oleh

Bulan Maria; Makna Bagi Umat Katolik, Refleksi Melampaui Kegelisahan Iman

 Oleh: Br. Yuventus Falo, SVD (Tinggal di Biara St. Konradus, Ende)

===============================

Bulan Mei lazim dikenal dengan sebutan bulan Maria yang ditetapkan oleh Paus ke VI. Tanggal 1 Mei sebagai saat penting bagi umat katolik di seluruh dunia. Karena momen inilah Bunda Maria didedikasikan sebagai “Bunda yang terberkati.” Bulan Maria sebagai saat untuk  berziarah dan menaruh penghormatan khusus yang diberikan  oleh umat katolik di setiap bagian dunia kepada sang ratu surga. Sepanjang bulan ini umat katolik mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih bersama Maria dengan penuh harap semoga penuh iman, rahmat Tuhan turun atas kita dalam segala kelimpahan-Nya.

Sebuah refleksi iman.

Paus Yohanes Paulus ke II dalam ensikliknya berjudul “Redemptoris Mater” (Bunda Penebus) menyebutkan Bunda Penebus menduduki tempat yang sangat khusus dalam rencana penyelamatan Allah “karena setelah genap waktunya, maka Allah mengutus anaknya lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum taurat. Ia diutus untuk menebus mereka yang takluk kepada hukum taurat, supaya kita diterima sebagai anak, Dan karena kamu adalah anak Allah maka Allah telah menyuruh roh anaknya ke dalam hati kita yang berseru “ ya Aba ya Bapa” (Bdk Gal 4:4-6).

Maria adalah Hawa baru yang olehnya lahir harapan baru dan sukacita dalam iman. Kesanggupan Maria dalam menerima tawaran Allah merupakan bukti penyerahan diri yang total kepada kehendak Allah kepadanya, untuk satu tugas yang mulia dengan berani menyatakan “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.

Kerendahan hati Maria adalah teladan hidup bagi kita untuk mengakui bahwa Allah dashyat melampaui manusia sebagai ciptaannya. Meskipun Bunda Maria tidak memahami kehendak Allah, Bunda Maria menanggapi tawaran dari Allah dengan iman yang teguh, kepercayaan yang tanpa batas dan kesetiaan tanpa syarat, karena ia percaya kepada penyelenggara Ilahi.

Sebagai orang katolik yang mengimani Maria sebagai Bunda Penolong, Bunda Pengharapan, Pintu Surga, maka sudah sepatutnya kita menaruh harapan, dan pertolongan lewat perantaraannya sebagai Ibu Segala Bangsa.

Momen bulan Maria adalah momen amat istimewa dimana kita memberikan perhatian tenaga, waktu, untuk menjalin keintiman dengannya baik secara pribadi, keluarga, maupun basis, yang intens. Doa Maria yang dilaksanakan dalam lingkup Komunitas Umat Basis (KUB) harus dilakukan bukan karena itu merupakan rutinitas setiap tahun sesuai dengan tata liturgi gereja universal, bukan juga hanya karena sekadar perjumpaan dengan sesama tetapi harus disadari sebagai sebuah kegiatan bina iman dan devosional kepada Maria.

Di era milenial atau lazimnya kita kenal dengan term “zaman now” penghayatan kita akan kegiatan–kegiatan rohani mengalami degradasi yang perlahan–lahan akan mengalami kemerosotan dalam menginternalisasi nilai-nilai rohani dalam kehidupan yang tentunya  bisa membawa  dampak destruktif  bagi  lini kehidupan itu sendiri dan kehidupan bersama.

Fenomena ini sering terjadi baik dalam lingkungan anak–anak maupun orang dewasa. Ini sangat memprihatinkan karena menghambat pertumbuhan iman kekatolikan kita. Penyakit sosial yang sekarang melanda kita salah satunya adalah telepon genggam (Handpone) yang dimodifikasi dengan android membuat kita lebih banyak berselancar ke dunia maya dengan sajian menarik sebut saja facebook, WA,  dan aplikasi menarik lainnya yang mampu meninabobokan kita dan melupakan kegiatan berfaedah lainnya seperti doa rosario.

Devosi bulan Maria merupakan sebuah ritus luhur dan sakral bagi umat katolik. Umat katolik menaruh harapan kepada Bunda Maria dan belajar untuk bersikap seperti Maria yang mempunyai sikap kerendahan hati dan punya dedikasi kepada sesama. Maria mengajarkan kita untuk membaharui seluruh tatanan kehidupan kita, dan menghidupkannya dalam tugas dan pelayanan kita.

Lantas bagaimana kita meneladani sikap hidup dari bunda Maria? Di sini penulis mengajak kita melihat beberapa hal dari keistimewaan Maria yang perlu diteladani oleh kita yang percaya kepadanya.

Pertama:  Maria seorang pendoa. Menurut Injil, Tuhan mencurahkan ke dalam hati setiap orang beriman, Roh Kudus. Di dalam Roh ini kita berdoa tetapi disamping itu ia juga menempatkan ibu puteran-Nya disamping kita, supaya kita belajar dari pada-Nya bagaimana harus berdoa. Sesudah permakluman kabar gembira oleh malaikat Gabriel, Ia mengunjungi Elisabet saudaranya di pegunungan Yudea. Ia mengungkapkan kegembiraannya dengan berseru: Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bersukaria karena Allah Juruselamatku”. Dengan magnificatnya Maria memberi contoh : sebagai manusia mengucap syukur karena dia bisa mengabdi.  Manusia mengucap syukur karena taat. Dunia, masyarakat dan semua komunitas manusia, akan menjadi sebuah tempat yang indah apabila selalu mau mengucap syukur dan menyembah kepada Tuhan.

Kedua : Maria berdoa untuk orang lain. Sifat keibuhan dari Maria adalah peka terhadap situasi menaruh perhatian kepada kepentingan orang lain. Seperti pada waktu ia menghadiri pesta pernikahan di Kana, ketika tuan pesta kehabisan anggur, ia menaruh perhatian penuh atas kecemasan tuan pesta dan berani menyampaikan kepada Yesus : “mereka kehabisan anggur” (Bdk Yoh 2:3). Saat mereka dilanda kesulitan dan malapetaka tetapi berkat Maria mereka memperoleh kepenuhan dalam kekurangan itu. Dan disaat inilah tanda heran yang dibuat oleh Yesus terjadi.

Ketiga : Maria mempunyai sikap solider. Permakluman tentang kelahiran Yesus oleh Para Nabi digenapi melalui utusan Malaikat Gabriel ke sebuah kota terpencil di Nazareth, kepada seorang perawan sederhana bernama Maria. “Terjadilah padaku menurut perkataan – Mu” adalah ungkapan ketulusan dari lubuk hati atas kehendak Allah. Ia menerima tawaran Allah kepada keselamatan semua orang. Maria menerima segala sesuatu dan menyimpannya  dalam hatinya  (Bdk Luk 2:51). Atas kesanggupan inilah Maria patut digelar Santa Maria dikandung tanpa noda yang kita peringati setiap tanggal 8 Desember. Maka sudah sepatutnya kita terdorong untuk menerima Maria sebagai tokoh model persiapan menyongsong kedatangan penyelamat dunia.

Melampaui kegelisahan iman

Iman kita saat ini sedang galau dan bimbang, selain karena persoalan adanya kejahatan dan penderitaan kegalauan iman juga didominasi oleh pengelaman-pengalaman modern di mana teknologi mutakhir lebih banyak menggantikan peranan Allah.

Di tengah gejolak dunia sekarang umat beriman perlu dihimbau untuk berpikir positif karena masih ada harapan. Gereja harus keluar dari mentalitasnya yang tertutup sebagaimana ditegaskan oleh Paus Fransiskus: “Saya lebih bersimpati kepada Gereja yang terluka dan kotor.

Seruan ini mau mengajak kita untuk kembali menemukan jalan pulang kepada Kristus yang terlebih dahulu menerima kita sebagai putera dan puteri – Nya, untuk bisa kembali pada jalan keselamatan Allah kita perlu menghadirkan Bunda Maria di tengah kehidupan kita sebagai bunda penolong, dan bunda Gereja kudus, yang juga menjadi ibu anak–anak Allah, ibu seluruh kaum beriman (LG 53).

Sebagai bunda ia tetap menjadi perantara, penolong dan pendamping  seluruh gereja dan umat manusia (LG 62) yang juga ikut mengembara turut merasakan suka – duka hidup putera – puteri –Nya. Dalam situasi sulit dimana Gereja terancam ia tampil memberi peringatan, supaya manusia dapat mengintrospeksi diri dan menaruh pengharapan padanya.

Melalui penampakannya di Fatima kepada tiga gembala cilik (Lusia, Fransesco, dan Yasinta) Bunda Maria menyampaikan tiga hal yaitu supaya umat beriman rajin menjalankan perbuatan tapa dan tobat, supaya rajin melakasanakan doa Maria, dan supaya menghormati, hati Maria yang tak bernoda.

Pesan-pesan ini amat sederhana namun sarat makna akan nilai pastoral. Karena itu  momentum bulan Maria harus menjadi peristiwa iman dan dijalankan dengan penuh iman pula agar penghayatan yang kokoh dan dijadikan sebagai kebutuhan otentik. Berakar dalam devosi kepada Maria berarti selamat dan perlahan diubah kepada model hidup yang baru. Model hidup yang tidak menyimpang dari kebenaran Allah. Bersama Maria kita bertumbuh dalam hidup bersahaja, iman dan kebajikan–kebajikan kristiani. (*)

DomaiNesia

Komentar

News Feed