oleh

Ketua DPD BMI NTT: Pancasila Menentang Eksploitasi Manusia

-Berita, Daerah-164 views

KUPANG, suluhdesa.com | Partai Demokrat sebagai partai nasionalis religius berkomitmen penuh menjaga dan merawat pancasila dan NKRI melalui aktualisasi nyata dalam praktik pengambilan kebijakan dan keberpihakan kepada kemaslahatan bangsa.

Refleksi Pancasila tidak cukup dimaknai secara konseptual dan tekstual, bersifat normatif. Lebih dari itu, Pancasila dalam tindakan harus mampu diterjemahkan oleh semua kader melalu kebijakan pro rakyat, bukan elit dan konglomerat.

Oleh karena itu memperingati hari lahirnya Pancasila, organisasi sayap Partai Demokrat, Barisan Muda Indonesia (BMI) bersama organisasi sayap partai yang ada di Povinsi Nusa Tenggara Timur menggelar Zoom Meeting pada Selasa (01/06/2021).

Beberapa sikap dan poin refleksi yang disampaikan oleh Paskal Angkur (Politisi dan Pengurus DPD Partai Demokrat NTT) dan Adrianus Oswin Goleng (Ketua DPD BMI NTT) menekankan spirit dan perjuangan.

“Pancasila sebagai bingkai NKRI, rumah bersama. Rumah yang multikultural. Beragam suku, agama dan ras. Oleh karenanya para pemimpin entah Presiden, Gubernur dan Bupati tidak cukup memperlakukan dan memposisikan diri sebagai pejabat formal, lebih dari itu harus manjadi orang tua dan panutan untuk semua kalangan. Orang tua yang peka dan merasakan betul jeritan dan tangisan anak-anak bangsa. Bukan menjadi pemerintah dan orang tua bagi kelompok dan golongan tertentu,” kata Paskal Angkur.

Sedangkan Oswin Goleng menegaskan, Pancasila dalam tindakan harus pro terhadap kemanusiaan, persatuan dan keadilan.

“Pancasila dalam tindakan menentang eksploitasi manusia atas manusia. Eksploitasi alam secara buta dan bar-bar tanpa mempertimbangkan ekosistem dan keberlanjutan, yang mana dampak langsung dirasakan masyarakat lewat perampasan tanah, penggusuran, kehilangan lapangan pekerjaan, intimidasi, dan penekanan melalui kaki tangan kekuasaan,” tegas mantan aktivis ini.

Oswin yang juga pernah menjabat sebagai Ketua PMKRI Kupang mengatakan bahwa, Pancasila dalam tindakan adalah mencintai perbedaan, kebebasan berkumpul dan berpendapat, bukan pengekangan dengan pembatasan yang disertai intimidasi. Kelompok yang berseberangan sering dilabelisasi secara destruktif  anti pancasila dan radikal.

“Mari terus merawat dan menjaga Pancasila sebagai roh perjuangan,” tutup Oswin. (idus/idus)

Komentar

News Feed