang memanifestasikan semua ini. Inilah atman yang ada dalam diri manusia. Jiwa itu abadi, badan kasar hancur pada saat kematian tetapi badan halus tidak mati sesuai dengan karma. Tetapi badan halus ini bertahan dari kematian dan mendapatkan tubuh yang baru. Hanya ketika jiwa mendapat pelepasan dan pencarian tubuh baru berhenti, badan halus hilang. Tetapi Atman tidak pernah hancur, karena atman bukan bagian karena atman tanpa bagian, namun bukan dari bagian kesatuan. Begitu juga dengan Atman yang tanpa awal dan akhir.

Tuhan diterima sebagai penyebab, dan jiwa serta alam adalah efek atau bagiannya dan bukan bagian yang pararel jadi bagianya jiwa menyatu denganya.

Atman adalah kesadaran yang murni, tetapi karena merupakan kombinasi prakerti atman merefleksikan ke-tidakmurnian dari kombinasi ini, seperti Kristal yang merefleksikan warna bunga yang ada di sekitar.

Relevansi Bagi Kehidupan Sehari-hari

Pada zaman sekarang ini banyak sekali kasus-kasus terjadi hal pemerkosaan atau kekerasan seksual, kekerasan pada perempuan terus meningkat dari korban kekerasan kerap tidak berani melapor kepada pihak berjiwa lantaran takut menerima stigma buruk dari masyarakat. Belum lagi di tambah semua kompleksitas yang di dalamnya. Hal ini sangat penting peran psikolog memasuki permasalahan, nah ketika hal pemerkosaan ini terjadi atau korbannya adalah anak- anak di bawah umur.

Ada banyak lagi kasus lainya seperti menurunnya moralitas manusia akhir-akhir ini terjadi kasus yaitu seorang pelajar yang di tangkap karena ikut pesta sabu-sabu atau narkoba, kasus ini terjadi karena kurangnya pengawasan dari orang tua terhadap anaknya. Dan juga berkurangnya sikap sopan santun antara seorang anak dan orang tua, sopan santun ini merupakan cerminan yang ada pada diri sendiri yang akan menjadi kebiasaan yang akan di lihat oleh orang lain.

Terjadinya korupsi di mana-mana adanya korupsi karena mereka memanfaatkan posisinya sebagai pemegang amanah seperti didalamnya adalah dengan menerima suap dan manipulasi, korupsi ini terjadi tidak hanya di kalangan tua ataupun muda sekecil apapun korupsi itu tetap korupsi.

Misalnya korupsi yang tergolong rendah banyak terjadi di kalangan mahasiswa, sebagai contoh, dosen sering tidak mengajar atau tidak masuk kuliah karena memiliki alasan sibuk bisa saja itu hanya alasan dosen padahal sibuk dengan urusan pribadi mereka (sibuk proyek, bisnis, dan urusan pribadi) namun kasus ini hanya dosen tertentu tidak semua dosen seperti ini. Misalnya korupsi yang tergolong rendah banyak terjadi di kalangan mahasiswa, misalnya dosen sering tidak mengajar atau tidak masuk kuliah karena memiliki alasan sibuk bisa saja itu hanya alasan dosen padahal sibuk mereka( sibuk proyek, bisnis,dan urusan pribadi) namun kasus ini hanya dosen tertentu tidak semua dosen yang seperti ini dosen yang seperti ini ia kurang pertanggung jawabannya sebagai guru pengajian jika dikatakan dalam agama ketika ia sudah berprofesi sebagai dosen hendaknya dosen tersebut menjalankan swadharmanya sebagai guru pengajar yang memberikan ilmu kepada mahasiswanya.

Hak dari mahasiswa untuk mendapat layanan pengajar menjadi berkurang, syukur kalau kehilangan jam kuliah itu diganti pada waktu dan hari lain. Ketika tidak ada pengganti, maka dosen semacam ini telah melakukan korupsi waktu yang merupakan hak mahasiswa. Sekecil apapun bentuk korupsi itu tidak baik jika ada salah satu yang di rugikan.

Kesimpulan

Manusia adalah makhluk yang memiliki hati nurani, akal budi dan kehendak bebas. Kepemilikan yang ada pada manusia merupakan sebuah keharusan sebab  sesuatu ada  diadakan oleh yang ada sehingga  manusia menjadi sempurna dalam satu ikatan yang mutlak. Manusia berinteraksi satu sama lain dengan sesamanya. Itulah keharusan manusia dalam proses yang ada untuk menjadi manusia yang memiliki kehidupan yang pantas dalam sebuah interaksi.

Oleh karena itu, manusia harus senantiasa menjadikan diri sebagai pribadi yang selalu menjalankan dan melaksanakan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat sehingga dengan manusia menjadi pribadi yang berguna, baik dan benar dalam seluruh proses ziarah hidupnya di dunia. (*)

Komentar

News Feed