oleh

‘Ahimsa’ Gandhi, Relevansinya Bagi Perjuangan Anti Kekerasan Berbasis Gender Di Indonesia

Fenomena kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia memiliki berbagai macam bentuk, mulai dari kekerasan dalam ruang lingkup komunitas terkecil seperti rumah tangga, hingga pada konflik antar suku, agama dan ras yang melibatkan banyak pihak di dalamnya. Konflik seperti ini tentu mengingatkan kita pada kasus konflik antar etnis di banyak daerah di Indoneisa pada penghujung tahun 1998, konflik antar agama yang pernah terjadi di Ambon tahun 1999, konflik antar suku di Sampit tahun 2001, serta perebutan tanah antar suku di Adonara pada Maret 2020 lalu.

  

Penulis: Christian D. J. Sogen

(Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang)

 ========================

 

Pengantar

Setiap orang tentunya mencita-citakan sebuah kehidupan yang damai dan jauh dari kekerasan. Kecenderungan untuk menginginkan hidup dengan damai merupakan dorongan alamiah yang ada dalam diri manusia. Kecenderungan ini melahirkan sebuah pencarian akan kawan dan bukan lawan. Dorongan alamiah ini berangkat dari pemahaman bahwa kekerasan bukanlah satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi sebuah masalah. Masih ada banyak cara lain yang dapat ditempuh tanpa harus melibatkan kekerasan di dalamnya. Persoalan tidak harus diselesaikan dengan kekerasan karena kekerasan tidak dengan sendirinya dapat mengatasi persoalan.

Demikian pula dengan usaha pencarian akan kebenaran. Kebenaran merupakan ideal hidup baik, dan karenanya selalu dicari cara untuk mencapai kebenaran itu. Kita dapat menemukan persoalan ketika kebenaran diperhadapkan dengan suatu ketidakbenaran. Orang yang bersembunyi di balik ketidakbenaran akan merasa tidak nyaman dan selalu mencari cara untuk menundukkan kebenaran dengan mengatasnamakan kebenaran itu sendiri yang sebenarnya palsu dan telah dimanipulasi. Tidak jarang pula ditempuh jalan kekerasan untuk mengatasinya. Di sini, hal terpenting untuk melihat dunia dalam prinsip kebenaran sejati adalah dengan melawan segala bentuk tindakan kekerasan dan mengusahakan perdamaian bagi semua orang. Perjuangan menempuh kebenaran dan anti kekerasan ini juga menjadi PR penting bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi pemerintah, dalam penanganan kasus kekerasan berbasis gender.

Prinsip Anti Kekerasan Gandhi

Mahatma Gandhi adalah seorang pejuang kemanusiaan yang terkenal dengan gerakan anti kekerasan (nir-kekerasan). Sebagai seorang Hindu, inspirasi mengenai gerakan anti-kekerasan justru berangkat dari kekagumannya pada Alkitab, terutama dalam Khotbah di Bukit. Menurutnya, ajaran Yesus dalam Khotbah di Bukit  merupakan ajaran anti balas dendam, atau anti membalas kejahatan dengan kejahatan. Ia percaya bahwa nilai belas kasih, anti kekerasan, cinta kasih dan kebenaran dalam diri setiap orang hanya dapat benar-benar teruji pada saat mereka melawan kelaliman, kekerasan dan kebencian.

Hal ini menyata dalam diri Yesus yang masih mampu mengatakan “Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” ketika menghadapi kematian di kayu salib. Gandhi melihat bahwa ajaran ini belum terwujud secara sempurna di kalangan orang Kristen pada zamannya yang hanya memuja materi dan menggunakan segala cara untuk meraihnya, termasuk dengan cara menjajah bangsa lain.

Gandhi sangat menjunjung tinggi satyagraha (prinsip kebenaran) dan ahimsa (anti kekerasan). Secara harafiah, satyagraha berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti suatu pencarian kebenaran dengan tidak kenal lelah dan suatu ketetapan hati untuk mencapai kebenaran. Kesesuaian antara pikiran, kata-kata dan tindakan harus menjadi acuan utama. Sedangkan ahimsa secara harafiah berarti tidak menyakiti. Bagi Gandhi, ahimsa tidak hanya berarti tidak menyakiti namun juga berarti menolak keinginan untuk membahayakan jiwa orang lain, tidak menyakiti hati, tidak membenci, tidak membuat marah, tidak mencari keuntungan diri sendiri dengan memperalat dan mengorbankan orang lain.

Perjuangan mencapai jalan untuk mengabdikan diri kepada Tuhan adalah dengan satyagraha yang mengambil bentuk tindalan nyata melalui sikap anti kekerasan berdasarkan ahimsa. Ahimsa dapat menjadi prinsip paling efektif untuk tindakan sosial karena secara mendalam sesuai dengan kebenaran sifat alami manusia dan sesuai dengan keinginan bawaannya akan perdamaian, keadilan, ketertiban, kebebasan dan martabat pribadi. Kekerasan hanya akan merendahkan manusia. Sebaliknya, tanpa kekerasan akan memulihkan sifat alami manusia sambil memberi kepadanya sarana bagi penyembuhan serta pemugaran ketertiban dan keadilan sosial.

Perjuangan Anti Kekerasan Berbasis Gender Di Indonesia

Fenomena kasus kekerasan yang terjadi di Indonesia memiliki berbagai macam bentuk, mulai dari kekerasan dalam ruang lingkup komunitas terkecil seperti rumah tangga, hingga pada konflik antar suku, agama dan ras yang melibatkan banyak pihak di dalamnya. Konflik seperti ini tentu mengingatkan kita pada kasus konflik antar etnis di banyak daerah di Indoneisa pada penghujung tahun 1998, konflik antar agama yang pernah terjadi di Ambon tahun 1999, konflik antar suku di Sampit tahun 2001, serta perebutan tanah antar suku di Adonara pada Maret 2020 lalu. Selain itu ada juga kasus-kasus individual seperti kekerasan seksual ataupun kekerasan terhadap anak dan perempuan. Situs kompas.com mencatat bahwa pada periode 1 Januari – 9 Juni 2021 terjadi 2.319 kasus kekerasan terhadap perempuan dewasa dengan jumlah korban sebanyak 2.347 orang. Sedangkan kasus kekerasan terhadap anak sebanyak 3.314 kasus dengan jumlah korban sebanyak 3.683 anak.

Data-data di atas memang tidak banyak dan bisa saja dianggap belum bisa mewakili banyaknya kasus kekerasan lainnya yang terjadi di Indonesia. Namun data-data ini sebenarnya menunjukkan bahwa secara umum kasus kekerasan memang masih marak terjadi di dalam tubuh masyarakat Indonesia. Lantas bagaimana dan apa usaha nyata untuk meminimalisir tindakan kekerasan dalam berbagai bentuknya di tanah air kita ini? Kebanyakan kasus kekerasan yang terjadi hanya disesalkan kemudian, namun tidak dicari akar permasalahannya sehingga dapat ditemukan suatu solusi untuk mengadakan tindakan preventif atau pencegahan.

Harus diakui bahwa perjuangan anti kekerasan yang paling gencar dilakukan adalah perjuangan untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual, baik itu terhadap perempuan maupun anak-anak. Salah satunya adalah melalui kampanye “No! Go! Tell!” (Katakan Tidak, Jauhi, Laporkan!). Kampanye ini adalah mekanisme untuk mencegah kekerasan seksual, khususnya kekerasan berbasis gender online. Kampanye ini melibatkan para aktivis yang mengadakan pelatihan workshop gender training, storytelling, dan data gathering bagi generasi muda sehingga diharapkan dapat menjadi skill yang penting dalam memahami kesetaraan gender.

Perjuangan anti kekerasan terhadap perempuan juga dilakukan melalui seni. Simponi Band, salah satu band Indonesia, merasa tertarik untuk mengangkat isu perempuan dalam lagu-lagu mereka, supaya kaum perempuan memiliki ‘teman’ dan aktivis perempuan lainnya tidak merasa sendiri. Bagi mereka, musik merupakan media yang tepat untuk menyampaikan pesan tersebut kepada kaum pria. Beberapa lagu mereka yang menceritakan tentang isu kekerasan seksual terhadap perempuan antara lain Sister in Danger¸ Perempuan dan Berebut Surga.

Penutup-Saran

Pemikiran Mahatma Gandhi mengenai prinsip pencarian kebenaran (satyagraha) dan anti kekerasan (ahimsa) tentu sangat relevan bagi perjuangan anti kekerasan berbasis gender di Indonesia saat ini. Dengan cara yang berbeda dan tidak seradikal yang dilakukan oleh Gandhi, para aktivis dewasa ini masih terus memperjuangkan dengan gigih kesetaraan martabat manusia bagi kaum perempuan. Tentunya masih ada begitu banyak gerakan dan kampanye lainnya yang memperjuangkan dan mengangkat isu kekerasan berbasis gender demi keadilan. Yang harus menjadi perhatian pemerintah dalam hal ini tentu saja ialah dengan menyiapkan payung hukum seperti UU Penghapusan Kekerasan Seksual dan menyiapkan kurikulum pembelajaran bagi sekolah-sekolah sehingga keadilan dalam hal gender bisa dipelajari sejak dini. (*)

DAFTAR PUSTAKA

Ellsberg, Robert, Gandhi on Christianity, Orbis Books: Maryknoll, 1991

Wegig, R. Wahana, Dimensi Etis Ajaran Gandhi, Kanisius: Yogyakarta, 1986

Komentar

News Feed