oleh

Sirilus Wali, Lahir di Ndangakapa, Kalau Bernyanyi Diiringi ‘Juk’, Sekarang Ciptakan Banyak Lagu

-Berita, Tokoh-400 views

SOSOK, suluhdesa.com | Wolfgang Amadeus Mozart, Ludwig van Beethoven, dan Johann Sebastian Bach adalah nama-nama pemusik besar dunia. Mereka telah mewarnai dunia dengan karya fenomenal yang tak lekang oleh waktu.

Sirilus Wali bukanlah Mozart,  Beethoven atau Bach, tetapi di kalangan pemusik Nusa Tenggara Timur – bahkan pentas nasional, nama Sirilus Wali layak diperhitungkan. Di kalangan musisi Gereja, Sirilus Wali tak kalah populer dengan nama beken seperti Pater Piet Wani, Ricky Tukan atau Dan Kiti.

Meskipun demikian, mereka memiliki passion yang sama, spirit yang sama serta kecintaan pada dunia yang sama, yakni dunia musik. Soal ukuran kemampuan dan karya pasti berbeda-beda sebagaimana ukuran atau takaran talenta yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta, Komponis Agung.

Kesamaan lain, mereka memiliki cara yang sama mengagungkan Tuhan melalui musik dan syair yang diciptakan. Hal ini dapat dibuktikan pada diri Sirilus Wali. Selain lagu percintaan [mungkin sedikit saja], lebih banyak karya Sirilus Wali bertema pujian kepada Tuhan (lagu misa, red), sedikit lagu-lagu bertema umum seperti himne dan mars.

Melansir situs ikebana.id, karena kecintaan pada dunia musik dengan terus menghasilkan begitu banyak karya musik, nama Sirilus Wali menjadi tak asing – sangat familiar di kalangan pencinta musik dan umat Katolik. Tetapi seperti siapa, apa dan bagaimana seorang Sirilus Wali, mungkin sebagian besar kita belum mengenalnya.

Sirilus Wali, sama seperti pencipta lagu lainnya, namanya terukir pada pada setiap lembar teks lagu, tetapi sosok atau fisiknya jauh dari bayangan orang-orang yang menyanyikan karyanya – kecuali orang yang pernah mengenal dan berinteraksi dengannya.

Lantas seperti apa sosok Sirilus Wali, beberapa hari belakangan ini, GBM dari Media IKEBANA mewawancarainya via WhatsApp. Metode wawancara yang tak lazim, memakan waktu karena tak kejar tayang dan ngobrol lepas serta banyak jedah.

Sirilus – demikian dikenal dan disapa orang – lahir di kampung Ndangakapa. Sebuah kampung kecil di Desa Tenda Ondo, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kampung Ndangakapa berbatasan dengan Kampung Malasera.

Sirilus memulai dunia pendidikan di kampung tetangganya, SDK Malasera, selepas tamat SD, Sirilus masuk SMPN Nangaroro. Dari Nangaroro, Sirilus remaja hijrah ke Ende, melanjutkan pendidikan SPGK Frateran Ndao Ende. Tamat SPG Fr. Ndao (1987), ia mengabdi  di almamaternya, SDK Malasera hingga tahun 1989.

Sebagaimana kebanyakan anak kampung pada umumnya, pada zaman itu, memiliki cita-cita tinggi dan berani eksodus demi pencapaian idealisme. Sirilus pun demikian, pengabdiannya di almamater tak membuat nyaman, pencariannya akan ilmu pengetahuan (musik, red), terus berlanjut. Akhirnya, ia meninggalkan kampung halaman serta anak didiknya, merantau menuju Kupang.

Di Kupang, Sirilus jatuh hati pada Program Studi Sendratasik, Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandira.

Sirilus jatuh cinta dengan Sendratasik bukan tanpa alasan. Dunia musik telah merasukinya sejak ia masih kanak-kanak. Dan, bukan secara kebetulan, Sirilus memang lahir dari keluarga pemusik. Darah musik mengalir dari turunan neneknya. Dari  5 orang bersaudara, 1 orang saudara laki-laki (kakak sulungnya, red) sangat berbakat musik dan seorang saudarinya bertalenta menyanyi. Sementara, ayahnya, pimpinan band di kampung Ndangakapa.

“Saya mengenal dunia musik sejak kecil, sebelum masuk SDK Malasera,” kisah Sirilus kepada Media IKEBANA.

Sirilus menyanyi sejak kecil. Setiap kali ia bernyanyi selalu diringi dengan permainan juk atau ukulele.

“Bapak saya adalah seorang ketua band di kampung Ndangakapa sehingga semua alat band disimpan di rumah. Setiap hari saya  tergoda untuk berlatih secara otodidak dengan spesial bermain tangan kidal, yang dilatih oleh kakak sekampung,” cerita Sirilus.

Sirilus tak hanya sekedar berlatih, bahkan sejak duduk di bangku kelas 5 SD ia telah bergabung dengan kelompok band orang dewasa sebagai pemain gitar bass.

“Jadi, saya masih ingat saya tampil pertama kali di Nangaroro pada pernikahan kakak Martinus Mego  (almarhum) dan Kakak Lusia Tei,” kenang Sirilus.

Genetika musikalitas telah menariknya pada dunia yang langka pada masa itu. Sirilus kecil harus bergabung dengan band orang dewasa. Hal itulah yang membuat bakat musiknya terus terasah di SMP bersama teman-teman sebaya.

Bakat itu semakin berkembang di SPGK Frateran Ndao Ende. Sirilus remaja berada pada lingkungan yang tepat. Jika di Ndangakapa dan Nangaroro, Sirilus masih belajar musik “seadanya” – tidak banyak peralatan musik, di Ndao ia belajar musik lebih komplit lagi karena lingkungan yang sangat mendukung, dibawah  asuhan para Frateran Bunda Hati Kudus (BHK).

“Di asrama Frateran, ada band, vokal group, dan terompet. Yang mengajarkan musik yaitu Frater Albert BHK dan Frater Sarto BHK. Dua Frater ini benar-benar menjadi tokoh dan suhu musik yang hebat yang kemudian menggiring saya menuju Sendratasik Unwira dan bertemu dosen musik hebat bapak Petrus Riki Tukan, Pater Dan Kiti SVD, Pater Anton Sigo Ama SVD,” kenang guru SMAK Giovani Kupang ini.

Lingkungan, orang-orang di sekitarnya (pemusik, red) membentuk pribadi Sirilus sebagai pemusik yang bertalenta emas menciptakan lagu-lagu liturgi. Sebagai pribadi manusia dengan kebebasan dalam ekspresi, Sirilus tak lepas dengan musik-musik profan juga mengagumi tokoh atau musisi yang menginspirasi bermusik.

Kepada IKEBANA.ID, Sirilus mengaku sangat mengidola The Beatles dan Koes Plus, Black Sweet dan Black Brothers. Sedangkan musik klasik, ia jatuh hati pada sosok Wolfgang Amadeus Mozart dan Frank Scubert.

Sebagaimana disinggung sebelumnya, lingkungan yang dominan telah membentuk pribadi Sirilus sebagai musisi liturgis bertalenta. Dari Fr. Sarto, Fr. Albert, Petrus Riki Tukan, dan Paul Widyawan, ia belajar musik liturgis. Tiga orang yang disebutkan pertama adalah gurunya dan interaksi secara langsung, sedangkan  dari Paul Widyawan ia belajar melalui karya-karyanya.

Lahir dan tumbuh di lingkungan multi etnis (NTT, red) dengan kekayaan musikalitas yang tinggi mendorong Sirilus mendalami dan menelurkan musik inkulturasi gereja. Jenis musik ini, ia pelajari langsung dari Petrus Riki Tukan, Pater Daniel Kiti SVD, Pater Anton Sigoama SVD, dan Pater Petrus Wani SVD.

“Semua mereka yang saya sebut diatas baik group band maupun orang-orang sangat menginspirasi saya dalam bermusik maupun berkarya mencipta lagu melalui ilmu komposisi di Sendratasik Unwira,” ujarnya.

Ketika disinggung sosok yang paling berkesan, Sirilus menyebut tiga nama yakni  Frater Sarto BHK, Frater Albert BHK dan Petrus Riki Tukan.Tentu Sirilus memiliki alasan.

“Frater Sarto membentuk saya sewaktu SPGK Frater Ndao tentang cara melatih koor dan menempatkan dalam tempat duduk SATB. Frater Albert berpengalaman bermusik dan mengaransemen SATB dan memimpin vokal group,” urai sang komponis ini.

“Bapak Petrus Riki Tukan sangat kompleks. Ilmu yang didapat darinya yakni mendereksi paduan suara liturgis, konser lagu-lagu profan, aransemen dan komposisi,” tambah Sirilus.

Menurut Sirilus, mencipta lagu memiliki tantangan tersendiri untuk setiap jenis lagu. Lagu misa atau liturgi, syairnya harus berdasarkan Kitab Suci dan rumusan tatacara liturgi, sedangkan pilihan melodi dan ritme harus mengabdi pada musik liturgi.

Sedangkan lagu-lagu pop, syair harus mengisahkan tentang tema lagu seperti cinta, alam semesta, kehidupan sosial, sedih dan gembira sehingga harus sinkron antara style, syair, melodi dan harmoninya.

Ketika diungkit karya pertama, Sirilus tanpa ragu-ragu menceritakan lagu yang diciptakan ketika masih duduk di bangku SPG. Lagunya berjudul “Bus Kawan Mulia”, temanya  tentang cinta korespondensi antar sekolah.

“Di keremangan malam, bersama kawan-kawan asrama, saat  jam istirahat malam. Kami ciptakan lagu ini,” ujarnya.

Ine Maria, lagu kedua yang diciptakan Sirilus. Lagu ini dibuat saat ia masih menjadi guru di SDK Malasera.

“Lagu ini saya ciptakan tahun 1987 dan dinyanyikan oleh anak-anak SD dan umat Stasi Malasera.Tahun 2020 saya ikut doa bersama di Kampung Ndangakapa, mereka menyanyikan lagu ini. Saya kaget dan terkejut, walaupun saya hampir lupa lagu ini,” cerita Sirilus.

INE MARIA

INE MARIA INE KITA

INE KITA NDIA DUNIA

TAU PELA ZADA KITA

MO’O MUZI PAWE ZIA

O..INE MARIA

REFF:

INE MARIA SIMO PATA

MAI NGGAE DEWA EMA

MO’O JADI INE YESUS

INE PENEBUS TUHAN KITA

MALAIKAT GABRIEL SODHO KABA

SODHO KABA MAI NDEWA EMA

YESUS MAI NDIA DUNIA DHEKO INE MARIA..

O…INE MARIA….reff.

Sirilus memiliki pandangan sendiri tentang musik. Pandangan inilah yang menjiwai perjalanannya. Kata Sirilus, musik itu  kebutuhan, juga menghidupkan semua makluk hidup.

“Ada saja efek dari musik seperti perkembangbiakan dan pertumbuhan manusia. Musik juga  mampu mengubah suasana batin kita. Kita bisa menangis, kita bisa bersedih, kita juga bisa bergembira menari ria karena musik, bahkan musik bisa menyembuhkan. Dan yang tertinggi dengan bermusik (bernyanyi) yang baik dan benar kita telah melakukan doa dua kali (que bene cantat bis orat, red). Musik itu suci. Bermusiklah yang suci agar engkau diberkati Tuhan,” tegas Sirilus berfilosofi.

Lebih lanjut, Sirilus mengalihkan musik untuk kemuliaan Tuhan karena ia yakin dan percaya bahwa musik untuk Tuhan lebih menghidupkan diri dan keluarganya.

Permenungan Sirilus bersumber dari buku-buku rohani, cerita orang-orang kudus serta Alkitab, ia meyakini, “sebuah organisasi yang Tuhan bentuk di Surga hanya sebuah paduan suara dengan nama “SERAVIM” yang beranggotakan para malaikat dan orang-orang kudus  untuk bernyanyi memuji Tuhan setiap waktu.”

“Harus punya waktu untuk berdoa dan bernyanyi memuji Tuhan,” pesan Sirilus.

Sirilus tak memerinci berapa banyak lagu yang telah diciptakannya baik itu lagu misa maupun pop daerah, tetapi untuk lagu Himne dan Mars berbagai Instansi sudah mencapai 38 lagu. Proyek mars dan himne terus dikerjakannya, misalnya saat ini ia sedang menggarap Mars dan Himne SMPK St.Yosep Naikoten dan SMPK Adisucipto Penfui.

Sebenarnya, bukan soal kuantitas – berapa banyak lagu yang diciptakan, tetapi lebih pada soal kualitas. Jika Sirilus produktif memproduksi lagu, itu sudah talentanya, tetapi jauh lebih penting, menurutnya, kualitas musik dan syair. Sirilus membuktikan melalui karya-karya besarnya yang sudah beredar dan dinikmati oleh banyak kalangan.

Sirilus Wali kecil doeloe adalah sebuah gelas kosong. Ia menyerap pengetahuan musik dan mempraktiknya. Pengalaman itu teriring terus sepanjang pencarian hidupnya. Gelas kosong yang telah terisi sedikit demi sedikit itulah yang menghantarnya hingga sekarang ini.

Perjalanan Sirilus dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita terutama bagi anak-anak kita. Mulai sejak dini, mengenalkan anak-anak pada musik. Tak harus mengajar mereka untuk bermain alat musik, cukup mendekatkan mereka dengan lingkungan musik atau mendengarkan mereka musik. Cepat atau lambat, mereka akan tertarik dalam dunia itu. Karena dalam hidup ini, percaya atau tidak percaya, hakekat hukum tarik menarik – orang bisa menarik menjadi apa yang dipikirkan.

Sebelum mengakhiri percakapan, Sirilus menyampaikan bahwa musik merupakan ungkapan bunyi, unggul atas seni lainnya.

“Musik, sebuah ungkapan bunyi  yang keindahannya jauh lebih dominan dari seni-seni lainnya,” pungkasnya. (gbm/ikebana/msd)

Komentar

News Feed