oleh

KONSEP PENDIDIKAN MENURUT SARVEPALLI RADHAKRISNAN

“Radhakrishnan mengupayakan agar pendidikan bisa berguna dalam dan melalui dorongan fitrah manusia. Pendidikan yang berakar kuat menjadikan manusia mampu mencapai tujuan spiritualnya; di sisi lain pendidikan dapat melenyapkan segala kejahatan yang ada dalam masyarakat sebagai kendala bagi negara dan pencapaian tujuannya.”

 

Penulis: Silvester Deu

(Mahasiswa Semester VIII, Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira Kupang)

==========================

Pengantar

Pendidikan merupakan aspek dasar kehidupan manusia. Seseorang bukan hanya mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi juga diajarkan untuk berakhlak baik dan berbudi pekerti luhur. Berbekal pendidikan, seseorang akan menjadi orang yang berguna, bermanfaat, berilmu, sehingga mampu meningkatkan taraf hidup atau memperbaiki nasib ke arah yang lebih baik.

Pentingnya pendidikan bagi manusia berikutnya adalah untuk menjadikan manusia yang lebih baik dan berkarakter. Pendidikan selain penting untuk karir juga sangat penting untuk menjadikan manusia agar lebih baik karena membuat kita beradab. Pada umumnya pendidikan adalah dasar dari budaya dan peradaban. Pendidikan membuat kita sebagai manusia untuk berpikir, menganalisa, serta memutuskan. Menumbuhkan karakter pada diri sendiri juga merupakan tujuan dengan adanya pendidikan, sehingga menciptakan sumber daya manusia yang lebih baik.

Untuk kemajuan suatu bangsa, pendidikan sangat berperan penting di dalamnya. Sehingga manusia yang baik membutuhkan pendidikan. Dalam dunia yang kompetitif dan bersaing, pendidikan adalah jalan untuk dapat bersaing. Sebagian besar menyadari dengan adanya pendidikan yang baik maka menghasilkan manusia yang baik. Tidak hanya pendidikan saja, namun juga memerlukan keahlian yang cukup dalam membuat maju suatu bangsa.

Pendidikan memberikan pelajaran yang begitu penting bagi manusia mengenai dunia sekitar, mengembangkan perspektif dalam memandang kehidupan. Pendidikan yang sebenarnya diperoleh dari pelajaran yang diajarkan oleh kehidupan kita. Maka dari itu banyak pemerintah yang menganjurkan pendidikan yang baik di mulai sejak dini, agar ketika dewasa mempunyai sumber daya manusia yang baik.

Dengan adanya pendidikan dapat menghapuskan keyakinan yang salah di dalam pikiran kita. Selain itu juga dapat membantu dalam menciptakan suatu gambaran yang jelas mengenai hal di sekitar kita, juga dapat menghapus semua kebingungan. Orang dengan pendidikan yang tinggi biasanya akan lebih bijak dalam menyelesaikan suatu masalah, hal ini dikarenakan mereka sudah mempelajari mengenai ilmu pendidikan dalam kehidupan.

Radhakrishnan mengupayakan agar pendidikan bisa berguna dalam dan melalui dorongan fitrah manusia. Pendidikan yang berakar kuat menjadikan manusia mampu mencapai tujuan spiritualnya; di sisi lain pendidikan dapat melenyapkan segala kejahatan yang ada dalam masyarakat sebagai kendala bagi negara dan pencapaian tujuannya.

Konsep Pendidikan Menurut Sarvepalli Radhakrisnan

Radhakrishnan adalah salah satu filsuf India yang berbicara tentang pendidikan. Pandangan Radhakrisnan tentang pendidikan cukup reflektif dan berawal dari kegelisahannya melihat krisis karakter, takhayul dan pelanggaran kewajiban yang terjadi di India. Radhakrishnan sangat yakin bahwa bangsa tidak bisa maju dalam meningkatkan standar generasi muda dan masyarakat sebelum adanya pendidikan yang tertanam kuat. Radhakrishnan menganggap pendidikan sebagai faktor sosial terpenting. Dia mengecam keras apa yang kini terjadi pada pendidikan; hal berbahaya seperti “pembelajaran yang dangkal”. Dia menekankan perlunya perubahan baru dalam pendidikan.

Sama halnya dengan Plato yang menganggap pendidikan harus mendapatkan tempat utama dan menjadi perhatian serius Negara. Menurut Plato, pendidikan adalah tugas dan panggilan yang sangat mulia yang harus diselenggarakan oleh Negara. Kebobrokan masyarakat yang begitu parah tidak akan dapat diperbaiki dengan cara apapun kecuali pendidikan. Dalam pandangan Plato, pendidikan adalah faktor satu-satunya yang sanggup menyelamatkan manusia dan Negara dari kehancuran dan kemusnahannya. Radhakrisnan juga menganggap pendidikan sebagai faktor sosial terpenting. Pendidikan harus diberikan kepada semua orang oleh Negara, karena ia merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama. Jika para warga memiliki pendidikan yang baik, mereka akan dapat melihat celah-celah sempit yang bisa menimbulkan malapetaka, dan menghadapi keadaan darurat. Radhakrisnan juga mengkritik institusi pendidikan saat itu yang tidak mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kecerdasan. (Rapar, 1988:109)

Jika pendidikan tidak diperhatikan, maka apa pun yang dilakukan oleh Negara tidak akan dipersoalkan. Pentingnya pendidikan memang diakui, sebagai konsekuensinya Negara tidak bisa menyerahkan pendidikan kepada tuntutan swasta dan mengkomersialkan sumber-sumber pasokan, namun harus menyediakan sendiri sarana yang diperlukan, harus memastikan bahwa warga mendapatkan pendidikan yang mereka perlukan, dan harus pula memastikan bahwa pendidikan itu cocok dengan keselarasan dan kesejahteraan Negara.

Radhakrishnan berpendapat bahwa Negara berkewajiban moral untuk menjadikan pendidikan terjangkau oleh semua warga. Hanya warga yang tercerahkan yang mampu membesarkan dan memperkaya budaya dan tradisi bangsa. “Fasilitas memang harus disediakan bagi seluruh warga untuk melatih diri mereka sendiri untuk mengekspresikan diri dan mengembangkan diri, namun tidak perlu adanya anjuran untuk melancarkan pemisahan. Keterbelakangan ekonomi, dan bukan kasta atau komunitas yang kebetulan menjadi asal-muasal seseorang, harus menjadi ujian untuk memberikan kelonggaran tertentu. Negara harus memberi kesempatan pendidikan bagi kaum tertinggal, dari agama atau masyarakat apa pun. Dalam dunia yang kompetitif, jika kita ingin bertahan, para cerdik pandai kita harus diberi kepercayaan dengan tanggung jawab tinggi. Pemberian jabatan harus dilandaskan pada efisiensi, namun kelemahan yang dimiliki oleh golongan rendah juga harus sesegera mungkin dihilangkan.” (Tyagi, 2001: 58)

Pandangan Radhakrisnan mengenai pendidikan terletak pada tujuannya dalam mempertemukan pendidikan spiritual dan sosial untuk merekonstruksi sebuah masyarakat ideal di mana orang-orangnya bebas dari kebodohan dan tabiat buruk. Pendidikan spiritual tidak meniadakan aspirasi sosial, namun ia menandakan cita-cita duniawi.

Tujuan tertinggi dari pendidikan spiritual adalah moksa, namun ini mesti dicapai di dunia ini, bukan di akhirat nanti. Tujuan dari pendidikan spiritual adalah menyatukan yang jasmani dan rohani. Dengan begitulah kehidupan akan damai dengan sendirinya. Sementara itu, secara sosial, fungsi dari pendidikan sejati adalah meredakan perselisihan dan kekasaran sosial yang lain. Ia dapat membebaskan masyarakat dari semua kebodohan yang tidak manusiawi ini; pendidikan harus ditanamkan dalam-dalam untuk mengetahui watak dan tujuan masyarakat, ikatan ekonomi dan slogan politik saja tidak bisa menutup kesenjangan antar masyarakat.

Perbandingan Dengan Masalah Aktual Saat Ini

Ketika mengamati masalah aktual yang sedang terjadi saat ini, sungguh begitu bertolak belakang, yaitu jika melihat lebih mendalam akan kondidi keseluruhan pendidikan yang ada di berbagai tempat di Indonesia. Banyak ketidakmerataan dan jauh dari kesan maju (dalam hal pendidikan). Hal tersebut, terlihat dari sekolah yang jauh dari kelayakan, kondisi sekolah, dan sebagainya. Padahal, di dalamnya terdapat banyak pelajar yang begitu bersemangat untuk belajar dan menuntut ilmu, namun karena keterbelakangan akses dan juga berbagai kekurangan lainnya, yang membuat mereka sulit dalam mencapai tujuan dan cita-citanya.

Meski menjadi prioritas utama Indonesia, pada praktiknya, pendidikan saat ini banyak menemui masalah. Masalah ini disebabkan beragam faktor, antara lain:

  1. Kekurangan Pengajar Yang Terampil

Guru adalah salah satu elemen pendidikan agar proses belajar mengajar berjalan dengan lancar. Prosesnya guru mentransfer ilmu kepada murid, baik itu ilmu pengetahuan, keterampilan, serta mengajarkan pendidikan akhlak kepada murid. Faktanya yang terjadi di lapangan, pendidikan seringkali mendapat masalah kekurangan jumlah guru. Terutama guru-guru terampil atau yang bersertifikasi. Hal itu nyata terjadi di Indonesia. Penyebaran jumlah guru di sekolah kadangkala tidak merata, sehingga ada yang kelebihan dan kekurangan tenaga pendidik. Bukan hanya masalah jumlah guru, persoalan lain yang muncul adalah gaji guru yang rendah, kurangnya perhatian pemerintah pada status guru, seperti guru honorer, dan masih banyak masalah lainnya.

  1. Infrastruktur Pendidikan Yang Kurang atau Tidak Memadai

Di beberapa stasiun televisi yang membawa berita bangunan sekolah yang ambruk di berbagai daerah yang ada di Indonesia akibat cuaca buruk atau ambruk memang kondisi bangunan sudah rusak parah, tapi tidak juga diperbaiki. Itulah masalah lain di dunia pendidikan, termasuk Indonesia.

Padahal ruang kelas, bangunan sekolah, dan perlengkapannya menjadi vital dalam proses belajar mengajar di sekolah. Namun sering terjadi kapasitasnya tidak cukup atau sudah ketinggalan zaman. Belum lagi akses pendidikan anak yang jauh dari kata bagus, seperti internet, perlengkapan seperti (komputer, smartpone), jaringan yang mendukung serta berbagai akses lainnya yang dapat mendukung proses belajar anak.

  1. Kurangnya Bahan Pembelajaran Bagi Siswa atau Guru

Hambatan dunia pendidikan lain adalah kurangnya bahan pembelajaran bagi siswa dan guru, seperti buku atau bahan bacaan lain. Ini juga masalah yang cukup serius. Bagaimana siswa dan guru mampu belajar atau menambah ilmu, jika bahannya saja tidak ada. Terutama sekolah yang ada di pelosok yang sulit untuk menerima buku karena hambatan akses perjalanan yang cukup sulit untuk ditempuh. Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah. Menyediakan bahan pembelajaran sebanyak mungkin dan mencari solusi untuk akses sekolah yang sulit ditempuh. Bisa dalam bentuk cetak perpustakaan, maupun elektronik atau online. Bahan pembelajaran tersebut sebaiknya dapat dikases secara gratis.

  1. Mahalnya Biaya Pendidikan

Mahalnya biaya pendidikan menyebabkan masyarakat miskin yang aslinya memiliki kemampuan untuk bersaing menjadi terbelenggu. Selain itu, biaya hidup yang semakin tinggi membuat mereka berpikir untuk melanjutkan studi atau bekerja.

  1. Rendahnya Kesempatan Pemerataan Pendidikan

Perhatian yang diberikan pemerintah dalam pendidikan di kota dan di desa sangatlah berbeda. Di kota guru digaji lebih mahal dari pada di desa hal ini membuat para guru-guru yang berkompetensi menjadi berpindah ke kota akhirnya kekurangan pendidik di desa.

Radhakrishnan berpendapat bahwa Negara berkewajiban moral untuk menjadikan pendidikan terjangkau oleh semua warga. Fasilitas yang menunjang pendidikan harus diperhatikan oleh Negara, sehingga semua warga bisa mendapatkan pelayanan pendidikan yang memadai. Oleh karena itu, solusi dalam mengatasi masalah pendidikan, antara lain:

  • Memberikan beasiswa bagi siswa yang berprestasi dan memberikan wawasan kepada orang-orang yang tidak mampu bahwa pendidikan merupakan hal yang penting
  • Pemerintah seharusnya mengganti fasilitas yang sudah rusak dan menambah fasilitas yang kurang pada lingkungan sekolah
  • Menerapkan sistem pemerataan baik di desa maupun di kota
  • Mempekerjakan guru secara professional
  • Mendirikan sekolah di pelosok-pelosok negeri
  • Mengusahakan agar anak-anak di seluruh Indonesia bersekolah

Penutup

Pendidikan menjadi salah satu hal yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Pendidikan yang diterima oleh manusia, dapat menjadikannya sebagai pribadi yang berpengetahuan dan berkarakter. Pendidikan dapat membantu manusia untuk bisa menganalisis serta memutuskan sesuatu hal dalam hidupnya, agar manusia bisa mencapai taraf hidup yang lebih baik.

Pelayanan dan pemerataan dalam bidang pendidikan harus diperhatikan secara baik oleh pemerintah. Sebab menurut Radhakrishnan, Negara mempunyai tanggung jawab dalam bidang pendidikan. Karena hanya dengan pendidikan, manusia bisa memberantas kebodohan serta kemisninan dalam hidupnya.

Sumber Referensi:  

  1. Tyagi, The Philosophy of Radhakrisnan, New Delhi: Srishti Publishers, 2001
  2. Rapar, Filsafat Politik Plato, Jakarta: Rajawali Pers, 1988 (*)

Komentar

News Feed