oleh

Surat Untuk Indonesia

Penulis: Uta Stefanus

=======================

 

Dariku Anak Minor, Untukmu Indonesia…

Salam Hangat.

Perihal pertama, aku menulis surat ini bukan dengan tetes tinta hitam tapi bulir hitam air mataku. Jujur aku sedang bersedih dan rintihan tangis masih menjadi nyanyiaan kerinduan hingga saat ini. Aku rindu hangatnya Persatuan Indonesia di bawah selimut Pancasila beserta teduhnya Kebhinekaan suku, agama dan ras.

Tanahku, tanah tumpah darah Indonesia diraih dengan persatuan yang kokoh penuh perjuangan dan persatuan utuh. Lingkaran kathulistiwa tanpa batas yang berujung satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Kita Indonesia, kita adalah satu dan kita adalah Pancasila. Lalu mengapa diriku seorang minor selalu diteror intimidasi paham kepentingan? Atau mungkinkah sosok solidaritas dan toleransi telah mati dikubur bersama pusaran tanpa nama pahlawan yang telah gugur?

Dari panggung Nusa Cendana, kuserukan Persatuan bangsa Indonesia di mana kami paling minoritas ingin berbisik “tolong jangan lupakan kami, karena kita adalah saudara.”. Kita adalah satu, yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi, diasuh dengan kasih sayang hukum  yang sama namun dengan keyakinan yang berbeda. Akan tetapi ketahuilah, sesungguhnya Tuhan kita Satu (Esa) hanya beda Nama dan cara. Jangan teror kami dengan ancaman paham, mari kita rajut kembali selimut solidaritas antar umat beragama.

Perihal Kedua, bolehkah kami meminta segenggam rejeki untuk putera bangsa yang sedang kedinginan pilu di pelosok kota? Mirisnya problematika sekarang tak pernah luput dari ancaman kemiskinan yang terus menggonggong kejayaan bangsa. Ada seorang anak yatim yang mati kelaparan dengan saat yang sama anak borjuis yang sedang bimbang memilih jenis makanan untuk binatang piaraannya setiap hari. Palingkan wajahmu, dan tataplah merek agar nilai kemanusiaam terus dijunjung tinggi dengan semangat berbagi. Mereka tidak malas, hanya saja tidak memiliki peluang untuk berusaha dengan masa depan yang telah hilang ditelan gelapnya tembok pemisah antara kapitalisme dan kemiskinan.

Suaraku untuk yang terakhir, jagalah hutan kami. Jantung seluruh ekosistem kehidupan di muka bumi adalah tumbuhan yang seharusnya dijaga dan dilestarikan. Aku melihat banyak tumbuhan yang berusaha hidup puluhan tahun ditebang dengan sombongnya dan akhirnya mati dalam sekejap mata. Kembalikan daun segar bumi pertiwi agar Benua Asia tetap berwarna biru.

Akhir kata aku meminta tiga hal untuk Indonesia, Solidaritas, Keadilan dan Kestabilan ekologi. Tolong hapuskan paham yang mengganggu kestabilan NKRI, gantikan konsep mereka dengan nilai luhur Pancasila sebagai Dasar Negara dan UUD 1945 sebagai Konstitusi Nasional. Untuk Keadilan, tolong pastikan setiap dapat diberi makan sebelum mereka tidur dan jangan lupa memberi mereka selimut. Terakhir untuk ekologi dapatkan kepada mereka yang merusak alam agar membayar mahal sesuai dengan jumlah daun yang mereka gugurkan saat menebang sebatang pohon.

Sekian surat saya, mungkin diriku terlalu cengeng untuk meminta maka maafkan aku jika permohonanku terlampau besar. Namun aku berharap sedikit dari suaraku yang hilang dapat melahirkan kembali Indonesia Raya yang merdeka, bersatu, adil dan beradab.

Terima kasih dan salam hangat dari Negeri Timur. Aku Cinta Indonesia. (*)

Komentar

News Feed