oleh

Konsep Ahimsa Mahatma Gandhi: Upaya Meminimalisir Kekerasan Terhadap Perempuan Di Indonesia

Gandhi berpendapat, bahwa Cinta kaum perempuan adalah cinta yang ikhlas dan tanpa pamrih serta manifestasi keibuan, dan itu semua berasal dari nalurinya untuk mengandung dan membesarkan anak. Mereka lebih luhur budinya dari pada kaum pria, karena memiliki kemampuan yang lebih besar dalam menanggung penderitaan untuk berjuang dan meniadakan­ dirinya dan sesungguhnya mereka memiliki kemampuan yang luar biasa untuk melakukan nir-kekerasan.

 

Penulis: Agustinus R. Wenger

(Mahasiswa Semester VIII, Fakutas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

====================

 

Pengantar

Kekerasan terhadap wanita bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Indonesia. Hal ini sudah marak terjadi dan bukan lagi menjadi rahasia publik. Wanita sering menjadi sasaran empuk kekerasan oleh kaum hawa, karena wanita sering dipandang sebagai makhluk yang lemah. Jumlah kasus Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) sepanjang tahun 2020 kemarin sebesar 299.911 kasus, terdiri dari kasus yang ditangani oleh: Pengadilan Negeri/Pengadilan Agama sejumlah 291.677 kasus, Lembaga layanan mitra Komnas Perempuan sejumlah 8.234 kasus, Unit Pelayanan dan Rujukan (UPR) Komnas Perempuan sebanyak 2.389 kasus, dengan catatan 2.134 kasus merupakan kasus berbasis gender dan 255 kasus di antaranya adalah kasus-kasus tidak berbasis gender.

Melihat data-data di atas sungguhlah memprihatinkan nasib kaum hawa dewasa ini yang masih saja dijajah oleh berbagai tindak kekerasan baik fisik maupun psikologi oleh kaum  adam.  Kaum adamlah yang sebenarnya bertanggung jawab melindungi kaum hawa namun malah bertindak sebaliknya, menjadikan kaum hawa sebagai korban atau objek kekerasan.

Mahatmah Gandhi seorang filsuf dan politisi India yang sangat berpengaruh pada abad ke 18. Ia adalah seseorang yang menolak sistem kekerasan yang saat itu terjadi pada orang-orang India yang bekerja di Afrika selatan. Sering kali ditemukan terjadinya banyak ketidakadilan dan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah kulit putih Afrika Selatan terhadap masyarakat India yang bekerja di sana. Sehingga Gandhi  pun kemudian terlibat dalam perjuangan untuk membela hak-hak Warga India Afrika Selatan.

Gandhi mulai mengajarkan perlawanan pasif yang dikenal dengan konsep Satyagraha (yang berarti kebenaran dan keteguhan) dan juga juga  konsep Ahimsanya yang menolak berbagai tindak kekerasan yang terjadi di sana.  Setelah beberapa tuntutan warga India dikabulkan oleh pemerintah Afrika Selatan barulah Gandhi pulang ke India.

Konsep Ahimsa Mahatma Gandhi

Mahatma Gandhi pahlawan kemerdekaan India, sekaligus simbol perlawanan damai, lahir pada 2 Oktober 1869 di Porbandar, India. Nama aslinya ialah Mohandas Karamchand Gandhi. Nama Mahatma adalah nama julukan baginya yang dalam bahasa sansekerta berarti jiwa yang besar. Gandhi adalah keturunan bangsawan India, ayahnya adalah seorang menteri besar bagi Maha Raja Porbandar.

Mahatma Gandhi amat berpengaruh dalam kehidupan politis India. Ia mengklaim, bahwa hanya ada satu roh yang tak terbagi-bagi yang disebut Tuhan atau Allah  oleh kaum theist. Gandhi menyebutnya sebagai kebenaran yang menjadi asas segala sesuatu yang ada. Kebenaran ini sering terbelenggu dalam diri kita dan karena itu menghalangi kita untuk dapat mewujudkan diri kita sepenuhnya. Perwujudan diri dan penyempurnaan dapat dicapai lewat ahimsa  (non-violence) yang bagi Gandhi berarti tanpa kesalahan dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Inilah yang menjadi dasar filsafat berpikir Gandhi.

Kata ahimsa secara etimologis berasal dari bahasa sansekerta dari kata (himsa= han, yang berarti membunuh) sedangkan  ahimsa ditambahkan dengan awalan ‘a’ maka menjadi kalimat negatif yang artinya ‘tidak’, sehingga ahimsa dalam arti yang sebenarnya ialah tidak membunuh, tidak mau melukai.

Ahimsa sendiri terdapat dalam buku-buku suci agama hindu klasik, Upanishad, Yoga Sutra, dan Bhagavad Gita. Secara harafia kata sansekerta itu berarti, ketiadaan gangguan, ketiadaan serangan, atau ketiadaaan kejahatan. Ahimsa adalah gaya hidup yang menjauhkan diri dari segala perbuatan yang menyakiti siapa pun atau merusak apa pun

Ahimsa – “kekuatan cinta” atau “kekuatau nir-kekerasan” merupakan penghormatan terhadap semua bentuk kehidupan. Ini merupakan sebuah pandangan atau ajaran agama yang telah memiliki sejarah panjang dan bisa diartikan bahwa setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki, harus menghindari kejahatan dengan cara menarik diri dari kehidupan dunia atau bahwa mereka harus berjuang memerangi kejahatan dengan melakukan perbuatan-perbuatan baik di dunia.

Bagi Gandhi, Ahimsa  bukan hanya sekadar tingkatan tidak melakukan penyerangan secara negatif tetapi, tingkatan cinta positif, berbuat baik bahkan kepada pelaku kejahatan. Gandhi meyakini bahwa hanya cinta atau nir-kekerasan, yang akan bisa menaklukan kejahatan, di mana pun dia berada, dalam diri orang-orang atau tatanan hukum, dalam masyarakat atau pemerintahan “kekuatan-kebenaran” atau “kekuatan-jiwa”

Relevansinya Dalam Meminimalisir Kekerasan Terhadap Wanita Di Indonesia

Kekerasan terhadap perempuan bukanlah hal yang asing bagi dunia dewasa ini. Hal ini sudah sering terjadi secara khusus di Indonesia sendiri. jika kita membaca melalui media-media cetak atau media online, maka terdapat banyak sekali kasus kekerasan terhadap perempuan (KtP) yang terjadi di Indonesia.

Dari data-data yang diperoleh dari Website, komnasperempuan.go.id., tercatat kurang lebih 299.911 kasus kekerasan terhadap perempuan (KtP) yang terjadi selama tahun 2020 dan jumlah ini lebih sedikit dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang mencatat sebanyak 431.471 kasus. Hal ini dikarenakan kuisioner yang dikembalikan menurun hampir 100% dari tahun sebelumnya.

Pada tahun sebelumnya jumlah pengembalian kuisioner sejumlah 239 lembaga, sedangkan tahun ini hanya 120 lembaga. Namun sebanyak 34% lembaga yang mengembalikan kuesioner menyatakan bahwa terdapat peningkatan pengaduan kasus di masa pandemi.

Dari data-data tersebut dapat dilihat, bahwa meskipun telah mengalami penurunan  jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan (KtP) secara signifikan namun, Indonesia masih dilanda kasus kekerasan terhadap perempuan. Hal ini butuh perhatian penuh dari semua masyarakat Indonesia secara khusus bagi kaum adam. Agar lebih menghargai kaum hawa sebagai ciptaan Allah yang sederajat.

Berbicara soal pengargaan dan penghormatan terhadap kaum hawa, konsep Ahimsa dari Mahatma Gandhi masih sangat relevan jika diterapkan dalam kehidupan bersama dewasa ini.

Gandhi berpendapat, bahwa Cinta kaum perempuan adalah cinta yang ikhlas dan tanpa pamrih serta manifestasi keibuan, dan itu semua berasal dari nalurinya untuk mengandung dan membesarkan anak. Mereka lebih luhur budinya dari pada kaum pria, karena memiliki kemampuan yang lebih besar dalam menanggung penderitaan untuk berjuang dan meniadakan­ dirinya dan sesungguhnya mereka memiliki kemampuan yang luar biasa untuk melakukan nir-kekerasan.

Pendapat Gandhi ini sebenarnya mau mengatakan bahwa wanita perlu dihargai karena mereka memiliki penderitaan hidup yang lebih berat dari kaum pria. Dalam hal ini penderitaannya sebagai seorang ibu, ketika ia merasakan penderitaan sakit ketika bersalin, serta usahanya untuk merawat dan membesarkan anak-anaknyanya.

Dalam konsep tentang Ahimsa, Gandhi menekankan supaya setiap orang perlu menghindarkan diri kejahatan dan kekerasan dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan baik di dunia. Gandhi meyakini bahwa hanya cinta atau nir-kekerasanlah yang dapat menaklukan kejahatan.

Konsep Ahimsa Gandhi ini perlu dipelajari dan diterapkan di Indonesia sehingga setiap orang secara khusus bagi kaum adam dapat menghargai kaum hawa sebagai sesama ciptaan Allah.  Kaum adam  perlu menanamkan ke dalam diri mereka rasa penghormatan kepada kaum hawa sebagai ibu yang telah mengandung dan melahirkan Kehidupan.

Konsep Ahimsa ini, sebenarnya sebuah konsep yang lebih cenderung menggunakan perasaan, karena setiap orang dipanggil untuk melakukan kebaikan yang bersumber dari dalam hati masing-masing. Konsep Ahimsa ini mau menekankan nilai afeksi yang ada dalam diri setiap orang agar menyadari apa yang ia lakukan itu baik bagi orang lain atau sebaliknya berdampak buruk bagi kehidupan orang lain.

Konsep ini sangat mengutamakan penghargaan terhadap kehidupan manusia, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan atau kekerasan harus dihandari (non violence). Jika setiap orang secara khusus masyarakat Indonesia, sanggup untuk menanamkan konsep ini dalam kehidupannya, maka bukanlah hal yang mustahil  kekerasan terhadap perempuan (KtP) dapat diminimalisir atau bahkan dilenyapkan dari bumi Indonesia. (*)

Sumber:

https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/catahu-2020-komnas-perempuan-qlembar-fakta-dan-poin-kunci-5-maret-2021), diakses pada, 23 Juni 2021, pkl. 10.00 WITA

Mohamad Zasuli, 60 Tokoh Dunia Sepanjang Masa, (Yogyakarta: Narasi, 2009)

Prof. Konrad Kebung, Ph.D., Filsafat Orang Timur (Indonesia,India, Cina), (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2011)

Andar Ismail, Selamat Sejahtera, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 2008)

Ved Mehta, Ajaran-Ajaran Mahatma Gandhi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011)

Komentar

News Feed