oleh

Kulminasi Permenungan Soekarno di Ende dan Peringatan untuk Kita [NTT]

-Daerah, Opini-351 views

Penulis: Giorgio Babo Moggi (Warga Kota Kupang)

=======================

Para pembuat arak [mungkin] tak memiliki basis pengetahuan Kimia tetapi mereka mampu memproduksi arak dengan kualitas baik. Mereka [mungkin] tak kenal istilah destilasi tetapi mereka mampu mempraktkkan apa yang dimaksudkan dengan kata itu. Dari tuak putih mereka mampu mengubah menjadi arak, moke, sopi atau apapun sebutan dengan kualitas berkelas.

Untuk menjadi profesional, para pembuat arak di kampung tanpa harus duduk di ruang kelas lalu mendengar teori dari para guru. Modal mereka [hanya] meniru  dari pendahulunya lalu mencoba sendiri. Tak ada kalkulasi matematis yang rumit seperti para pekerja di Laboratorium Kimia. Mereka mencoba dan mencoba hingga menemukan kualitas formula rasa yang tepat. Kata pepatah practice makes perfect – praktik membuat sempurna.

BACA JUGA: Pernyataan Yeskiel Loudoe, Antara Jebakan Toleransi Semu dan Sentimen Primordial

Tahapan demi tahapan memproduksi arak berkualitas. Arak disuling berkali-kali menjadi arak yang level kadar alkohol lebih tinggi. Tetesan demi tetesan uap menghasilkan “Bakar Menyala” – level arak yang menyala jika disulut dengan api karena berkadar alkohol tinggi.

Analogi ini bisa digunakan untuk menjelaskan tentang Pancasila. Arak dan Pancasila, dua hal yang berbeda. Tetapi proses destilasi arak bermutu yang menuntut kesabaran, daya tahan, keuletan dan waktu yang lama dapat ‘menjelaskan’ proses Pancasila sebelum lahir, diterima dan diakui sebagai falsafah negara.

Bila kita menoleh ke belakang, sejarah bangsa, Pancasila telah melewati proses destilasi yang panjang dari berbagai nilai-nilai yang terkandung dalam nilai-nilai budaya lokal, agama, pengetahuan dan pergaulan sosial dunia. Proses destilasi, penyulingan dan penyaringan itu akhirnya menghasilkan lima (5) sila atau Pancasila.

Pancasila merupakan pemadatan dari nilai-nilai yang universal, nilai-nilai yang dapat diterima oleh seluruh manusia dengan latar belakang apapun – entah agama dan etnis. Pancasila adalah “kristalisasi” nilai-nilai aduluhung yang diakui, dihayati dan dipraktikkan manusia Indonesia sebelum negara ini berdiri.

Kita bersyukur memiliki Soekarno. Pribadi yang terdidik, cerdas, talented person, seniman, suka membaca dan menulis, suka bergaul, aktif dan pandai membangun hubungan diplomatik, dibuang atau dikucilkan. Perjalanannya atau pergumulannya itu membuahkan sesuatu yang besar bagi bangsa ini.

Penulis meyakini perjalanan hidup Soekarno bukan sebuah kebetulan atau terjadi begitu saja melainkan kehendak semesta. Tanpa kehendak semesta tak mungkin Indonesia akan menjadi bangsa sebesar ini. Pulau Jawa [mungkin] menjadi negara sendiri, diikuti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Ambon dan Papua.

Seandainya Soekarno tak dibuang di Ende, tak bergaul dan berdiskusi dengan para Imam Katolik, tak menyaksikan kerukunan umat Katolik, Kristen Protestan, Konghucu dan Islam di Ende pada waktu itu; senandainya Soekarno tidak dikucilkan di Berastagi, Bangka dan Sukasmin? Mungkinkah Pancasila itu ada?

Jawaban pertanyaan di atas, bisa ya, bisa tidak! Tetapi, yang pasti, sejarah membuktikan bahwa pergumulan politik Soekarno yang panjang dan melelahkan telah mewarisi mutiara bangsa yang indah hingga kini.

Bayangkan pada jaman itu, seandainya tanpa Pancasila, apakah mungkin bangsa ini bersatu? Apakah mungkin Indonesia masih bertahan hingga kini?

Soekarno sadar, kelanggengan sebuah negara bukan karena kekuatan bersenjata yang canggih, populasi penduduk yang tinggi melainkan ideology bangsa yang mampu menyatukan bangsa dalam keberagaman (Bhineka Tungga Ika). Menyatukan tak berarti menyamakan perbedaan. Yang berbeda tetap berbeda. Yang Muslim tetap ke masjid, yang Kristen tetap ke gereja, dan Hindu ke pura tanpa harus saling mengusik, hidup berdampingan sebagai  satu bangsa dan satu tanah air. Perbedaan itu yang saling melengkapi,  saling mengisi dan saling memperkaya serta saling menghargai.

Pengakuan presiden salah satu negara di Eropa kepada Soekarno adalah bukti kecerdasan berpikir Soekarno sebagai arsitek yang membangun bangsa ini. Katanya, ia memiliki pasukan yang besar dan kuat tetapi negaranya tercerai berai, tetapi Indonesia hanya  memiliki Pancasila tetapi bangsa tetap utuh.

Ini adalah pernyataan tokoh bangsa, pelaku sejarah di negara tersebut. Pernyataan dapat kita buktikan hingga kini. Meski kita tahu bahwa benih-benih perpecahan itu terus merong-rong bangsa ini, tetapi negeri ini masih dapat dikendalikan bukan karena kekuatan etnis, agama, golongan dan strata sosial melainkan Pancasila yang merupakan landasan kokoh pemersatu bangsa – pengejewantahan kristalisasi seluruh nilai budaya dan agama yang dianut bangsa ini.

Pancasila merupakan ideologi yang lahir dan berkembang karena beririsan antara nilai-nilai budaya dan agama. Ini akan kita rasakan jika kita membedah dan meresapi setiap sila, di sana kita menemukan universalitas (ke)pancasila(an) tersebut.

Soekarno yang seorang Jawa, lalu mengenal orang Sunda, Sumatera dan Flores dalam masa-masa pembuangannya. Memang tak semua tempat disinggahi, tetapi tempat-tempat pembuangan Soekarno merepresentasikan keberagaman negeri ini. Ende misalnya, menyadarkan Soekarno bahwa di sana ada Indonesia mini – kelompok masyarakat berbagai etnis, budaya, kelas sosial, dan agama bisa hidup rukun dan berdampingan.

Pengalamannya kemana-mana, baik dalam kerangka perjuangan maupun pembuangannya, Soekarno seperti sedangkan melakukan penelitian sosial budaya tentang hakekat membangun bangsa Indonesia. Soekarno sedang melakukan pencarian identitas yang menyatukan bangsanya. Soekarno sadar betul keberagaman  berpotensi menimbulkan perpecahan dan keruntuhan, maka diperlukan perekat. Dan perekat itu ada di rahim buminya sendiri.  Di Ende, jauh dari episentrum ibukota Jakarta, ia justeru temukan itu, padahal ia telah jalan kemana-mana seperti Eropa.  Soekarno justeru menemukan nilai-nilai luhur itu di pojok negeri ini.

Nilai-nilai itu telah ada sejak manusia di bumi nusantara ada, sejak Allah mewahyukan diri melalui penyebar agama kepada seluruh Nusantara -bahkan dunia seluruhnya. Soekarno menemukan dan merumuskannya sebagai apa yang disebut dengan Pancasila.

Bahwa Pancasila merupakan buah permenungan Soekarno dibawah pohon sukun di Ende, itu adalah kisah sejarah. Situs taman sukun  dan rumahnya adalah saksi sejarah itu. Tetapi, sebenarnya, itu merupakan titik kulminasi (titik puncak) permenungan, pergumulan, pergolakan Soekarno sepanjang pencarian ideologi bangsa yang menghadirkan nilai-nilai yang universal kedalam setiap silanya.

Pertama, sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Semua agama mengajarkan dan mengamalkan bahwa Tuhan itu esa. Semua agama mengaku “monoteisme”.

Kedua, sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Semua agama, kepercayaan dan etnis apapun mengakui manusia adalah ciptaan Tuhan yang Esa itu. Karena itu dalam sikap dan perilaku terhadap sesama manusia harus adil dan beradab. Karena manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling tinggi daripada ciptaan lain.  Keadilan dan keadaban itu nilai yang universal, semua suku dan agama manapun mengakui itu.

Ketiga, sila Persatuan Indonesia. Indonesia adalah bangsa yang beragam suku, agama, golongan dan strata sosial. Potensi perpecahan itu sangat terjadi. Untuk itu, diperlukan semangat persatuan dan kesatuan sebagaimana dalam semangat Bhineka Tunggal Ika (Unity in Diversity) – berbeda tetap satu, satu bangsa dan satu tanah air. Alasan dapat diterima kelompok manapun. Bagaimana mungkin bangsa menjadi besar, kalau kita tercerai berai atau tidak bersatu.

Keempat, sila Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat dan Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. Berserikat, berkumpul dan berpendapat adalah hak dasar rakyat. Ini merupakan nilai yang universal yang dipraktikkan dan diakui dalam suku, agama dan bangsa apapun.

Kelima, sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bangsa manapun menuntut rasa keadilan dalam segala aspek. Adil tak berarti sama besar atau sama kecil, sama tinggi atau sama rendah. Keadilan lebih kepada pada apa yang harus orang dapat karena memang haknya.

Kandungan dasar sila-sila di atas ada dan digali dari bumi Indonesia. Kekayaan bangsa. Kristalisasi nilai-nilai ini bukan sebagai aliran kepercayaan baru. Pancasila bukan pula agama baru. Pancasila adalah perwujudan dari nilai-nilai luhur yang kita yakini baik dalam adat dan tradisi, aliran kepercayaan serta keagamaan kita yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara – yang kebenaran diakui dan diterima oleh seluruh lapisan masyarakat.

Hari ini, 1 Juni, kita peringati hari lahir Pancasila tapi benih-benih Pancasila itu telah ada sejak negeri ini ada. Permenungan Soekarno di Ende merupakan puncak pencarian atau permenungannya. Sebagai orang NTT tentu kita mestinya berbangga, Ende sebagai rahim yang melahirkan Pancasila.

Dengan demikian, orang NTT harus sudah selesai dengan dirinya sendiri dalam urusan rasisme, intoleransi, dan politik identitas. Namun, justeru pada saat menjelang perayaan hari lahir Pancasila tahun ini,kita seperti menampar wajah sendiri dengan pernyataan rasis seorang wakil rakyat.

Apa yang  dilakukan [apapun alasannya] oleh seorang tokoh politik, Ketua DPRD Kota Kupang Yesekiel Loudoe, pula kader PDIP yang dikenal sebagai pewaris trah ideologi Soekarno tidak dapat dibenarkan. Ucapan yang berbau rasis sangat disayangkan dan disesalkan serta seharusnya tidak boleh dilakukan oleh kader partai nasionalis yang selalu menjustifikasi sebagai pengawal kebangsaan. Soekanois sejati adalah seorang ksatria. Ia tak cengeng apalagi merengek serta mengadu domba rakyat serta berbicara rasis demi kepentingan pribadi.

Bagaimana mungkin NTT menjadi rumah toleransi, sementara rakyatnya tidak toleran dan rasis? Bagaimana mungkin NTT berbangga karena rahim buminya dipinjamkan untuk melahirkan Pancasila, sementara kita tidak Pancasilais? Jika kita sendiri saja belum mampu mengaktualisasikan nilai-nilai pancasila dalam sikap dan tindakan, apa yang kita harapkan dari orang lain? Lantas, apa kebanggaan kita menjadi bagian dalam lintasan sejarah  penemuan ideologi Pancasila?

Akhir kata, ingat Pancasila diproses melalui “kristalisasi” keringat dan darah, jiwa dan raga,  Soekarno dan para pendiri bangsa, jangan sampai runtuh di tangan kita yang hanya sebagai penikmat buah-buah dari perjuangan mereka. Perjuangan kita tak perlu bambu runcing atau senjata, perjuangan kita adalah merawat dan mempertahankan perjuangan para leluhur bangsa ini. Itu saja cukup! (*)

Komentar

News Feed