oleh

Seumbam: Sebuah Dusun di Kabupaten TTU yang Nyaris Terlupakan

-Daerah, Opini-1.228 views

Oleh: Fulgensius Fallo (Mahasiswa dan Jurnalis)

==========================

OPINI, suluhdesa.com | Seumbam adalah sebuah dusun terpencil di Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dusun Seumbam termasuk dalam wilayah administrasi Desa Maubesi, Kecamatan Insana Tengah. Letaknya yang jauh ke pedalaman menjadikannya seolah ‘terlupakan’ oleh pemerintah. Sentuhan kebijakan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakatnya masih sangat minim. Infrastruktur jalan raya dan listrik belum diperhatikan secara baik sehingga persaingan di era revolusi industri 4.0 tidak berdaya sama sekali.

Pendahuluan

Dunia tengah dihadapkan dengan revolusi Industri 4.0. Pada masa ini, masyarakat dituntun menuju suatu ‘ketergantungan’ terhadap teknologi. Prospek ini memiliki nilai yang baik jika diterapkan secara baik dan tepat untuk masyarakat. Di mana masyarakat dilatih untuk melakukan segalanya dengan teknologi-teknologi yang memudahkan pekerjaan masyarakat.

Tulisan ini berangkat dari kumpulan keraguan masyarakat sebuah dusun terpencil yang jauh dari sentuhan pemerintah dalam konsep pembangunan demi kesejahteraan rakyat. Sebut saja Dusun Seumbam. Beragam pertanyaan yang bakal ikut nimbrung mengitari ‘Dusun Seumbam.’

Seumbam itu di mana? Di Kabupaten TTU ada yang namanya Dusun Seumbam?  Dan masih banyak lagi pertanyaan aneh yang melintas bahkan terlontar ketika ada yang iseng menyinggung soal Seumbam.

Dalam perbincangan sehari-hari ada yang membahas tentang batu bata berkualitas, tetapi lupa bahwa Seumbam adalah dusun kecil yang paling banyak memproduksi batu bata berkualitas itu. Ada juga yang membahas soal hasil bumi seperti kacang tanah dan jagung tetapi lupa bahwa Seumbam dapat menghasilkan ratusan ton bahkan ribuan setiap tahunnya. Sayangnya, potensi besar ini seakan tidak disadari sama sekali oleh pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Dusun Seumbam.

Akses ke Dusun Seumbam Menjadi Penghambat Kesejahteraan

Berbicara perihal kesejahteraan, akses (jalan raya) untuk sampai ke dusun kecil ini menjadi penghambat bagi kesejahteraan masyarakatnya. Mengapa dikatakan sebagai penghambat? Alasannya sederhana: material jalannya hanyalah onggokan batu kali yang dibungkus dengan kerikil.

Infrastruktur di Kabupaten TTU ini memang belum 100% tuntas. Tetapi akses untuk sampai ke dusun kecil ini sungguh sangat rumit. Seperempat jalannya sudah diaspal namun sudah kembali rusak. Seperempatnya lagi masih kerikil. Dan sisanya adalah susunan batu kali yang morat-marit.

Uniknya, ada sebuah jurang yang sebentar lagi bakal putus karena sering diterjang banjir. Dan akses menuju Seumbam harus melewati pinggir jurang ini. Dengan kondisi ini maka truk maupun mobil yang melintasi jalan ini mesti membayar sejumlah uang untuk masyarakat yang lahannya dipakai sebagai jalan alternatif. Setiap kendaraan roda empat yang masuk wajib melakukan pembayaran. Kata masyarakat sekitar, hal itu dilakukan sebagai ‘retribusi.’

Di sinilah letak persoalannya. Bahwa masyarakat boleh saja memproduksi batu bata dengan kualitas premium tetapi jika aksesnya masih serumit ini maka kemakmuran hanya menjadi dongeng untuk dusun ini. Hasil bumi boleh saja mencapai ribuan ton per tahun tetap saja tidak mendapat pasar dengan harga yang menguntungkan masyarakat. Sehingga kesejahteraan terus menjadi dongeng turun temurun.

Kerinduan Terhadap Listrik

Selain akses (jalan raya), masyarakat Dusun Seumbam juga sangat merindukan listrik. Kesejahteraan pada era digital ini 80 persen tergantung kepada listrik. Bagaimana mengembangkan usaha berbasis teknologi tanpa listrik. Bagaimana meningkatkan SDM masyarakat yang masih heran melihat komputer. Masyarakat di dusun Seumbam ini sangat rindu untuk sejahtera dalam konsep revolusi Industri 4.0.

Ironisnya, kerinduan masyarakat di dalam dusun kecil ini sering dimanfaatkan sebagai ladang empuk bagi para politisi setiap hajatan politik tiba. Mulai dari Calon Legislatif sampai kepada Calon Kepala Daerah menjanjikan hal yang sama. “Kalau kami terpilih, maka kita akan memasang listrik gratis bagi masyarakat di Dusun Seumbam.”

Dongeng tentang listrik ini terus berulang setiap kali ada hajatan politik, baik di tingkat daerah maupun pusat. Bahkan masyarakat telah menghafal dengan baik janji ini. Mereka tidak perlu ikut kampanye untuk mendengar visi dan misi para calon sebab hampir pasti yang bakal dijanjikan adalah pembangunan jalan raya dan listrik. Sesudah terpilih, tetap saja masyarakat akan membeli minyak tanah untuk pelitanya.

Janji yang sering diteriakkan dalam kampanye-kampanye tidak pernah ada satupun yang berhasil direalisasikan. Apalagi berbicara tentang listrik dan jalan raya. Apa yang bakal kita katakan tentang masyarakat desa yang sejahtera jika masyarakat hanya dibekali dengan janji manis?

Konsep masyarakat yang sejahtera dapat menjadi nyata jika visi misi (janji manis) pemimpinnya harmonis dengan kebutuhan. Bahwa pemimpin dalam hal ini pemerintahan dituntut untuk semakin jeli memperhatikan kebutuhan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya. Pemerintah juga diharapkan untuk menyelaraskan kebijakannya dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama dalam melihat potensi-potensi yang ada. (*)

Komentar

News Feed