oleh

Orang Muda Katolik dan Partisipasi Politik

Berbicara tentang politik, Orang Muda Katolik lebih cenderung beranggapan bahwa politik itu kotor, sehingga merasa segan untuk berdekatan dengan masalah politik. Kalau dicermati dengan baik, sebagian besar Orang Muda Katolik hampir tidak mau peduli terhadap kehidupan berpolitik, bahkan menganggap urusan politik sebagai sesuatu yang tabu, padahal dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar ditentukan oleh kebijakan politik.

 

Penulis: Angelina Ila Tha

(Orang Muda Katolik Kapela Hati Kudus Yesus Bimoku, Paroki Santo Yoseph Pekerja Penfui, Keuskupan Agung Kupang)

==========================

 

Pembukaan

Kita perlu bersyukur dan berbangga, dilahirkan di Tanah Air Indonesia dan hidup dari segala potensi dan kekayaan alam yang ada. Sejauh ini, negara sudah berupaya penuh memaksimalkan daya dan usaha mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera sesuai Undang-Undang Dasar 1945.

Menjadi warga negara harus memikul tanggung jawab besar dalam hidup keseharian. Aturan dan kebijakan publik terpatri dalam diri setiap kita. Hidup dalam keanekaragaman menuntut jiwa empati dan toleransi terhadap sesama yang berbeda dari berbagai sisi dan latar belakang.

BACA JUGA: 

OMK TIDAK HARUS HIDUP SUCI TETAPI MENYERAHKAN DIRI DALAM PENYELENGGARAAN ALLAH

Hadapi ‘Dunia Tipu-tipu’, OMK HKY Bimoku Adakan Pendalaman Iman

 

Indonesia merupakan salah satu negara demokratis yang memberi kebebasan yang bertanggung jawab kepada setiap warga negaranya. Butir-butir Pancasila pada sila keempat dengan jelas menampilkan kesetaraan hak, kewajiban, dan menjunjung tinggi musyawarah untuk mencapai mufakat.

Orang Muda Katolik (OMK) dan Nilai Pancasila

Orang Muda Katolik (OMK) sudah sepatutnya menegakkan nilai-nilai Pancasila yang sejatinya selaras dengan nilai-nilai cinta kasih Kristus.

Gereja Katolik dalam perkembangannya terus memberikan peneguhan kepada umat lewat berbagai ajaran sosial sebagai landasan dalam hidup menggereja, bermasyarakat, dan bernegara. Lewat seluruh umat, khususnya Orang Muda Katolik, kita (OMK) dituntut untuk menghadirkan Roh Penghibur, melangsungkan karya Kristus sendiri yang telah datang ke dunia untuk memberi kesaksian tentang kebenaran, untuk menyelamatkan dan bukan untuk mengadili, untuk melayani dan bukan untuk dilayani.

Orang Muda Katolik memegang peranan yang besar dalam perjalanan sejarah gereja dan negara. Dengan kekuatan spirit dan usia produktif mengarahkan orang muda untuk menopang kehidupan gereja dan negara di masa yang akan datang.

Ini bukan suatu perkara yang mudah. Tekad, niat, dan daya juang harus membara dalam diri setiap Orang Muda Katolik.

Orang Muda Katolik dan Politik

Membangun negara dengan spirit gereja bukan tidak mungkin diwujudnyatakan oleh Orang Muda Katolik. Kebebasan berpolitik menjadi milik semua pihak, namun Orang Muda Katolik harus memberi warna baru dalam zona pemerintahan.

Roh Kudus dijadikan sebagai penuntun dalam mengambil keputusan tanpa melihat kepentingan pribadi atau golongan, menghindari “Si Jahat” serta bersedia menjadi penyalur rahmat bagi masyarakat luas.

Paus Fransiskus terus mendorong orang muda untuk menjadi “The Now of God”, menghadirkan Allah lewat karya dan pelayanan sehingga wajah Allah dapat ditampilkan lewat tutur kata, tindakan, dan pengalaman hidup kita sehari-hari.

Orang Muda Katolik harus senantiasa mewujudkan persaudaraan global yang didasarkan pada praksis persahabatan sosial di kalangan masyarakat dan bangsa-bangsa yang memerlukan politik yang lebih baik, yang benar-benar melayani kebaikan bersama.

“Ya.. Kapan lagi kita melihat praktisi-praktisi muda yang berbicara soal kebangsaan, sesama, dan Gereja?

Menjadi garam dan terang itu memang sulit bagi siapapun. Entah itu dari agama mana saja. Bagi mereka yang menganut kepercayaan sebagai seorang Kristiani, itu sudah menjadi hal mutlak dilaksanakan. Ironisnya fase-fase kejayaan para kader muda Katolik terlihat surut. Begitu banyak aktivitas di sekitaran Altar (Baik di sekitar Gereja maupun di lingkup sekolah/kampus) lebih menonjolkan praktik spritualitas dibanding praktik rasionalitas sebagai umat beragama.

Di sisi yang berlainan menjelang Pemilihan Umum, banyak dari mereka “calon hamba” ini kebingungan kepada siapa mereka mencari dukungan baik secara moral, spritual, maupun material (bentuk nyata dukungan dengan memilih). Yang terjadi seharusnya Orang Muda Katolik itulah yang menjadi corong dalam aksi dan pelayanan untuk meneriakkan proses ketidakadilan, pemiskinan struktural, dan kehidupan beragama malah berkutat sebagai lilin yang hanya bercahaya di dalam Gereja.

Mengapa itu bisa terjadi?

Sebab praktik agama Orang Muda Katolik mayoritas atas warisan dari orang tua. Sejak masih bayi Orang Muda Katolik sudah dibaptis dan menerima agamanya tanpa sikap kritis, sehingga belum sepenuhnya mampu mempertanggungjawabkan identitasnya sebagai anggota Gereja.

Keluarga-keluarga Katolik sekarang ini hanya membentuk orang mudanya sebagai generasi yang hanya menerima keadaan iman yang kurang dipertanggungjawabkan dan menerima kehidupan sosial dan politik.

Orang Muda Katolik kurang dipersiapkan secara matang untuk menghadapi kerasnya kehidupan, malah lebih cenderung tenggelam pada urusan pribadi dalam mengejar kesenangan untuk diri sendiri, sehingga kehilangan daya kritis dan bahkan rasa kepedulian terhadap nasib bangsa. Pembiasan politik tidak lagi demi kepentingan bersama, melainkan kepentingan individu atau kelompok.

Berbicara tentang politik, Orang Muda Katolik lebih cenderung beranggapan bahwa politik itu kotor, sehingga merasa segan untuk berdekatan dengan masalah politik. Kalau dicermati dengan baik, sebagian besar Orang Muda Katolik hampir tidak mau peduli terhadap kehidupan berpolitik, bahkan menganggap urusan politik sebagai sesuatu yang tabu, padahal dalam kehidupan sehari-hari sebagian besar ditentukan oleh kebijakan politik.

Bagi penulis ada dua hal yang harus diperbaiki dalam bentuk komitmen Orang Muda Katolik menjadi garam dan terang dalam bernegara, yakni partisipasi politik dan tanggung jawab politik.

Orang Muda Katolik dan Partisipasi Politik

Orang Muda Katolik harus melibatkan diri dalam pemilihan umum dan memasuki partai politik, maka mereka disebut melaksanakan hak partisipasi politik yang bersifat aktif dan langsung. Itu sarana yang paling utama untuk melakukan perubahan dalam memengaruhi kebijakan. Karena partisipasi menunjukkan bahwa kita mengikuti dan memahami masalah politik dan ingin melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan itu.

Orang Muda Katolik dan Tanggung Jawab Politik

Ketika seorang Kristiani mengamati berbagai kebijakkan pemerintah dan situasi politik yang ada serta memberikan kritik-kritik konstruktif baik melalui saluran media cetak, media sosial namun mereka tidak memasuki salah satu atau memasuki salah satu partai, maka tindakkan ini menunjukkan tanggung jawab politik.

Sekalipun Orang Muda Katolik memiliki tanggung jawab politik belum tentu merupakan partisipasi politik namun antara tanggung jawab politik dan partisipasi politik berkaitan erat satu sama lain. Dimana keterkaitannya? Partisipasi politik khususnya partisipasi politik secara langsung (memilih eksekutif, legislatif, menjadi anggota partai) adalah wujud tanggung jawab politik namun tanggung jawab politik belum tentu diwujudkan dalam bentuk partisipasi politik secara langsung.

Penutup

Romo Dr. Eddy Kristiyanto, OFM, menyampaikan, “Semua agamawan sadar, bahwa Allah itu politis. Jika orang mengeluarkan dari kitab-kitab suci agama kandungan dan makna politis, maka akan ditemukan bahwa ”begitu banyak lobang” dalam kitab suci. Kandungan dan makna politis di sini adalah sikap Diri Allah yang berada di samping, mendampingi dan menyertai. Mengingat Allah itu politis di hadapan kenyataan ciptaan-Nya, maka segenap ciptaan (terutama manusia, yang adalah citra Allah sendiri), tidak ada pilihan lain. Manusia perlu bersikap politis. Tegasnya, bersikap politis merupakan sakramen, yakni tanda dan sarana yang mengantar pada pembebasan dan peyelamatan.”

Secara tegas politik diartikan sebagai pelayanan dan perwujudan kasih Allah untuk mengusahakan kesejahteraan bersama dengan mengikuti dan meneladani Yesus Kristus yang memiliki kepedulian dan semangat politik, terutama politik solidaritas bagi mereka yang lemah, miskin dan tersingkir untuk menghadirkan kesejahteraan dan keselamatan. (*)

Komentar

News Feed