oleh

Trilogi Filsafat dan Pengaruhnya: Telaah Kritis Vivekananda

-Opini-303 views

Bagi Vivekananda, filsafat harus memiliki tiga hal mendasar atau penulis membahasakan dengan trilogi filsafat Vivekananda. Trilogi filsafat tersebut antara lain; pertama, dilihat sebagai titik temu dari semua ilmu. Dengan demikian filsafat harus menjadi penghubung atau menjembatani ilmu yang ada dan menjaga agar tidak saling bertolak belakang.

 

 Penulis: Ebith Lonek, CMF

(Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang)

======================

Suatu pandangan dunia dan umumnya suatu pandangan teoritis tidak pernah melayang-layang di udara. Setiap pemikiran teoritis mempunyai hubungan erat dengan lingkungan di mana pemikiran itu dijalankan. Hal ini benar juga bagi permulaan pemikiran teroritis, yaitu lahirnya filsafat di Yunani pada abad ke-6 sebelum masehi. Bagi orang Yunani, filsafat tidak merupakan suatu ilmu di samping ilmu-ilmu lain, melainkan meliputi segala pengetahuan ilmiah (Bertens;1999,17).

Oleh karena itu kata filsafat selalu menjadi salah satu terminilogi yang sering dibicarakan di dalam ataupun di luar lingkungan akademis. Hal ini bukan hanya disebabkan karena filsafat menjadi salah satu cabang ilmu pengetahuan, seperti psikologi, hukum, ataupun sejenisnya. Namun, yang menarik bahwa filsafat itu dinilai sebagai mater scientiarum atau induk dari segala ilmu pengetahuan (jargon klasik), sehingga ada begitu banyak orang yang menganggap filsafat sebagai ilmu yang paling istimewa dan menduduki tempat yang paling tinggi dalam katalog pengetahuan (Rapar:1996,11).

Bagi yang mencintai filsafat, pemahaman akan apa itu filsafat dan bias keilmuaan tentu tidak dapat diragukan atau tidak berada pada rel kesalahpahaman atas filsafat. Namun, tidak bisa dipungkiri masih ada segelintir orang yang memiliki keselapahaman akan faktisitas dari filsafat itu sendiri. Ada yang beranggapan bahwa filsafat itu sesuatu yang serba mistis, rahasia, dan aneh, tidak memiliki kegunaan praktis, sebagai ilmu yang mengawang tanpa memiliki pijakan yang konkrit yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Rapar:1996,12).

Oleh karena itu tidak perlu diperdebatkan ketika filsafat dinilai seburuk itu. Mengapa? Sebagai sebuah cabang dari ilmu pengetahuan seperti yang kita kenal lainnya, selalu terbuka kemungkinan untuk dikritisi objek kajiannya oleh khalyak ramai. Ketika semakin banyak orang mengkritisi objek kajian filsafat dan para filsuf atau ahli filsafat bisa memberikan jawaban yang mencerahkan, pada saat yang bersamaan filsafat sedang membuka diri untuk semakin cintai dan didalami.

Kita berani menggunakan metode falsifikasionis Karl Poper. Berusaha untuk menemukan sebuah kesalahan dari teori yang ada. Jika tidak ditemukan maka kebenaran atas teori tersebut tidak dapat diganggu gugat! Atas berbagai macam kesalahpahaman yang melilit filsafat, lantas kita bertanya apa itu filsafat dalam konteks menemukan kejelasan pengertiannya. Dengan mengetahui pengertian filsafat, setidaknya kesalahpahaman tentang filsafat diminimalisir bahkan dihilangkan.

Filsafat In Abstracto

Nama “filsafat” dan “filsuf” berasal dari kata-kata Yunani philosophia dan philosophos. Menurut bentuk kata, seorang philo-sophos adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Ada tradisi kuno yang mengatakan bahwa nama “filsuf” (philosophos) untuk pertama kalinya dalam sejarah dipergunakan oleh Pythagoras (abad ke-6 SM). Namun, kesaksian tentang kehidupan dan aktivitas Pythagoras demikian tercampur dengan legenda-legenda sehingga sering kali kebenaran tidak dapat dibedakan dari reka-rekaan saja. Yang pasti bahwa sejak zaman Sokrates dan Plato, term filsuf itu sudah digunakan atau dipakai (Bertens:1999, 17-18). Sehingga arti literernya filsafat dikenal sebagai pencinta atau pencari kebijaksanaan. Menariknya ada yang mengatakan bahwa pengertian apa itu filsafat itulah arti yang sesungguhnya dari apa itu filsfat. Kita berbicara tentang quiditas (adanya)!

Selain itu dari definisi tentang apa itu filsafat juga datang dari para filsuf itu sendiri. Satu yang pasti bahwa definisi yang mereka utarakan datang dari pembeningan atas perjumpaan personal mereka bersama “filsafat” yang mereka pelajari.

Herbert Spencer mengatakan bahwa filsfat sebagai a completely unified knowledge (yang ia bedakan dengan science (ilmu) sebagai partial unified knowledge.

Menurut Bertrand Rusell filsafat sebagai wilayah tak bertuan, yang berada di antara sains (ilmu pengetahuan) dan teologi, yang terbuka terhadap serangan keduanya.

Sedangkan menurut Jacques Maritain melihat filsafat sebagai upaya memahami ide-ide, konsep-konsep atau sistem pemikiran yang berkembang dari proses bertanya, sehingga dapat ditemukan melalui pengertian menurut Maritain ini, filsafat dapat berarti pemikiran tentang pemikiran (thinking about thinking) (Lubis:2014,3-4).

Trilogi Filsafat Vivekananda

Swami Vivekananda (https://www.kutipkata.com/pengarang/swami-vivekananda/swami-vivekananda-013/) lahir pada tanggal 12 Januari 1863 di Calcutta, Presidensi Benggala (Sekarang Kolkata di Benggala Barat). Ia meninggal dunia pada tanggal 4 Juli tahun 1902. Vivekananda adalah seorang biksu Hindu dan salah satu pemimpin spiritual paling terkenal di India. Dia lebih dari sekadar “menelurkan” pikiran spiritual, Vivekananda juga seorang pemikir yang produktif, orator hebat dan patriot yang penuh gairah.

Vivekananda meneruskan filosofi dari gurunya, Ramakrishna Paramhansa yakni berani berpikir bebas. Namun ia maju ke berhasil menemukan sebuah paradigma baru. Dia bekerja tanpa lelah menuju perbaikan masyarakat, dalam pengabdiannya pada orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Sejumlah pertanyaan filosofis tentang keberadaan Tuhan yang bergolak di benak Vivekananda tetap tidak terjawab. Selama krisis spiritual yang dialaminya, Vivekananda pertama kali mengetahui tentang Sri Ramakrishna dari William Hastie yang merupakan Kepala Sekolah Gereja Skotlandia.

Sebelumnya untuk memuaskan pencarian intelektualnya akan Tuhan, ia mengunjungi para pemimpin dan tokoh spiritual terkemuka dari semua agama, mengajukan satu pertanyaan kepada mereka, “Apakah Anda melihat Tuhan?” dan selalu ia pergi tanpa jawaban yang memuaskan.

Sebagai seorang pemikir ada dua konsep yang pernah dikemukaan oleh Vivekananda yakni: Atman-Bhraman-Maya dan Filsafat (https://neutronmaxi.blogspot/2016/04/Filsafat-India-modern-kontemporer-2html.)

Bagi Vivekananda, realisasi diri dan kembali kepada Brahman merupakan hal yang lebih penting. Di lain sisi Maya hanyalah energi yang menghasilkan ruang dan waktu, dan materi. Energi yang dihasilkan tersebut tentunya tidak mutlak karena berubah-ubah. Energi yang mutlak terdapat pada Brahman yang absolut. Sedangkan Atman adalah representasi dari Brahman yang absolut pada diri manusia, karena Atman merupakan representasi dari Brahman, maka ketika kita menyakiti orang lain, sesungguhnya kita menyakiti diri kita sendiri.

Hal tersebut dikarenakan oleh Atman orang lain dan Atman kita sama-sama representasi dari Brahman yang absolut. Banyak ahli yang mengatakan bahwa pemikiran Vivekananda cenderung kembali pada persoalan Atman-Brahman-Maya.

Selain konsepnya tentang Atman-Brahman-Maya, Vivekananda juga berbicara mengenai filsafat. Bagi Vivekananda, filsafat harus memiliki tiga hal mendasar atau penulis membahasakan dengan trilogi filsafat Vivekananda. Trilogi filsafat tersebut antara lain; pertama, dilihat sebagai titik temu dari semua ilmu. Dengan demikian filsafat harus menjadi penghubung atau menjembatani ilmu yang ada dan menjaga agar tidak saling bertolak belakang.

Dalam konteks ini kita dapat bertanya lantas bagaimana hal konkret yang dapat kita temukan dari trilogi pertama ini bagi kehidupan kita saat ini?  Hal yang bisa dilakukan filsafat adalah dengan metode bertanya bahkan meragukan dapat membantu ilmu yang lain untuk bisa mengkiritisi adanya sebagai sebuah ilmu. Jika setiap ilmu terus bertanya dan berusaha untuk mencari tahu kebenaran dari objek kajiannya, maka potensi untuk benturan ataupun bertolak belakang antara ilmu yang satu dan yang lain dapat diperkecil.

Kedua, filsafat harus memiliki ciri investigatif. Hal yang dimaksudkan disini adalah memberikan pencerahan atau pemahaman baru dan memecahkan permasalahan secara konkrit. Kita mengetahui bahwa salah satu kesalahpahaman terhadap filsafat adalah dipandang sebagai ilmu yang tidak dapat menyelesaikan persoalan yang konkrit atau hal yang praktis. Apakah benar demikian? Hal ini dibenarkan ketika orang tidak mau mengenal filsafat lebih dekat.

Jika pengenalan filsafat lebih dekat kita dapat menemukan bahwa dengan berfilsafat kita diajak untuk mengkritisi setiap temuan kita pada panggung kehidupan yang pastinya menghidangkan persoalan yang konkrit. Jika ingin mengetahui dengan pasti tanyakan kepada mereka yang menggeluti ilmu filsafat. Jangan tanyakan persola ini kepada yang tidak berminat filsafat.

Ketiga, membimbing dalam “realitas”. Selain memecahkan permasalahan dan memberikan penjelasan, filsafat harus memberikan arahan secara terus menerus bahkan setelah masalah terpecahkan (menghindar masalah timbul kembali).

Mengapa filsafat diperlukan? Karena terlepas dari pengertian klasik atau secara literer sebagai pencinta kebijaksanaan, filsafat itu juga berbicara tentang apanya (quiditas) atau tentang realitas. Oleh karena, sejauh kita bertemu pandang bersama realitas yang begitu kompleks, kita tetap membutuhkan filsafat yang dengan metode bertanya dan bertanya, kita dibantu untuk melihat realitas secara kritis kita tidak hanya menjadi penikmati realitas.

Dengan terus bertanya, maka kita dapat mengantisipasi sebuah kesalahan dapat terulang kembali atau terantuk pada batu yang sama. Dengan metode bertanya, berarti kita menempatkan jawaban yang sudah kita temukan tadi sebagai sebuah persoalan yang harus dipecahkan lagi. Jika terus kita lakukan dan pada akhirnya kita tidak dapat menemukan celah agar jawaban tersebut dipersalahkan, maka kita sedang mengafirmasi sebuah kebenaran dan potensi untuk kesalahan untuk hadir kembali telah hilang, bahkan kita dapat menghindar masalah itu timbul kembali.

Dengan demikian, trilogi filsafat Vivekananda dapat membantu kita dalam melihat melihat dan mencerna realitas yang ada. Sehingga di hadapan filsafat kita tidak memiliki paradigma yang keliru atau terus terjebak dalam lumpur kesalahpahaman atas filsafat! (*)

Komentar

News Feed