oleh

Puisi-puisi Geztha Fallo Adalah Tumpahan Rindu yang Tercecer

-Sastra-393 views

PUISI, suluhdesa.com | Puisi-puisi bertarikh Bulan Maret berikut merupakan tulisan Geztha Fallo. Menurutnya, puisi adalah roh yang menghidupkan. Tumpahan rindu yang tercecer maupun luapan jiwa mengalir menjadikan puisi semakin agung dalam aksara doa dan asmara. Semoga puisi yang hidup memenuhi tempayan makna dan menyejukkan kata yang sempat menjadi amarah. Puisi adalah doa. Marilah kita berpuisi. Amin.

 

Kepada Yth. A

Di_ Sisi Puisi

 

Sementara kita membaca puisi dan berjumpa tanda titik maupun koma.

Kita memaki-maki dalam hati; puisi ini sungguh tak berfaedah.

Bagaimana mungkin dimulai tanpa menanyakan kabar. Semoga kita sadar.

Puisi ini adalah bara rindu membakar.

 

Entahlah,

Tapi penulis punya tanda baca untuk meruncing maknanya.

Kita patut membacanya dan tenggelam

 

Mungkin kita sedang dijeda tanda koma

Untuk paham makna ‘langgeng sampai opa oma’

 

Kalaupun kita dihentikan tanda titik,

Percayalah penulis sedang merilis edisi berikut

 

Menjadikan kita sekedar pembaca

Atau meyakinkan kata bahwa kitalah tuannya

Bagi tulisan dengan tandanya

Juga bagi pelaminan dengan pengantinnya

 

Maubeli, 26 Februari 2021

 

Bulan di Tanganmu

:nn

 

Bulan ini sebentar lagi berlalu

Menyisakan cerita kita yang belum kelar kutuliskan

Adapun namamu yang tertulis atas musim masih kusebut malu-malu

Juga kabar kita yang diterbangkan angin sekedar untuk formalitas perkenalan

 

Ingin aku ingatkan kepadamu

Beberapa puisi yang kuselipkan di bawah bantal masih ingin kau ramu

Dengan kopi yang sering diceritakan teman seusiaku

Ataupun dengan tanganmu yang menyeduh ragu-ragu

 

Jika nanti puisiku menjadi tamu di rumahmu

Genggamlah ia ke dapur dan tunjukkan letak gula dan galau

Biarkan ia tahu takaran yang tepat untuk kopimu kala senja

Sebab puisi yang kutulis sekali ini adalah senja yang menari atas cangkir kaca

 

Aku tahu, puisi masih ragu menyebut namamu

Apalagi menggenggam tanganmu yang masih dimiliki musim

Harusnya tak ada masalah tentang itu

Hanya saja aku khawatir kau bakal dirundung dingin

 

Pada bait ini, aku minta izin menyebut namamu ratu

Aku yakin kau tak keberatan untuk kuagungkan

Sebab, benar jika perempuan diberi peringkat satu

Apalagi dalam jiwa yang paling lubuk

 

Kemarilah Ratu,

Kudekapkan bulan ke tanganmu

Biar musim hujan menjadi reda

Dan aku tak lagi khawatir dengan sepatumu yang bakal ternoda

 

Kefamenanu, 14 Maret 2021

 

Catatan Akhir Maret

:nn

 

Aku menuliskan puisi ini kepada rindu yang kini bisu; hampir tanpa suara. Seperti ketika cinta melagukan nada-nada dan ia tenggelam ke dalam dilema membara.

“Sungguh, kita hanya perlu memberikan ruang kepada perjuangan. Menikmati peliknya perjalanan. Saya berharap, kita tak terburu-buru memberi kesempatan kepada kemenangan dan ketenangan. Sebab, kita tahu yang bakal terjadi selanjutnya adalah deretan panjang kebosanan.”

 

Cukuplah bagi kita seharian berjuang hingga benar bagi kita: “Tuhan turut menyertai setiap waktu.”

Jika nanti cinta tak lagi berbunyi; seperti deru ombak menghantam karang. Dengarlah bunyian puisi membisik dari ribaan sunyi tentang Tuhan yang menentukan.

(Suatu pagi di akhir Maret) (*)

Komentar

News Feed