oleh

Ey Pullu dari Ngada, Anak Politisi Golkar yang Memilih Mencintai Partai Demokrat

SOSOK, suluhdesa.com | Ketua Partai Demokrat Kabupaten Ngada yang bernama Herman Arnoldus Pinga Pullu atau yang akrab disapa Ey Pulu, saat berbincang dengan Media SULUH DESA beberapa waktu lalu di rumah kediamannya di Depan Rumah Jabatan Walikota, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengisahkan lika-liku perjalanannya menjadi seorang politisi.

Berikut kisahnya yang berhasil diramu di sela-sela seruput kopi Bajawa bercampur canda kekeluargaan.

Ey Pullu lahir tahun 1981 dan dibesarkan dalam keluarga politisi. Ayahnya, Feliks Pulu (Almarhum) adalah seorang Politisi Partai Golkar pada masa Ey masih duduk di bangku sekolah. Keseharian Ey dipenuhi dengan mendengar diskusi ayahandanya bersama teman-teman tentang persoalan-persoalan di Nusa Tenggara Timur terutama Kabupaten Ngada. Dari sinilah tumbuh panggilan kelak ingin menjadi wakil rakyat untuk menyuarakan aspirasi masyarakat.

“Saya merasa terpanggil itu bukan karena apa-apa. Saya melihat adanya masalah dan persoalan serta banyaknya keluhan-keluhan dari masyarakat. Saya tertarik sekali ketika itu. Bapak saya menjadi wakil rakyat saat itu dan ada nilai yang perlu saya ikuti di sana,” ujar Ketua Partai Demokrat Kabupaten Ngada ini.

Ey mengisahkan tentang ada jeda waktu untuk mengikuti jejak ayahnya lantaran ia harus berangkat kuliah di Malang. Namun kembali ia ikuti ketika pulang dari kuliahnya. Pada waktu luang, ia mengikuti ayahnya pergi rapat. Di sana ia mendengar banyak diskusi untuk membangun NTT ke depannya. Sehingga panggilannya semakin kuat untuk menggeluti dunia politik.

“Saat itu saya ditawar oleh ayah saya untuk bergabung dalam organisasi politik (Partai Golkar) namun saya belum siap. Kemudian pada tahun 2014 saya ditawari oleh salah satu kader senior untuk sama-sama masuk Partai Demokrat,” kisah Ey.

Setelah masuk Partai Demokrat, Ey mulai berpartisipasi aktif. Ketika itu ia mulai terlibat dalam pemilihan Walikota Kupang. Semangatnya untuk menjadi politisi semakin membara. Lagipula banyak di antara kader-kader Demokrat adalah orang-orang muda. Selain itu, Ey mengaku sangat simpatik terhadap gaya khasnya Mantan Presiden ke-enam RI Susilo Bambang Yudhoyono. Ia melihat gaya khas, kewibawaan serta tipe kepemimpinan yang membuat Ey sungguh simpatik.

Usai Pemilihan Walikota Kupang, Ey Mulai Serius Merintis Karier Politiknya.

“Waktu itu ada Musbang, Musyawarah Cabang untuk pemilihan Ketua DPC di Larantuka. Saya maju dengan yakin. Dan saya bersyukur mendapat dukungan dari teman-teman PAC. Sehingga pada akhirnya saya juga terpilih dalam pemilihan serentak ketika itu,” tutur Ey.

Menurut Ey, yang muncul dalam pikirannya adalah bagaimana membangun pola komunikasi yang baik. Ia mulai mengajak banyak orang sebab ia sendiri yakin bahwa kemenangan itu ada ketika melibatkan banyak orang. Ey juga memiliki pengalaman tentang psikologi banyak orang ketika masih bekerja sebagai pendamping desa.

“Saya memiliki pengalaman itu ketika masih bekerja sebagai pendamping desa. Pada tahun 2011 itu disebut P2KP,” beber Ey.

Ey Pullu juga mengisahkan tentang perusahaan keluarganya yang bergerak di Timor Tour and Travel.

“Saya ikut pelelangan menjadi vendor Maskapai Garuda Indonesia. Saya ditunjuk untuk menjadi vendor di Labuan Bajo. Saya bergerak di bidang pemasaran dan saya ditunjuk sebagai kepala. Namun karena perkembangan teknologi sehingga banyak orang mulai beralih memesan tiket online sehingga usaha saya mulai pasang surut. Hingga kemarin terpilih sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Ngada, maka saya harus memilih fokusnya ke mana. Usaha sudah tidak bisa lagi saya pertahankan, sehingga saya memilih untuk fokus di Ngada menjadi Ketua DPC,” ungkap Ey sembari tersenyum.

Selanjutnya, Ey mengisahkan lika-liku proses terpilihnya menjadi Ketua DPC. Bagaimana ia menghadapi situasi dengan kondisi banyak orang belum sepenuhnya memilih dirinya.

“Saya lahir besar di Kupang sehingga saya tidak bisa hanya mengandalkan nama besar orang tua. Banyak orang yang pesimis bahwa saya belum saatnya. Tetapi saya mencoba. Saya meyakinkan banyak orang dengan pola terus berkomunikasi dan mau terbuka dengan orang. Saya datang sendiri ke kampung-kampung di Kabupaten Ngada sehingga masyarakat melihat figurnya sendiri. Banyak yang masih ragu dan banyak juga yang mau ikut mendukung. Dan bersyukur dalam Pileg 2019 kita mendapatkan dua kursi, yakni di Riung dan So’a. Kalau di Bajawa dan Golewa kita nyaris masuk lagi tetapi yang dibutuhkan hanya enam kursi tetapi kita ada di urutan tujuh dan delapan. Nah dengan pengalaman ini saya semakin semangat untuk membesarkan partai,” kata Ey.

Melihat pengalaman orang tuanya semasa menjadi DPR, Ey menilai bahwa menjadi DPR itu harus punya nyali. Sebab semua yang menjadi DPR itu membawa aspirasi masyarakatnya sehingga bakal terjadi saling silang pendapat.

Di situlah ia berpikir bahwa seorang DPR mesti punya nyali sehingga aspirasi masyarakatnya dapat tersampaikan. Niatnya untuk menjadi DPR adalah untuk membuktikan bahwa ia dapat menjadi corong aspirasi masyarakat.

Berkaitan dengan ayahnya yang adalah Politisi Partai Golkar, Ey menegaskan bahwa ia dan ayahnya memiliki cara pandang yang berbeda. Ia mengaku banyak orang yang mempertanyakan soal itu namun ia bersikeras menjelaskan bahwa ia memiliki cara pandang yang berbeda. Bahwa hal itu memang menjadi tantangan tersendiri dalam keluarga akan tetapi ia menjelaskan secara baik bahwa ia punya cara berpikir yang berbeda. Sehingga pilihan itu diberikan kepadanya bukan karena nama besar ayahnya tetapi karena cara berpikirnya.

Ey juga menandaskan bahwa jika suatu ketika ia terpilih menjadi DPR ataupun Bupati maka ia hanya ingin menjadi pemimpin yang inovatif. Di mana ia sendiri masih termasuk kategori orang muda sehingga anak-anak muda perlu dirangkul untuk saling menopang dalam menuntaskan persoalan-persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

Lebih lanjut mengenai ketakutan ataupun keraguan menghadapi situasi politik yang menempatkan Partai Demokrat sebagai oposisi pemerintah saat ini, Ey menjelaskan bahwa setiap partai mempunyai dinamikanya. Semua partai memiliki waktu pasang surutnya. Sehingga ia tetap optimis maju.

“Saya tetap optimis maju. Intinya kita punya respek dan kepedulian terhadap masyarakat pastinya masyarakat mau memilih,” tegas Ey.

Ey menjelaskan bahwa terkait dengan coast politic, ia sendiri juga berpikir bakal tidak mampu. Namun berkaca dari pengalaman selama ini, ia menawarkan agar ketika memutuskan untuk masuk berpolitik harus memiliki konsep.

“Kalau anak muda berpikir bahwa coast politic itu mahal, saya pikir untuk menekan itu kita perlu konsep dan perencanaan yang baik. Hal ini sangat penting sehingga orang tahu dulu konsep kita. Lalu terkait dengan deal-dealan kita sepakat deal selama itu menguntungkan bagi masyarakat dan tidak terjadi tabrakan dengan regulasi. Kemudian bagi saya, anak-anak muda yang mau bergabung mestinya banyak belajar dalam organisasi. Di mana harus punya pengalaman kaderisasi. Dan saya mau berpesan bahwa Partai Demokrat sangat terbuka bagi anak-anak muda,” pesan Ey.

Ey menjelaskan bahwa partai lain dilihatnya sebagai teman seperjuangan dalam membangun Kabupaten Ngada. Bahwa kompetisi selalu ada tetapi semua pasti memiliki tujuan  yang sama yakni Bonum Commune.

“Bagi saya, kesetiaan dan keloyalan saya adalah sepanjang partai membutuhkan saya. Hari ini sampai kapanpun kalau partai masih membutuhkan saya, maka saya akan tetap berjuang untuk Demokrat. Kemarin-kemarin juga ada yang menawarkan tetapi saya masih ingin bersama dengan Partai Demokrat. Seperti ayah saya kemarin memilih untuk loyal terhadap Partai Golkar, saya pun demikian, tetap loyal terhadap Partai Demokrat selama saya dibutuhkan,” tutup Ey. (Geztha/Idus)

Komentar

News Feed